NovelToon NovelToon
Kekasihku, Asisten Adikku

Kekasihku, Asisten Adikku

Status: tamat
Genre:Romantis / Contest / Cintamanis / Tamat
Popularitas:5.1M
Nilai: 4.9
Nama Author: misshel

WARNING!!!!

BIJAKLAH DALAM MEMILIH BACAAN!!!


Mengisahkan dua orang pria dan wanita yang terlibat sebuah pernikahan tanpa cinta. Tetapi sama-sama saling membutuhkan pernikahan tersebut demi kepentingan masing-masing.


Menghadapi pria yang dingin dan kaku, Naja sering menahan sesak karena tindakan dan ucapan pria yang telah menjadi suaminya itu.


Sedangkan Excel, yang tidak pernah berhubungan dengan wanita selain Mikha, harus menyesuaikan diri dengan istrinya yang ceroboh dan pemarah.


Mampukah mereka mempertahankan pernikahan mereka?


Hanya cerita biasa ajah, hiburan semata!

Alur selow Yess ✌, no visual di dalamnya...visual di taro di igeh...

21+ AREA

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon misshel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Menumbuhkan Binar

Helaan napas sarat beban membuat Naja memejamkan mata sejenak. Semua sudah terlampau jauh, berbalikpun percuma.

Telapak tangan Naja menangkup wajahnya yang mulai basah. Berat sekali beban hidupnya dirasakan. Dilipatnya lutut untuk menumpu badannya. Menumpahkan cairan bening di sana. Berharap bebannya berkurang barang setitik.

"Salahkan jika seseorang memiliki sebuah keinginan? Memiliki mimpi atau mengubah nasib hidupnya?"

Naja tergugu dalam tangis, seharusnya uang bukan lagi masalah. Gaji luar biasa untuk pekerjaan yang sangat sedikit. Meski bukan artis terkenal, tapi Jen adalah selebriti sosial media. Memiliki brand fashion sendiri yang cukup di minati kawula muda.

Namun uang hasil kerjanya satu tahun ini, sudah berwujud rumah sederhana di kampungnya. Sehingga hanya tersisa sedikit untuk membayar uang semester Tara.

Sayangnya, Naja masih memiliki urat malu di dalam tubuhnya. Jika tidak, tentu dia akan meminta imbalan atas waktu dan tenaga demi membantu Tanna. Cukuplah untuk menyambung hidupnya beberapa bulan kedepan. Tahu diri, sebab dia tak berhasil menaklukkan Excel, malah mendapat cacian yang menyakitkan.

"Itu juga salahku!"

Kesalahan yang membuatnya berakhir di sini. Kembali ke titik nol yang sudah berulang kali terjadi padanya. Seolah membuka mata Naja, bahwa keserakahan tak akan membuat kita bahagia. Malah jurang menganga yang menyambutnya. Jika maaf akan mengembalikan keadaan seperti semula, dengan senang hati Naja akan melakukannya. Jika itu orang lain, Naja berani mendekap kakinya, tapi ini Excel, pria yang tak pernah ramah dan hangat, sejauh yang dia ingat.

Jemari Naja bergegas menyeka air mata saat air keran di kamar mandi berhenti. Susah payah dia menghentikan aliran air matanya. Tara tak boleh tahu kesusahannya.

Naja mulai membuka bungkusan makanan yang sejak tadi hanya dipandanginya. Meski sebenarnya dia tak memiliki keinginan untuk mengalihkan makanan itu ke dalam perutnya.

"Jangan menungguku kalau kau sudah lapar!" Tara melirik kakaknya sekilas, meletakkan handuknya kembali ke tempat semula.

"Lebih enak makan bersama kan?" Suara serak nyaris tak terdengar membuat Naja segera bangkit mengambil air minum dari galon tak jauh dari tempatnya duduk.

Tara mengambil kaos dari dalam lemari dan mengenakannya sebelum duduk berhadapan dengan kakaknya. Sejenak dia memperhatikan Naja dari dekat, kakaknya yang beberapa waktu ini seperti orang lain baginya. Bukan Naja yang hangat dan terbuka. Membagi suka dan duka padanya.

"Kenapa cuma dipandangi saja?" Tara memecah kebisuan diantara mereka.

Mata yang masih terlihat basah itu perlahan naik, mengibaskan sisa kesedihan. Memaksa Tara memandang kakaknya sinis. Menuding kakaknya sok kuat. "Mau aku suapi?"

"Aku bisa sendiri!" Naja mulai menyuapkan beberapa butir nasi kedalam mulutnya. Sedikit memiringkan badannya, menghindari tatapan tak mengenakkan dari adiknya.

"Makan yang banyak, kau mirip belalang kalau kurus!" Biasanya Naja akan marah jika dia mengatainya belalang. Namun, sepertinya kali ini, Naja tak punya niat untuk sekedar marah.

Keduanya makan dalam diam. Bahkan Naja tak sanggup menghabiskan seperempat bagian dari nasinya.

"Berapa lama kau minta cuti?"

Naja sedang mengemas sisa makanannya, lalu meraih kertas pembungkus makanan milik Tara. Melipatnya kecil dan memasukkannya kedalam plastik. Pura-pura sibuk.

"Jangan menghindar, Naja! Mau sampai kapan kau tak mau jujur padaku? Bukankah kita saudara? Aku lelaki, tubuhku lebih kuat menahan sakit daripada kamu!"

Naja kembali terduduk saat Tara meraih tangannya. Memaksanya menatap mata Tara.

"Aku hanya tidak ingin kau berpikir aku tak mampu lagi membiayai kuliahmu!"

Linangan air mata kembali membanjir, apalagi raut wajah Tara melunak.

Tara beringsut mendekati Naja. "Kau tau, kau adalah cewek cengeng yang sok kuat. Dihadapan adikmu kau tidak bisa berbohong! Tak perlu berpikir terlalu jauh, hadapi saja apa yang ada! Kita bisa melangkah ke depan bersama-sama, jika mundur akan membuatmu merasa buruk!"

Senyuman tipis terukir di sudut bibir Naja, "Makasih Ra, sudah mau mengertiku!"

Tara meraih kakaknya dalam pelukan. Dia tahu, seberapa besar derita Naja. Sebenarnya yang dia butuhkan hanya berbagi, dan selain kepadanya, -dan Ai kesayangannya- Naja tak pernah menunjukkan sisi rapuh dirinya.

Belaian di punggung Naja sepertinya ampuh membuatnya sedikit lebih baik. Sekalipun sulit, Tara akan berusaha meringankan beban kakaknya. Meski sekarang dia tak tahu harus berbuat apa.

"Kau tau, Ai mu ada di kota ini!"

Naja menjauhkan tubuhnya dari Tara. Menatap Tara penuh selidik. "Kau tidak sedang mencoba menghiburku bukan?"

Tara mencibir, "Anggap saja aku ngga ngomong apa-apa!"

Dia bergegas bangkit, meraih plastik berisi sampah untuk segera di buang di tempat sampah yang berada di luar pagar kos. Terlebih, Naja ada di sini, jika dia tidak sedikit rapi, Naja akan memarahinya.

"Hei, tidak boleh seperti itu! Kau sudah mengatakannya, ayo jawab! Dimana Ai?" Naja bangkit menghadang Tara. Binar di matanya tumbuh begitu cepat hanya dengan menyebut nama Ai.

Telunjuk Tara mengusir kening Naja yang sudah berada beberapa inchi di depannya. "Kau masih kerdil untuk bertemu Ai mu yang tinggi dan memakai setelan mahal!"

Tara berlalu meninggalkan Naja yang surut dan mematung. Harapan dan kecewanya bertumpuk lagi. Menyala dan padam dalam satu waktu.

"Mungkin sumpahku menyulitkan diriku sendiri!" Gumam Naja dengan tubuh ambruk.

Pupuskah harapanku untuk bersama Ai?

"Sudahlah, jangan memikirkan Ai lagi! Suatu saat dia akan menemuimu!"

"Kau tau dari mana? Apa Ai sudah menikah dengan Shifia?" Penuh harap, Tara tahu sesuatu tantang Ai.

"Pikirkan saja yang baik-baik tentang Ai mu itu, hingga kau siap mendengar sendiri darinya, apa yang dia laukan selama kalian berjauhan!"

"Ai sudah menikah?" Cicit Naja sambil menggigit bibir. Sekali lagi, bintik bening nyaris meluncur. Baru menduga saja, hati Naja sudah begitu perih.

"Aku tak mengatakan itu kan?" Menyesal, Tara menjadikan Ai sebagai hiburan dan semangat untuk Naja. Tara memang pernah melihat Ai kesayangan kakaknya, tapi Tara tak tahu apa-apa tentang Syailendra Jiwandaru. Selain tampak elegan dan berkelas.

"Lalu apa yang kau maksud siap mendengar sendiri tadi, ha?" Naja tampak kesal dengan kebisuan adiknya yang dianggap mempermainkan dirinya.

"Ya, bagaimana perjuangan Ai mu agar bisa tetap bersamamu! Bukankah itu juga layak untuk di dengar?"

"Itu sudah pasti, aku juga! Banyak hal yang akan kuceritakan padanya saat kita bertemu nanti!" Binar yang diharapkan Tara kembali menyala. Dan itu membuat Tara lega.

"Maaf, Naja!" Batin Tara.

"Tidurlah, kau pasti lelah membersihkan kamarku tadi!" Tara menyambar kasur lipat dan menggelarnya. "Kau bisa pakai kasurku, biar aku tidur disini!"

"Aku belum ngantuk! Lagipula aku ada sedikit orderan membuat cover cerpen, juga belum update quote di Ocehan.com!" Naja mengambil tablet pemberian Jen. Ah, seharusnya dia mengembalikan tablet itu.

Membuat cover, logo dan quotes adalah pekerjaan sampingan Naja. Meski hanya di bayar pulsa, Naja tak keberatan. Terkadang, dia membuat desain baju, meski hanya untuk di simpan sendiri.

Naja kembali tenggelam dalam kesibukannya di dunia online. Benar, apa yang menghasilkan uang, pasti akan di terjang. Tanpa berpikir resiko apa atau akan jadi seperti apa. Naja tak pernah berpikir panjang. Hasilnya, seperti sekarang. Bagai berjalan di bibir jurang.

.

.

.

.

.

.

.

.

1
Jessica
Luar biasa
Darmi Hana
Kecewa
Surati
Bagus
Raghiel Phoetra
Luar biasa
Diana Afra
mantap jayaa
jumirah slavina
sial'y bakal bikin km k'canduan
🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Rini Astria
Kecewa
Rini Astria
Buruk
futurewife
👍
watini fitrah
kmu lebih bodoh ganteng kaya culun😀
citra ucit
jgn2 mikha lagi kekasihnya tristan
El aisya
akhirnya🤣🤣
Widhi Labonee
syukaaaaaakkk
Asha Zhafira
🥰🥰🥰
Dewi Chusnual
😆😆😆biasanya sepanjang... tp ini sependek ,bisa aja Thor😁
Nurwana
berikan kebahagiaan untuk Ai Thor.....
JandaQueen
𝚒𝚝𝚞 𝚜𝚒 𝚖𝚒𝚔𝚑𝚊 𝚐𝚊 𝚓𝚊𝚍𝚒 𝚍𝚒 𝚙𝚎𝚗𝚓𝚊𝚛𝚊 𝚔𝚛 𝚗𝚒𝚔𝚊𝚖 𝚋𝚊𝚙𝚊𝚔 𝚗𝚢𝚊 𝚢𝚊...
JandaQueen
𝚖𝚊𝚜𝚒𝚑 𝚐𝚊𝚐𝚊𝚕 𝚏𝚊𝚑𝚊𝚖, 𝚔𝚎𝚜𝚊𝚕𝚊𝚑𝚊𝚗 𝚗𝚊𝚓𝚊 𝚗𝚢𝚊 𝚊𝚙𝚊 𝚢𝚊, 𝚜𝚊𝚖𝚙𝚎 𝚍𝚒𝚜𝚞𝚛𝚞𝚑 𝚋𝚊𝚕𝚒𝚔 𝚋𝚊𝚍𝚊𝚗. 𝚋𝚒𝚜𝚒𝚔𝚊𝚗 𝚍𝚒 𝚝𝚎𝚕𝚒𝚗𝚐𝚊 𝚢𝚐 𝚋𝚒𝚔𝚒𝚗 𝚎𝚡𝚌𝚎𝚕 𝚖𝚛𝚒𝚗𝚍𝚒𝚗𝚐 𝚍𝚒𝚜𝚌𝚘 𝚔𝚊𝚕𝚒 𝚢𝚊... 🤔
Suka Baca
Sungguh Thor karyamu bagus.. kata2 nya warrbiasa. 👍🏻 tetangga aku pinjem, jempolku cuma 2, kurang buat njempoli karyamu
👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻
JandaQueen
𝚍𝚞𝚑 𝚎𝚡𝚌𝚎𝚕, 𝚔𝚊𝚕𝚘 𝚗𝚐𝚘𝚖𝚘𝚗𝚐 𝚜𝚊𝚗𝚐𝚎𝚞𝚗𝚊𝚑𝚗𝚊 𝚠𝚊𝚎. 𝚜𝚎𝚋𝚎𝚕 𝚐𝚞𝚎 𝚖𝚊 𝚔𝚎𝚕𝚊𝚔𝚞𝚊𝚗 𝚕𝚘. 𝚐𝚞𝚎 𝚔𝚞𝚝𝚞𝚔 𝚕𝚘 𝚋𝚞𝚌𝚒𝚗 𝚜𝚎 𝚋𝚞𝚌𝚒𝚗2 𝚗𝚢𝚊 𝚔𝚎 𝚗𝚊𝚓𝚊...😣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!