Arifah yang masih duduk dibangku Sekolah Dasar seringkali mendapatkan kenakalan teman-temannya bahkan gurunya sendiri pernah sesekali mempermalukannya.
Puncaknya, Aska sebagai saudara kandung Arifah tidak memberitahunya bahwa kedua orang tuanya sudah meninggal karena kecelakaan sebuah pesawat. Tidak sampai disitu, Aska sebagai keluarga satu-satunya yang ia punya pun juga pergi meninggalkannya. Belum lagi menghadapi anak angkat Mami yang ternyata seseorang yang datang hanya untuk mengambil keuntungan dari keluarganya.
Lalu mampukah Arifah berdamai dengan takdir yang telah digariskan? Dan apakah dengan hadirnya malaikat pelindung disisinya mampu membuatnya menjadi pribadi kuat dan tangguh?
Saksikan kisah selengkapnya ya, jangan lupa like dan vote juga. Terima kasih.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sariyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps. 8 Aska Tidak akan Mengasihani Adik Kecilnya, Dia akan Memberi Hukuman
"Hoaamm.."
Arifah terbangun dari tidurnya dan mencoba melirik jam weker, "Sudah jam lima". Gumamnya.
Kruk.. Krukk.. Krukk
"Aihh aku sangat lapar, aku hanya sarapan sepotong roti tadi pagi." Ucapnya.
Semenjak Arifah mendapatkan kasus disekolah, ia tidak berani menampakkan wajahnya didepan Mami, Papi dan Aska, terutama Papi. Papi sangat marah besar dengan kejadian itu.
Arifah berusaha bangkit dari tempat tidur, "Au.. Kepalaku pusing sekali. Mungkin karena terlalu banyak menangis dan perut yang tidak terisi jadinya seperti ini." Ucapnya lagi.
Dengan perlahan Arifah berjalan menuju kamar mandi lalu membersihkan tubuhnya. Kemudian mengganti pakaian dan menyisir rambutnya yang basah.
Arifah melihat dirinya dengan teliti didepan cermin, ia memegang matanya yang tampak membengkak dan merah. "Kau sangat menyedihkan, siapa yang akan mengasihanimu? Tidak ada kan yang mempercayaimu? Sungguh malang nasibmu!" Arifah berusaha berbicara dengan dirinya sendiri dan tersenyum getir.
Krukk.. Krukk..
Arifah memegangi perutnya dengan meringis, "Aku lapar sekali, aku harus makan sesuatu." Ucapnya.
Arifah keluar dari kamarnya menuju dapur dengan mengendap-endap. Namun, ia mendengar obrolan Papi dan Mami diruang keluarga. Arifah berusaha mendengar dengan seksama.
"Pi, dari tadi Arifah belum makan!" Ucap Mami.
"Biarkan saja, itu hukuman untuknya!"
"Tapi Pi, bagaimana jika dia sakit? Kasihan dia."
"Mi, Arifah harus mendapatkan pelajaran dari apa yang telah ia perbuat. Dia tidak boleh mendapatkan uang jajan mulai hari ini dan jangan coba-coba memberinya makan kalau belum mendapatkan izin dariku!" Jelas Papi dengan nada tingginya lalu pergi meninggalkan Mami.
Mendengar itu Arifah berlari kedalam kamarnya, dia menangis dibalik pintu sejadi-jadinya.
Aska melihat Arifah lari kearah kamar dengan menutup mulutnya menahan sesuatu. Aska hendak menyusulnya, namun tiba-tiba Mami memanggil Aska yang baru saja sampai.
"Aska, darimana saja kamu?" Tanya Mami.
Aska lalu duduk diruang tamu, "Habis dari sekolah Arifah Mi!" Jelasnya.
"Ada perlu apa kamu kesana?" Tanya Mami penasaran.
"Aku ingin mencari tahu informasi tentang Febri, tapi nihil." Ucap Aska kesal.
Mami duduk disamping Aska, "Untuk apalagi kamu mencari anak itu, apa kamu tidak mempercayainya?"
Aska memijat kepalanya yang berdenyut dan menyandarkan kepalanya disofa, "Apa Mami tidak mendengar bahwa Arifah tidak mengenalnya?"
"Mami dengar! Tapi surat itu bagaimana? Tulisan dikertas itu sangat mirip sekali dengan tulisan milik Arifah. Mami tidak habis pikir Arifah akan melakukan itu semua!" Ucap Mami kesal.
Aska sangat pusing memikirkan adik kecilnya, dia juga tidak ingin berdebat dengan Mami. Aska memilih pergi kekamar meninggalkan Mami, "Aku kekamar dulu Mi." Pamitnya.
Aska menaiki tangga, lalu pergi kekamar Arifah.
Tok.. Tok.. Tok..
Arifah kaget dan menyeka air matanya dengan cepat, "Siapa?" Tanyanya.
"Ini Mas, ayo buka pintunya!"
Tanpa pikir panjang Arifah langsung membuka pintu kamar dan memeluk Aska.
"Aku tidak melakukannya sama sekali Mas, aku tidak mengenal Febri, kami tidak pernah bertemu." Arifah mengadu dengan tangis sesenggukan. Aska membalas pelukannya dengan erat. Aska benar-benar tidak mampu melihat adik kecilnya seperti ini.
Aska membelai rambut Arifah lembut. Lalu melepaskan pelukannya, "Apa kamu sudah makan?"
Arifah menggelengkan kepalanya.
"Tunggu disini, Mas ambilkan nasi, kamu harus makan, Mas tidak mau kamu sakit." Ucap Aska.
"Tapi Mas." Belum sempat Arifah menjelaskan Aska sudah pergi.
Aska mengambil nasi lengkap dengan lauk, sayuran, beberapa buah, segelas susu dan segelas air putih.
Papi yang melihat itu langsung menegur Aska. "Untuk siapa makanan itu?" Tanyanya.
"Arifah terlihat pucat Pi. Dia belum makan sejak kemarin bukan?"
"Dia sedang menjalani hukumannya, biarkan dia seperti itu untuk beberapa waktu. Papi yang akan memutuskan kapan Arifah selesai menjalani hukumannya, dan jangan coba-coba mengasihaninya" Jelas Papi dan berlalu pergi.
Aska tidak dapat berbuat apapun jika Papi sudah memutuskan sesuatu. Aku harus segera menemui Febri, agar masalah Arifah tidak berlarut-larut dan kondisi keluarga normal kembali, batin Aska.
Lalu Aska menemui adik kecilnya memegang kedua bahunya, "Apa kamu sungguh-sungguh tidak mengenal Febri?"
"Aku tidak mengenalnya sama sekali Mas." Jawabnya dengan derai air mata mengingat kejadian itu, Arifah merasa beruntung hari ini karena Aska memperdulikannya dan berniat menyelesaikan masalahnya.
"Kamu sedang menjalani hukuman dari Papi, kamu harus bertahan sampai Mas menemukan bukti" Jelasnya, menatap lekat Arifah.
"Mas percayakan sama aku?" Tanya Arifah menatap mata Aska.
Aska lalu memeluk Arifah lalu melepaskannya. Aska tidak menjawab pertanyaannya, ia menatap adik kecilnya yang terlihat pucat dan membelai rambutnya pelan. Aska merasa kasihan dengannya yang masih sangat kecil namun sudah menanggung beban seperti ini.
"Beri Mas waktu untuk membuktikan semuanya." Ucap Aska dan dijawab anggukan Arifah.
Pagi harinya Aska sudah menunggu didepan pintu gerbang sekolah Febri. Aska sangat teliti melihat Siswa yang memasuki gerbang sekolah.
Aska keluar dari mobilnya lalu melihat seorang Siswa yang hendak berlari ketika melihatnya. Ia tahu anak itulah yang bernama Febri. Aska mengejar Febri dengan sangat cepat dan berhasil meraih tangannya.
"Ja-Jangan sakiti aku, aku mohon." Ucapnya ketakutan.
Dengan nafas ngos-ngosan, Aska memegang kedua bahu Febri, "Jangan takut, aku Aska, saudara kandung Arifah. Aku menemuimu hanya ingin menanyakan beberapa hal. Apakah kamu mengenal Arifah? Apakah kalian saling kenal?" Tanya Aska.
Febri yang ketakutan berusaha memberanikan diri, "Aku sudah mengatakan semuanya dengan jelas waktu itu? Kenapa masih bertanya?" Ucap Febri.
"Jadi yang kamu katakan adalah benar adanya?" Tanya Aska.
"Tentu, untuk apa aku berbohong. Aku melaporkan Arifah kepihak sekolah karena aku sangat tidak nyaman jika Arifah terus menerus mengirimi aku surat seperti itu." Jelasnya dengan ekspresi meyakinkan, Febri sangat pandai dalam hal ini.
Melihat Aska yang bengong, Febri segera berlari sekencang-kencangnya sampai memasuki gerbang sekolah. "Akhirnya selamat." Gumamnya.
Aska benar-benar kecewa dan marah dengan perbuatan nakal Arifah. Kali ini Aska tidak akan mengasihani adik kecilnya lagi, dia harus mendapat hukuman yang tepat agar tidak mengulang kenakalan-kenakalan lainnya lagi, batinnya dengan menatap Febri yang lari pergi menjauh darinya.
***
Libur masa tenang sebelum ujian akhir sekolah. Vika berencana mendatangi Febri hari itu juga, ia sebenarnya takut kalau sampai Febri mengatakan yang sesungguhnya.
Sesampainya dirumah Febri, Vika mengetuk pintu dengan keras beberapa kali. Selang beberapa menit akhirnya Febri membuka pintunya. Ia melihat Vika yang tampak kesal.
"Kenapa lama sekali!" Gerutu Vika.
"Maaf, aku tadi sedang mandi!" Febri kaget dengan kedatangan Vika hari ini. Mau apalagi dia, batinnya.
"Bagaimana? Apa sudah melakukan tugasmu dengan baik?" Tanya Vika melipat kedua tangannya diatas dada dengan menatap Febri sinis.
"Ya, aku sudah melakukan seperti yang kamu mau!" Jawab Febri ketus.
"Bagus! Dengar, kamu jangan sampai membawa nama ku dalam masalah ini! Jika sampai itu terjadi kamu akan tahu sendiri akibatnya bukan?"nJelas Vika dengan nada ancaman.
"Ya aku tahu!" Jawab Febri pasrah namun terlihat panik.
Vika melihat wajah Febri yang terlihat panik, mungkin itu terlihat biasa ketika seseorang berbuat kesalahan namun Vika menangkap sesuatu yang lain.
"Apa ada seseorang yang menemuimu?" Tanyanya menyelidik menatap kearah Febri tajam.
"Ya, beberapa hari yang lalu."
Vika mengernyitkan keningnya, "Siapa?"
"Orang itu mengaku dia adalah Aska, saudara kandung Arifah!" Jelasnya.
"Apa? Dimana kalian bertemu?" Tanyanya panik.
"Disekolah!"
Bagaimana mungkin orang itu dapat menemui Febri, padahal aku sudah mengatakan pada Pak Rusli untuk merahasiakan identitas Febri, batinnya. "Apa yang orang itu tanyakan?"!Tanya Vika panik.
"Orang itu bertanya apakah Arifah sungguh-sungguh tidak mengenalku. Aku menjawab sesuai kemauanmu, sesuai yang dengan yang kamu ajarkan padaku, jadi kamu tidak perlu khawatir, aku tidak mau kehilangan biaya hidupku!" Jelasnya meyakinkan Vika.
Vika tersenyum sinis, "Bagus, lakukan sesuai dengan apa yang sudah aku katakan padamu, jangan sampai orang-orang mengetahui rencana kita!" Jelas Vika.
"Tentu saja, sekarang pulanglah, tidak baik anak perempuan mendatangi laki-laki!" Ucap Febri yang sebenarnya malas bertemu Vika.
Vika lalu pergi meninggalkan Febri sendirian. "Hufhh akhirnya dia pergi. Kapan aku bisa lepas dari jeratan iblis kecil sepertinya ya Tuhan, aku sudah tidak tahan lagi menjaga rahasia ini". Gumamnya menatap langit.
.
.
.
TBC...
Jangan lupa like n vote 😊
.
.
.
Halo Pembaca Budiman yang Baik Hati dan Manis-Manis. Ini adalah Novel Pertama Saya, Mohon Dukungan dan Semangat dengan Cara Like, Klik Favorit dan *Vote***nya yaa**.
Terima Kasih, Semoga Terhibur, dan Selamat Membaca 🤗
jangan lupa jaga kesehatan jugaa
like nya sudah mendarat
lanjut dan semangat selalu💪😍💜
Semangat tuk karyanya ya kak 🤗❤️