Anindiya dikenal sebagai seorang makeup artist berbakat yang memiliki sanggar rias pengantin ternama di kotanya. Setiap hari, ia membantu para calon pengantin mewujudkan impian mereka tampil sempurna di hari bahagia. Hidupnya berjalan tenang hingga suatu hari ia mengunjungi sebuah butik tua untuk mencari beberapa gaun pengantin baru.
Di antara deretan gaun mewah, pandangannya terpaku pada sebuah gaun putih yang dipajang anggun di atas manekin. Ada sesuatu yang aneh sekaligus memikat dari gaun itu. Seolah memiliki kehidupan, gaun tersebut memanggilnya tanpa suara. Meski sang pemilik butik memperingatkan agar tidak menyentuhnya, Anindiya justru membawanya pulang.
Sejak saat itu, kejadian-kejadian mengerikan mulai menghantui hidupnya. Bisikan misterius terdengar di tengah malam, bayangan pengantin berlumuran darah muncul di setiap cermin, dan setiap pengantin yang mengenakan gaun tersebut mengalami nasib tragis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andhig Rosdiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 17
Rumah Rina berdiri di ujung gang kecil yang cukup sepi. Bangunannya sederhana, hanya terdiri dari ruang tamu, dua kamar tidur, dapur, dan teras kecil di bagian depan. Biasanya, begitu menginjakkan kaki di rumah, Rina selalu merasa aman dan tenang.
Namun malam itu benar-benar berbeda.
Sejak memarkirkan motornya di teras, perasaan ganjil yang mengintai belum juga menguap. Tangannya masih gemetaran hebat saat memutar kunci pintu depan.
Ia buru-buru masuk lalu mengunci pintu. Sekali. Dua kali. Bahkan ia memutar kait semua jendela kayu untuk memastikan seluruh ruangan terkunci rapat.
"Kenapa aku jadi penakut gini..." gumamnya pelan seraya menyandarkan punggung di balik pintu.
Ia mencoba menenangkan diri. Mungkin benar kata Mbak Anin, pikirannya sedang terlalu kacau akibat rentetan kejadian ganjil beberapa hari terakhir.
Rina melangkah ke kamar mandi untuk membasuh wajah. Air dingin menyentuh kulitnya, perlahan mendinginkan pening di kepala. Helaan napasnya mulai teratur.
Namun, saat ia mendongak dan menatap cermin di atas wastafel...
Tubuh Rina seketika membeku.
Di dalam pantulan cermin, tepat di belakang tubuhnya... tampak bayangan seorang perempuan berdiri diam di ambang pintu kamar mandi. Rambutnya panjang terurai, menutupi seluruh bagian wajahnya.
Rina spontan berbalik!
Kosong. Tidak ada siapa-siapa di balik pintu.
Dengan napas yang kembali memburu panik, ia perlahan melirik cermin lagi. Bayangan itu sudah menguap hilang.
"Astaghfirullahaladzim..." Rina meremas dadanya yang berdebar kencang. "Nggak apa-apa... jangan takut, Rin..."
Rina buru-buru keluar dari kamar mandi tanpa berani mengerling kaca itu lagi.
Malam bergerak kian larut. Jam dinding menunjukkan pukul sebelas malam.
Rina mencoba mengalihkan pikirannya dengan menyalakan televisi di ruang tamu. Namun, matanya sama sekali tak menikmati tayangan di layar. Tatapannya kosong. Tiap suara sekecil apa pun mendadak memicu desir takut di dadanya—desir gesekan ranting di atap genting, embusan angin yang menerobos celah ventilasi, bahkan suara cicak di dinding terasa begitu tajam.
Tak tahan lagi, Rina memutuskan masuk ke kamarnya. Lampu kamar sengaja biarkan tetap menyala terang. Ia tak punya keberanian untuk tidur dalam gelap.
Rina naik ke atas kasur, memeluk bantal erat-erat sambil menggenggam ponselnya. Berulang kali jarinya mengusap layar, berniat menelepon Anindiya. Namun niat itu diurungkannya. Ia khawatir Anindiya akan menganggapnya terlalu berlebihan.
"Besok pasti sudah hilang... ini cuma halusinasi..." bisiknya menenangkan diri sendiri.
Ia mencoba memejamkan mata.
Namun baru beberapa menit berlalu...
Tok... Tok... Tok...
Suara ketukan pelan terdengar dari balik pintu kamarnya.
Rina mendadak membuka mata. Pandangannya langsung tertuju pada gagang pintu.
Suara ketukan itu terhenti. Kamar kembali senyap.
"Mungkin cuma kayu pintu yang memuai..." bisiknya menghibur diri.
Ia kembali memejamkan mata.
TOK... TOK... TOK...!
Kali ini ketukannya terdengar jauh lebih keras dan tegas!
Rina spontan duduk tegak. "Nggak mungkin..."
Malam ini ia sendirian di rumah. Tidak mungkin ada orang luar yang mengetuk pintu kamarnya dari dalam rumah.
Dengan tenggorokan yang terasa amat kering, ia memberanikan diri berteriak. "S-Siapa...?"
Tak ada jawaban. Hanya keheningan yang mencekam.
Lima detik... sepuluh detik...
Lalu...
Sreeet... Sreeet... Sreeet...
Suara gesekan tajam merayap dari balik permukaan pintu kayu. Seolah-olah ada kuku-kuku panjang milik seseorang yang sedang sengaja menggaruk pintu kamarnya dari luar.
Air mata Rina menetes seketika. Ia menarik selimut hingga menutupi sebatas dada. "Astaghfirullah... Ya Allah..." Ia terus merapalkan doa dengan bibir bergetar.
Suara garukan kuku itu mendadak berhenti.
Rina menghembuskan napas lega yang tertahan. Namun belum sempat rasa lega itu meresap...
Zzztt... Zzztt...!
Lampu kamar berkedip hebat dua kali... lalu padam total.
Kamar seketika tenggelam dalam kegelapan.
Rina menjerit tertahan. Tangannya meraba-raba kasur dalam kegelapan mencari ponsel. Begitu teraba, ia buru-buru menyalakan lampu senter ponselnya. Cahaya putih tipis dari ponsel menerangi sudut-sudut kamar.
Napas Rina memburu kencang. Ia mengarahkan cahaya ke pintu. Kosong. Ke arah lemari. Kosong.
Namun saat cahaya senter mengarah ke sudut kamar dekat meja belajar...
Ponsel di tangannya nyaris terlepas.
Di pojok ruangan... berdiri seorang perempuan.
Tubuhnya amat kurus, dibalut gaun pengantin putih kusam yang penuh noda lumpur basah. Rambut hitamnya yang panjang dan lengket menutupi hampir seluruh parasnya. Ia berdiri mematung tanpa sedikit pun gerakan bernapas.
Rina memejamkan mata erat-erat. "Nggak... ini mimpi... ini cuma mimpi..."
Dengan tubuh yang menggigil hebat, ia kembali membuka mata.
Sosok itu masih ada di sana.
Perlahan-lahan... helai-helai rambut yang menutupi wajah sosok itu bergerak menyingkap dengan sendirinya. Sedikit demi sedikit... memamerkan kulit wajah yang amat pucat pasi seperti mayat yang membeku.
Lalu... sepasang matanya terpampang jelas.
Hitam. Bukan sekadar bola mata biasa, melainkan seluruh rongga matanya berwarna hitam kelam tanpa ada warna putih sedikit pun!
Tatapan mata kelam itu mengunci Rina dengan amat tajam. Tanpa berkedip. Tanpa ekspresi.
Rina berikhtiar berteriak sejadi-jadinya, namun suaranya tercekat rapat di kerongkongan. Tubuhnya mendadak terkunci kaku, tak bisa digerakkan sama sekali. Ia hanya sanggup menatap sosok mengerikan itu dengan penderitaan dan ketakutan luar biasa.
Sosok perempuan itu perlahan mendongakkan kepalanya. Sudut bibirnya yang kelabu terbuka sedikit, mengeluarkan suara lirih yang amat parau.
"...gaun...ku..."
Seketika itu juga, aroma bunga melati busuk memenuhi seluruh kamar! Aromanya begitu tebal dan menyengat hingga membuat paru-paru Rina terasa memampat. Dadanya bagai dihantam bobot berkuintal-kuintal.
Napasnya makin pendek dan patah-patah. Seolah-olah ada sepasang tangan tak kasat mata yang mencekik lehernya kuat-kuat!
Rina mencengkeram lehernya sendiri, air mata terus mengalir deras membasahi pipinya. "T-Tolong..." desahnya amat lirih.
Perempuan itu tak tampak melangkah. Namun tiap detik, wujudnya terasa kian mengikis jarak. Dari sudut kamar, kini sosoknya sudah berdiri tepat di samping tempat tidur Rina!
Aroma melati yang berbaur dengan bau tanah busuk basah menyengat tajam, membuat perut Rina mual hebat.
Perempuan itu perlahan mengangkat tangan kanannya. Jari-jarinya kurus memanjang dengan kuku-kuku hitam runcing. Ujung kuku itu melayang nyaris menyentuh pipi Rina yang bersimbah keringat dingin.
Dengan suara yang lebih tajam dan dingin membeku, ia kembali berbisik tepat di depan wajah Rina:
"...ke...na...pa... kau... mem...bi...ar...kan... di...a... meng...am...bil... gaun...ku...?"
Rina memejamkan mata rapat-rapat sambil menangis terisak, terus merapalkan doa di dalam hatinya.
Tiba-tiba...
Allahu Akbar... Allahu Akbar...
Suara kumandang azan Subuh bergema lembut dari musala tak jauh dari kampungnya, memecahkan keheningan malam.
Bersamaan dengan lantunan azan itu... aroma melati busuk yang menyesakkan dada perlahan-lahan menguap hilang. Cengkeraman tak kasat mata di leher Rina mendadak terlepas.
Saat Rina memberanikan diri membuka mata...
Sisi tempat tidurnya sudah kosong melompong. Sosok perempuan itu telah sirna tanpa meninggalkan jejak apa pun.
Klik.
Lampu kamar menyala terang dengan sendirinya.
Rina masih terduduk kaku di atas kasur. Bajunya basah kuyup oleh keringat dingin, matanya sembap oleh air mata.
Ia tidak tahu apakah teror malam ini benar-benar telah berakhir. Namun satu hal yang kini menancap pasti di dalam benaknya...
Semua ini bukan lagi sekadar halusinasi atau bayangan ketakutan.
Sosok itu telah benar-benar datang menagihnya. Dan sosok itu tak akan pernah berhenti sebelum mendapatkan kembali gaun miliknya.