NovelToon NovelToon
Di Dunia Orang Bodoh, Akulah Sang Jenius

Di Dunia Orang Bodoh, Akulah Sang Jenius

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:4
Nilai: 5
Nama Author: Pelukis Mimpi

Arya Pratama dikeluarkan dari sekolah. Nilai jelek, masa depan hancur, semua orang bilang dia tidak berguna. Tapi hari itu, dia menyadari sesuatu yang mengubah segalanya — bukan dia yang bodoh... seluruh dunia yang bodoh.

Apoteker tidak bisa hitung tambah-kurang. Profesor universitas menulis rumus yang salah selama ratusan tahun tanpa ada yang sadar. Juara catur dunia bisa dikalahkan dalam sepuluh langkah. Di dunia ini, pengetahuan SMA biasa adalah kekuatan tertinggi — dan Arya adalah satu-satunya orang yang memilikinya.

Dari siswa yang dibuang, dia naik menjadi legenda yang tidak pernah menunjukkan wajah aslinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pelukis Mimpi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 28

Bab 28: Kontak Pertama

Rafi memilih warung kopi kecil di seberang kantor kelurahan untuk pertemuan kedua.

Pilihan itu membuat Arya menaikkan nilai awalnya satu poin. Warung itu ramai, terbuka, punya dua kamera CCTV, dan cukup dekat dengan pos keamanan. Jika Rafi ingin terlihat aman, pilihannya masuk akal. Jika ia ingin menyembunyikan sesuatu, pilihannya buruk. Dalam dua skenario, Arya mendapat informasi.

Budi duduk di meja sebelah dengan koran yang jelas tidak ia baca. Pak Surya duduk di sisi Arya. Putri dan Rizky berada di meja belakang, pura-pura mengerjakan tugas kelompok. Rizky bahkan membawa penggaris, entah untuk apa.

Rafi melihat susunan itu dan tersenyum. "Kamu membawa saksi berlapis."

Arya menjawab, "Bapak membawa map berlapis. Kita seimbang."

Rafi meletakkan map di meja. "Evaluasi awal UNG terdiri dari tiga bagian: tes kognitif terbuka, wawancara risiko, dan pemetaan dukungan sosial. Hari ini bebas tes medis dan alat perekam tersembunyi."

"Ada alat perekam terbuka?"

Rafi mengeluarkan perekam suara kecil dan meletakkannya di tengah meja. "Dengan izin semua pihak."

Pak Surya mengangguk. Budi juga, meski wajahnya tetap curiga. Arya menatap perekam itu sebentar, lalu berkata, "Mulai."

Tes pertama bukan soal pilihan ganda. Rafi memberi tiga data acak: jadwal bus kota, peta sederhana aliran sungai, dan catatan penjualan beras di pasar. "Temukan hubungan risiko dalam lima menit."

Arya membaca selama tiga puluh detik. "Banjir kecil di wilayah timur akan membuat jalur bus dua tertunda, memindahkan arus penumpang ke halte pasar, menaikkan permintaan beras eceran karena pekerja tidak pulang tepat waktu, lalu membuat harga terlihat naik sementara. Jika pemerintah membaca data harian tanpa melihat transportasi, mereka akan mengira ada penimbunan."

Rafi tidak menulis selama dua detik. "Kamu yakin?"

"Tidak. Bapak memberi data terlalu sedikit. Tapi itu hubungan paling murah yang menjelaskan tiga tabel sekaligus."

Rafi menulis akhirnya. "Bagian kedua. Jika kamu mendapat akses ke fasilitas belajar terbaik tetapi harus meninggalkan sekolah sekarang, apa keputusanmu?"

Pak Surya menegang. Budi langsung menatap Rafi. Putri di meja belakang berhenti menulis.

Arya menjawab tanpa jeda. "Menolak."

"Kenapa?"

"Karena tawaran yang meminta saya memutus jaringan sosial tepat setelah ancaman muncul lebih mirip isolasi daripada perlindungan. Jika fasilitas itu benar-benar terbaik, ia bisa dibawa ke struktur yang tidak memutus saksi."

Rafi mengangguk pelan. "Jawaban yang kami harapkan bukan menolak atau menerima. Yang kami cari adalah alasan."

"Alasan Bapak juga sedang diuji," kata Arya.

Rizky berbisik kepada Putri, "Aku merasa ini bukan wawancara. Ini duel sopan."

Putri menjawab, "Rafi tahu. Lihat tangannya."

Tangan Rafi memang bergerak lebih hati-hati. Ia membuka halaman ketiga. "Apa menurutmu genius harus punya kewajiban sosial lebih besar?"

Arya diam sebentar. Pertanyaan itu lebih berbahaya daripada soal bus. "Orang dengan kemampuan lebih besar punya dampak lebih besar. Dampak perlu tanggung jawab. Tapi tanggung jawab bukan izin bagi masyarakat untuk memiliki hidupnya."

Rafi menatapnya. "Itu kalimat yang sangat UNG faksi bebas."

"Berarti faksi lain tidak setuju."

Pak Surya memandang Rafi. "Faksi?"

Rafi menarik napas. "UNG bukan monolit. Ada perdebatan internal tentang cara terbaik mendampingi anak berbakat. Saya berada di kelompok yang menolak pemaksaan. Maya Kartika, koordinator saya, juga. Tapi saya tidak akan berpura-pura semua orang di pusat selalu sejalan."

Arya menatap Budi. Ayahnya memberi anggukan kecil. Kejujuran tidak membuat Rafi aman, tetapi membuatnya bisa diawasi dengan benar.

Rafi melanjutkan wawancara. Ia bertanya tentang sekolah lama, tentang rasa marah, tentang kasus Rahman, tentang hubungan dengan Putri dan Rizky. Arya menjawab seperlunya. Ketika pertanyaan terlalu pribadi, ia berkata terlalu pribadi. Ketika istilah Rafi kabur, ia memaksa definisi. Setelah empat puluh menit, Rafi menutup map dengan wajah lelah.

"Hasil sementara: kamu masuk daftar observasi tingkat tinggi. Belum ada klasifikasi final. Kami akan menawarkan akses materi, pengamanan lunak, dan jalur komunikasi darurat."

"Apa risikonya?" tanya Budi.

"Semakin banyak kami memberi akses, semakin banyak jejak administratif. Semakin sedikit kami terlibat, semakin besar risiko Bayangan bergerak lebih bebas. Karena itu kami mulai dari dukungan kecil."

Pak Surya bertanya, "Apa langkah berikutnya?"

Rafi mengeluarkan amplop. Di dalamnya ada undangan turnamen catur nasional, kategori gomoku eksibisi strategi, disponsori komunitas logika dan lembaga teknologi. "Ini bukan dari UNG. Tapi kami melihat undangan ini masuk ke sekolah setelah video Arya viral. Turnamen ini sering dipakai untuk mencari bakat strategi. Kami menyarankan Arya ikut, dengan pengamanan terbuka."

Rizky dari meja belakang hampir berdiri. "Catur? Arya juga main catur?"

Arya membuka amplop. "Ini gomoku. Lima batu segaris. Mereka menyebutnya catur karena branding lokal buruk."

Rafi tersenyum. "Kamu bisa?"

Arya membaca daftar peserta. Di baris unggulan tertulis Grandmaster Hendra Kusuma, legenda nasional yang tidak pernah kalah di turnamen terbuka selama tujuh tahun.

Arya menutup amplop. "Kalau aturan tidak berubah, bisa."

Putri melihat mata Rafi. Kontak pertama selesai, tetapi panggung baru sudah disodorkan. Dan seperti biasa, Arya tidak melihatnya sebagai bahaya lebih dulu.

Rafi juga membawa satu halaman berisi skala risiko. Paparan media: tinggi. Ancaman Bayangan: aktif. Dukungan keluarga: kuat tetapi belum terlatih. Dukungan sekolah: berkembang. Stabilitas emosional: sulit dinilai. Pada bagian terakhir, Arya menunjuk tulisan sulit dinilai.

"Itu cara sopan mengatakan kalian tidak mengerti saya?"

"Itu cara akurat mengatakan data kami belum cukup," jawab Rafi. "Kamu tidak menunjukkan panik dalam situasi yang seharusnya memicu panik. Itu bisa berarti kontrol diri tinggi, jarak emosional, trauma, atau kombinasi lain. Kami tidak akan menebak lalu memperlakukan tebakan sebagai fakta."

Untuk pertama kalinya, Arya tidak langsung membalas. Jawaban itu cukup bagus.

Budi yang mendengar percakapan dari meja sebelah menurunkan korannya. "Kalau kalian menemukan anak saya lelah, kalian akan bilang ke saya?"

Rafi menoleh. "Jika Arya setuju. Tapi kami juga akan mengajari keluarga membaca tanda kelelahan kognitif dan ancaman sosial. Perlindungan tidak selalu berupa penjaga di gerbang. Kadang perlindungan berarti tahu kapan seseorang harus berhenti berpikir untuk orang lain."

Rizky berbisik, "Aku mendukung program berhenti berpikir. Aku sudah latihan sejak kecil."

Putri menendang kakinya pelan di bawah meja.

Sebelum pergi, Rafi menyerahkan kartu darurat kepada Budi, Pak Surya, dan Arya. Nomornya berbeda. "Jika salah satu nomor tidak aktif, pakai yang lain. Jika semua tidak aktif, berarti situasi kami juga terganggu. Saat itu jangan menunggu instruksi. Pergi ke kantor polisi yang sudah mengenal kasus Rahman."

Arya menyimpan kartu itu. "Instruksi pertama yang masuk akal hari ini."

"Saya anggap itu pujian."

"Jangan terlalu optimis."

Ia melihatnya sebagai soal.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!