Taniza dan Tania.
Saudara kembar yang terpisah sejak kecil.
Taniza dan Tania merupakan kembar identik, hanya saja sifat mereka bertolak belakang.
Taniza adalah sosok anak yang lemah lembut, baik hati, tidak pernah menyakiti siapapun, ia gadis yang sangat penurut.
sedangkan Tania , ia gadis yang lebih liar, tidak mau di atur, suka seenaknya,dan lebih suka hidup semaunya..
namun di balik sifat keduanya yang sangat bertolak belakang, mereka sama-sama saling menyayangi, namun takdir berkata lain, mereka mengalami kecelakaan dan membuat nya terpisah,namun sebelum kecelakaan itu terjadi, mereka iseng-iseng bertukar nama, tapi ternyata pertukaran identitas itu terbawa sampai dewasa.
Bismillahirrahmanirrahim....
Yuk ikuti kisahnya....
kawal mereka sampai tuntas...
jangan lupa beri dukungan ya ...
salam sehat semua.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Marina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22
Dalam waktu kurang dari satu jam, Tania yang asli telah sepenuhnya bertransformasi menjadi Taniza yang baru saja diselamatkan dari maut.
Tania berbaring di atas ranjang Klinik , memejamkan matanya rapat-rapat, merasakan dinginnya selang oksigen di hidungnya. Di balik ketenangannya yang menyamar sebagai pasien , dada Tania bergelora oleh lahar dendam yang siap meledak.
"Datanglah, Ameer... Datanglah, keluarga Hasanuddin... " batin Tania dengan napas yang teratur. Bawa aku kembali ke mansion iblis itu... "Karena Tania yang kalian kenal lemah dan penurut telah mati di dasar sungai... Dan yang kembali kali ini adalah perisai baja yang akan meruntuhkan kalian semua!"
Suara deru helikopter medis yang mendarat darurat di lapangan bola tak jauh dari klinik memecah keheningan malam di desa pinggiran kota. Hanya dalam hitungan menit dari laporan yang masuk, armada tim pengawal pribadi keluarga Hasanuddin langsung mengepung area Klinik Mulia Utama.
Pintu kaca klinik didobrak pelan oleh jajaran pengawal berbadan tegap. Di tengah barisan itu, melangkah seorang pria tinggi tegap dengan garis wajah tegas khas keturunan blasteran Turki. Ketampanannya sangat mencolok meski raut wajahnya pucat pasi, matanya memerah, dan lengannya terbalut perban tebal bertumpuk kain taktis.
Itu adalah Ameer.
Langkahnya tergesa-gesa membelah koridor, dadanya bergemuruh hebat antara harapan yang tersisa dan ketakutan yang meremukkan jiwa. Begitu melangkah masuk ke ruang perawatan khusus, matanya tertuju pada ranjang tempat seorang gadis terbaring dengan tubuh berselimut kain, infus terpasang, dan wajah yang dipenuhi luka lebam buatan Dokter Riri.
Ameer mendekati ranjang itu dengan langkah yang bergetar. Tangannya yang biasanya kekar dan kokoh menembak sasaran kini gemetar hebat saat terulur mengusap kepala Tania yang berbalut jilbab instan.
"Tania..." bisik Ameer dengan suara parau, hampir pecah oleh tangis yang ia tahan. "Tania... ini Kakak..., ayo bangun Tania...kakak tahu..., kau pasti kuat"
Pada saat yang bersamaan, kelopak mata Tania, yang berbaring menyamar sebagai Taniza mulai terbuka perlahan... karena menunggu terlalu lama, Tania sampai ketiduran,jadi begitu membuka mata, matanya berwarna merah.
Sensasi dingin dan aroma antiseptik memenuhi indra penciumannya. Dan begitu penglihatannya fokus, hal pertama yang tertangkap oleh manik matanya adalah wajah Ameer yang berada sangat dekat darinya.
Tania yang asli sempat tertegun di balik garis perasaannya yang di penuhi dendam.
"MasyaaAllah....ganteng sekali...." gumamnya dalam hati. Pria di depannya memang memiliki paras yang luar biasa tampan, struktur rahang yang tegas, dan mata cokelat tajam yang sarat akan dominasi sekaligus kerapuhan saat menatapnya. Namun, Tania mengingat dengan sangat jelas kata-kata saudara kembarnya di klinik tadi, Ameer hanya menganggap Tania sebagai adik kandung yang wajib dilindungi, bukan wanita yang dicintainya sebagai seorang kekasih.
Tania menatap lurus ke dalam manik mata Ameer tanpa berkedip , atau ketakutan yang biasa ditunjukkan oleh Taniza.
"Astaghfirullah....ampuni Aku Ya Allah, karena telah mengagumi ciptaanMu di depanku ini....di tatap dosa, gak di tatap sayang" gumamnya dalam hati terus merutuki dirinya.
Di balik tatapannya yang sayu dan berpura-pura lemah, ada perhitungan dingin yang mulai bekerja di dalam otaknya.
"ish.. Tania, jangan lupa misimu...." Tania merutuki matanya yang tanpa sengaja mengagumi ciptaan Allah yang sempurna di depannya ini.
Ameer yang melihat mata Tania terbuka langsung bernapas lega, seolah beban seberat gunung terangkat dari dadanya dalam satu detik....Namun tatapan Tania tak bergeming sampai Ameer menyadarkannya.
"Tania....!" Ameer menyadarkannya,.
Ehmmm
Tania melenguh pelan lalu mengerjap-erjapkan matanya.
Ameer berbalik menatap dokter spesialis dan tim medis helikopter yang dibawanya dari Jakarta.
"Siapkan inkubator transportasi dan helikopter sekarang " perintah Ameer dengan nada tegas dan komando yang biasa. "Kita pindahkan dia ke Rumah Sakit Internasional di pusat kota untuk perawatan intensif."
Namun, sebelum tim medis sempat menyentuh ranjang, jemari Tania yang terpasang infus perlahan terangkat, meremas pelan ujung kemeja hitam Ameer.
"Tidak..." bisik Tania sangat pelan, menirukan nada suara lembut Taniza yang tersedat-sedat. "Tania... Tania tidak mau ke rumah sakit..."
Ameer terkejut, berlutut di samping ranjang agar tingginya sejajar dengan Tania. "Tania, dengarkan Kakak. Tubuhmu baru saja selamat dari sungai, kamu butuh penanganan dokter spesialis di rumah sakit besar...."
"Tidak mau, Kak..." potong Tania pelan, menggelengkan kepalanya dengan raut wajah yang dipasang sangat pasrah dan memelas. "Tania cuma... mau pulang ke rumah... Tania takut rumah sakit..."
Dokter Riri, yang berdiri tak jauh di sudut ruangan dan sudah bekerja sama rapat dengan Tania, melangkah maju sambil membawa lembar catatan medis.
"Maaf, Tuan," sela Dokter Riri dengan tenang dan profesional. "Secara fisik, kondisi vital pasien sudah cukup stabil. Cairan di paru-parunya sudah dibersihkan dan luka fisiknya hanya memar luar. Jika pasien mengalami trauma psikologis hebat akibat penculikan, memaksanya masuk ke ruang rawat inap rumah sakit justru bisa memicu stres berat yang memperburuk kondisinya. Rawat jalan di rumah dengan pemantauan dokter pribadi sebenarnya jauh lebih disarankan."
Ameer menatap Tania lekat-lekat. Melihat tatapan Tania yang tampak begitu trauma dan memohon padanya, naluri perlindungan Ameer melunak. Rasa bersalah karena telah membiarkan gadis ini diculik dan nyaris tewas membuat Ameer tak sanggup menolak permintaan tersebut.
"Baiklah..." sahut Ameer halus, suaranya melunak drastis dari nada bicaranya yang biasa. "Kita pulang ke Mansion... Kakak yang akan jaga kamu sendiri di rumah."
Ameer melepaskan jas taktisnya, lalu dengan sangat hati-hati dan lembut menyelimuti tubuh Tania dengan jas hangatnya. Ia mengangkat tubuh kurus Tania ke dalam bopongannya dengan penuh kehati-hatian, seolah-olah membawa porselen mahal yang mudah retak.
Tania menyandarkan kepalanya di dada bidang Ameer dengan dada berdebar-debar. Ia juga bisa merasakan detak jantung pria itu yang berdegup kencang dan aroma maskulin yang bercampur bau mesiu tipis dari pakaiannya .
Di balik kelopak matanya yang terpejam menyandarkan diri di dada sang agen legendaris, bibir Tania di dalam hati menyunggingkan senyum dingin yang amat pekat.
"Pintu Mansion Hasanuddin akan segera terbuka lagi untukku... "batin Tania yang asli dengan dendam yang tenang dan membara. "Chana... Filio... persiapkan diri kalian. "Tania yang kalian lempar ke dasar sungai kini kembali pulang... langsung di dalam pelukan pahlawan kalian sendiri.
Ameer membawa Tania memasuki helikopter agar cepat sampai ke kediamannya mengingat hari sudah malam.
"Kak... bagaimana keadaan kakek,..?!, maaf ya sudah membuat kalian cemas" Tania menunduk , suaranya mengalun lembut meski terdengar kaku, namun ameer tidak curiga, karena menurut Ameer ,itu wajah karena rasa trauma yang di alami Tania yang hampir merenggut nyawanya.
"Kakek sangat terpukul, sampe kesehatannya menurun drastis "Jawab Ameer pelan.
Tania mengangguk pelan, seperti kata Taniza, kakek Hamzah adalah sosok tertua yang sangat menyayangi dirinya semenjak Taniza kecil masuk ke keluarga Hasanuddin.
_____
sebentar lagii, Ameer dan Tania akan Sah menjadi pasangan suami isteri, mungkin ya..kmu akan menghadirkan sosok Venera dihari yg sakral ini, tapiiii semua itu tidak akan membuat Ameer dan Tania goyah akan keputusan mutlak dr sesepuh Hasanuddin 😁 gaskuyyyy kakk, up lagiii yaaa.. krn kemarin aku tunggu dan bolak balik kesini ga ada muncul² 😆