Suatu malam, entah kenapa, muncul semacam notifikasi aneh di kepala Doni — seperti pesan sistem di game, tapi ini nyata. Sistem ini memberinya satu informasi akurat setiap minggu: bisa berupa saham yang akan melejit, barang langka yang harganya bakal meroket, atau peluang bisnis kecil yang menguntungkan. Masalahnya, modal Doni nyaris nol. Jadi cerita ini bukan tentang tiba-tiba kaya, tapi soal gimana Doni pelan-pelan memutar informasi terbatas jadi modal, sambil tetap kuliah, kerja part-time, ngurusin teman-teman kos yang berisik, dan menghindari kecurigaan orang-orang di sekitarnya kenapa dia tiba-tiba "beruntung" terus.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rachmat Rachimullah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kalah Lelang
UTS Mikroekonomi berlalu dengan hasil yang bikin Doni cukup lega nilainya B+, jauh dari kata gemilang tapi setidaknya nggak memalukan.
Herman malah dapet nilai lebih jelek dan ngomel sepanjang hari sambil nyalahin dosen yang katanya "soalnya nggak masuk akal, kayak nyusun teka-teki silang versi setan."
"Yang penting lo lulus, Man. Jangan banyak protes," ledek Doni sambil ngunyah gorengan yang dibeli dari kantin.
"Enak lo, otaknya lagi encer belakangan ini. Gue mah encer cuma pas laper doang."
Malam sebelum jadwal "notifikasi" mingguan, Doni sengaja tidur lebih awal, udah kebiasaan nyiapin diri kayak orang nunggu waktu buka puasa.
Tapi kali ini, begitu dengingan khas itu muncul jam tiga pagi, ada yang beda teksnya nggak langsung muncul kayak biasa, malah nge-lag sebentar, kayak sinyal internet lemot di pelosok desa.
[SISTEM INFORMASI MINGGUAN AKTIF]
Info Minggu Ini: Lelang koleksi keris pusaka dan benda antik dari keluarga besar mendiang kolektor H. Prawoto akan digelar tiga hari lagi di Balai Budaya Kota. Salah satu item—Keris Nogo Sasro replika era kolonial dengan sertifikat otentikasi asli—diperkirakan akan dilepas dengan harga pembukaan rendah karena minim promosi.
Nilai pasar sebenarnya untuk kolektor serius: Rp150.000.000–Rp200.000.000.
Catatan tambahan: Kemungkinan ada pihak lain yang turut memburu barang ini. Disarankan bertindak cepat dan hati-hati.
Doni langsung melek sempurna, jantungnya berdegup jauh lebih kencang dari biasanya. Angka nol di belakang harga itu bikin dia sampai ngitung ulang tiga kali biar yakin nggak salah baca. Tapi yang bikin dia lebih deg-degan justru catatan tambahan di bagian bawah baru kali ini sistem ngasih peringatan kayak gitu. Selama ini info selalu simpel, aman, tanpa embel-embel "hati-hati" segala.
"Ini serius apa gue lagi mimpi sinetron," gumamnya di kegelapan kamar, sementara Herman ngorok kayak biasa, sesekali ngiler dikit di bantal.
Masalahnya, modal buat ikut lelang barang seharga ratusan juta jelas nggak masuk akal buat mahasiswa kos macam Doni, meskipun tabungannya sekarang udah jauh lebih tebal dibanding beberapa bulan lalu.
Tapi dia mikir, kalau cuma modal buat ikut nawar sampai batas tertentu dan kemudian jual lagi ke kolektor lain dengan selisih harga, itu masih mungkin dilakukan asal dia nggak kalah cepat sama "pihak lain" yang disebut sistem.
Tiga hari berikutnya Doni sibuk riset. Dia gabung forum kolektor benda pusaka, nanya-nanya cara kerja lelang, sampai belajar dikit soal etika dan hukum jual-beli benda budaya biar nggak kena masalah legal.
Sinta, yang kebetulan lewat kos Doni buat minjem catatan kuliah, sempat nemuin Doni lagi buka artikel soal "cara autentikasi keris pusaka" di laptop Herman.
"Lah, sekarang lo tertarik keris pula? Kemarin piringan hitam, sekarang senjata pusaka. Lo mau jadi dukun apa gimana, Don?"
"Riset doang, Sin. Buat... proyek pribadi."
"Proyek pribadi lo makin lama makin aneh aja," Sinta menyipitkan mata, curiga makin menjadi-jadi. "Gue serius, Don, kalo lo ada masalah, cerita aja. Gue bukan tipe yang bakal julidin lo."
Doni menghela napas, sempat kepikiran buat jujur, tapi keburu sadar cerita soal sistem gaib di kepalanya bakal kedengeran kayak alasan orang lagi kena skizofrenia. "Nggak ada masalah kok, Sin. Beneran cuma hobi baru aja."
Sinta nggak sepenuhnya percaya, tapi milih nggak maksa lebih jauh, walau raut wajahnya masih nunjukin dia nyimpen banyak tanda tanya.
Hari lelang tiba. Balai Budaya Kota penuh sesak sama bapak-bapak berjas necis dan ibu-ibu berkalung emas tebal, aroma parfum mahal bercampur dupa dari pameran benda antik di sudut ruangan.
Doni, dengan kemeja pinjeman dari Herman yang kebesaran dua nomor, ngerasa kayak anak ayam nyasar ke kandang elang.
"Nomor peserta 47," kata petugas sambil ngasih papan angka ke Doni. "Deposit lelang sudah dikonfirmasi."
Doni duduk di kursi paling belakang, jantung berdegup kencang tiap kali item baru dilelang.
Begitu giliran Keris Nogo Sasro muncul, ruangan yang tadinya rame jadi hening sesaat, seolah semua orang lagi ngukur-ngukur lawan.
"Baik, item berikutnya, Keris Nogo Sasro replika era kolonial, harga pembukaan dua puluh lima juta rupiah," kata juru lelang.
Doni ngangkat papan nomornya, tangan gemetar. "Dua puluh lima!"
Belum sempat dia lega, suara lain langsung nyaut dari barisan depan. "Tiga puluh!" Seorang pria berkacamata hitam, berpakaian rapi mencolok, menaikkan papannya dengan gaya percaya diri yang bikin Doni langsung ciut.
Doni ngangkat lagi. "Tiga puluh lima!"
"Empat puluh," balas pria itu cepat, hampir tanpa jeda, seolah udah tau persis sampai mana batas kemampuannya sendiri.
Perang tawar itu berlangsung cepat, angka naik terus sampai menyentuh tujuh puluh juta jauh di atas modal Doni yang cuma nyisa sekitar enam puluh lima juta hasil gabungan tabungan dan sedikit utangan dari teman sekelas yang dia janjiin bunga kecil.
Doni ngangkat papan terakhir kalinya, suaranya sedikit gemetar. "Tujuh puluh lima!"
Ruangan hening sesaat. Pria berkacamata hitam itu diam cukup lama, menatap Doni lurus-lurus dari kejauhan dengan ekspresi yang susah dibaca bukan marah, tapi lebih kayak penasaran, seolah baru sadar ada "pemain baru" di arena yang biasanya cuma dia kuasai sendirian.
"Tujuh puluh lima, sekali... dua kali..." juru lelang mengangkat palunya.
"Delapan puluh," suara pria itu akhirnya muncul lagi, kali ini pelan tapi mantap, seolah sengaja ngasih jeda buat bikin Doni sadar diri.
Doni menelan ludah. Modalnya udah mentok. Dia nggak bisa nawar lebih tinggi lagi tanpa resiko kebangkrutan total.
"Delapan puluh juta, sekali, dua kali... TIGA KALI. Terjual kepada peserta nomor dua belas!"
Doni duduk lemas, campuran kecewa dan lega karena nggak sampai nekat ngutang lebih jauh dari kemampuan.
Sesaat sebelum ninggalin ruangan, pria berkacamata hitam yang menang tawar tadi sempat lewat di depannya, sekilas ngangguk sopan gestur basa-basi khas kolektor kaya yang mungkin emang udah biasa menang di lelang-lelang kayak gini, nggak lebih dari itu.
"Yah, gagal," gumam Doni sambil ngelepas kemeja pinjeman Herman yang udah basah keringat di bagian ketiak. "Tapi setidaknya gue nggak sampe ngutang segunung demi keris."
Sepulang dari balai lelang, dia mampir beli bakso buat ngobatin kekecewaan, sambil mikir ulang strategi ke depan modal sebesar apapun ada batasnya, dan kadang emang harus rela ngalah kalau lawannya jelas-jelas lebih siap secara finansial.
Setidaknya dia belajar satu hal penting bukan semua info dari sistem harus dikejar mati-matian sampai lupa diri.
Malam itu, sebelum tidur, teks yang udah dia hafal formatnya muncul lagi di balik kelopak mata.
[Info berikutnya akan tersedia dalam 6 hari 20 jam 08 menit]
Doni menatap langit-langit kamar kos lama-lama, sementara Herman ngorok santai di sebelahnya.
Dia menghela napas panjang, separuh kecewa karena kehilangan potensi cuan gede, separuh lega karena minggu ini nggak perlu mikirin cara nyimpen rahasia dari transaksi yang gagal terjadi.
"Ya udahlah," gumamnya sambil merem. "Masih ada minggu depan."