Dua tahun lalu, Tsania memilih mengakhiri hubungannya dengan Arsen, pria yang sangat ia cintai. Bukan karena cinta itu hilang, melainkan karena sebuah rahasia pahit yang memaksanya pergi tanpa penjelasan. Sejak saat itu, mereka menjalani hidup masing-masing, menyimpan luka yang tak pernah benar-benar sembuh.
Takdir mempertemukan mereka kembali dengan cara yang paling menyiksa.
Hari pertama bekerja di perusahaan impiannya berubah menjadi mimpi buruk ketika Tsania mengetahui bahwa CEO muda yang dingin, arogan, dan disegani semua orang adalah Arsen, mantan kekasih yang pernah ia tinggalkan. Kini, Arsen adalah bosnya.
Bagi Arsen, pertemuan itu bukan kebetulan, melainkan kesempatan untuk membalas rasa sakit yang selama ini ia pendam. Ia bersikap dingin, memberi tugas-tugas sulit, dan terus menguji kesabaran Tsania. Namun, di balik tatapan tajam dan sikap tak berperasaannya, masih tersimpan cinta yang tak pernah benar-benar padam.
apakah yang akan terjadi kepada mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tsania 30
Aurelia mendekati meja kerja Arsen, meletakkan kotak bekal mewahnya tepat di atas dokumen-dokumen kerja Arsen. Tanpa rasa canggung, ia mengitari meja dan mencoba menyandarkan tangannya di bahu tegap Arsen.
"Beberapa hari terakhir ini kamu makin sulit ditemui, Arsen," rengek Aurelia, memiringkan kepalanya dengan tatapan memelas yang dipaksakan.
"Setiap kali aku datang ke ruanganmu, kamu selalu bilang sibuk rapat atau sedang di luar kantor. Kamu tahu tidak, aku kesepian menyiapkan dekorasi pertunangan kita sendirian? Aku juga ingin sekali berdiskusi dengan kamu untuk pertunangan impian kita, sayang... Aku sangat tidak sabar menunggu waktu itu tiba. Rasanya malah terasa jauh lebih lama..."
Arsen tidak menepis tangan Aurelia di bahunya, meski kulitnya terasa gatal oleh kejijikan. Ia menyandarkan jemarinya di meja, menatap Aurelia dengan sudut bibir terangkat tipis. Sebuah senyuman yang menyimpan banyak arti, namun bagi Aurelia itu adalah senyuman yang paling manis yang di tunjukkan oleh Arsen. Dan dia sangat bahagia melihat senyum Arsen kali ini. Apalagi dia mengira jika gangguan wanita yang dia juga tahu adalah masa lalu Arsen sudah tak ada lagi. Dan dia tak akan membiarkan Tsania datang kembali dan merebut Arsen darinya. Apalagi dia mendapatkan dukungan penuh dari Pak Bisma.
"Aku bekerja keras demi memastikan posisi Pratama Group berada di puncak sebelum acara Sabtu malam nanti, Aurelia," tutur Arsen, merangkai kata-kata manis yang beracun.
"Bukankah kamu mau menjadi istri dari pria paling berkuasa di gedung ini?"
Aurelia terkekeh riang, matanya berbinar-binar penuh kemenangan. "Tentu saja! Makanya Papa dan Om Bisma bangga sekali padamu. Oh ya, soal gaun pertunangan kita... kemarin malam aku memesan gaun bernilai ratusan juta dari perancang busana Paris. Om Bisma bilang biaya itu bisa langsung dipotong dari anggaran promosi Pratama Group. Kamu tidak keberatan, kan?"
"Pakai saja sebanyak yang kamu mau, Aurelia," sahut Arsen datar, suaranya sarat akan sindiran terselubung yang tak dipahami wanita itu.
"Lagipula, Sabtu malam nanti akan jadi malam terakhir kamu bisa menikmati fasilitas dari Pratama Group."
Aurelia tertawa renyah, menganggap kalimat Arsen sebagai bentuk kelakar atau kepatuhan mutlak.
"Kamu ini lucu sekali, Arsen! Setelah kita bertunangan, fasilitas itu justru akan jadi milik kita bersama selamanya, kan?"
Aurelia merengkuh leher Arsen dari belakang, mendekatkan wajahnya. Namun sebelum bibir wanita itu sempat menyentuh pipinya, Arsen berdiri tegap dari kursinya dengan dalih mengambil cangkir kopi di sudut ruangan. Dia menghindar dengan sangat halus, dia benar-benar jijik dengan wanita seperti Aurilia. Wanita yang bertingkah sok polos dan sok manis di depan semua orang untuk menarik perhatian.
"Aku harus menyelesaikan penandatanganan dokumen investasi sekarang, Aurelia," potong Arsen tenang namun tegas.
"Makan siangnya akan aku makan nanti. Kamu lebih baik pulang dan memastikan gaun mewahmu itu terpasang sempurna untuk Sabtu nanti."
Aurelia sedikit bersungut-sungut karena penolakan halus itu, namun keangguhan dan bayangan pesta megah Sabtu malam membuat amarahnya menguap cepat.
"Baiklah, calon suamiku yang tampan," ujar Aurelia seraya merapikan gaunnya.
"Ingat ya, Sabtu malam nanti di Grand Ballroom hotel bintang lima jam tujuh malam tepat. Jangan sampai terlambat! Ratusan wartawan dan seluruh pengusaha papan atas akan melihat kita bersanding di atas panggung! Sekaligus pengumuman pernikahan kita, papa dan Om Bisma sudah sepakat. Pernikahan kita di percepat dan akan di lakukan bulan depan!"
"Aku tidak akan pernah terlambat untuk acara sebersejarah itu, Aurelia," tegas Arsen dengan tatapan mata yang begitu tajam dan pekat.
"Aku sendiri yang akan memastikan acara malam itu tidak akan pernah dilupakan oleh siapapun... termasuk kamu dan Papamu dan juga papaku tentunya."
"Duh, kamu makin romantis saja! Aku makin sayang sama kamu, Arsen. Dan tak sabar untuk menjadi istrimu..." kekeh Aurelia tanpa rasa curiga sedikit pun.
"Sampai ketemu di Sabtu malam, Arsen!"
Aurelia berbalik dan melangkah keluar dari ruangan dengan senyum lebar penuh kesombongan, menutup pintu kaca rapat-rapat.
Begitu wanita itu menghilang di balik pintu, senyum tipis di wajah Arsen lenyap seketika. Raut wajahnya berubah menjadi amat dingin dan mengerikan. Ia menyambar kotak bekal mewah yang dibawa Aurelia, lalu membuangnya tanpa ragu ke dalam tong sampah di sudut ruangan dengan bunyi benturan keras.
Arsen mengambil tisu pembersih, menyapu bahu jasnya yang sempat disentuh Aurelia dengan gestur jijik yang amat sangat.
Ia melangkah menuju jendela kaca raksasa ruang kerjanya, menatap pemandangan cakrawala kota Jakarta yang membentang luas. Dari ketinggian lantai teratas ini, Arsen mengepalkan tangannya rapat-rapat.
"Senang-senanglah selagi kamu bisa, Aurelia..." bisik Arsen pada kaca jendela yang dingin, matanya memancarkan tekad mematikan.
"Karena pada Sabtu malam nanti, panggung megah yang kamu impikan itu akan menjadi kuburan bagi reputasi keluargamu dan Papaku. Dan juga akan membuka kebusukan kalian satu per satu. Aku tak akan menyisakan satupun dari kalian yang sudah membuat Tsania menderita selama ini tanpa sepengetahuan aku! Walau resiko yang harus aku tanggung juga sama. Walau aku harus hancur dan kehilangan segalanya. Namun bagiku harga diri dan nama baik keluarga Tsania kembali adalah yang paling utama. Walau aku tak bisa lagi mengembalikan ayahnya yang sudah tiada..."
Bayangan wajah pucat Tsania yang tertidur pasrah di kamar VVIP rumah sakit kembali melintas di benaknya, membakar sisa-sisa ragu di jiwanya.
"Maafkan aku sayang... Dan aku akan tunjukkan padamu jika aku benar-benar mencintaimu. Aku tak tahu hal berat yang sudah kamu lewati selama ini, bahkan aku malah menambah rasa sakitmu... Maafkan aku sayang. Jika setelah ini kamu memilih pergi dari hidupku, aku rela. Tsania... Asalkan hal itu membuat kamu bahagia, aku akan menjauh dan menerima hukumanku darimu..."