NovelToon NovelToon
Kamu Yang Selalu Ku Pilih

Kamu Yang Selalu Ku Pilih

Status: tamat
Genre:Office Romance / CEO / Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:674
Nilai: 5
Nama Author: Gek_Nia

Alya Anindita hanya ingin mendapatkan pekerjaan yang layak dan membantu keluarganya. Bekerja sebagai asisten eksekutif di perusahaan besar adalah kesempatan yang tidak boleh ia sia-siakan.
Namun, ia tidak pernah menyangka bahwa atasannya sendiri akan menjadi orang yang perlahan mengacaukan batas antara profesional dan perasaan.
Raka Mahendra adalah direktur yang dikenal dingin, tegas, dan sulit didekati. Tidak ada yang berani bermain-main dengannya, apalagi mencoba masuk ke kehidupan pribadinya.
Namun, bagaimana jika hati tidak pernah mau mengikuti aturan?
Karena terkadang...
cinta datang kepada orang yang salah, di waktu yang salah, tetapi terasa begitu nyata

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gek_Nia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

KITA BUKAN APA-APA

Alya duduk di mejanya sambil menatap layar laptop.

Sejak semalam, satu kalimat terus berputar di kepalanya.

“Kamu penting bagi saya.”

Kalimat itu seharusnya sederhana.

Seorang atasan bisa mengatakan hal seperti itu kepada karyawan yang dianggap berharga.

Tidak ada yang aneh.

Tidak ada yang romantis.

Namun masalahnya adalah cara Raka mengatakannya.

Tatapan itu.

Nada suaranya.

Dan jeda panjang sebelum kalimat tersebut keluar.

Alya menghela napas.

“Jangan dipikirkan.”

Dia membuka email.

Belum sampai satu menit, pintu ruang Raka terbuka.

Alya refleks menoleh.

Raka keluar.

Tatapan mereka bertemu.

Untuk sesaat, keduanya sama-sama diam.

Kemudian Raka berkata,

“Pagi.”

Alya tersenyum kecil.

“Pagi, Pak.”

Tidak ada percakapan lain.

Raka kembali masuk.

Alya menatap layar.

Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat.

Kenapa sekarang bertemu tatapan saja rasanya berbeda?

PUKUL 09.15

Alya mengetuk pintu ruang Raka.

“Masuk.”

Dia membawa beberapa dokumen.

“Ini laporan yang kemarin.”

Raka mengambilnya.

“Duduk.”

Alya duduk.

Raka membaca laporan tersebut.

Namun kali ini suasananya berbeda.

Tidak ada yang banyak bicara.

Alya juga tidak berusaha membuat lelucon.

Setelah beberapa menit, Raka menutup dokumen.

“Bagus.”

“Terima kasih.”

Raka menatapnya.

“Kamu tidur cukup?”

Alya terdiam.

“Lumayan.”

“Pulang kemarin terlalu malam?”

“Tidak.”

“Yakin?”

“Iya.”

Raka mengangguk.

Kemudian kembali melihat dokumen.

Alya berdiri.

“Kalau begitu saya kembali.”

Raka mengangkat wajah.

“Alya.”

“Ya?”

“Semalam…”

Alya menunggu.

“Tidak ada.”

Alya tersenyum kecil.

“Baik.”

Dia berjalan menuju pintu.

Raka kembali berkata,

“Jangan terlalu memikirkan apa yang saya katakan.”

Alya berhenti.

“Yang mana?”

Raka diam.

“Kamu penting bagi saya?”

Raka menatapnya.

Alya tersenyum tipis.

“Bapak sendiri yang bilang.”

Raka menghela napas.

“Sebagai bagian dari tim.”

Alya mengangguk.

“Baik.”

Kemudian dia keluar.

Begitu pintu tertutup, Raka menyandarkan tubuhnya ke kursi.

Dia tahu.

Dia baru saja menarik kembali sesuatu yang sebenarnya ingin dia pertahankan.

Namun itu mungkin lebih aman.

Mereka bukan apa-apa.

Setidaknya secara resmi.

PUKUL 11.00

Alya menerima email dari bagian HR.

Ada pengumuman mengenai restrukturisasi beberapa divisi.

Salah satu bagian menarik perhatiannya.

Posisi Executive Assistant to Director akan dievaluasi ulang dalam tiga bulan.

Alya membaca kalimat itu dua kali.

Dia langsung membuka dokumen lengkap.

Ternyata perusahaan sedang melakukan evaluasi struktur jabatan.

Beberapa posisi akan digabung.

Beberapa akan dipindahkan.

Alya mengerutkan kening.

Berarti posisinya belum tentu permanen.

Dia menatap ruang Raka.

Kemudian kembali ke layar.

Ada sedikit rasa tidak nyaman.

Bukan karena takut kehilangan pekerjaan.

Tetapi karena—

kalau posisinya berubah, apakah dia masih akan bekerja bersama Raka?

Alya menggeleng.

“Kenapa aku memikirkan itu?”

PUKUL 12.30

Raka keluar dari ruangannya.

“Alya.”

Alya berdiri.

“Iya?”

“Sudah makan?”

“Belum.”

“Makan.”

Alya tersenyum.

“Bapak juga.”

Raka mengangguk.

Mereka hendak berjalan ke pantry ketika ponsel Alya berbunyi.

Sebuah panggilan dari HR.

“Sebentar, Pak.”

Alya mengangkat telepon.

“Hallo?”

Dia mendengarkan.

Wajahnya berubah sedikit serius.

“Iya, saya mengerti.”

“Baik.”

“Terima kasih.”

Telepon ditutup.

Raka memperhatikannya.

“HR?”

“Iya.”

“Ada apa?”

“Tidak ada.”

“Kamu kelihatan khawatir.”

Alya ragu.

Kemudian berkata,

“Posisi saya akan dievaluasi tiga bulan lagi.”

Raka terdiam.

“Siapa yang bilang?”

“HR.”

“Untuk apa?”

“Restrukturisasi.”

Raka mengangguk.

“Baik.”

Alya menatapnya.

“Bapak tidak tahu?”

“Belum.”

“Oh.”

Raka terlihat berpikir.

“Kamu ingin tetap di posisi ini?”

Pertanyaan itu membuat Alya terdiam.

“Tidak tahu.”

“Kenapa?”

“Saya baru beberapa minggu di sini.”

Raka menatapnya.

“Kamu ingin pindah?”

Alya mengangkat bahu.

“Kalau ada kesempatan yang lebih baik.”

Raka diam.

Entah kenapa jawaban itu membuatnya tidak nyaman.

“Jangan buru-buru memutuskan.”

Alya mengerutkan kening.

“Kenapa?”

“Kamu baru mulai.”

“Bapak ingin saya tetap?”

Raka terdiam.

Alya tersenyum.

“Bapak?”

“Ya.”

“Jawab.”

Raka akhirnya berkata,

“Ya.”

Alya tersenyum.

“Kenapa?”

“Karena kamu bagus.”

“Cuma itu?”

Raka menatapnya.

“Dan karena…”

Dia berhenti.

Alya menunggu.

“Karena saya sudah terbiasa.”

Alya tertawa kecil.

“Terbiasa dengan saya?”

Raka mengangguk.

“Ya.”

Alya menatapnya.

Kemudian berkata,

“Bapak hati-hati.”

“Kenapa?”

“Kalau terlalu terbiasa, nanti susah kalau saya pergi.”

Raka terdiam.

Alya berjalan menuju pantry.

Raka masih berdiri.

Kalimat itu terasa seperti peringatan.

Dan untuk pertama kalinya, Raka menyadari sesuatu yang membuatnya tidak nyaman.

Dia benar-benar tidak ingin Alya pergi.

PUKUL 15.00

Alya sedang mengerjakan laporan ketika Raka memanggilnya.

“Masuk.”

Alya masuk.

Raka sedang berdiri di dekat jendela.

“Ada apa, Pak?”

“Duduk.”

Alya duduk.

Raka menyerahkan sebuah dokumen.

“Ini.”

Alya membukanya.

“Promosi?”

“Bukan.”

“Penyesuaian jabatan?”

“Belum.”

Alya membaca lebih teliti.

Ternyata itu rekomendasi untuk memperpanjang posisi Executive Assistant setelah evaluasi.

Alya mengangkat wajah.

“Bapak sudah mengajukan?”

“Belum.”

“Kenapa memberikan ini kepada saya?”

“Karena saya ingin kamu tahu.”

Alya membaca lagi.

“Kalau saya tidak mau?”

“Keputusan tetap milikmu.”

Alya tersenyum.

“Bapak sekarang demokratis.”

Raka mengangkat alis.

“Jangan bercanda.”

Alya tertawa.

Kemudian ekspresinya berubah serius.

“Bapak benar-benar ingin saya tetap?”

“Iya.”

“Kenapa?”

Raka terdiam.

Kemudian menjawab,

“Karena kamu bekerja dengan baik.”

Alya mengangguk.

Jawaban profesional.

Tapi entah kenapa, dia merasa ada sesuatu yang tidak dikatakan.

“Baik.”

Dia menutup dokumen.

“Saya pikirkan.”

Raka mengangguk.

PUKUL 17.30

Hari hampir selesai.

Alya sedang merapikan meja ketika Clara datang lagi.

Kali ini dia tidak langsung masuk.

Dia berdiri di depan meja Alya.

“Boleh bicara?”

Alya mengangguk.

“Tentu.”

Clara duduk.

“Saya ingin meminta maaf.”

Alya terkejut.

“Untuk apa?”

“Waktu itu.”

Clara menarik napas.

“Saya seharusnya tidak membuat kamu tidak nyaman.”

Alya diam.

Clara melanjutkan,

“Raka dan saya punya masa lalu.”

“Saya tahu.”

“Dan saya sempat berpikir dia masih akan kembali.”

Alya tidak tahu harus menjawab apa.

Clara tersenyum tipis.

“Tapi saya salah.”

Alya menatapnya.

“Kenapa?”

“Karena saya melihat cara dia memperlakukan kamu.”

Alya terdiam.

“Berbeda.”

Jantung Alya berdetak lebih cepat.

Clara berdiri.

“Saya tidak tahu apa yang terjadi di antara kalian.”

“Tidak ada.”

Clara tersenyum.

“Mungkin sekarang.”

Kemudian dia pergi.

Alya duduk diam.

Kalimat Clara membuat pikirannya semakin kacau.

PUKUL 18.00

Raka keluar.

Dia melihat Clara sudah pergi.

Kemudian menatap Alya.

“Kamu bicara dengan Clara?”

“Iya.”

“Apa katanya?”

“Meminta maaf.”

Raka mengangguk.

“Baik.”

Alya berdiri.

“Pak.”

“Ya?”

“Boleh saya tanya?”

“Tanya.”

“Kalau saya berhenti bekerja di sini…”

Raka langsung menatapnya.

“Kenapa?”

“Misalnya.”

“Apa yang kamu inginkan?”

Alya tersenyum.

“Bukan itu.”

“Lalu?”

“Bapak akan merasa kehilangan?”

Raka terdiam.

Alya menunggu.

Beberapa detik kemudian Raka berkata,

“Ya.”

Alya menahan napas.

“Kenapa?”

Raka menatapnya langsung.

“Karena saya sudah terbiasa dengan kamu.”

Alya tersenyum kecil.

“Bapak selalu bilang begitu.”

“Karena memang begitu.”

Alya menunduk.

Kemudian berkata pelan,

“Kalau begitu saya tidak akan pergi.”

Raka mengangkat alis.

“Serius?”

Alya mengangguk.

“Untuk sekarang.”

Raka tersenyum.

“Baik.”

Alya mengambil tas.

“Saya pulang dulu.”

Raka mengangguk.

“Besok.”

“Besok.”

Alya pergi.

MALAM

Raka duduk di rumah.

Dia membuka laptop.

Namun pikirannya kembali pada percakapan tadi.

Kalau saya berhenti bekerja di sini…

Kalimat itu membuat dadanya terasa tidak nyaman.

Dia membayangkan meja Alya kosong.

Tidak ada kopi.

Tidak ada suara mengomel.

Tidak ada langkah kaki.

Tidak ada seseorang yang masuk setiap pagi sambil berkata,

“Pagi, Pak.”

Raka menutup laptop.

Dia akhirnya mengakui sesuatu.

Dia tidak hanya takut kehilangan asistennya.

Dia takut kehilangan Alya.

DI RUMAH ALYA

Alya juga belum tidur.

Dia membuka ponselnya.

Tidak ada pesan dari Raka.

Biasanya dia tidak menunggu.

Tapi malam ini—

dia menunggu.

Akhirnya pukul 22.15, ponselnya berbunyi.

Sudah tidur?

Alya tersenyum.

Dia membalas:

Belum.

Raka:

Besok datang seperti biasa.

Alya:

Iya, Pak.

Beberapa detik kemudian:

Dan jangan bawa kopi.

Alya mengerutkan kening.

Kenapa?

Raka:

Saya yang bawa.

Alya tersenyum.

Baik. Saya tunggu.

Raka membaca pesan itu.

Kemudian mengetik:

Jangan tunggu.

Alya:

Kenapa?

Lama tidak ada jawaban.

Akhirnya:

Karena saya tidak ingin kamu kecewa.

Alya menatap layar.

Entah kenapa kalimat itu membuatnya semakin yakin.

Di antara dirinya dan Raka sudah ada sesuatu.

Belum menjadi hubungan.

Belum menjadi cinta yang diucapkan.

Tetapi juga tidak lagi sekadar hubungan antara bos dan asisten.

Dan semakin mereka mencoba menyangkalnya—

semakin jelas perasaan itu tumbuh.

Namun mereka belum tahu, keputusan untuk tetap bersama dalam pekerjaan akan membawa mereka pada ujian yang jauh lebih besar.

Karena mulai minggu depan, seorang direktur baru akan masuk ke Mahendra Group.

Dan orang pertama yang akan menjadi sasaran perhatiannya adalah—

Alya.

1
Anugerah Kreasi Dewata
ceritanya menarik.. mungkin bisa menjadi salah satu novel yang saya rekomendasikan untuk di baca
Dewi Wibawa
terimakasih kakak🙏
Uthie
Ada yg mulai cemburu, tapi masih gengsi 😁😁👍
Uthie
cowok gengsian keburu di tikung 😂
Uthie
Sukkkkaaa banget moment macam itu 👍😁😁😁
Uthie
Saya masih lanjut baca 😍😍👍
Uthie
Menarik 👍👍😁🤗
Uthie
tertarik mampir untuk sebuah cerita baru 😍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!