NovelToon NovelToon
Sistem Cashback 10x: Semakin Boros, Semakin Kaya!

Sistem Cashback 10x: Semakin Boros, Semakin Kaya!

Status: tamat
Genre:Perubahan Hidup / Sistem / Kaya Raya / Tamat
Popularitas:53.3k
Nilai: 5
Nama Author: Galih Lestari

"Dikhianati istri, diperas mertua, membesarkan anak yang bukan darah dagingnya.

Raka Pratama hidup bak budak — sampai ia terlahir kembali dengan Sistem Cashback 10x. Sekarang, setiap rupiah yang ia habiskan kembali sepuluh kali lipat.

Perceraian? Ia yang memulai. Konglomerat yang mengancam? Hancur. Pejabat korup? Ditangkap hidup-hidup. Dari nol menuju jajaran orang terkaya dunia — ini bukan dongeng. Ini balas dendam.
"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Galih Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 35

Bab 35 - Mengawasi Budi

Nisa menunduk dengan senyum yang belum hilang. "Kalau begitu, saya akan bekerja sampai saya sendiri percaya saya pantas berada di sini."

Kalimat itu membuat Raka diam sejenak.

Ada orang yang diberi kesempatan lalu langsung mencari jalan pintas. Ada yang diberi bantuan lalu menganggap dunia berutang selamanya. Nisa berbeda. Ia tidak meminta panggung. Ia hanya ingin ruang untuk tumbuh tanpa dipermalukan oleh masa lalunya.

"Bagus," kata Raka. "Mulai dari besok, jangan datang terlalu pagi sampai lupa tidur."

Nisa tersipu. "Iya, Pak."

Pintu ruang rapat tertutup setelah Nisa keluar. Kehangatan kecil itu belum sempat mengendap lama ketika Yuli masuk membawa ekspresi yang jauh lebih tajam.

"Mas Raka, ada kabar tidak enak."

Adi yang sedang merapikan tablet langsung menoleh. "Kevin?"

"Bukan langsung. Budi."

Nama itu membuat udara berubah lagi. Budi selalu seperti bau asap dari tempat sampah terbakar; kecil, kotor, tetapi kalau dibiarkan bisa masuk ke semua ruangan.

Yuli meletakkan beberapa foto di meja. Budi terlihat di depan sebuah ruko tua dengan lampu neon setengah mati. Di foto lain, ia duduk bersama dua pria kasar. Ada gelas plastik, kartu, dan lembaran uang kusut.

"Dia masih judi online?" tanya Raka.

"Lebih buruk," jawab Yuli. "Dia sekarang keluar masuk tempat judi darat juga. Bentuknya seperti ruang biliar dan kafe malam, tapi belakangnya dipakai meja kartu dan taruhan. Pinjol ilegal yang kemarin menagih juga punya orang di sekitar situ."

Adi mengerutkan kening. "Dia mencari uang untuk bayar utang dengan membuat utang baru."

"Klasik," kata Yuli. "Dan ada tambahan. Dia mulai sebut-sebut nama Mas Raka ke orang sana. Katanya mantan iparnya kaya, pelit, dan bisa diperas kalau ditekan lewat orang dekat."

Raka menatap foto itu tanpa emosi.

"Orang dekat?"

Yuli menggeser satu foto lain. Itu foto Nisa di luar kantor, diambil dari jauh. Tidak terlalu jelas, tetapi cukup untuk menunjukkan bahwa seseorang mulai memperhatikan pegawai baru Garuda Shield.

Agus yang baru masuk dari koridor langsung mengeras. "Dari mana foto ini?"

"Sumber lapangan saya dapat dari grup kecil penagih," kata Yuli. "Belum ada tindakan langsung, tapi ada obrolan kotor. Mereka mengira Nisa orang lemah di sekitar Mas Raka."

Raka meletakkan foto itu perlahan.

Kevin mencoba mencari kelemahannya dari atas.

Budi, dengan kebodohan khasnya, justru membuka pintu bagi orang bawah untuk menebak sasaran.

"Tingkatkan perlindungan Nisa," kata Raka. "Tapi jangan membuatnya merasa dikurung. Rute pulang-pergi dicatat, shift aman, nomor darurat aktif, satu anggota standby jarak jauh."

Agus mengangguk. "Siap, Bos."

Adi bertanya, "Untuk Budi?"

"Pantau. Jangan sentuh."

Yuli mengangkat alis. "Ada orang yang bisa mengatur meja supaya Budi kalah total malam ini. Saya dengar tawaran itu sudah muncul. Mereka bilang kalau Mas Raka mau, cukup bayar sedikit, hasilnya Budi habis tanpa perlu tangan kita terlihat."

Ruangan itu hening.

Tawaran seperti itu terdengar manis bagi orang yang sedang marah. Biarkan Budi kalah, biarkan ia tenggelam, biarkan semua orang berkata itu akibat dirinya sendiri. Tidak ada darah di tangan Raka, setidaknya di permukaan.

Yuli membuka pesan dari perantara itu. Bahasanya licin: "Kami cuma bantu alam bekerja lebih cepat." Ada tarif, ada janji hasil, ada kalimat bahwa Budi memang sudah pecandu jadi tidak ada yang perlu merasa bersalah. Orang seperti itu selalu menjual dosa dengan bungkus efisiensi. Mereka tahu dendam membuat orang kaya mudah membuka dompet.

Raka membaca pesan itu sampai selesai, lalu meletakkan ponsel kembali di meja.

Namun Raka tahu bau jebakan moral.

"Tidak," katanya.

Yuli menatapnya dengan serius. "Saya juga pikir begitu. Tapi saya harus sampaikan opsi yang beredar."

"Kita tidak membeli meja. Tidak mengatur kartu. Tidak membuat orang berjudi supaya kalah. Budi sudah cukup bodoh untuk menghancurkan dirinya sendiri. Aku tidak perlu menjadi bandar kedua."

Adi mengangguk pelan. "Kalau kita masuk ke sana, Kevin bisa balik menyerang. Bahkan tanpa Kevin pun, itu salah."

"Benar," kata Raka. "Yang kita butuhkan bukti. Siapa pengelola tempat, siapa memberi pinjaman, apakah ada ancaman, apakah mereka menyasar orang sekitar saya. Kalau ada pelanggaran hukum, serahkan ke pengacara dan polisi pada waktu tepat."

Ia mengambil ponsel dan menghubungi Hendra. Pengacara itu menjawab setelah dering kedua. Raka menjelaskan singkat: ada dugaan perjudian ilegal, pinjaman berbunga kasar, dan potensi ancaman terhadap pegawai. Tidak ada instruksi untuk menjebak. Tidak ada permintaan memanipulasi permainan.

"Kirim salinan bukti mentah ke kantor saya," kata Hendra dari seberang telepon. "Jangan diedit. Jangan dipotong untuk dramatis. Catat sumber, waktu, dan siapa yang memegang file. Kalau nanti perlu laporan, rantai bukti harus bersih."

"Itu yang saya mau," jawab Raka.

Setelah telepon ditutup, Adi terlihat lebih lega. Garis batas kembali jelas: mereka menunggu lawan melanggar hukum dengan kamera menyala dan pengacara siap.

Yuli tersenyum tipis. "Nah, ini yang bikin saya betah kerja. Bos kaya, tapi masih takut jadi kriminal."

"Aku bukan takut," jawab Raka. "Aku tidak mau memberi musuh hadiah."

Malam itu, Yuli masuk ke tempat judi tersebut sebagai pelanggan biasa, ditemani satu sumber perempuan yang sudah mengenal lingkungan itu. Ia tidak membawa alat yang mencolok. Hanya ponsel dengan kamera standar, uang secukupnya untuk terlihat wajar, dan kepala dingin. Tugasnya bukan menangkap orang, bukan memancing Budi, bukan menawar utang. Tugasnya mencatat wajah, arus uang, pola pinjaman, nama penjaga, dan cara mereka menekan orang kalah.

Raka menunggu laporan di kantor Garuda Shield bersama Adi dan Agus.

Kopinya sudah dingin.

Di layar, protokol perlindungan Nisa sudah aktif. Jam pulang Nisa diubah lebih awal tanpa alasan menakutkan: Adi menyebutnya penyesuaian training. Satu anggota perempuan Garuda Shield diminta mengantar sampai titik ojek online yang aman. Nisa tidak tahu detail ancaman, tetapi ia cukup peka untuk menyadari suasana kantor sedikit lebih waspada.

Raka juga meminta nomor darurat keluarga Nisa diperbarui di sistem internal hari itu juga.

"Kalau dia tanya?" kata Adi.

"Beri tahu seperlunya. Jangan bohong, tapi jangan menakut-nakuti."

Agus menerima pesan dari tim luar. "Nisa sudah sampai rumah. Aman."

Raka mengangguk.

Pukul sebelas malam, pesan Yuli masuk.

Foto pertama menunjukkan Budi tertawa dengan wajah merah, memegang kartu. Foto kedua menunjukkan ia menandatangani sesuatu di meja kecil. Foto ketiga menunjukkan pria bertato menghitung uang.

Lalu pesan suara Yuli menyusul. Suaranya rendah, hampir tertutup musik dangdut koplo dari tempat itu.

Kalimat itu penting. Ia menutup celah Budi untuk berperan sebagai korban yang diseret paksa.

"Bos, tak ada yang memaksanya. Budi sendiri yang kembali ke meja itu."

1
Wega Luna
ka,rumah kita dekat dong ,saya tinggal di belakang perumahan Citraland🤣🤣🤣🤣, sawah saya sudah dibeli Citraland,,cuma masih boleh ditanami belum dibangun🤭🤭🤭
casanova
kurang suka bacanya
Tyo Reanu
bener2...dont judge a book by its cover....
Tyo Reanu
Awalnya, sempat mengira cerita ini hanya akan seperti cerita2 sistem pada umumnya, cheesy,dendam,absurd...dan saya mintamaaf yang sebesar2nya untuk penulis akan itu.
mungkin sepertinya, baru kali ini aku baca cerita di platform online yang punya alur, bahasa dan kekuatan cerita kaya gini.
terimakasih untuk cerita luarbiasa nya Gan....
irena
bagus banget ceritanya thor
Anonim
ceritanya menarik
Zidan Official
knp GK ceraiii aja woii
penggemar_Uangkecil?!
👍👍
penggemar_Uangkecil?!
👍👍
penggemar_Uangkecil?!
👍👍
Aang Reza
bagus👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!