“Di balik senyum indahnya, tersimpan luka yang tak pernah terlihat.”
mas aku bukan orang baik pergih saja:"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nurul Marisa putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Wanita Malam: Tanda Terlarang dan Kepemilikan Mutlak
Setelah meninggalkan ruang VIP dan sosok Alya yang terpaku dalam kesedihannya, Kevin melangkah dengan langkah tegap dan penuh wibawa menuju ruangan pribadi Mami Feriska. Di sana, ia berdiri dengan sorot mata yang tajam dan penuh peringatan, menegaskan posisinya yang tak tergoyahkan.
"Mami..." ucapnya dengan nada rendah namun mengandung ancaman yang tegas. "Tolong pastikan hal ini berjalan lancar. Jangan sampai ada satu pun tangan asing yang menyentuh Alya. Jagalah dia agar tidak dipesan atau diganggu oleh tamu lain selain saya. Dia sudah masuk dalam daftar orang yang saya lindungi dan miliki sepenuhnya." 🚫👤🖐️
Kevin berhenti sejenak, memastikan pesannya meresap dalam, lalu melanjutkan dengan tenang. "Mengenai segala urusan pembayaran dan biaya pemesanan eksklusif ini, jangan dikhawatirkan. Saya sudah memerintahkan sekretaris saya untuk mengurus semuanya sampai tuntas dan selesai." 📝💼
Mami Feriska yang mendengar itu menyunggingkan senyum lebar penuh kepuasan. Ia mengangguk cepat dengan wajah berseri-seri. "Siap, Tuan Kevin! Sudah masuk semuanya kok, uangnya sudah aman di rekening. Terima kasih banyak atas kemurahan hati Tuan! Tenang saja, saya akan menjaga 'aset berharga' saya itu dengan sangat baik. Dia sekarang milik Tuan seorang. Tidak ada yang berani menyentuh sehelai rambut pun dari tubuhnya." 😊🤝
Kevin mengangguk puas, namun instruksinya belum selesai. Ia menatap jam di pergelangan tangannya lalu kembali menatap Mami dengan nada menantang dan penuh keyakinan. "Bagus. Kalau begitu, untuk hari ini tolong percepat segala urusannya. Suruh dia beristirahat dan segera pulang ke rumahnya. Jangan biarkan dia lelah atau bekerja lebih lama lagi di sini malam ini." 🛌🏠
"Baik, Tuan! Pasti saya urus segera. Silakan bersenang-senang dan tenang saja, Tuan!" jawab Mami dengan sangat antusias.
Hatinya sungguh berbunga-bunga begitu memikirkan nominal transfer yang baru saja masuk ke rekening pribadinya: Tujuh Ratus Juta Rupiah! Bagi Kevin, angka yang fantastis itu hanyalah hal yang sangat kecil, sepele, dan tak berarti dibandingkan kekuasaannya. Namun bagi Mami Feriska, ini adalah keberuntungan besar yang membuatnya takjub dan sangat bersyukur.
Namun, sebelum melangkah pergi meninggalkan ruangan itu, Kevin kembali menoleh dengan tatapan serius dan peringatan terakhir yang tegas.
"Satu hal lagi yang saya peringatkan dengan tegas, Mami... Mulai besok, dia tidak boleh bekerja lagi di tempat ini untuk siapa pun. Bebaskan dia dari tugas-tugasnya. Biarkan dia beristirahat sepenuhnya dan mempersiapkan diri. Dia sudah tidak tersedia untuk umum." 🛑⛔
"Baik, Tuan Kevin! Dimengerti sepenuhnya! Saya akan laksanakan!" jawab Mami patuh tanpa ragu sedikit pun.
Antara Lega yang Pahit dan Ketakutan yang Mencekam 🌑🪑💭
Alya masih duduk terpaku di sana, bersandar lunglai pada sandaran kursi empuk di ruangan itu. Tubuhnya diam membatu, namun pikirannya berputar kacau bagaikan pusaran badai yang tak kunjung reda. Matanya menatap kosong ke arah dinding yang remang-remang, menelan segala kenyataan yang baru saja terjadi.
Di satu sisi, ada rasa lega yang samar namun menyusup ke relung terdalam hatinya. Masalah terbesar yang menghantui tidur dan pikirannya—biaya operasi ibunya—akhirnya teratasi. Ancaman kehilangan orang yang paling dicintainya itu perlahan sirna, digantikan oleh secercah harapan bahwa Ibu akan segera sembuh. Namun, rasa lega itu terasa begitu pahit, bercampur dengan ketakutan yang dingin dan mencekam. 🥺❤️🩹
Di sisi lain, jantungnya berpacu gelisah, tak karuan dipukul oleh bayang-bayang perjanjian yang baru saja ia teken dengan darah dan air mata. Ia telah menyerahkan dirinya pada kata-kata dan janji dari Tuan Kevin. "Dia akan menagihnya... dia pasti akan menuntut balasan dari apa yang telah dia berikan," bisik nalarnya yang penuh kecemasan. 📜⚖️
Hati kecilnya menjerit tertahan. Ia merasa sangat bersalah pada dirinya sendiri, pada jiwanya yang suci. Ia merasa telah mengotori tangan dan kakinya, telah menggunakan jalan yang kelam dan kotor demi mendapatkan uang. Perasaan kotor itu merayap di kulitnya, membuatnya ingin menghapus diri sendiri dari kenyataan ini. "Apakah aku telah menjual harga diriku? Apakah aku telah menjadi apa yang selalu mereka tuduhkan padaku?" ratapnya dalam hati yang hancur. 🖤😔
Namun, di tengah badai rasa bersalah itu, logika yang keras kembali berbicara. Tapi bagaimana lagi? batinnya membela diri dengan getir. Siapa yang sanggup melakukan hal mustahil ini? Mengumpulkan uang sebanyak dua ratus juta rupiah hanya dalam waktu tiga hari? Itu adalah angka yang setinggi langit, sebuah misi yang mustahil bagi gadis biasa sepertiku. Tidak ada jalan lain, tidak ada pintu yang terbuka selain pintu ini. 🕰️🚪
Air mata yang sedari tadi ditahan akhirnya jatuh membasahi pipi yang pucat. Dengan jari-jarinya yang gemetar lemah, ia mengusap butiran bening itu, berusaha keras menenangkan diri di tengah kesunyian yang menyiksa. Ia harus menerima takdir ini, menelan pil pahit ini bulat-bulat, karena di ujung sana ada nyawa ibunya yang menjadi taruhan. Pengorbanan ini, betapa pun menyakitkannya, adalah harga yang harus dibayar demi kasih sayang yang tulus. 😢🙏
Pelukan Hangat yang Aneh dan Kebebasan Instan 🌑🫂💫
Belum sempat air mata itu benar-benar kering di pipiku, tiba-tiba Mami Feriska muncul di hadapanku dan tanpa banyak bicara langsung memeluk tubuhku erat. Aku tertegun kaku di dalam pelukan itu, penuh keheranan yang luar biasa. Pikiranku berkecamuk bingung. "Apa yang terjadi? Kenapa tiba-tiba begini?" Suasana hati wanita ini sungguh sulit ditebak, berubah-ubah bagaikan angin di musim pancaroba. Baru saja tadi sore dan tadi ia meledak-ledak marah, menatapku tajam seolah ingin memakan hidup-hidup, namun kini ia memelukku dengan senyum yang sangat lebar dan terlihat tulus—atau setidaknya terlihat begitu—sangat bahagia dan ramah. 🤨😮
Melepaskan pelukannya perlahan, Mami menatap wajahku dengan mata berbinar penuh kegembiraan. "Alya... Mami senang sekali, sayang! Mami bahagia banget buat kamu!" ucapnya ceria. "Mulai besok, kamu tidak perlu lagi bekerja di tempat ini. Kamu sudah selesai dengan urusan di sini, demi kebaikan kita bersama, paham?"
Alya mengerutkan kening, kebingungan semakin memuncak. "Kenapa begitu, Mami? Apa maksudnya?" tanyanya polos.
Mami tersenyum penuh arti, lalu mengusap lembut bahu Alya. "Tuan Kevin... Dia sudah membebaskanmu dari semua ikatan kontrak kerja di tempat ini. Kamu tidak terikat lagi. Mulai sekarang, kamu hanya perlu beristirahat, tenangkan pikiran, dan tidak perlu pusing memikirkan tugas-tugas di sini lagi." Sebagai tanda kasih sayang yang tiba-tiba itu, Mami Feriska mencium kedua pipi Alya dengan lembut dan akrab. 😚✨
Alya perlahan mulai mengerti alasan di balik perubahan drastis sikap Mami itu. Kebahagiaannya yang meluap-luap jelas sekali sumbernya. Ia bersinar terang karena transfer uang yang luar biasa besar dari Kevin telah masuk ke rekeningnya. Kekayaan mendadak itu membuatnya melupakan segalanya—melupakan tatapan tajamnya, melupakan tekanannya, dan melupakan rasa bersalahnya. Ia melepaskan Alya dengan sangat mudah, tanpa keraguan sedikit pun, tanpa paksaan lagi, seolah-olah beban berat sekaligus aset berharga itu sudah berpindah tangan sepenuhnya. Baginya, Alya kini bukan lagi tanggung jawab, melainkan "milik" orang lain yang lebih berkuasa, dan ia sangat lega serta untung dengan transaksi itu. 💸😌
Bagaimana menurutmu KK? Bagian ini sangat pas menggambarkan betapa liciknya dunia malam dan sikap orang yang berubah mengikuti uang! 😯🪙 Kebingungan Alya sangat terasa namun kelegaan mulai terasa meski diiringi pertanyaan besar tentang masa depannya. Sangat bagus! Lanjutkan perjalanan pulang Alya dan pertemuan dengan ibunya! Semangat terus! 💪❤️🥀