Suaminya gugur di medan tugas. Belum genap setahun jadi janda, Laras sudah harus menelan pahit: ibu dan adiknya sendiri menguras habis santunan, sementara bayi perempuannya, Nala, cuma bisa disambung hidup dengan air tajin di kampung.
Satu-satunya yang ia punya hanyalah air susu—dan tangan yang bisa menyulap beras seadanya jadi masakan sewangi surga.
Maka ketika seorang Letnan Kolonel berwajah dingin membutuhkan **ibu susuan** untuk bayi yatim yang hanya mau menyusu padanya, Laras menelan semua gunjingan tetangga dan masuk ke rumah dinas Danyon Bima Prakoso.
Kata orang, Sang Danyon itu keras, irit bicara, tak tersentuh.
Hanya Laras yang tahu: setiap fitnah yang dilempar padanya, diam-diam sudah ditahan lelaki itu di belakang punggungnya.
Dari dapur umum yang bikin satu batalyon terpana, sampai piring-piring yang menaklukkan para jenderal—Laras membalikkan keadaan, satu masakan demi satu masakan, menampar semua mulut yang pernah memandangnya rendah.
Tapi bayi yang ia besarkan dengan air susunya sendiri… menyimpan sebuah rahasia yang dijaga negara selama bertahun-tahun.
Dan hati Sang Danyon yang dingin itu, ternyata sudah lama hangat—hanya untuknya.
*"Kamu boleh jaga nama baikmu. Tapi malam ini, biar aku yang jaga kamu."*
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 30
Bab 30
Pisau Bernama Aturan
Laras belum sempat bertanya langsung kepada Bima ketika rapat komando dimulai.
Sudibyo berdiri di depan papan tulis dengan daftar usulan baru. Nada bicaranya tenang, seolah semua yang dibawanya murni untuk ketertiban satuan.
“Perjalanan kendaraan nonoperasi harus mendapat dua persetujuan,” katanya. “Satu dari perbekalan, satu dari komando. Orang yang tidak tercantum sebagai staf dapur juga tidak boleh masuk tanpa izin tertulis.”
Beberapa perwira saling memandang. Semua tahu usulan itu muncul setelah perjalanan Laras ke Girisari.
“Tujuannya?” tanya Bima.
“Mencegah penyalahgunaan. Kita tidak ingin kendaraan dipakai karena kedekatan pribadi, atau orang luar melihat catatan bahan.”
“Setuju.”
Sudibyo terdiam sepersekian detik. Ia mungkin mengira Bima akan menolak.
Bima mengambil pulpen. “Tambahkan batas waktu persetujuan maksimal dua jam untuk keadaan medis. Jika salah satu pejabat tidak ada, dokter jaga bisa memberi otorisasi darurat. Semua penolakan harus disertai alasan tertulis.”
“Itu terlalu rumit.”
“Kau yang meminta prosedur.”
Senyum tipis muncul di beberapa wajah.
Bima melanjutkan, “Untuk dapur, daftar akses berlaku bagi semua orang. Termasuk istri perwira, petugas gudang, dan pejabat yang tidak punya tugas konsumsi. Catatan keluar masuk ditempel setiap hari.”
Bu Ratna yang duduk sebagai wakil Persit langsung menegang. Selama ini ia sering masuk memeriksa bahan tanpa surat.
“Ibu-ibu Persit membantu pengawasan,” katanya.
“Silakan mendaftar sebagai pemeriksa dengan jadwal dan tanda tangan,” jawab Bima. “Aturan tidak boleh hanya tajam kepada orang tertentu.”
Sudibyo tidak bisa menarik usulannya sendiri. Keputusan disahkan dengan seluruh tambahan Bima.
Kepala perbekalan lalu mengangkat persoalan lain. “Kalau setiap orang yang masuk harus tercatat, siapa yang memegang buku?”
“Dua orang bergantian,” jawab Bima. “Parjo dan satu petugas gudang. Pemeriksa tidak boleh sekaligus menjadi satu-satunya pencatat.”
“Bagaimana dengan bahan rusak?”
“Difoto, ditimbang, lalu disaksikan petugas kesehatan sebelum dibuang.”
Sudibyo mengetuk meja. “Kita sedang membahas akses, bukan seluruh sistem dapur.”
“Penyalahgunaan tidak hanya terjadi ketika orang luar masuk,” kata Bima. “Bisa juga terjadi saat pembelian, penerimaan, atau pembuangan. Kalau tujuannya benar-benar ketertiban, kita rapikan semuanya.”
Para perwira menyetujui. Sudibyo kehilangan kesempatan memakai aturan hanya untuk menghambat Laras. Lebih buruk lagi, pencatatan baru akan membuat selisih bahan lama lebih mudah terlihat. Beberapa pengadaan yang selama ini melewati orang dekatnya bisa ikut diperiksa.
Itulah alasan wajahnya tetap dingin ketika rapat ditutup.
Seusai rapat, ia menahan langkah Bima di lorong.
“Kau pandai membalikkan pisau.”
“Pisau yang diletakkan di meja umum bisa dipakai siapa saja.”
“Suatu hari kau akan terlambat menyiapkan kertas.”
“Kalau begitu temukan kesalahanku hari itu.”
Bima pergi tanpa menoleh.
Menjelang siang, dr. Sinta datang ke rumah dinas untuk memeriksa Satya. Laras menyiapkan kartu kesehatan, catatan makan, jadwal tidur, dan berat badan sejak pertama kali ia menjadi ibu susuan.
“Beratnya naik stabil,” kata dokter setelah menimbang. “Tidak ada tanda kurang gizi. Ruam popok juga jauh membaik.”
Satya duduk dengan bantuan bantal dan mencoba merebut stetoskop. dr. Sinta tertawa, lalu membiarkannya memegang ujung karet.
Laras memperlihatkan ruam lama yang kini tinggal bekas kemerahan. Ia menjelaskan pergantian sabun, waktu menjemur popok kain, dan makanan yang dihentikan ketika Satya mengalami reaksi.
“Siapa yang mengajari semua ini?” tanya dr. Sinta.
“Bidan desa mengajari dasarnya. Sisanya saya catat dari percobaan sehari-hari. Kalau kulitnya merah setelah satu hal, saya berhenti. Kalau beratnya tidak naik, saya ubah jadwal.”
“Kau teliti.”
“Saya tidak punya banyak pilihan. Anak yang tidak bisa bicara hanya memberi tanda lewat tubuh.”
Bima mendengar jawaban itu dari ambang pintu. Pandangannya jatuh pada buku Laras yang penuh tanggal, tanda silang, dan catatan pendek. Ia teringat arsip kosong yang dipakai Sudibyo untuk meragukan kemampuan perempuan itu. Tidak semua pengetahuan datang dengan ijazah.
Ketika bayi itu menatap ke atas, senyum dokter perlahan hilang.
“Dia mirip sekali ibunya...”
Kalimat itu terputus.
Mata dr. Sinta memerah. Tangannya yang memegang stetoskop berhenti di udara.
Laras menoleh kepada Bima yang baru masuk dari kantor. Wajah laki-laki itu membeku, hanya sesaat, sebelum kembali dingin.
“Dokter pernah mengenal mendiang?” tanya Laras.
dr. Sinta menunduk membenahi alat. “Kami pernah bertemu dalam urusan dinas. Sudah lama.”
“Cukup,” kata Bima pelan.
Satu kata itu tidak terdengar marah, tetapi menutup pintu yang tidak boleh dibuka.
Keheningan bertahan beberapa detik. Satya justru tertawa dan memukul-mukul stetoskop ke lantai, sama sekali tidak tahu bahwa wajahnya baru membuka sebuah luka lama.
dr. Sinta mengambil alat itu perlahan. “Maaf. Saya terbawa ingatan.”
Bima mengangguk tipis. “Pemeriksaannya dilanjutkan.”
Laras menangkap cara tangan Bima menutup gagang pintu lebih erat. Ia tidak tahu siapa mendiang perempuan yang sedang mereka bicarakan, atau mengapa namanya seperti dilarang masuk ke ruangan. Namun ia tahu ini bukan saatnya memaksa.
Laras tidak bertanya lagi. Ia mengangkat Satya yang mulai bosan dan memberikan gelang kayu untuk dimainkan.
Bu Ratna muncul di pintu tanpa mengetuk. Di tangannya ada buku pemeriksaan Persit.
“Ternyata dr. Sinta kenalan lama Danyon,” katanya. “Pantas begitu perhatian pada anak ini.”
dr. Sinta menatapnya. “Saya perhatian karena dia pasien.”
“Tentu. Hanya saja pengasuh desa kadang tidak mengerti standar kesehatan. Dokter harus sering mengawasi.”
“Catatan pertumbuhannya lebih rapi daripada sebagian kartu anak yang saya periksa di klinik.” dr. Sinta menunjuk tabel Laras. “Jadwal makan jelas, reaksi kulit dicatat, alat makan direbus. Kalau semua pengasuh bekerja seperti ini, pekerjaan saya lebih ringan.”
Bu Ratna tersenyum kaku. “Saya hanya khawatir.”
“Kekhawatiran yang tidak didasarkan pemeriksaan mudah berubah menjadi penghinaan.”
Laras menahan keinginan tersenyum. Bu Ratna pamit dengan alasan ada rapat lain.
Setelah pintu tertutup, dr. Sinta menyerahkan kartu Satya kepada Laras.
“Teruskan seperti ini. Dan soal Nala, laporan puskesmas sudah saya terima. Dia membaik.”
“Terima kasih, Dok.”
dr. Sinta sempat memandang Satya sekali lagi. Ada kehilangan lama di matanya, tetapi ia menyimpannya rapat.
Sore harinya, Laras menemukan Bima sendirian di teras. Ini kesempatan untuk menanyakan uang bantuan. Namun sebelum ia membuka mulut, Parjo berlari dari arah kantor komunikasi sambil membawa telegram.
“Bu Guru! Komandan!”
Napasnya terengah. Ia mengangkat kertas itu seperti bendera kemenangan.
“Undangan lomba masak se-Korem sudah datang. Pendaftaran ditutup tiga hari lagi.”
Bima membaca telegram, lalu menyerahkannya kepada Laras.
Lomba akan diadakan dua minggu lagi. Setiap batalyon mengirim satu tim, tiga masakan, satu jam, bahan utama ditentukan lewat undian.
Parjo mengusap wajahnya. “Kolonel bilang nama yang didaftarkan harus orang yang benar-benar memegang rasa.”
Ia memandang Laras, lalu Bima.
“Jadi, nama siapa yang kita kirim?”