Ribuan tahun sebelum dunia belum mengenal sekte atau Aliran Putih. Era ini adalah Zaman Kekacauan Primordial, di mana dunia dikuasai oleh ras "Keturunan Dewa" tiran yang memperbudak manusia biasa.
Ye Cangtian, seorang budak rendahan yang terlahir dengan meridian cacat bawaan, secara tidak sengaja menemukan inti meteorit purba di tambang kematian. Alih-alih tunduk pada nasib, ia mematahkan aturan langit. Ia menciptakan sistem kultivasi dari nol untuk umat manusia, memimpin pemberontakan terbesar dalam sejarah, dan berperang untuk menyatukan benua.
Namun, perjalanannya tidak berujung pada kebahagiaan abadi. Ia harus menghadapi pengkhianatan sahabatnya sendiri yang kelak melahirkan kutukan "Bayangan Gerhana", serta menciptakan sebuah makam rahasia dan pusaka "Mahkota Kehampaan" sebagai jaminan bagi generasi ribuan tahun di masa depan. Ini adalah kisah tentang bagaimana manusia pertama menjadi Dewa, dan dewa itu mati demi manusia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nugraha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10 : Rasa Sakit yang Mengerikan
Gubuk medis milik Su Ling'er terletak menyendiri di ujung selatan Desa Fajar, sengaja dibangun agak jauh dari pemukiman utama agar bau tajam dari rebusan jamur dan lumut tidak mengganggu para penduduk.
Di dalam gubuk berdinding batu dan beratap jerami tebal itu, Ye Cangtian duduk bersila di atas ranjang kayu, bertelanjang dada. Udara di dalam ruangan terasa hangat, dipenuhi aroma herbal yang menenangkan saraf.
Su Ling'er berdiri di seberangnya, sibuk menumbuk campuran jamur bercahaya ungu dan lumut. Di atas meja kecil di sampingnya, berjajar rapi belasan jarum panjang yang dipahat dari kayu yang sangat keras.
"Jadi, kapan kau akan membiusku?" Cangtian memecah keheningan"
Ling'er berhenti menumbuk. Ia memutar bola matanya dan menatap Cangtian dengan ekspresi datar. "Tiga puluh menit yang lalu, aku menyuruhmu meminum secangkir teh hijau pekat. Ingat?"
"Teh yang rasanya seperti lumpur busuk itu? Ya. Lalu?"
"Lalu, teh itu mengandung konsentrat serbuk tidur dari Bunga Malam Kematian. Dosis yang kuberikan padamu cukup untuk membuat seekor Serigala Tulang Purba tertidur pulas selama dua hari dua malam." Ling'er menyeringai.
"Fakta bahwa kau masih bisa duduk tegak dan memprotes rasa tehku membuktikan satu hal: Napas Kehidupan di dalam tubuhmu membakar habis racun bius itu sebelum sempat mencapai otakmu."
Cangtian terdiam. Ia memang merasakan perutnya sedikit hangat setelah meminum teh itu, namun ia mengira itu hanya efek air panas biasa. Ia lupa bahwa sistem metabolisme tubuhnya di ranah Ahli Persilatan Tingkat 2 sudah jauh melampaui manusia fana biasa.
"Dengan kata lain..." gumam Cangtian pelan.
"Dengan kata lain, aku harus membedahmu dalam keadaan sadar penuh," potong Ling'er dengan nada santai.
"Kabar baiknya, karena tubuhmu sudah berevolusi, aku tidak perlu membedah kulitmu dengan pisau. Kabar buruknya, aku harus menggunakan tenaga fisik murni untuk mematahkan ulang tulang rusukmu dari luar, lalu meluruskannya kembali secara manual."
Ling'er melemparkan sepotong kulit serigala tebal yang sudah digulung ke pangkuan Cangtian.
"Gigit itu. Berteriaklah sesukamu, tapi jangan berani-berani bergerak, atau tulang rusukmu akan menusuk paru-parumu dan kau akan mati di ranjangku."
Cangtian menatap gulungan kulit itu, lalu menatap Ling'er. Selama bertahun-tahun di tambang, ia telah mengalami berbagai siksaan. Ia dicambuk, dipukuli, dan dipotong.
Namun entah mengapa, melihat gadis cantik yang tampak begitu tenang bersiap untuk mematahkan tulangnya, membuat nyali Cangtian ciut.
Cangtian memasukkan gulungan kulit itu ke dalam mulutnya dan menggigitnya kuat-kuat. Ia mengangguk sekali.
Ling'er melangkah maju. Tangannya yang putih dan lembut meraba dada kiri Cangtian.
"Ototmu terlalu tegang," tegur Ling'er. "Kosongkan pikiranmu. Tarik Napas Kehidupan dari pusarmu, tahan di lehermu."
Cangtian memejamkan mata dan mencoba rileks. Ia menarik Qi dari Dantian-nya menjauhi area dada.
"Bagus," bisik Ling'er. "Sekarang, pada hitungan ketiga. Satu..."
Krak!
Belum sempat Ling'er menghitung sampai tiga, pangkal telapak tangannya menghantam tepat di atas tulang rusuk Cangtian yang bengkok dengan presisi.
Mata Cangtian terbelalak lebar hingga nyaris keluar dari kelopaknya.
"Argghhh!!!"
Erangan meledak dari tenggorokan Cangtian. Rasa sakitnya sepuluh kali lipat lebih dahsyat dari yang ia bayangkan. Urat-urat di leher dan dahinya menonjol keluar.
"Hitungan ketiga selalu membuat orang mengencangkan otot mereka sebagai antisipasi," jelas Ling'er, tidak sedikit pun terpengaruh oleh tatapan membunuh dari mata Cangtian yang memerah.
Tangan Ling'er bergerak. Saat tulang itu patah dan terpisah, ia segera menekan ujung-ujungnya, menguncinya kembali ke posisi yang sempurna.
Rasa sakit yang merobek dada itu perlahan mereda, digantikan oleh sensasi perih yang berdenyut-denyut.
"Kau... Ternyata kau adalah wanita iblis..." desis Cangtian dengan suara serak.
"Wanita iblis yang baru saja menyelamatkan nyawamu," balas Ling'er.
Dengan jemarinya, Ling'er mengoleskan jamur ungu yang bercahaya ke atas memar mengerikan di dada Cangtian. Sensasi dingin yang sangat nyaman seketika meresap menembus kulitnya.
Namun pengobatan belum selesai.
Ling'er mengambil jarum-jarum kayunya. "Penyumbatan fisikmu sudah hilang. Sekarang saatnya membimbing sisa Napas Kehidupan yang terjebak di meridian dadamu agar kembali ke pusat perutmu."
Satu per satu, Ling'er menusukkan jarum kayu itu ke titik-titik vital di sepanjang dada, bahu, dan perut Cangtian.
"Tarik napas," perintah Ling'er, "Jangan paksa ia mengalir layaknya banjir bandang. Bayangkan sebuah sungai di musim semi. Biarkan ia mencari jalannya sendiri, menelusuri jarum-jarumku."
Cangtian memejamkan matanya. Kali ini, ia tidak membantah. Ia melepaskan kendali mutlaknya atas Qi di dalam tubuhnya dan membiarkannya mengalir mengikuti panduan jarum Ling'er.
Itu adalah sensasi yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Selama ini, kultivasinya adalah sebuah pemaksaan—merobek jalan di mana tidak ada jalan.
Namun di bawah bimbingan Ling'er, ia menyadari bahwa alam semesta memiliki alirannya sendiri. Jika ia bisa menyelaraskan energinya dengan aliran alam tersebut, kekuatannya tidak akan memiliki batas.
Sumbatan di meridian dadanya akhirnya terbuka sepenuhnya.
Detik itu juga, sebuah fenomena mengerikan terjadi di dalam Dantian Cangtian.
Energi besar yang selama berbulan-bulan ia serap dari Gurun Kematian dan ia tahan karena kemacetan, tiba-tiba menemukan jalan keluar yang lancar.
Dantian Cangtian bergemuruh hebat, berputar layaknya pusaran badai yang meluas dan memadat secara bersamaan.
Cangtian merasakan sensasi ringan yang luar biasa, seolah belenggu terakhir yang mengikat jiwa manusianya telah dihancurkan.
Di luar tubuhnya, uap panas tidak lagi sekadar mengepul. Qi berwarna hijau keemasan meledak keluar dari pori-porinya, membentuk pilar cahaya tipis yang menembus atap jerami.
Ling'er terkesiap, melangkah mundur saat merasakan tekanan udara di sekitarnya berubah menjadi sangat padat.
"Hiaaaahhh!"
Sebuah raungan panjang keluar dari mulut Cangtian. Bersamaan dengan itu, gelombang kejut energi murni meledak dari tubuhnya ke segala arah.
Bummm!
Ranjang kayu tempatnya duduk hancur berkeping-keping. Meja batu di seberang ruangan terbelah dua. Dan yang paling parah, setengah dari atap jerami gubuk Ling'er terlempar ke udara, terbang sejauh puluhan meter sebelum jatuh di sungai!
Ye Cangtian melayang beberapa inci di atas tanah selama satu detik, sebelum akhirnya mendarat dengan lembut di atas kedua kakinya.
Luka di dadanya telah hilang tanpa bekas, menyisakan kulit yang sekeras baja namun sangat halus. Otot-ototnya memancarkan vitalitas yang mengerikan. Matanya terbuka, memancarkan kilatan cahaya hijau-emas yang tajam.
Ia telah berhasil menuju ranah Ahli Persilatan Tingkat 3.
Cangtian mengepalkan tangannya, merasakan kekuatan yang jauh melampaui apa pun yang pernah ia bayangkan. Ia merasa bisa menghancurkan sebuah bukit kecil hanya dengan satu pukulan.
Ia menoleh ke arah Su Ling'er, sebuah senyum lebar dan penuh kebanggaan menghiasi wajahnya. Ia menantikan ekspresi kekaguman atau rasa hormat dari gadis fana itu.
Alih-alih kekaguman, sebuah labu air kosong melayang dan menghantam dahi Cangtian
TUK!
"Aduh!" Cangtian memegang dahinya, menatap Ling'er dengan bingung.
Su Ling'er berdiri di tengah reruntuhan gubuknya. Rambutnya berantakan dipenuhi jerami, wajah cantiknya kini memerah karena amarah yang memuncak. Tangannya menunjuk ke arah langit malam yang kini terlihat jelas karena atapnya hilang.
"Kau...!" raung Ling'er, sama sekali tidak peduli bahwa pria di depannya baru saja mencapai kekuatan setara dewa.
"Kau berutang padaku satu atap baru, lima puluh toples jamur langka, dan alat medisku yang hancur!"
Cangtian berkedip beberapa kali, memandangi kekacauan yang baru saja ia buat. Ia menatap gadis yang sedang berkacak pinggang dan mengomelinya tanpa henti itu.
Lalu, sebuah tawa lepas kembali keluar dari mulut Cangtian. Tawa yang sangat keras, membelah malam yang tenang di Desa Fajar.
Naga itu telah terbangun, dan untuk pertama kalinya, ia menemukan alasan lain untuk hidup selain membalas dendam.