Di sebuah hotel mewah, Alyssa dipaksa menunggu "pembelinya".
"Aku sudah bayar mahal! Mana gadisnya?"
bentak pria bertubuh tambun sambil membanting gelas.
Mariska tersenyum licik.
"Tenang saja, Tuan. Dia memang keras kepala, tapi malam ini dia pasti jadi milik Anda."
"Aku tidak mau! Lepaskan aku!" teriak Alyssa sambil berusaha melepaskan diri.
"Diam!" hardik Mariska sembari menampar pipi Alyssa. "Kalau bukan karena aku membesarkanmu, kau sudah mati kelaparan! Sekarang giliranmu membalas budi."
Air mata Alyssa jatuh, tetapi keberaniannya tidak ikut runtuh.
Saat para pria lengah, ia mendorong salah seorang dari mereka hingga terjatuh, lalu berlari sekuat tenaga menyusuri lorong hotel.
"Kejar dia!" teriak pria hidung belang itu murka.
"Jangan sampai gadis itu lolos!"
Suara langkah kaki bergema di sepanjang koridor.
Dengan napas memburu, Alyssa membuka pintu sebuah kamar yang tidak terkunci dan segera menguncinya dari dalam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MHKaylid_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 5
Perjalanan berlangsung hampir satu jam.
Tidak satu pun penumpang di dalam Rolls-Royce itu banyak berbicara.
Suara mesin mobil yang nyaris tak terdengar justru membuat suasana semakin hening.
Alyssa sesekali melirik ke luar jendela.
Gedung-gedung tinggi perlahan berganti menjadi kawasan elite yang dipenuhi pepohonan rindang.
Jalanan semakin lengang.
Lampu taman berjejer rapi di sepanjang jalan.
Mobil akhirnya berbelok memasuki sebuah jalan pribadi yang diapit pagar batu alam setinggi hampir tiga meter.
Di ujung jalan berdiri sebuah gerbang besi hitam berukir lambang seekor singa yang sedang mengaum.
Begitu konvoi mendekat...
Gerbang itu terbuka perlahan secara otomatis.
Dua belas petugas keamanan memberi hormat bersamaan.
Konvoi terus bergerak masuk.
Mata Alyssa membulat.
Jalan menuju bangunan utama saja begitu panjang hingga ia hampir mengira mereka sedang memasuki kawasan resor pribadi.
Di kanan kiri terbentang taman yang tertata sempurna.
Air mancur bertingkat berdiri megah di tengah bundaran.
Patung-patung marmer menghiasi setiap sudut.
Beberapa bangunan kecil tampak berdiri di kejauhan.
"Apa... ini rumah?"
gumam Alyssa lirih.
Ia bahkan belum pernah melihat tempat semegah itu, apalagi menginjakkan kaki di dalamnya.
Beberapa saat kemudian...
Bangunan utama mulai terlihat.
Mansion bergaya klasik Eropa itu menjulang megah dengan pilar-pilar putih raksasa.
Lampu kristal menerangi seluruh bagian depan.
Puluhan jendela besar memantulkan cahaya keemasan.
Puluhan pelayan telah berbaris di depan pintu utama.
Alyssa tidak mampu mengalihkan pandangannya.
Rumah itu terasa seperti istana.
Ia bahkan merasa pakaian sederhananya terlalu lusuh untuk berada di tempat semewah ini.
"Ini... benar-benar rumah?"
Ia kembali bergumam.
Di sampingnya, Lucas Alexander Laurent hanya menatap lurus ke depan.
Baginya, pemandangan itu sudah menjadi hal biasa.
Mobil akhirnya berhenti tepat di depan tangga utama.
Namun...
Tidak seorang pun langsung turun.
Lucas baru menyadari sesuatu.
Ia menoleh ke kursi belakang.
Tatapannya yang biasanya setajam es perlahan berubah sedikit heran.
Lucky...
Tertidur.
Bukan hanya tertidur.
Anak laki-laki itu bersandar begitu nyaman di sisi Alyssa.
Kepalanya bahkan bertumpu di bahu gadis tersebut.
Sementara tangan kecilnya masih menggenggam pelan pergelangan tangan Alyssa...
Tangan yang beberapa jam lalu sempat ia cakar hingga meninggalkan bekas merah.
Alyssa sendiri tampak membeku.
Ia sama sekali tidak berani bergerak.
Sejak kapan anak itu tertidur?
Ia bahkan tidak menyadarinya.
Selama perjalanan, Lucky sempat beberapa kali menatap ke luar jendela.
Tak lama kemudian...
Kepalanya perlahan miring.
Dan tanpa sadar...
Ia tertidur di samping Alyssa.
Lucas memandang putranya cukup lama.
Sudah bertahun-tahun...
Ia tidak pernah melihat Lucky tidur setenang ini.
Anak itu hampir selalu terbangun setiap kali berada di dekat orang asing.
Bahkan terhadap guru privat maupun pengasuh baru, Lucky selalu menjaga jarak.
Namun sekarang...
Ia justru tertidur pulas di samping perempuan yang beberapa jam lalu masih ingin diusirnya.
Ketukan pelan terdengar dari luar.
Tok...
Tok...
Pintu mobil dibuka.
Seorang pria tinggi berusia sekitar tiga puluh lima tahun membungkukkan badan dengan hormat.
"Selamat datang kembali, Tuan Lucas."
Lucas mengangguk singkat.
Pria itu adalah Adrian Hartmann.
Orang kepercayaan Lucas selama lebih dari sepuluh tahun.
Ia bukan hanya kepala pengawal.
Ia juga merupakan asisten pribadi yang mengurus hampir seluruh urusan keluarga Laurent.
Adrian baru hendak berbicara ketika matanya menangkap pemandangan di dalam mobil.
Ekspresinya berubah.
"Tuan..."
Lucas mengikuti arah pandang Adrian.
"Ada apa?"
Adrian tersenyum tipis.
"Sepertinya Tuan juga baru menyadarinya."
Lucas tidak menjawab.
Adrian kembali memandang Elian.
"Saya belum pernah melihat Tuan Muda tidur seperti ini."
Alyssa menundukkan kepala.
"Maaf... mungkin saya tidak sengaja membuatnya tidak nyaman."
Adrian justru menggeleng.
"Justru sebaliknya, Nona."
Alyssa mengangkat wajahnya.
"Sejak Nyonya meninggal..."
"Tuan Muda hampir tidak pernah bisa tidur nyenyak ketika berada di luar kamarnya."
"Apalagi..."
Ia memandang tangan kecil Lucky yang masih menggenggam lembut tangan Alyssa.
"...bersama orang yang baru dikenalnya."
Alyssa terdiam.
Lucas pun tidak mengatakan apa-apa.
Adrian melanjutkan dengan suara pelan.
"Biasanya, siapa pun yang mencoba mendekati Tuan Muda akan langsung ditolak."
"Beliau sulit percaya kepada orang lain."
"Bahkan beberapa pengasuh profesional hanya bertahan beberapa hari."
Alyssa kembali menatap Lucky.
Wajah anak itu kini terlihat jauh berbeda.
Tidak lagi dingin.
Tidak lagi arogan.
Saat tertidur...
Ia hanyalah anak kecil yang tampak kelelahan.
Tatapan Alyssa tanpa sadar menjadi lembut.
Mungkin...
Di balik sikap kasarnya...
Ada luka yang belum pernah sembuh.
Lucas memperhatikan perubahan ekspresi Alyssa.
Ia lalu menatap putranya.
Sudah lama sekali ia tidak melihat Lucky setenang ini.
Sejak kehilangan ibunya bertahun-tahun lalu, putranya berubah menjadi anak yang tertutup, mudah marah, dan menolak siapa pun masuk ke dalam dunianya.
Lucas sudah mencoba berbagai cara.
Dokter.
Psikolog anak.
Guru terbaik.
Pengasuh berpengalaman.
Tidak ada yang berhasil.
Namun kini...
Anak itu justru tertidur lelap di samping seorang perempuan asing.
Sesuatu yang bahkan sulit dipercaya.
"Tuan..."
Suara Adrian kembali memecah keheningan.
"Apa saya bangunkan Tuan Muda?"
Lucas menggeleng.
"Jangan."
"Tapi beliau akan kedinginan kalau terus di dalam mobil."
Lucas kembali memandang Lucky.
Beberapa detik berlalu.
Akhirnya ia berkata pelan,
"Tunggu sampai dia bangun sendiri."
Adrian sedikit terkejut.
Biasanya Lucas sangat disiplin terhadap jadwal putranya.
Namun kali ini...
Ia memilih menunggu.
Alyssa merasa semakin tidak enak hati.
"Kalau boleh..."
"Saya bisa pindah ke mobil lain."
"Mungkin nanti dia akan bangun."
Lucas menggeleng singkat.
"Jangan bergerak dulu."
Nada suaranya tetap datar.
Namun kali ini terdengar lebih tenang daripada sebelumnya.
Alyssa pun mengangguk pelan.
Tak lama kemudian...
Lucky bergerak sedikit.
Ia mengerutkan hidung.
Lalu perlahan membuka matanya.
Beberapa detik ia hanya menatap kosong ke depan.
Kemudian...
Ia menyadari kepalanya sedang bersandar di bahu Alyssa.
Anak itu langsung menjauh dengan wajah memerah.
"Aku..."
Ia terdiam.
Lucas mengangkat sebelah alis.
"Kau tidur."
Lucky segera memalingkan wajah.
"Aku tidak sengaja."
Adrian hampir tersenyum melihat tingkah Tuan Mudanya.
Itu pertama kalinya ia melihat Lucky tampak malu.
Alyssa hanya tersenyum tipis.
"Tidak apa-apa."
Lucky menoleh sekilas ke arah tangan Alyssa.
Bekas cakaran yang ia buat masih terlihat.
Entah mengapa...
Dadanya terasa sedikit sesak.
Namun gengsinya terlalu tinggi untuk meminta maaf.
Ia hanya berdehem pelan lalu membuka pintu mobil lebih dulu.
"Aku masuk."
Anak itu berjalan cepat menuju mansion.
Seolah ingin melarikan diri dari rasa malunya sendiri.
Adrian menatap punggung Lucky sambil terkekeh pelan.
"Sudah lama saya tidak melihat Tuan Muda bereaksi seperti itu."
Lucas ikut turun dari mobil.
Tatapannya masih tertuju pada putranya yang berjalan memasuki mansion.
Kemudian ia berkata tanpa menoleh kepada Adrian,
"Siapkan kamar tamu."
Adrian mengangguk.
"Untuk Nona Alyssa?"
"Ya."
"Dan..."
Lucas berhenti sejenak.
"Panggil dokter keluarga."
Alyssa segera menggeleng.
"Luka saya hanya goresan kecil."
Damien menatap bekas cakaran di tangannya.
"Goresan tetap harus dibersihkan."
"Di rumah ini..."
"...tidak ada luka yang dibiarkan begitu saja."
Kalimat itu membuat Alyssa terdiam.
Ia mengikuti langkah Lucas menaiki tangga marmer menuju pintu utama mansion.
Puluhan pelayan membungkuk memberi hormat.
"Selamat datang kembali, Tuan Lucas."
Alyssa kembali merasa canggung.
Semua mata kini tertuju kepadanya.
Mereka tampak terkejut melihat seorang perempuan muda berjalan di belakang majikan mereka.
Sebab selama bertahun-tahun...
Tidak pernah ada perempuan asing yang diizinkan memasuki Mansion Laurent.
Dan tanpa seorang pun sadari...
Kedatangan Alyssa malam itu akan menjadi awal dari perubahan besar di rumah yang selama ini dikenal begitu dingin dan sunyi.
"Hayooooo lohh yang sudah baca sejauh ini tapi masih belum kasih rating, ulasan, dan komen aku sumpahin kamu ketagihan baca.. Aku juga butuh semangat plisss komen yaaa, maaciwww" MHKaylid_