Setelah rencana Mugen Tsukuyomi hancur, Madara Uchiha menemui ajalnya di Perang Dunia Ninja Keempat. Namun, bukannya pergi ke alam baka, ia justru terbangun di pesisir Grand Line yang ganas dalam wujud remajanya yang berusia 16 tahun. Kehilangan ambisi lamanya, sang "Hantu Uchiha" kini hanya ingin hidup bebas dan terlepas dari pertumpahan darah yang tak berarti.
Berbekal sebuah Sistem misterius yang memulihkan kekuatan dewanya secara bertahap, Madara memulai perjalanan barunya. Ironisnya, sikap Madara yang arogan, dingin, dan selalu menolak membunuh musuh lemah malah memicu rentetan kesalahpahaman yang konyol. Dunia dan para pengikutnya—mulai dari Nico Robin, Boa Hancock, hingga Enel—menyanjungnya sebagai sosok penyelamat agung sekaligus penguasa mutlak yang tak tertandingi.
Bersama Bajak Laut "Mugen", eksistensi Madara perlahan meruntuhkan alur takdir lautan. Mulai dari mempermalukan Angkatan Laut, membelah langit melawan Yonko, hingga diakui sebagai "Kaisar Kelima".
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32: Gelombang Dunia dan Panen Sistem
Kegelapan menyelimuti pandangan Uchiha Madara.
Fisiknya telah menyerah pada batas toleransi rasa sakit. Demam tinggi membakar tubuh remajanya, menaikkan suhu tubuhnya ke titik yang sangat berbahaya. Penarikan chakra yang ekstrem dari penggunaan Mangekyou Sharingan dan pemanggilan wujud awal Susanoo menghisap habis setiap tetes energi kehidupan dari dalam jalur tenketsu miliknya.
Namun, kesadarannya tidak sepenuhnya mati.
Jiwa sang hantu Uchiha melayang di dalam ruang hampa yang tidak memiliki batas. Ruang bawah sadarnya terasa sangat dingin dan sunyi. Jauh dari suara deburan ombak lautan Grand Line, jauh dari kepanikan para kru di dunia nyata.
Di tengah kesunyian absolut itu, suara mekanis berdenting sangat nyaring.
Layar-layar biru transparan muncul secara beruntun, menerangi kegelapan batin Madara. Teks-teks pemberitahuan bergulir dengan kecepatan tinggi, mencatat setiap pencapaian dari pembantaian mental dan dominasi yang baru saja dia lakukan di atas geladak musuh.
[Pemberitahuan Sistem.]
[Kondisi wadah fisik mencapai batas kritis. Memasuki mode pemulihan paksa.]
[Evaluasi pertarungan selesai.]
[Haoshoku Haki Terbuka!]
[Mangekyou Sharingan (Kiri/Kanan) Aktif sementara!]
Madara menatap tulisan bercahaya tersebut. Mata batinnya membaca kata demi kata dengan sangat tenang, tidak terpengaruh oleh rasa sakit yang menyiksa tubuh aslinya.
'Aktif sementara,' batin Madara mengevaluasi informasi itu secara objektif.
Dia menyadari kebenaran mutlak dari tubuh biologisnya. Tanpa sel asimilasi Hashirama atau modifikasi genetik yang sempurna, tubuh remaja ini tidak akan mampu menahan beban penggunaan Mangekyou secara terus menerus. Kebutaan permanen dan kerusakan seluler adalah bayaran yang tidak bisa ditawar. Ini adalah peringatan tegas dari Sistem agar dia tidak mengandalkan kekuatan dewa itu sebelum wadahnya benar-benar siap dan matang.
Layar biru itu kembali berdenting. Kali ini menampilkan baris teks baru yang bersinar jauh lebih terang, membawa hasil panen dari teror yang dia tanam.
[Mengalahkan armada tempur Angkatan Laut cabang markas besar.]
[Menghancurkan harga diri dan pertahanan fisik Vice-Admiral Onigumo.]
[Menjatuhkan ribuan prajurit elit dengan pancaran Haki Penakluk.]
[Status ancaman internasional dinaikkan secara drastis.]
[Kalkulasi hadiah selesai.]
[Poin Reputasi +500.000!]
Angka yang sangat masif itu terpampang jelas di depan ruang kesadarannya. Lima ratus ribu poin. Sebuah lompatan kekayaan sistem yang luar biasa besar, diperoleh hanya dari satu pertemuan singkat yang memakan waktu kurang dari sepuluh menit.
Madara menghela napas pelan di dalam pikirannya.
'Ketakutan ribuan manusia dan hancurnya keyakinan pada keadilan mereka menghasilkan panen yang sangat memuaskan,' batin Madara.
Dia kini memiliki poin yang lebih dari cukup. Poin untuk memulihkan kerusakan tubuhnya, atau poin untuk menarik kembali senjata legendanya yang lain. Tetapi saat ini, pikirannya terlalu lelah untuk membuka menu pertukaran. Dia membiarkan Sistem bekerja secara pasif menyembuhkan sel-sel tubuhnya yang terbakar demam. Dia menutup mata batinnya, membiarkan kegelapan kembali menelan ruang kesadarannya menuju tidur yang sesungguhnya.
Sementara sang iblis tertidur di lautan bebas, sebuah gelombang kejut yang jauh lebih besar sedang melanda pusat kekuatan dunia.
Markas Besar Angkatan Laut, Marineford.
Bangunan benteng raksasa berbentuk bulan sabit itu berdiri kokoh menantang lautan di paruh pertama Grand Line. Bendera burung camar biru berkibar angkuh di setiap puncak menara pengawas. Ribuan prajurit berlatih dengan disiplin baja di alun-alun utama, suara teriakan semangat mereka menggema ke seluruh pulau. Ini adalah simbol keadilan mutlak, benteng yang tidak pernah bisa diruntuhkan oleh bajak laut mana pun.
Namun, di lantai tertinggi bangunan utama, suasana di dalam ruangan Laksamana Armada sama sekali tidak mencerminkan kedamaian.
Sengoku duduk di balik meja kerja kayu jati berukuran besar. Pria tua dengan kacamata bundar dan kepang janggut yang diikat unik itu memijat pangkal hidungnya. Tumpukan dokumen laporan menumpuk setinggi gunung di depannya. Seekor kambing putih peliharaannya sedang mengunyah selembar kertas daftar buronan dengan santai di sudut ruangan.
Pintu ruangan kayu ganda itu tiba-tiba terbuka dengan sangat kasar.
Seorang perwira komunikasi berpangkat kapten berlari masuk. Wajah perwira itu pucat pasi, seragam putihnya basah oleh keringat dingin. Dia memegang sebuah gulungan kertas laporan dari mesin faksimili Den Den Mushi dengan kedua tangan yang bergetar hebat.
“L-Lapor, Laksamana Armada Sengoku!” teriak kapten itu dengan napas tersengal-sengal. Dia memaksa dirinya berdiri tegap dan memberikan hormat militer dengan sangat kaku.
Sengoku mengangkat wajahnya. Matanya yang tajam di balik lensa kacamata langsung menangkap aura kepanikan dari bawahannya.
“Ada apa? Apakah ada pergerakan wilayah dari para Yonko di Dunia Baru?” tanya Sengoku dengan nada berat dan penuh wibawa.
“B-Bukan, Tuan! Ini laporan darurat dari rute awal Grand Line. Armada tempur pengejar yang dipimpin oleh Laksamana Muda Onigumo baru saja kembali ke pangkalan terdekat dalam kondisi hancur lebur secara mental dan fisik!”
Ruangan itu mendadak hening.
Di atas sebuah sofa panjang yang empuk di sisi kanan ruangan, seorang pria tua bertubuh kekar dengan rambut putih beruban sedang berbaring santai. Pria itu mengenakan setelan jas putih dengan kemeja bermotif anjing. Dia sedang memegang sebungkus besar kerupuk beras gurih.
Itu adalah Pahlawan Angkatan Laut, Monkey D Garp.
Garp menghentikan kunyahannya. Dia menelan kerupuk di mulutnya dengan bunyi tegukan yang keras, lalu duduk tegak menatap perwira komunikasi tersebut.
“Onigumo kalah? Oleh bajak laut pemula yang baru masuk dari North Blue?” tanya Garp dengan nada heran yang bercampur rasa penasaran tinggi.
Sengoku menggebrak mejanya perlahan. Wajahnya mulai mengeras. Onigumo adalah petarung veteran. Mengirimnya untuk menangani masalah di awal rute Grand Line seharusnya menjadi misi pembersihan sepihak yang sangat mudah.
“Bacakan laporannya secara lengkap. Jangan ada satu kata pun yang terlewat,” perintah Sengoku mutlak.
Kapten komunikasi itu menelan ludah yang terasa tajam di tenggorokannya. Dia membuka gulungan kertas di tangannya. Matanya membaca deretan kalimat laporan yang terdengar seperti kisah fiksi horor.
“Armada berhasil mengepung Kapal Bajak Laut Mugen di perairan terbuka. Laksamana Muda Onigumo memerintahkan tembakan artileri penuh dari tiga kapal kelas berat. Namun, kapten dari bajak laut tersebut yang bernama Uchiha Madara, melompat menembus hujan peluru artileri sendirian dari udara tanpa menerima luka sedikit pun.”
Sengoku mengerutkan dahinya. Kemampuan fisik dan refleks tingkat tinggi, nilai Sengoku di dalam kepalanya.
“Tersangka Uchiha Madara melakukan pembantaian di atas geladak kapal utama. Dia mematahkan senapan dan menghancurkan pertahanan prajurit elit hanya menggunakan teknik Taijutsu yang tidak diketahui. Laksamana Muda Onigumo kemudian turun tangan secara langsung.”
Perwira itu berhenti sejenak, tangannya semakin bergetar saat membaca baris selanjutnya.
“Lanjutkan,” desak Sengoku tidak sabar, firasat buruk mulai menutupi hatinya.
“Menurut kesaksian para perwira navigasi yang masih sadar di ruang kemudi, pertarungan berjalan seimbang pada awalnya. Sabit besi milik tersangka hancur saat berbenturan dengan pedang Laksamana Muda Onigumo. Tersangka terdesak hebat dan menerima luka sayatan di bagian dada.”
Sengoku menghela napas sedikit lega. Keadilan nyaris menang.
Tetapi kalimat perwira komunikasi selanjutnya menghancurkan kelegaan sesaat itu berkeping-keping.
“Namun, di saat Laksamana Muda Onigumo bersiap memberikan eksekusi akhir, langit di sekitar armada tiba-tiba berubah gelap. Tersangka melepaskan sebuah gelombang Haki Penakluk, Haoshoku Haki, dengan intensitas liar yang sangat brutal.”
Garp melebarkan matanya. Sengoku menahan napasnya.
“Gelombang Haoshoku Haki itu menyebabkan ribuan prajurit elit Angkatan Laut di tiga kapal perang pingsan seketika. Bahkan Laksamana Muda Onigumo dipaksa berlutut dan menancapkan pedangnya ke lantai agar tidak kehilangan kesadaran.”
Keheningan yang mencekam kembali menyelimuti ruang Laksamana Armada.
Haki Raja. Haoshoku Haki. Kekuatan yang hanya dimiliki oleh satu dari beberapa juta orang di seluruh dunia. Kekuatan dominasi yang biasanya hanya ditemukan pada para monster yang menguasai paruh kedua Grand Line. Mendengar kekuatan itu muncul di rute awal Grand Line adalah sebuah anomali kekuatan yang sangat berbahaya.
Sengoku mulai berkeringat dingin. Tetesan keringat kecil mengalir di pelipis keriputnya.
“Hanya itu? Onigumo memiliki tekad baja dari markas besar. Haoshoku Haki saja tidak cukup untuk membuatnya memutar balik kapal dengan tangan kosong,” analisis Sengoku sangat tajam, menuntut kebenaran sepenuhnya.
“A-Ada satu hal lagi, Tuan,” lanjut kapten komunikasi itu. Suaranya kini nyaris berupa bisikan ketakutan, seolah takut monster yang dia ceritakan akan muncul dari balik kertas laporan.
“Setelah melepaskan Haki Penakluk, tersangka Uchiha Madara memanggil sebuah kekuatan fisik yang tidak diketahui dari tubuhnya. Laporan medis Onigumo menyebutnya sebagai api spiritual berwarna biru terang. Api itu kemudian membentuk deretan tulang rusuk raksasa yang menyelimuti dan melindungi tubuh tersangka secara absolut.”
Sengoku perlahan berdiri dari kursi kayunya. Matanya melebar penuh kewaspadaan tinggi.
“Laksamana Muda Onigumo melancarkan serangan bunuh diri menggunakan teknik Zoan laba-laba miliknya, memegang delapan pedang berlapis Busoshoku Haki tingkat menengah. Delapan pedang itu menghantam keras struktur tulang biru tersebut.”
Perwira itu menutup matanya erat-erat sebelum menyelesaikan laporannya.
“Kedelapan pedang baja berlapis Haki milik Laksamana Muda hancur berkeping-keping secara bersamaan saat berbenturan dengan tulang biru itu. Lengan Laksamana Muda Onigumo patah akibat gaya tolak dari serangan tersebut. Menyadari perbedaan kekuatan yang mutlak dan nyawa anak buahnya yang pingsan, Laksamana Muda memberikan perintah mundur taktis untuk menyelamatkan armada.”
Laporan selesai. Kertas gulungan itu diturunkan perlahan.
Garp yang sedari tadi terdiam dengan wajah tegang, tiba-tiba memecah kesunyian dengan suara yang sangat keras.
“Bwahaha! Bwahaha!”
Tawa Garp meledak menggelegar ke seluruh penjuru ruangan. Pahlawan Angkatan Laut itu memegangi perutnya, tertawa lepas hingga mengeluarkan air mata.
“Haoshoku Haki? Kekuatan pertahanan tulang berwarna biru yang bisa menghancurkan pedang berlapis Haki? Monster gila macam apa ini! Sebuah monster baru benar-benar muncul di awal Grand Line!” teriak Garp di sela-sela tawanya yang membahana.
Sengoku menoleh dengan tatapan membunuh ke arah teman lamanya itu. Urat kemarahan menonjol di dahinya.
“Garp! Ini bukan saatnya untuk tertawa! Pasukan kebanggaan kita dipermalukan secara sepihak, dan seorang perwira tinggi terluka parah!” bentak Sengoku dengan suara yang membuat tumpukan kertas di mejanya bergetar jatuh.
Garp mengusap air matanya, masih menyisakan senyum lebar di wajahnya yang tangguh.
“Ayolah, Sengoku. Kau harus mengakui data ini sangat menarik. Laki-laki muda bernama Madara ini tidak memakan Buah Iblis tipe Logia biasa. Dia menangkis delapan pedang berlapis Haki Persenjataan veteran dengan perisai tulang? Aku bahkan belum pernah mendengar kemampuan konyol seperti itu dari buku ensiklopedia Buah Iblis mana pun yang pernah kutemui.”
Sengoku kembali duduk dengan pergerakan kasar. Dia memijat pelipisnya yang berdenyut sakit.
Analisis insting pertempuran Garp memang benar. Kekuatan pertahanan berwarna biru itu terdengar seperti sihir atau perlindungan iblis kuno. Menghancurkan pedang Haki hanya dengan pantulan kekuatan adalah tingkat pertahanan yang sangat absurd. Bahkan manusia berlian Jozu dari kelompok Shirohige tidak bisa menghancurkan senjata musuhnya berkeping-keping tanpa membalas serangan secara aktif.
Sengoku berkeringat dingin memikirkan implikasi politik dan militer dari kebangkitan kekuatan ini.
Pemuda ini memiliki Haki Raja. Dia memiliki seni Taijutsu untuk membantai prajurit elit dengan tangan kosong. Dan dia memiliki pertahanan mutlak yang melampaui kemampuan penembusan Haki Persenjataan perwira menengah.
Jika monster dengan potensi seperti ini dibiarkan berlayar bebas menuju Dunia Baru dan bergabung dengan salah satu Yonko, atau lebih buruk lagi, membangun kerajaannya sendiri dari nol, keseimbangan rapuh dunia akan benar-benar hancur dari akarnya.
Pintu ruangan Laksamana Armada kembali terbuka. Kali ini pintu itu terbuka perlahan, namun membawa hawa panas yang sangat menyengat hingga membuat karpet merah di lantai sedikit berasap tebal.
Seorang pria tinggi besar melangkah masuk. Dia mengenakan setelan jas berwarna merah tua dengan bunga mawar menempel rapi di dada kirinya. Topi laut menutupi sebagian wajahnya yang keras bersudut.
Itu adalah Laksamana Akainu, Sakazuki.
Akainu berdiri di tengah ruangan. Tangan kanannya mengepal sangat erat. Dari sela-sela jarinya, cairan magma merah menyala menetes jatuh ke atas lantai batu, mendesis membakar permukaan batu tersebut menjadi cairan pijar.
Wajah Akainu dipenuhi oleh amarah yang sangat gelap dan mematikan. Dia baru saja mendengar salinan laporan dari markas komunikasi intelijen sebelum berjalan naik ke ruangan ini.
“Keadilan absolut telah dilecehkan oleh seorang kriminal rendahan,” ucap Akainu dengan suara berat yang menggeram seperti anjing pemburu dari neraka.
Matanya menatap lurus ke arah Sengoku, tidak menyembunyikan rasa tidak puasnya.
“Onigumo adalah perwira yang memegang teguh prinsip keadilan sejati. Membiarkannya dipaksa mundur dalam keadaan hancur secara mental dan menyerah adalah sebuah penghinaan besar bagi lambang di punggung kita. Tikus bajak laut bernama Madara ini tidak boleh dibiarkan bernapas menghirup udara satu hari lebih lama.”
Akainu melangkah maju mendekati meja kerja Sengoku.
“Beri aku perintah keberangkatan, Sengoku. Aku akan pergi ke rute awal Grand Line sekarang juga menggunakan kapal tercepat. Aku akan membakar kapalnya, melelehkan perisai tulang birunya itu menjadi uap, dan membawa kepalanya ke hadapan meja hukum!” tuntut Akainu, magma di tangannya semakin bergejolak ganas.
Sengoku menatap sang Laksamana dengan sorot mata yang tajam dan menekan.
“Tenangkan dirimu, Sakazuki. Tugas utamamu adalah menjaga keseimbangan markas besar dari ancaman global. Kita tidak bisa mengirim kekuatan tempur tertinggi, seorang Laksamana utama, hanya untuk mengejar kelompok bajak laut yang baru berlayar masuk ke Grand Line. Itu akan memancing kecurigaan dan pergerakan prematur dari para Yonko di Dunia Baru, mereka akan mengira kita sedang mempersiapkan perang besar.”
“Lalu kita biarkan saja sampah pembangkang ini mempermalukan nama kita tanpa balasan yang pantas?!” bentak Akainu menolak mundur.
Sengoku menyatukan kedua tangannya di depan wajah. Matanya memancarkan perhitungan taktis dan politik tingkat tinggi seorang jenderal besar.
“Tidak. Kita tidak akan membiarkannya berkeliaran tanpa rantai,” jawab Sengoku dingin.
Dia mengambil selembar kertas segel kosong dan sebuah pena tinta khusus dari lacinya.
“Orang ini bukan lagi sekadar kriminal pencuri atau perampok biasa. Dengan mendeklarasikan diri menggunakan Haoshoku Haki dan kekuatan misterius yang menaklukkan seorang Vice-Admiral dalam pertarungan terbuka, nilai ancamannya melonjak drastis melewati batas batas normal. Dia adalah ancaman level internasional yang berpotensi meruntuhkan tatanan dunia dalam beberapa tahun ke depan.”
Sengoku mulai menuliskan perintah militer baru di atas kertas segel tersebut dengan gerakan tangan yang cepat.
“Perintahkan divisi intelijen pusat untuk mengumpulkan semua data observasi tentang Bajak Laut Mugen. Susun ulang nilai buronan kapten mereka dan para krunya. Aku ingin poster buronan baru dicetak dengan nilai yang sesuai, dan disebarkan ke seluruh penjuru lautan dalam waktu kurang dari dua puluh empat jam.”
Sengoku menyerahkan kertas perintah yang telah dicap itu kepada perwira komunikasi yang masih berdiri mematung ketakutan.
“Sebarkan berita ini ke seluruh pangkalan Angkatan Laut di kelima lautan. Angkat status Uchiha Madara menjadi target prioritas tingkat atas bagi para pemburu hadiah elit dan agen Pemerintah Dunia. Jika armada Angkatan Laut biasa tidak bisa menyentuhnya karena perisai itu, biarkan seluruh anjing pemburu serakah di dunia ini yang bergerak mencari celah untuk membunuhnya.”
Perwira itu menerima surat perintah tersebut dengan hormat militer yang kaku, lalu berlari keluar ruangan untuk melaksanakan tugas komunikasi ke seluruh dunia.
Di dalam ruangan, Akainu masih mendengus kesal. Amarahnya tidak padam karena dia merasa penyelesaian ini terlalu lunak, tidak puas karena tidak diizinkan membakar target itu dengan tangannya sendiri. Dia memutar tubuhnya dan berjalan keluar ruangan dalam diam, meninggalkan jejak sepatu berasap yang merusak lantai.
Garp kembali memasukkan sekeping kerupuk ke dalam mulutnya. Dia menatap langit-langit ruangan dengan senyum tipis yang penuh makna.
'Lautan yang tenang ini akan kembali bergolak hebat,' batin pahlawan tua itu sambil mengunyah. 'Pemuda bernama Madara ini telah menabuh genderang perang langsung ke telinga markas besar. Mari kita lihat seberapa jauh tulang birumu bisa menahan beban dari seluruh monster di dunia ini yang datang mengejarmu, anak muda.'
Berita kekalahan Angkatan Laut itu tidak bisa ditutupi oleh tirai sensor.
Pemerintah Dunia mencoba menyaring informasi dari pangkalan terdekat, tetapi burung camar pengantar koran dari kantor berita ekonomi dunia yang dipimpin oleh Morgans bergerak jauh lebih cepat.
Morgans, sang raja berita yang mendapatkan informasi bocoran eksklusif dari prajurit armada Angkatan Laut yang mundur, tertawa kegirangan di dalam markas balon udaranya. Dia langsung mencetak jutaan eksemplar koran darurat pada malam itu juga.
Keesokan paginya, gelombang berita itu menghantam seluruh penjuru dunia dengan kekuatan tsunami.
Dari perairan East Blue yang tenang, kota-kota di West Blue, pulau-pulau padat di South Blue, hingga perairan mematikan di Dunia Baru, jutaan eksemplar surat kabar dijatuhkan dari langit oleh burung camar.
Judul utama berita itu dicetak dengan tinta tebal yang segera menarik perhatian dan rasa ngeri setiap mata yang membacanya.
Kekalahan Telak Angkatan Laut di Awal Surga! Munculnya Iblis Bermata Merah! Keadilan Tunduk pada Sang Raja Baru!
Para bajak laut yang berkumpul di bar dan kedai minuman membicarakan berita itu dengan antusiasme yang meledak-ledak. Mereka merayakan kekalahan simbol Keadilan dengan bersulang tong-tong bir murah. Nama Uchiha Madara diteriakkan sebagai pahlawan pemberontakan yang baru.
Para raja dan bangsawan dari negara-negara aliansi Pemerintah Dunia membaca berita itu dengan wajah pucat. Mereka segera memerintahkan jenderal militer mereka untuk memperketat penjagaan istana, dirundung rasa takut bahwa bajak laut gila yang bisa mematahkan armada kapal perang ini akan datang menjarah kerajaan mereka.
Di lautan Dunia Baru yang dikuasai monster, para komandan bajak laut dari armada kelompok Yonko menatap koran itu dengan minat yang berbeda-beda. Beberapa tertawa meremehkan menganggapnya sebagai kebetulan belaka, sementara beberapa petarung berpengalaman mencatat nama Uchiha Madara sebagai ancaman masa depan yang harus diwaspadai jika dia berhasil melewati Grand Line.
Sebuah riak kecil yang dimulai dari perairan North Blue yang dingin, kini telah berubah menjadi gelombang dunia yang menyapu kesadaran semua orang.
Nama Uchiha Madara tidak lagi tersembunyi di balik bayang-bayang mafia rendahan. Dia telah mendobrak pintu dan melangkah keluar menuju panggung utama perebutan kekuasaan dunia. Mata dunia kini tertuju ke arah sebuah Kapal Bajak Laut kecil berbendera Sharingan yang terus berlayar maju membelah arus Grand Line yang tak terduga.
Sementara dunia sedang dilanda kepanikan, antisipasi, dan teror, di dalam kabin utama kapalnya yang gelap, sang penyebab dari segala kekacauan ini masih tertidur pulas dalam demam pemulihannya.
Sistem di dalam ruang kesadaran Madara telah selesai memanen ratusan ribu poin reputasi dari ketakutan dunia. Poin-poin berharga itu kini tersimpan rapi sebagai angka digital di pikiran bawah sadarnya, menunggu sang dewa perang untuk terbangun, memulihkan tubuh biologisnya, dan membuka kembali lembaran kekuatan kuno yang dipastikan akan mengubah takdir lautan ini selamanya.
Ledakan era baru baru saja dipicu, dan ombak kehancurannya tidak akan pernah berhenti bergulung.