NovelToon NovelToon
Dokter Forensik: Aku Bisa Melihat Penyebab Kematian

Dokter Forensik: Aku Bisa Melihat Penyebab Kematian

Status: sedang berlangsung
Popularitas:0
Nilai: 5
Nama Author: Putra

"Arka Pratama hanyalah dokter muda magang di Instalasi Kedokteran Forensik. Gajinya kecil, pangkatnya rendah, dan semua orang meremehkannya. Tapi di hari pertamanya, sebuah sistem misterius bernama ""Kebenaran Forensik"" terbangun dalam dirinya — memberinya kemampuan melihat Label Kematian yang tak kasat mata di atas setiap jenazah.
Kasus yang sudah divonis bunuh diri? Arka melihat label merah: PEMBUNUHAN.
Mulai detik itu, tidak ada kebenaran yang bisa disembunyikan darinya."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 16

Bab 016: Gudang Dingin Pembunuh

Pukul sembilan malam, bekas Rumah Potong Rungkut Blok Dua terlihat seperti bangunan yang sudah lama ditinggalkan orang baik-baik.

Gerbang besinya berkarat.

Lampu halaman hanya menyala satu.

Di belakang pagar, deretan ruang pendingin berdiri gelap, masing-masing diberi nomor cat putih yang mulai mengelupas.

Adira turun dari mobil pertama.

Bambang turun di sampingnya.

Arka menyusul dengan tas forensik di tangan kiri. Matanya masih panas karena kurang tidur, tetapi kepalanya justru terlalu jernih.

Di belakang mereka, dua anggota Inafis, seorang penyidik pembawa map surat, dan Kevin dengan laptop ikut masuk.

Seorang lelaki tua dari pos jaga keluar tergopoh-gopoh.

"Ada apa, Bu? Malam-malam begini?"

Adira menunjukkan identitas. "Satreskrim Polrestabes Surabaya. Kami perlu cek ruang sewa cold storage."

Wajah lelaki itu pucat. "Semua penyewa sudah pulang. Saya cuma jaga."

"Nama?"

"Marto, Bu."

"Pak Marto, ruang Blok Dua siapa penyewanya?"

Pak Marto menelan ludah. "Ada beberapa, Bu. Yang nomor dua kosong lama, tapi tiga bulan ini disewa orang."

Kevin langsung mengangkat laptop. "Data administrasi mencatat penyewa atas nama Joko Prabowo. Umur empat puluh lima. Alamat sementara di kampung belakang kawasan."

Bambang menatap Pak Marto. "Bapak kenal?"

"Kenal muka saja, Pak. Orangnya pendiam. Dulu katanya kerja di tempat potong daging. Dia sewa buat simpan bahan frozen, katanya untuk katering."

Adira menoleh ke Arka.

Arka hanya berkata, "Nomor dua dulu."

Mereka berjalan melewati lorong beton.

Bau amonia tipis muncul bahkan sebelum pintu dibuka.

Tidak kuat.

Tetapi sama jenisnya dengan yang melekat pada cairan dari kantong hitam.

Di depan ruang pendingin nomor dua, ada dua gembok.

Satu tua, satu baru.

Bambang menunjuk gembok baru. "Baru dipasang."

Pak Marto cepat berkata, "Itu dari penyewa, Pak. Katanya biar aman."

Adira menerima map dari penyidik. "Surat pemeriksaan tempat dan persetujuan pengelola sudah ada. Kalau gembok penyewa menghalangi pemeriksaan perkara mutilasi, kita buka dengan dokumentasi penuh. Inafis, foto."

Kamera menyala.

Gembok difoto dari depan, samping, nomor badan, dan posisi rantai.

Bambang mengangkat pemotong besi.

"Buka."

Krak.

Gembok baru putus.

Pintu besi ruang pendingin berderit terbuka.

Udara dingin bocor keluar.

Arka langsung mencium bau itu.

Amonia.

Darah lama.

Plastik.

Dan sesuatu yang pernah disembunyikan terlalu lama.

Adira mengangkat tangan. "Tidak ada yang masuk dulu. Foto dari luar."

Senter diarahkan ke dalam.

Ruang itu tidak penuh. Ada beberapa rak kosong, dua kontainer plastik besar, satu meja potong stainless, dan satu freezer peti di sudut kanan.

Lantainya terlalu bersih.

Terlalu bersih untuk tempat sewa murah di bangunan tua.

Arka menatap saluran pembuangan kecil di dekat meja.

Ada noda gelap di tepi baut.

"Bu," katanya pelan. "Lantai pernah dicuci keras. Tapi drainase belum tentu bersih."

Adira menunjuk Inafis. "Swab drainase, baut meja, pegangan pintu, gagang freezer."

"Siap."

Mereka masuk bergantian, mengikuti jalur foto.

Arka berdiri di depan freezer peti.

Di atas tutupnya ada goresan sejajar, seperti bekas benda berat sering digeser. Di sisi kanan, ada serpihan kecil warna putih menempel pada karet penutup.

Bambang mendekat. "Buka?"

Adira menunggu Inafis mengambil foto, lalu mengangguk. "Buka pelan."

Freezer itu terbuka.

Di dalamnya ada plastik bening, dua sarung tangan karet, kantong hitam dengan merek yang sama seperti di Rungkut, pisau boning, dan sebuah alat berbungkus kain lap.

Arka tidak perlu menyentuhnya untuk melihat panel merah muncul.

[Alat Kejahatan]

[Gergaji Tulang Elektrik]

[Mengandung Sisa Jaringan Manusia]

Di bawah label itu, garis kuning bergerak cepat.

[Residue: jaringan lunak]

[Kontaminasi: darah manusia]

[Riwayat penggunaan: pascakematian]

Arka menahan napas.

"Jangan angkat dengan tangan kosong," katanya.

Bambang meliriknya. "Kamu lihat apa?"

"Di kain lap ada noda kecokelatan. Di sela alat ada serat merah pucat. Kalau itu jaringan, kita butuh angkat utuh untuk lab."

Adira segera berkata, "Foto detail. Bungkus alat tetap di posisi. Setelah itu masuk kotak bukti keras."

Pak Marto yang berdiri di luar pintu mendadak duduk di kursi plastik.

"Ya Allah... saya tidak tahu, Bu. Saya benar-benar tidak tahu."

Arka menatapnya sebentar.

Label kuning muncul.

[Ketakutan akut]

[Respons stres sesuai]

Tidak tampak seperti pelaku.

Tapi rasa takut bukan bukti tidak bersalah.

"Pak Marto," kata Adira, suaranya dingin. "Kapan terakhir Joko datang?"

"Sore tadi, Bu. Sekitar magrib. Dia bawa tas hitam. Keluar buru-buru. Saya tanya, katanya mau antar barang."

Kevin mengetik cepat. "Saya cek CCTV gerbang."

Bambang membuka kontainer plastik besar dengan izin Adira.

Kosong.

Tapi dinding dalamnya ada goresan halus dan bau pemutih tajam.

"Pelaku bersih-bersih," kata Bambang.

"Tidak cukup bersih," jawab Arka.

Ia menunjuk sudut bawah kontainer. "Ada sisa cairan di lipatan. Ambil swab."

Inafis bergerak.

Dimas yang baru tiba membawa kantong bukti tambahan berhenti di depan pintu. "Pak, Bu, tim dari dua lokasi lain melapor. Segar Laut Timur bersih administrasi, tidak ada ruang sewa mencurigakan. Gudang Beku Mandala masih dicek, tapi belum ada alat potong."

Adira menatap freezer peti.

"Berarti prioritas kita di sini."

Kevin mengangkat kepala. "Bu. CCTV gerbang jam delapan belas lewat dua belas. Joko keluar pakai motor bebek, bawa tas hitam besar. Arah kampung belakang. Kamera jalan umum menangkap plat sebagian. Cocok dengan data alamat sementaranya."

"Alamat."

Kevin memutar layar. "Gang Sawo, belakang kawasan. Rumah petak nomor tujuh."

Bambang langsung mengambil HT. "Tim dua, bergerak ke Gang Sawo. Jangan masuk dulu sebelum kami sampai. Awasi belakang rumah."

Adira melepas sarung tangan luar. "Dok, kamu ikut sampai luar. Di dalam rumah nanti tunggu instruksi. Ini sudah masuk penangkapan. Pemeriksaan forensik menunggu instruksi."

"Siap."

Arka tidak membantah.

Ia tahu batasnya.

Tetapi kasus ini sudah menariknya terlalu dalam untuk hanya menunggu di ruangan autopsi.

Sebelum mereka keluar, sistem berkedip lagi di atas gergaji yang sudah masuk kotak bukti.

[Misi diperbarui: identifikasi pelaku utama]

[Joko Prabowo: keterkaitan tinggi]

Keterkaitan tinggi.

Itu masih petunjuk awal.

Tetap harus diborgol dengan bukti.

Mereka mencapai Gang Sawo pukul sepuluh lewat empat puluh.

Kampung di belakang kawasan industri itu padat. Rumah petak berdempetan. Kabel listrik melintang rendah. Sebagian pintu masih terbuka karena orang-orang keluar melihat mobil polisi.

Adira berjalan paling depan.

Bambang di kiri.

Dua anggota menutup arah belakang.

Arka berada tiga langkah di belakang, bersama Dimas.

"Kamu tetap di belakang saya, Dok," kata Dimas pelan.

"Biasanya kamu yang berlindung di belakang Bambang."

"Malam ini saya naik jabatan jadi tameng tipis."

Arka hampir tersenyum.

Lalu mereka tiba di rumah petak nomor tujuh.

Lampu depan masih menyala.

Pintu tidak terkunci penuh.

Dari celahnya tercium bau mi instan.

Bambang mengetuk keras. "Joko Prabowo! Polisi! Buka pintu!"

Tidak ada jawaban.

Adira memberi isyarat.

Pintu didorong.

Ruang kecil itu kosong.

Di meja, semangkuk mi instan masih mengepulkan uap tipis.

Di lantai dekat dinding, ada jejak air berlumpur menuju belakang.

Bambang mengumpat pelan. "Baru pergi."

Kevin, lewat sambungan telepon, berkata dari mobil, "Bu, ponsel terdaftar atas nama Joko masih aktif di sekitar situ. Sinyal tidak bergerak."

Dimas menemukan ponsel di bawah bantal tipis. "Ketemu. Dia tinggalkan."

Adira mengambilnya dengan sarung tangan. Layar menyala sebentar.

Riwayat pencarian terakhir masih terbuka.

Berita potongan daging Rungkut.

Cara polisi melacak CCTV.

Hukuman pembunuhan di Indonesia.

Wajah Adira mengeras.

"Dia tahu."

Dari belakang rumah, seorang anggota berteriak, "Bu! Ada orang lari ke arah gang barat! Laki-laki, jaket hitam!"

Bambang langsung bergerak. "Saya kejar!"

"Dimas, kanan! Tim dua, tutup jalan utama!" perintah Adira.

Arka ikut keluar sampai pintu belakang.

Di luar, gang sempit bercabang seperti retakan kaca. Lampu kuning berkedip. Suara langkah berlari memantul di antara dinding seng.

Bambang sudah menghilang ke tikungan.

Dimas menyusul dari jalur kanan.

Adira menoleh ke Arka. "Dok, tetap di sini!"

Arka berhenti.

Ia menggenggam tali tas forensik.

Di tanah dekat pintu belakang, ada tetes merah kecil.

Jumlahnya kecil.

Tetapi segar.

Panel kuning muncul.

[Jejak darah segar]

[Arah: gang barat]

Arka mengangkat kepala ke lorong gelap tempat Bambang berlari.

Dari jauh terdengar teriakan.

"Berhenti! Polisi!"

Lalu suara benda logam jatuh.

Adira sudah berlari.

Arka menatap tetes darah itu sekali lagi.

Joko Prabowo tidak hanya kabur.

Ia membawa luka.

Dan luka selalu meninggalkan jalan pulang bagi orang yang tahu cara membacanya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!