Eric Pratama, seorang remaja berusia tujuh belas tahun, mengungkap jati dirinya sebagai seorang mutan. Eric dibesarkan oleh ibunya tanpa sosok seorang ayah karena suatu alasan yang belum boleh diketahui Eric.
Dirinya memiliki dendam pribadi terhadap pemimpin mafia yakuza yang bernama Tatsumi Shojo, karena kematian keluarga ibunya di Rusia sejak tujuh belas tahun silam akibat tragedi pembunuhan yang dilakukan para Yakuza.
Namun saat ini Yakuza sudah sangat jauh berkembang pesat dari segi bertempur di medan perang. Hal itu sangat jauh tak sebanding bagi orang biasa seperti Eric, apalagi dengan pemimpin mereka Shojo yang mempunyai kekuatan iblis di dalam dirinya, hingga Eric berniat untuk membentuk kumpulan gangsternya sendiri dengan sang kekasihnya Yuri dan adiknya Ardhias.
Dengan sebilah pedang katana, bersama sang kekasih, adik, dan teman-temannya memerangi mafia yakuza dengan saling bahu membahu, akankah Eric berhasil membalaskan dendamnya di masa depan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Swag131, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 8 : Eric dan Yuri mulai dekat
Bel Pulang Sekolah Berbunyi
Pukul 17:00 WIB
Di sore hari murid-murid berjalan kaki keluar dari pintu gerbang SMA Trisakti. Sekilas terlihat murid yang kaya dijemput dengan mobil pribadi sepulang sekolah. Beberapa murid membicarakan tentang Eric dan Ardhias di perjalanan pulang.
Di jalanan pusat kota Axel, Eric dan Yuri berjalan kaki bersama sambil mengobrol. Eric yang sedari tadi sedikit salah tingkah benar-benar terpukau dengan kecantikan wajah Yuri yang berbinar cerah. Eric pun melamun beberapa saat, Yuri menyadarkan Eric dalam lamunannya.
"Luka kamu tidak apa-apa?"
"Eh! maksudnya?" Eric tersadar.
"Itu ..., luka kamu kok udah hilang di muka?"
Sayup-sayup kedipan mata lentik Yuri, gadis cantik ini menatap wajah Eric sukses membuat hati Eric berdegup kencang, namun tetap saja Eric berusaha stay cool.
"Oh ini, aku juga gak tau, mungkin air di kamar mandi sekolah bisa nyembuhin luka, hehe," senyum Eric.
"Kenapa kamu bisa ngalahin mereka? aku jadi penasaran kamu bisa sekuat itu,"
"Oh, itu! kuncinya adalah giat berlatih teknik beladiri,"
"Kamu punya keahlian beladiri?"
"Iya aku punya tiga keahlian beladiri, yaitu Silat, KickBoxing dan Taekwondo,"
"Wah hebat ...! kamu pasti rajin banget melatih diri kamu,"
"Iya, aku giat berlatih!"
"Guru yang melatih kamu siapa?"
"Aku gak punya guru, aku hanya belajar autodidak karena sangat tertarik untuk mempelajarinya," ujar Eric
"Oh ...! pantas saja tubuh kamu terlihat bagus, ternyata kamu rajin berolahraga, apa lagi itu hobi kamu!"
"Hahaha, iya dong. Kalau kamu punya keahlian beladiri apa?" tanya Eric
"Hmm, cuma satu keahlian beladiri, mengendalikan pedang samurai," jawab Yuri.
"Wah ... samurai? keren-keren, kamu punya berapa teknik?"
"Gak banyak sih ...."
"Hmm ... yang ngajarin kamu berlatih samurai siapa?"
"I-itu ...! kakek aku ..." jawab Yuri sedikit ragu.
"Berarti aku boleh ikut belajar bareng dong?" pinta Eric kepada Yuri.
"S-sebenarnya ... kakek ... aku ... Hiks ... hiks ..." tiba-tiba Yuri menangis membuat Eric tak tau harus bagaimana.
"Kamu kenapa nangis?" tanya Eric dengan perasaan kasihan,
"Hiks ... hiks ... kakek aku udah meninggal ... hiks ... hiks ... dia dibunuh dua tahun yang lalu hiks ...."
"Jangan nangis ..., nanti kakek kamu jadi sedih melihat kamu gini, aku yakin kakek kamu ingin kamu bahagia."
Kemudian Yuri pun berusaha menghentikan tangisnya dan mengusap air matanya.
"Suatu hari nanti, seseorang harus membayar apa yang udah dia lakuin ke Kakekku," ucap Yuri penuh antusias
"Jadi rumor itu benar, Ya. Kakek kamu Natsumi Hiro?" tanya Eric
"I-ya ... dia Kakek aku ..." jawab Yuri
"Kamu tenang aja, Yuri. Kalau kamu butuh bantuan, aku siap membantu kamu membalaskan dendam," ucap Eric meyakinkan Yuri
"Benarkah?" tanya Yuri sedikit ragu.
"Iya, aku serius," jawab Eric antusias
"Eric ...!!!" panggilnya dengan suara lantang hingga membuat Eric sedikit terkejut
"Bolehkah aku bertanya sesuatu?"
Ketika Yuri menanyakan hal ini, Eric benar-benar salah tingkah dan menundukkan wajah nya ke bawah, ia takut jika Yuri menanyakan apakah dirinya suka pada Yuri.
"Ya, baiklah. Tanyakan saja," jawab Eric dengan suara santai yang dipaksa.
"Apa rumor itu juga benar, kalau kamu anak Prof. Enmo Pratama?" tanya Yuri ke Eric
Eric menghela nafas lega, untungnya Yuri tidak menanyakan hal yang membawa mereka kehubungan lebih dekat, layaknya hubungan lelaki dan perempuan, karena Eric merasa dirinya belum siap.
"Iya, benar. Apa kamu tahu tentang Ayahku?"
Yuri ingin menjawab, namun pembicaraan mereka berhenti ketika mobil polisi berhenti tepat di hadapan mereka, tampaknya Eric terkena masalah sehingga harus berurusan dengan mereka.
"kamu yang bernama Eric Pratama?" tanya Polisi 1
"Iya, saya Eric Pratama"
"Kamu harus ikut kami ke kantor Polisi sekarang!" pinta Polisi 2
Yuri berusaha menyesuaikan diri dengan situasi yang terjadi, mencoba membuat dirinya tetap tenang
"Memang nya ada masalah apa ya, Pak?" tanya Yuri
"Eric Pratama telah melakukan kekerasan terhadap salah satu murid di SMA Trisakti" jelas Polisi 1
"Tapi itu kan cuma perkelahian biasa, Pak!" Yuri membela Eric
"Untuk selebihnya biar di Interogasi di kantor polisi,"
"Tapi pak-"
Ucapan Yuri dipotong oleh Eric
"Udah, jangan khawatirkan aku! aku tau siapa pembunuh bayaran Kakekmu, dia dikurung di balik jeruji besi kota ini," ucap Eric
Yuri hanya diam dan memasang raut wajah khawatir.
"Pulanglah! aku akan baik-baik saja," ucap Eric sedikit berusaha menenangkan Yuri.
Tangan Eric diborgol dan disuruh masuk ke dalam mobil petugas. Eric hanya mengikuti arahan polisi yang bertugas. Yuri masih memperhatikan Eric dari belakang mobil polisi itu. Dengan raut wajahnya yang khawatir, Yuri menatap jauhnya laju mobil berjalan, tampak dari dalam kaca mobil belakang, Eric melihat ke arah Yuri dengan senyuman.
Yuri yang melihat senyuman itu langsung hatinya bedebar-debar. sepertinya Yuri juga jatuh hati kepada Eric. Ternyata rasa cinta Eric terbalaskan.
_____________________________________________
Jepang
Tokyo, 11 Februari 2021
Gedung Yakuza
Tatsumi Shojo (50th), pemimpin dari Mafia Yakuza, memiliki wajah dengan bekas luka bakar di sebelah kirinya. Ia memiliki keahlian berpedang samurai tingkat tinggi. Saat ini Shojo sedang melakukan pencarian Prof. Enmo sejak dari 17 tahun yang lalu. Sampai sekarang, Tatsumi Shojo masih menggali keberadaan Enmo Pratama. Berbagai macam cara Shojo lakukan guna menemukan Enmo, salah satu bukti contoh besarnya adalah Shojo berani mengirim pembunuh bayaran untuk membunuh mantan atasannya sekaligus Ayah angkatnya Natsumi Hiro saat berada di Tanah Air, alasan mengapa Shojo mengirim Da Bai si pembunuh adalah karena Hiro tidak ingin memberitahu keberadaan Enmo, karena salah satu orang yang mengetahui keberadaan Enmo adalah Hiro sebagai Ayah angkat dari Enmo.
Da Bai di utus oleh Shojo dari jepang ke Tanah Air dengan perintah "Bila Hiro tidak memberitahukan keberadaan Enmo, mau tidak mau Da Bai harus membunuhnya." Tentu saja Da Bai dijanjikan bayaran yang mahal oleh Shojo.
Tatsumi Shojo sangat berambisi menemukan Enmo karena ia sangat menginginkan kekuatan dari serum ciptaan Enmo. Sekaligus ia juga ingin membalaskan dendamnya kepada Enmo akibat luka bakar pada wajah kirinya yang diderita Shojo semenjak 17 tahun silam.
Di dalam gedung mafia Yakuza, tepatnya di dalam ruangan pribadi Shojo, Shojo sedang berbicara kepada orang kepercayaannya, lebih tepatnya tangan kanan Shojo, Itsuki Mimanura.
" Enmo no saishin jōhō wa ikagadesu ka? Dabai kara kiita koto ga arimasu ka? "
"Bagaimana info terbaru tentang Enmo? apa kalian sudah dapat kabar dari Da Bai?" tanya Shojo.
"Tsutae rareru tokoro ni yoru to, Dabai wa akuserushiti no gōsutotaun keimusho de korosa remashita, sā"
"Kabarnya Da Bai telah terbunuh di dalam penjara Ghosttown kota Axel, tuan"
"Sono keimusho de nendora basuu~eda wa nani o shite imashita ka, kare wa da bai no inochi o hoshō shimasendeshita, watashi wa anata ni nendora o koko ni tsurete kuru yō ni tanomimashita, watashi wa kare ni ressun o oshiemasu"
"Apa yang dilakukan Nendra Basweda di penjara itu? bukankah dia menjamin kehidupan Da Bai, aku minta kau bawa Nendra ke sini, aku akan memberinya pelajaran!" titah Shojo kepada Itsuki
"Kashikomarimashita"
"Dimengerti, tuan!" patuh Itsuki atas perintah tuannya.
Tiga Helikopter pun terbang dari jepang ke Negeri Tanah Air, sebelumnya mereka telah mengatur sesuatu tanpa harus diperiksa saat memasuki kawasan wilayah tanah air, tentunya mereka sudah membayar untuk itu.
Pasalnya pemerintah tanah air akan membiarkan yakuza atau pun semacam kumpulan musuh masuk ke Tanah Air, selagi mereka tidak membahayakan penduduk Tanah Air. Yakuza telah mendapat surat izin dari Tanah Air, apabila Yakuza membuat kekacauan, pasukan tentara Tanah Air tidak akan segan-segan memerangi Yakuza. Pasukan tentara tanah air dikenal dengan pasukan gerilyanya, mampu bertahan hidup dari perperangan apa pun, tentu Yakuza telah menandatangi berkas di atas materai dan membayar mahal sebagai jaminan untuk tidak berbuat kekacauan. Lagi pula Yakuza hanya ingin menjemput seseorang, yaitu saudara angkat Shojo, Nendra Basweda.
Terlihat di dalam Helikopter para yakuza mengenakan jas hitam serta kacamata hitam, setiap orang dari mereka memiliki pedang samurainya masing-masing, beberapa memiliki senjata api, seperti AK-47 dan Uzi.
Itsuki berada di dalam helikopter paling depan sedang memegang pedang samurainya yang masih berbalut sarung pedang.
"Segarnya negeri hijau ini." Gumam itsuki pelan
Sekilas ketika mereka memasuki wilayah pantai, tampak dari ketinggian pepohonan hijau yang indah diselingi sungai-sungai yang indah pula, terlihat juga kehijauan sawah padi dengan beberapa hewan ternak dan petani. Para yakuza itu menikmati pemandangan tersebut dan lanjut menelusuri pulau demi pulau selama tiga hari dua malam lamanya. Helikopter mereka memiliki kecepatan yang sudah maksimal. ditingkatkan oleh pembuatnya baru-baru ini. perjalanan mereka pun sampai di atas perkotaan, terlihat dari atas sekilas kemegahan gedung di negeri tanah air sudah dapat disandingkan dengan negara-negara yang telah maju. hingga tiba lah mereka di atas Kota Axel.
.........
Tanah Air
Axel, 14 Februari 2021
Pukul 20:43
Itsuki dan yakuza kru helikopter mendarat di atas gedung parkiran Heli yang sudah disediakan tiga hari yang lalu, tentu mereka sudah membayar untuk itu.
"Negeri yang damai, sampai kapankah kedamaian ini bertahan?" gumam Itsuki pelan dengan senyuman sinis terpatri di wajahnya.
Baca di "Dangerous Minds" untuk kelanjutannya!
Oh ya, untuk rasa terimakasih nitip promo, saya sudah kasih 15 like dan favorit novel ini. Terimakasih, Thor!
buat temen2 yang mau baca tulisanku juga mampir yuuk