Zhafira Nayara Humaira, gadis berparas cantik, namun yatim piatu. Memiliki kepribadian lembut, ramah dan tegas dalam bersikap. Kini sedang berkuliah lewat jalur beasiswa.
Tak sedikit Mahasiswa yang ingin menjadikan pacar tapi selalu ia tolak secara halus, karena ia tak ingin fokusnya terganggu. Hingga ia menerima Bryan, pria yang selalu ada untuknya. Mereka memutuskan untuk menikah siri dan tinggal di aparteman yang sama.
Setelah wisuda selesai, Bryan izin pulang ke Jakarta, Zhafira sering mual dan muntah. Di tengah ketidaknyamanan, Zhafira tak sengaja menyaksikan siaran langsung di TV. Brian, suaminya sedang melangsungkan pertunangan dengan wanita cantik, elegan.
Seketika dadanya seperti tertusuk jarum besar, perih dan menyakitkan. Bersamaan itu ia baru saja mengetahui kalau dirinya sedang hamil.
Bagaimana ia menghadapi kenyataan pahit itu? Mampukah ia bertahan demi nyawa yang dikandungnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tientien AQuariuzz Girllzz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 10 MARAHNYA ORANG DIAM
SELAMAT MEMBACA !!!
Tanpa terasa Fira sudah satu minggu menjadi istrinya Bryan. Pagi ini mereka akan pergi kuliah, Fira sudah membuat sarapan untuk mereka.
"Sarapan dulu, Mas!" panggil Fira kepada suaminya yang juga sudah rapi siap berangkat ke kampus.
Bryan tersenyum, mendekat ke arah Fira. Lalu mencium keningnya. "Terima kasih, Sayang. Padahal kamu juga capek setiap hari bersih-bersih rumah. Masih masak untuk kita," ucap Bryan kepada istrinya.
Fira tersenyum lembut sambil menatap wajah suaminya. Tanpa menunggu lama, Bryan pun langsung mengecup bibir Fira dengan penuh kasih sayang.
Mereka berdua belum melakukan malam pertamanya, Bryan sendiri juga baru pulang semalam dari luar kota. Jadi malam pertama masih di tundanya, Bryan juga tak mau memaksakan ke hendak, takut Fira belum siap dan tak nyaman. Biarlah waktu yang akan membawa mereka ke malam pertamanya yang tertunda, entah sampai kapan.
"Kamu bisa bawa mobil kan, Yang?" tanya Bryan sambil menyantap nasi goreng buatan istrinya yang sangat lezat.
Fira tersenyum dan menganggukan kepalanya, "Bisa, Mas. Aku sering diajari sama ketiga sahabatku, Mas. Kalau seandainya ketiga sahabatku main ke sini apa boleh, Mas?" tanya Fira lirih takut, Bryan tak mengizinkannya.
"Silahkan saja, Yang. Kalau mereka ingin main ke sini. Ini juga rumahmu jadi kamu juga berhak mau mengajak siapapun ke sini tapi jangan laki-laki lain selain Zafran, Sayang. Aku nggak suka kamu dekat-dekat laki-laki lain!" seru Bryan menatap wajah Fira dengan serius.
Fira menganggukan kepalanya, "Siap, Mas. Aku juga nggak suka dekat dengan laki-laki lain selain Zafran dan keluarganya tentunya."
Mereka keluar dari apartemennya menuju ke parkiran mobil tempat mereka memarkirkan mobilnya.
"Kamu hati-hati bawa mobilnya, Yang. Ayo aku ikuti dari belakang!" pesan Bryan kepada suaminya. Fira mencium tangan suaminya, takut setelah sampai kampus nggak bisa berpamitan.
Fira masuk ke dalam mobilnya dan menjalankan pelan bergabung dengan pengendara lainnya.
Lima belas menit kemudian mobil Fira sudah sampai di parkiran mobil.
Ia melihat Tasya yang juga baru keluar dari mobilnya. "Sya! Tunggu aku!" teriak Fira yang baru keluar dari mobilnya.
"Widih mobil baru ya, Besty?" tanyanya kepada Fira.
Fira memberi kode untuk diam dulu, "Husstt...Nanti aku ceritain kalau sudah sampai kelas!" bisik Fira sambil menggandeng tangannya Tasya.
Tiba-tiba mereka dihadang oleh Sabrina dan kawan-kawannya. "Hei, kamu yang sok cantik!" teriak Sabrina kepada Fira.
Fira dan Tasya menghentikan jalannya dan menatap tajam ke arah Cinderella drama itu. Fira melihatnya dengan tangan dilipat di depan dada.
"Drama pagi segera dimulai, Fir. Bersiap-siaplah untuk menyaksikannya. Baru juga masuk hari pertama kuliah sudah ada drama saja!" seru Tasya yang kesal sekali dengan Sabrina. Selalu mencari masalah dengan Fira, padahal Fira sendiri tak pernah membuat masalah dengannya.
"Bagaimana rasanya diusir dari Kost-kostan malam-malam hari?" tanyanya sedikit mengejek ke arah Fira.
"Hmmm...jangan bilang itu ulah kamu ya Brina. Dasar perempuan tak punya hati. Hei Sabrina yang terhormat, beginilah anak seorang Dekan yang terkenal itu? Tingkah lakunya seperti Ayahnya, heran aku itu kepadamu. Salah apa Fira kepadamu sehingga tiap hari kamu ganggu, HAH?!" teriak Tasya nggak terima sahabatnya diperlakukan seperti itu.
Sabrina cuek saja tapi dia langsung menjawabnya, "Kamu mau tau apa salah dia kepadaku? Kamu mau tau, HAH?! Salah dia yang selalu tebar pesona dan sok cantik sendiri, anak beasiswa saja bangga!" sahutnya.
"Sudah bicaranya, sekarang giliran saya yang bicara wahai Cinderella yang baik hatinya! Ingat-ingat kataku ini ya, kalau soal cantik sih jangan diragukan benar nggak teman-teman?"
"BENAR..!!" jawab mereka dengan serempak.
Sementara Bryan yang mendengar ucapan istrinya hanya tersenyum geli.
"Terus untuk yang tebar pesona aku menolaknya. Kapan aku tebar pesona, sedangkan tiap hari kegiatanku hanya belajar di dalam kelas, istirahat ke kantin. Terus kapan aku tebar pesonanya?" tanya Fira.
Teman-temannya saling berbisik dan terkekeh, debat sama Fira nggak bakal akan menang. Ia tahun kemarin juara satu lomba debat se Universitas di Bandung.
Lalu Tasya sama Fira berjalan melewati Sabrina. Tanpa Fira duga Sabrina menarik kerudungnya hampir saja terlepas, jika tak di tahan oleh tangannya, jarum yang berada di lehernya sampai menusuk ke dalam kulitnya, darah segar menetes di bajunya.
Fira membalikan tubuhnya dengan mata dingin, ia langsung maju dan tangannya menampar kedua pipinya Sabrina.
Plak! Plak!
"Selama ini saya bersabar menerima setiap hinaan yang kau ucapan. Namun kali ini anda sudah keterlaluan serta menginjak harga diri saya dengan menarik kerudung yang saya anggap sebagai penutup aurat saya. Orang yang patut dituduh tebar pesona itu anda sendiri. Lihatlah penampilan anda memakai baju saja seperti baju kurang bahan!"
Sabrina kaget dengan tindakan yang dilakukan dengan menampar kedua pipinya. "Awas saya akan laporkan ini ke Ayah saya!" teriak Sabrina nggak terima dirinya ditampar dua kali.
"Silahkan laporkan ke Ayah kamu. Saya nggak takut, mereka semua bisa saya jadikan saksi. Silahkan Tuan Putri, aku tunggu panggilannya!" seru Fira dengan matanya yang sudah memerah menahan emosinya
Ia berlalu disusul Tasya di belakangnya, dari kejauhan Bryan mengepalkan tangannya. Istrinya sedang dilecehkan orang lain di depan matanya sendiri.
Di belakangnya Zafran, memegang bahunya. "Sabar, Fira bisa mengatasinya sendiri. Bantu dia jika pihak kampus mempertanyakan beasiswanya, aku juga akan membantu sebisanya. Kamu tau sendiri kan Pak Robert itu sifatnya bagaimana? Persis seperti putrinya!" pesan Zafran kepada Bryan.
Ia tau apa yang harus dilakukannya. "Baik aku akan membantunya jika itu diperlukan. Tapi hanya sekedar saksi, Fira belum mau semua orang tau dengan pernikahan kami," jawab Bryan.
Mahasiswa yang berkumpul tadi sudah membubarkan diri ke kelasnya masing-masing. Sementara Elena yang mendengar jika Zhafira menampar Sabrina di dalam benaknya berpikir ada masalah apa? Sampai-sampai Fira menamparnya iru bukan style Fira main tangan.
Di dalam kelasnya Zhafira masih meluapkan emosinya, ia berulang-ulang menghela napas untuk mengurangi rasa emosinya.
"Sabar, Fir. Kamu jangan takut jika dilaporkan ke Pak Robert. Nanti aku akan suruh Mama ke sini sebagai walimu. Dan ada saksi banyak yang melihat kejadian ini!" seru Zafran, saat sudah duduk di belakangnya Fira.
"Selamat pagi semua," sapa Dosennya yang baru masuk.
"Selamat pagi, Bu," jawab semua orang yang berada di kelas.
"Zhafira kamu dipanggil keruang sidang. Ada masalah apa?" tanya Dosen itu.
"Wah ini nggak bisa dibiarkan, Bu. Paling juga Sabrina lapor ke Ayahnya. Padahal dia yang salah duluan. Mohon maaf ya, Bu. Kami harus ikut ke ruang sidang, Bu, demi membela Fira yang nggak bersalah!" seru Denis.
"Kalian di sini saja, aku sanggup mengatasinya sendiri," ujar Fira menenangkan teman-temannya.
Ia lalu izin kepada Dosennya untuk menuju ke ruang sidang. Zafran sudah memberitahukan kepada Bryan. Ia juga sudah menghubungi Mamanya untuk ke kampus jika di perlukan.
Zafran tetap izin, ia nggak tenang melihat Fira menghadapi masalahnya sendirian. Bu Dosen mengizinkannya selain Zafran disuruh untuk tinggal di dalam kelas.
Tok! Tok! Tok!
Pintu dibuka oleh Fira dari luar, ia masuk setelah diizinkan oleh orang yang berada di dalam ruangan itu. Fira kaget ternyata sudah banyak orang yang menunggunya.
"Silahkan duduk, Nak Fira!" seru Pak Rektor. Karena ini menyangkut beasiswanya Fira, maka Pak Robert meminta Pak Rektor ikut sidang.
Fira duduk di kursi single seperti tersangka yang siap dihakimi.
"Apa benar, kamu sudah menampar kedua pipinya Sabrina?" tanya Pak Rektor.