"Huaaaaaa kenapa kepala suami ku hilang? "
Jeritan melengking di sebuah rumah karena ia telah kehilangan sosok suami tercinta, kapan itu terjadi diri nya sama sekali tidak tau
Kampung menjadi heboh karena mereka sama sekali tidak menyangka bahwa kepala manusia bisa hilang dari tubuh nya dan tidak tau kemana.
Siapa pelaku itu?
kenapa ia mencuri kepala di setiap malam bulan purnama?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon novita jungkook, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34. Di kubur besok
Wuuuttt.
Praaaaak
Iis seolah tidak sanggup berteriak ketika tangan Purnama yang bergerak cepat menyambar kepala dia sendiri dan menghantamkan tepat pada pohon yang ada di sana, bahkan bila mata orang yang tidak jeli maka mereka tidak bisa melihat kapan Purnama itu bergerak karena tahu-tahu saja Iis sudah tergeletak dengan kepala yang berdenyut kencang.
Tidak ada yang berani membela walau hanya sedikit saja karena mereka juga tahu kalau itu semua adalah kesalahan dari Iis sendiri karena terus berbicara seperti itu, sebelumnya sudah diberi peringatan oleh Pak RT bahwa Jangan berbicara sembarangan bila berhadapan dengan Purnama seperti ini, namun Iis keras kepala dan malah berkata seperti itu sehingga sudah pasti pernah mau menganggap sebagai sebuah tantangan.
Sekarang Tentu saja dia harus menerima risiko seperti itu karena memang Purnama sangat benci sekali kepada orang yang sok tahu, Iis tidak sanggup bergerak karena kepala dia memang berdenyut kencang seolah akan pecah dan itu masih mending karena pernah tidak membantingnya dengan emosi yang begitu tinggi.
Salsa malah menggeram kecewa karena dia berharap memang Purnama akan membanting Iis dengan kekuatan besar, tapi Purnama malah memilih hanya membenturkan kepala Gadis itu ke batang pohon saja sehingga bisa dikatakan sakit itu masih belum seberapa bila dibanding dengan bantingan maut.
"Ini mau langsung kubur atau harus menunggu besok pagi?" Purnama bertanya kepada Pak RT.
''Besok atau sekarang ya bagus nya?'' Pak Lurah justru yang maju dan balik bertanya kepada Purnama.
''Diam, Aku sedang berbicara dengan dia!'' tangan Purnama langsung menepis kepala Pak Lurah.
''Astaga bahkan Pak Lurah saja tidak ada harga diri di depan Purnama.'' Andi berusaha menahan tawa.
Para warga lain sebenarnya juga ikut menahan tawa karena mereka tahu sendiri pasti Purnama sangat tidak menyukai Pak Lurah ini, karena pasti Purnama telah sadar bahwa Pak Lurah adalah orang yang sangat kegatalan dan tidak pernah memiliki pendirian tetap.
''Besok pagi saja sebenarnya jauh lebih baik karena kalau sekarang pasti tidak akan terkejar.'' Pak RT berkata dengan wajah agak malu.
''Kalau mau di kubur besok pagi maka segera cari batang pohon pisang.'' perintah Purnama.
''Emang untuk apa pohon pisang itu ya?'' Pak RT bertanya dengan nada takut.
''Untuk mencegah sesuatu yang buruk, segera kalian ambil batang pohon pisang Serawak.'' Purnama menatap Andi dan juga Davin.
''Ya kami akan cari pohon pisang itu sekarang.'' Davin dan Andi segera bergerak karena mereka tidak berani menunda terlalu lama.
''Tiga batang, sama ambil daun yang masih bergulung juga.'' perintah Purnama kepada mereka berdua.
''Ayo kita bawa mayat Akbar sekarang!'' Yanto juga cepat bergerak karena kasihan melihat mayat Akbar yang masih tergeletak seperti itu.
''Ini dia punya rumah atau mau dibawa ke rumah para warga lain?'' Purnama bertanya lagi kepada Pak RT.
''Ada rumah dia di sini jadi lebih baik di rumah dia saja dan Nanti para warga akan membantu semua.'' jawab Pak RT.
Purnama mengangguk setuju dan dia juga akan segera membantu tentang persiapan acara penguburan Akbar besok pagi, malam ini para warga jelas harus membantu banyak perlengkapan karena tidak bisa bila langsung pagi begitu saja mereka menguburkan mayat tersebut, rumah juga mungkin dalam keadaan berantakan karena Akbar tinggal sendirian selama ini.
''Kak, kalau bisa dia itu hajar saja terus karena kami yang ada di desa ini sangat kesal kepada dia.'' Salsa menghampiri purnama dan menceritakan tentang Iis.
''Tidak lama lagi dia juga akan mati karena sudah ada penyakit di dalam tubuh dia itu.'' Purnama berkata serius.
''Hooo dia penyakitan ternyata!'' Intan ikut kaget.
''Hem, penyakit yang dia derita cukup parah namun sekarang masih belum sadar.'' ujar Purnama.
''Kapok lah, pasti dia kena penyakit kelamin itu karena selama ini sering gonta-ganti pasangan.'' Salsa sudah bisa menebak tentang hal itu.
''Biarkan saja, wanita kalau miskin maka akan sering gonta-ganti pasangan untuk mencari pria kaya yang mampu memberi uang.'' ujar Purnama dengan sangat pedas.
''Iya lah, Dia memang anak orang miskin dan sekarang uang yang dia dapat itu hasil dari jual diri kepada para pria berkedok pacar.'' Salsa sangat setuju tentang fakta tersebut.
Purnama dan yang lain segera berlalu pergi dari sana meninggalkan Iis yang masih sendirian karena merasakan kepala sakit tadi, sama sekali tidak ada orang yang membantu dia untuk berdiri atau bahkan ikut bergerak untuk meninggalkan tempat tersebut karena para warga yang ada di sini sebenarnya juga sangat muak dengan tingkah laku Iis.
''Awas saja kalian semua, aku akan balas semua sakit ini.'' pekik Iis.
''Siapa takut, kami malah menunggu kau mati loh.'' Salsa masih sempat menjawab juga.
''Kau lihat saja nanti ketika suamimu itu berpaling dari dirimu dan lebih memilih aku!'' ancam Iis.
''Lakukan saja bila kau ingin mati dengan cara yang mengenaskan.'' tentang Salsa.
Salsa tidak pernah merasa takut karena dia merasa memiliki backingan seperti Purnama sehingga apa saja akan dia lawan dan terkadang Davin juga kewalahan untuk menasehati sang istri, ini bisa di katakan bahwa Salsa ada di pihak yang benar namun tetap saja ketika sedang melawan maka mulutnya menjadi sangat tidak sopan sekali.
''Dah lah, Purnama kan juga sudah bilang kalau tidak lama lagi dia pasti akan segera mati.'' Intan mencolek Salsa.
''Kesal sekali aku dengan orang seperti dia itu yang selalu saja membuat masalah di tempat kita.'' Salsa masih terus saja merutuk.
''Biarkan saja, orang seperti itu memang sangat suka sekali mencari perhatian dan aku yakin sebentar lagi dia akan mengeruk seluruh harta milik Akbar.'' tebak Intan.
''Ya lah, dia akan merasa paling berkuasa karena pernah memiliki hubungan dengan pemuda Malang itu.'' Salsa juga yakin dengan hal tersebut.
''Susah sekarang hidup kita ini karena banyak wanita yang memilih standar begitu tinggi dan merasa tidak materialistis.'' Purnama berkata pelan.
''Ya mereka berlindung di balik kata realistis ketika mencari pria kaya yang mampu membiayai dari ujung kaki hingga ujung kepala.'' Intan setuju dengan hal itu.
Purnama juga setuju dengan hal itu Dan mereka memang sering sekali menemukan pahlawan wanita yang memiliki hidup di kalangan menengah ke bawah namun memiliki standar yang begitu besar sekali, sengaja mencari pria yang memiliki banyak harta dan berlindung di balik kata realistis dan sebenarnya mereka hanya ingin memanfaatkan uang para pria itu saja.
selamat siang, jangan lupa like dan komentar nya ya cintaaaaaa.
ada yg sama ga ya,yg judul sebelah kok di aku ilang ya,yg pembunuh bayaran itu Zora/zena🤔
teman2 gimana?