NovelToon NovelToon
Dikhianati Sahabat Dan Kekasih Kini Aku Dewa Kematian

Dikhianati Sahabat Dan Kekasih Kini Aku Dewa Kematian

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Sistem
Popularitas:5.5k
Nilai: 5
Nama Author: kiyoe

Tiga tahun lalu, Sony kehilangan segalanya dalam satu malam akibat pengkhianatan sahabatnya dan mantan kekasihnya, Dimas dan Rina. Perusahaan keluarganya direbut, kedua orang tuanya dibunuh secara tragis, dan Sony dijebloskan ke dalam penjara paling kejam dengan tuduhan palsu. Namun, di tempat yang seharusnya menjadi akhir hidupnya itu, Sony justru bertemu dengan seorang guru misterius yang mewariskan ilmu bela diri tingkat dewa dan keterampilan medis kuno kepadanya. Setelah menghabiskan waktu di luar negeri, membantai para petarung terkuat hingga dijuluki Dewa Kematian, Sony kini menginjakkan kakinya kembali di tanah kelahirannya. Dengan kekuatan mutlak di tangannya, Sony bersiap untuk memberikan mimpi buruk dan membalas dendam kepada siapa saja yang telah menghancurkan hidupnya tanpa sisa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5

​"Hadirin sekalian, sekarang kita sampai pada barang puncak kita malam ini," umum juru lelang dengan nada bersemangat.

​Dua orang penjaga bertubuh kekar membawa sebuah kotak kaca berukuran sedang ke atas panggung.

​Di dalam kotak kaca itu terdapat sebuah jam tangan saku kuno berwarna emas yang sudah mulai pudar.

​Mata Sony langsung sedikit menyipit saat dia melihat benda tersebut dipajang.

​"Itu adalah jam tangan saku peninggalan mendiang kakekku," batin Sony dengan dada bergemuruh.

​Jam itu adalah satu-satunya benda pusaka keluarga yang tersisa setelah seluruh perusahaannya direbut.

​Dimas pasti sengaja menjadikan benda itu sebagai barang lelang untuk mempermalukan sisa harga diri keluarga Sony.

​"Jam tangan antik ini memiliki nilai sejarah yang sangat tinggi bagi pendiri kota kita," jelas juru lelang berbohong.

​"Harga awal untuk benda bersejarah ini dibuka di angka sepuluh miliar rupiah!"

​Ruangan lelang mendadak menjadi sangat sunyi senyap setelah harga fantastis itu disebutkan.

​Semua tamu sudah tahu bahwa barang itu sengaja disiapkan hanya untuk dibeli sendiri oleh Dimas sebagai pamer kekuatan.

​Mereka sama sekali tidak ada yang berani mengangkat papan penawaran.

​Dimas tersenyum sinis dan perlahan mengangkat papan nomornya ke udara.

​"Lima belas miliar," ucap Dimas dengan suara yang sengaja dikeraskan agar semua orang dengar.

​Dia menatap berkeliling ruangan seolah menantang siapa saja yang berani melawannya malam ini.

​"Tuan Dimas menawar lima belas miliar! Apakah ada yang berani menawar lebih tinggi?" seru juru lelang.

​Di sudut ruangan yang gelap, Sony memberi isyarat kecil menggunakan jari telunjuk kirinya.

​Leo langsung mengerti maksud tuannya dan seketika mengangkat papan penawaran mereka.

​"Lima puluh miliar," ucap Leo dengan suara datar namun menggema jelas di seluruh ruangan.

​Gasp!

​Suara tarikan nafas terkejut langsung terdengar serempak dari seluruh penjuru ruangan.

​Semua kepala sontak menoleh ke arah meja di sudut gelap tempat suara itu berasal.

​"Siapa orang gila yang berani melompatkan harga sejauh itu?" bisik seorang tamu kebingungan.

​"Dia pasti sudah bosan hidup karena berani menantang Tuan Dimas secara terbuka begitu."

​Wajah Dimas langsung mengeras mendengar penawaran yang sangat tidak masuk akal itu.

​Dia menoleh ke belakang dan berusaha keras melihat siapa yang duduk di sana.

​Namun pencahayaan yang sangat redup di sudut itu membuat wajah Sony tidak terlihat dengan jelas.

​"Enam puluh miliar," balas Dimas dengan nada suara yang mulai menahan amarah.

​Dia tidak mau kehilangan muka di depan semua tamu undangan penting ini karena masalah sepele.

​"Seratus miliar," potong Leo dengan cepat bahkan sebelum juru lelang sempat berbicara satu kata pun.

​Brak!

​Dimas memukul mejanya dengan sangat keras hingga gelas minumannya sedikit bergoyang dan menumpahkan air.

​"Seratus dua puluh miliar!" teriak Dimas yang kini sudah berdiri dari kursinya karena emosi.

​Rina mencoba menarik lengan baju Dimas untuk menenangkannya agar tidak merusak acara.

​"Sayang, tenanglah sedikit, jangan sampai kau terpancing emosi oleh orang gila," bujuk Rina panik.

​"Diam kau Rina! Aku tidak akan pernah membiarkan ada orang merendahkanku di acaraku sendiri!" bentak Dimas.

​Sony kembali menggerakkan jarinya dengan sangat santai dari tempat duduknya.

​"Tiga ratus miliar," ucap Leo dengan suara yang masih sama tenangnya tanpa beban.

​Krik.

​Ruangan itu seketika menjadi hening seperti kuburan mati yang tidak berpenghuni.

​Tiga ratus miliar untuk sebuah jam saku tua adalah harga yang sangat gila dan benar-benar tidak rasional.

​Bahkan kekayaan tunai Grup Dimas pun akan goyah jika harus mengeluarkan uang sebanyak itu hanya dalam semalam.

​Wajah Dimas kini berubah menjadi sangat merah padam seperti kepiting rebus.

​Urat-urat kemarahan terlihat sangat jelas bermunculan di leher dan dahinya yang berkeringat.

​"Siapa kau keparat! Jangan sembarangan menyebut angka jika kau tidak punya uangnya!" teriak Dimas menunjuk ke arah sudut ruangan.

​"Aku jamin orang itu hanya penipu miskin yang menyusup masuk ke acara ini untuk membuat kekacauan!"

​Juru lelang di atas panggung tampak sangat berkeringat dingin dan kebingungan menghadapi situasi ini.

​"Maaf Tuan misterius, tapi penawaran sebesar itu memang harus dibuktikan keabsahannya sekarang juga," kata juru lelang ragu-ragu.

​"Jika Anda tidak bisa membuktikan kepemilikan dana tersebut, maka penawaran akan kami anggap batal."

​[Sistem Peringatan: Tingkat emosi target utama sedang mencapai puncaknya]

​[Saran Sistem: Terus tekan mental target tanpa henti untuk menghancurkan kewarasannya]

​Sony mengabaikan tulisan layar biru sistem itu dan perlahan berdiri dari kursinya.

​Langkah kakinya terdengar menggema perlahan di tengah kesunyian ruangan lelang tersebut.

​Tap. Tap. Tap.

​Sony berjalan keluar dari sudut yang gelap menuju ke tengah ruangan yang tersorot cahaya lampu.

​Semua mata kini tertuju lurus padanya dengan pandangan penuh rasa penasaran yang memuncak.

​Rina yang melihat postur tubuh Sony dari kejauhan tiba-tiba merasa perasaannya menjadi sangat tidak enak.

​"Tunggu dulu, postur tubuh itu... tidak mungkin dia," gumam Rina dengan wajah yang mulai pucat pasi.

​Leo berjalan mengikuti Sony dari belakang sambil membawa sebuah kartu hitam.

​"Silakan gesek kartu hitam ini untuk memotong tiga ratus miliar secara tunai sekarang juga tanpa dicicil," kata Leo.

​Leo melempar sebuah kartu ke atas meja staf juru lelang yang ada di pinggir panggung.

​Kartu berwarna hitam pekat tanpa nama bank itu mendarat mulus tepat di depan panitia keuangan.

​Salah satu staf keuangan acara dengan tangan gemetar memasukkan kartu itu ke dalam mesin pemindai.

​Tiiiit!

​"P-pembayaran berhasil diproses dengan lunas," lapor staf itu dengan suara nyaris menangis karena terkejut.

​Seluruh tamu undangan langsung menelan ludah mereka sendiri dengan sangat susah payah.

​Uang tiga ratus miliar dibayar tunai tanpa berkedip sedikitpun bagaikan membeli kacang goreng.

​Pemuda misterius yang mengenakan jas hitam ini pasti bukan berasal dari keluarga biasa.

​Dimas melangkah maju meninggalkan mejanya dan berjalan cepat menghampiri Sony.

​"Siapa kau sebenarnya bajingan? Apa tujuan utamamu mengacaukan acaraku malam ini!" bentak Dimas penuh ancaman.

​Sony akhirnya mengangkat wajahnya secara perlahan dan menatap lurus tepat ke dalam mata Dimas.

​Bibir Sony melengkung ke atas membentuk sebuah senyuman yang sangat dingin dan mematikan.

​"Baru tiga tahun kita tidak bertemu, ternyata ingatan sahabat lamaku ini sudah sangat buruk," ucap Sony pelan namun tegas.

​Suara bariton yang khas itu membuat tubuh Dimas seketika kaku mengeras seperti disambar petir.

​Mata Dimas melebar hingga batas maksimal dan nafasnya seakan berhenti berhembus.

​Prang!

​Gelas anggur yang dipegang Rina di belakang sana jatuh ke lantai dan hancur berkeping-keping.

​Tubuh wanita itu gemetar hebat melihat wajah pria yang sedang berdiri tegak di hadapan tunangannya.

​"S-Sony... kau masih hidup?" bisik Rina dengan suara bergetar dipenuhi ketakutan yang mendalam.

​"Lama tidak berjumpa Dimas, Rina," sapa Sony dengan nada yang sangat sopan namun mengerikan.

​"Kalian berdua terlihat sangat sehat dan bahagia selama aku terbakar di dalam neraka."

​Dimas menunjuk wajah Sony dengan jari telunjuk yang gemetaran hebat.

​"I-ini sama sekali tidak mungkin! Bukankah kau sudah mati membusuk di penjara luar negeri itu!" teriak Dimas kehilangan akal.

​"Bahkan kematian pun menolak untuk menerimaku sebelum aku menyeret kalian berdua ikut bersamaku ke bawah sana," jawab Sony dengan tatapan membunuh.

1
Fajar Fathur rizky
cepat bantai mawar hitam permalukan ke media sebelum di bantai
kiyoe: bantai
total 1 replies
Fajar Fathur rizky
cepat bantai jendral haris beserta keluarganya dengan cara paling kejam dan sadis
kiyoe: hehehe
total 1 replies
Fajar Fathur rizky
cepat bantai jendral haris dengan cara paling kejam
Fajar Fathur rizky
cepat bantai Viktor dengan cara paling kejam
kiyoe: hehehe 🙏
total 1 replies
Fajar Fathur rizky
cepat bantai dimas dengan cara paling kejam pajang tubuhnya yang sudah tiada itu
kiyoe: mau di pajang ke mana kak tubuh nya hehe
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!