NovelToon NovelToon
Liontin Dewi: Jalan Sang Raja Obat

Liontin Dewi: Jalan Sang Raja Obat

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Mengubah Takdir / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:5.4k
Nilai: 5
Nama Author: Nissa Safira

Rizky Pratama adalah lambang kegagalan; hidup miskin, sering dipecat, dan selalu sial, sampai sebuah kecelakaan tragis merenggut segalanya. Namun, maut justru membawakannya keajaiban berupa Liontin Dewi yang menyatu dengan tubuhnya, memulihkan lukanya secara instan dan melambungkan kecerdasannya di atas rata-rata manusia. Lebih gila lagi, liontin itu memberinya kemampuan mengendalikan tanaman, dari mempercepat pertumbuhan, menemukan herba langka, hingga menciptakan varietas obat ajaib yang belum pernah ada sebelumnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nissa Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12

Rizky dan Indah duduk berhadapan di dalam ruang laboratorium yang sejuk.

Di atas meja, botol berisi Pil Pemulih Vitalitas berdiri kokoh bagaikan piala kemenangan.

"Rizky, kita harus segera mendaftarkan paten dan izin edar obat ini ke BPOM kota," kata Indah membuka diskusi.

"Jika kita terlambat, resep ini bisa dicuri dan diklaim oleh perusahaan farmasi besar yang punya banyak mata-mata."

Rizky mengangguk setuju sambil mengetuk-ngetukkan jarinya ke atas meja kaca.

"Berapa lama biasanya proses birokrasi untuk mendapatkan surat izin resmi itu keluar?" tanya Rizky penasaran.

Indah menghela napas panjang dan memijat pelipisnya perlahan.

"Kalau lewat jalur normal, bisa memakan waktu tiga sampai enam bulan masa pengujian."

"Tapi karena klinikku punya jalur prioritas, kita bisa memotong waktunya menjadi satu minggu saja."

"Satu minggu masih terlalu lama Nona Indah, aku ingin memproduksinya mulai besok pagi," balas Rizky tersenyum penuh arti.

Indah melebarkan matanya mendengar target waktu yang sangat tidak masuk akal tersebut.

"Kau sudah gila ya? Birokrasi negara ini tidak bisa disuap dengan senyuman santaimu itu."

"Mari kita buktikan saja nanti, sekarang siapkan semua dokumennya dan kita berangkat ke kantor pengawas," ajak Rizky berdiri dari kursinya.

Satu jam kemudian, mobil sedan milik Indah terparkir di halaman gedung Badan Pengawas Obat dan Makanan kota.

Mereka berdua berjalan memasuki lobi gedung yang tampak sibuk dipenuhi banyak orang membawa map.

Indah langsung membawa Rizky menuju lantai tiga ke ruangan Kepala Divisi Pengujian Herbal.

TOK TOK TOK.

Indah mengetuk pintu kayu berwarna cokelat gelap itu dengan sopan.

"Masuk saja, pintunya tidak dikunci," terdengar suara berat seorang pria dari dalam ruangan.

Rizky dan Indah membuka pintu dan melangkah masuk ke dalam ruangan yang penuh dengan tumpukan berkas.

Di balik meja kerja, duduk seorang pria paruh baya berkepala plontos dan memiliki perut buncit.

Papan nama di mejanya bertuliskan Inspektur Haris, Kepala Divisi Pengujian.

"Selamat siang Pak Haris, saya Indah dari Klinik Bintang Abadi mau menyerahkan sampel obat baru," sapa Indah ramah.

Haris menatap Indah dari atas ke bawah dengan pandangan mata yang kurang sopan.

"Oh, Nona Indah yang cantik, kebetulan sekali saya sedang sangat sibuk hari ini," jawab Haris memutar kursinya.

Indah meletakkan map berisi dokumen dan botol sampel pil itu ke atas meja Inspektur Haris.

"Tolong dibantu proses secepatnya Pak, ini suplemen herbal murni yang khasiatnya sudah kami uji di lab klinik."

Haris mengambil botol plastik itu dan memutar-mutarnya dengan gaya meremehkan.

"Suplemen herbal murni dari klinik kecil? Paling-paling ini cuma jamu serbuk murahan yang dipadatkan."

Rizky yang sejak tadi diam mulai merasa tidak nyaman dengan sikap arogan pejabat ini.

"Anda belum membuka dan mengujinya Pak, jangan sembarangan menilai produk kami," tegur Rizky dingin.

Haris melotot marah ke arah Rizky yang berpakaian jauh lebih sederhana dari Indah.

"Kamu ini siapa berani menceramahi saya di ruangan saya sendiri?" bentak Haris memukul meja.

BRAK.

"Saya ini ahli penguji yang sudah puluhan tahun bekerja, saya tahu mana obat asli dan mana obat palsu."

Haris lalu mengambil stempel berwarna merah dari lacinya dan langsung mengecap kasar dokumen milik Indah.

CAP TUNTAS.

Indah terbelalak kaget melihat tulisan DITOLAK berwarna merah besar menghiasi map dokumennya.

"Pak Haris, apa-apaan ini? Bapak bahkan belum membawa sampelnya ke laboratorium untuk dicek," protes Indah tidak terima.

"Obat buatan kalian ini mengandung bahan kimia berbahaya yang belum terdaftar, titik," kilah Haris dengan senyum licik.

"Silakan keluar dari ruangan saya sekarang juga, atau saya panggil keamanan untuk mengusir kalian."

Indah nyaris menangis karena usahanya dihancurkan begitu saja tanpa alasan yang jelas.

Namun Rizky justru maju selangkah dan menatap tajam langsung ke mata Inspektur Haris.

Mata super penilainya tidak digunakan pada tanaman, tapi otak jeniusnya mulai menganalisa ruangan tersebut.

"Inspektur Haris, gaji golongan Anda saat ini maksimal hanya sekitar delapan juta rupiah per bulan kan?" tanya Rizky tiba-tiba.

Haris mengerutkan dahinya bingung mendengar pertanyaan acak dari pemuda di depannya.

"Apa urusannya denganmu dasar gembel, keluar sana!"

"Tapi aneh sekali, Anda bisa memakai jam tangan Rolex emas seri Daytona yang harganya menembus empat ratus juta rupiah," tunjuk Rizky ke pergelangan tangan Haris.

Wajah Haris seketika berubah pucat dan ia buru-buru menyembunyikan tangan kirinya ke bawah meja.

"Dan ujung kerah kemeja yang tertutupi jas Anda itu adalah merek desainer Italia seharga dua puluh juta," lanjut Rizky membongkar semuanya.

"Jangan asal menuduh, ini semua barang tiruan dari pasar malam," elak Haris mulai berkeringat dingin.

"Aku punya ingatan fotografis Pak Haris, dan aku tadi sempat melihat layar ponsel Anda menyala."

Rizky mencondongkan tubuhnya ke depan hingga wajahnya hanya berjarak beberapa jengkal dari wajah Haris.

"Ada pesan masuk dari Direktur PT Medika Raya yang bertuliskan, pastikan izin obat dari Bintang Abadi tidak pernah keluar."

Indah tersentak kaget mendengar nama perusahaan farmasi raksasa yang menjadi pesaing terberat mereka itu.

"Jadi Anda menerima suap dari Medika Raya untuk menyabotase obat kami?" tuduh Indah dengan nada marah.

Haris yang merasa rahasianya terbongkar langsung berdiri dan menunjuk wajah Rizky.

"Kalian tidak punya bukti apa-apa, omongan gembel sepertimu tidak akan dipercaya siapa pun di pengadilan."

"Aku adalah penguasa birokrasi di sini, kalau aku bilang obat kalian dilarang, maka kalian tidak akan pernah bisa berjualan."

Rizky hanya tersenyum tipis mendengar ancaman kosong dari koruptor kecil di depannya ini.

"Begitu ya? Kalau begitu mari kita lihat siapa yang sebenarnya punya kuasa lebih besar di kota ini."

1
Abady Ehm
cerita sampah, seharusnya dia obati dulu ibunya yg sakit2an, habis beli lahan, carilah pekerja untuk dibersihkan dan dipagar keliling, lalu dibuatkan pondok untuk preman penjaga lahan tuh, jgn ngsal gitu ceritanya, baru bab 11 udah bosan bacanya,.....
Nissa Safira: Terima kasih atas kritiknya kak😅
Saya paham concern-nya soal ibu Rizky dan pengelolaan lahan.
Semua itu sengaja belum dieksekusi sekarang karena ada konflik dan konsekuensi yang mau saya bangun di bab-bab selanjutnya.
Kalau Rizky langsung "sempurna" dari awal, cerita dan pertumbuhannya jadi kurang greget.
Mohon bersabar ya, saya janji bakal dijawab semua di bab bab berikutnya 🙏😅
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!