Jatuh dari puncak kejayaan menjadi lelucon sekota dalam semalam, nasib Ye Xuan tampaknya telah berakhir. Namun, keputusasaan itu justru menjadi kunci pembuka rahasia kuno yang tertidur di dalam sebuah liontin tua. Di bawah bimbingan jiwa naga kuno, Ye Xuan mempelajari rahasia kultivasi yang menyimpang dari hukum langit. Dari turnamen kota kecil hingga medan perang antar benua, Ye Xuan menelan setiap rintangan dan kesengsaraan ilahi. Dunia menganggapnya sampah, namun ia akan membuktikan bahwa dirinya adalah penguasa sejati yang akan membelah surga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32: Pemurnian Teratai Darah dan Arogansi Sekte Pedang
Di dalam gua yang sempit dan gelap, cahaya merah sebening kristal memancar dari sekuntum bunga di tangan Ye Xuan. Aroma manis yang luar biasa kental memenuhi udara, menekan hawa miasma beracun dari luar gua agar tidak bisa masuk.
Ye Xuan duduk bersila. Ia memetik kelopak pertama dari Teratai Darah Purba itu dan meletakkannya di ujung lidah.
Kelopak itu tidak perlu dikunyah. Begitu bersentuhan dengan kehangatan mulutnya, kelopak kristal itu seketika mencair menjadi aliran cairan hangat yang meluncur lurus ke tenggorokannya.
WUSSH!
Seketika, Ye Xuan merasa seolah ada gunung berapi berisi energi kehidupan murni yang meletus di dalam perutnya. Namun, berbeda dengan energi Darah Gagak Emas yang brutal dan ingin menghancurkan, energi Teratai Darah ini luar biasa lembut dan menyuburkan.
Energi itu menyebar ke seluruh meridiannya, menenangkan sel-sel ototnya yang kelelahan akibat berhari-hari menahan gravitasi purba, dan perlahan mencuci Tulang Emas Primordial-nya agar semakin padat.
"Luar biasa!" Master Naga tertawa puas di dalam lautan spiritualnya. "Ini adalah esensi kehidupan murni dari zaman purba! Tanpa setitik pun kotoran! Bocah, jangan buang waktu. Telan seluruh bunganya dan dorong pusaran nagamu ke batas maksimal!"
Tanpa ragu, Ye Xuan memasukkan sisa Teratai Darah Purba itu ke dalam mulutnya.
Pusaran hitam di dantian-nya berputar dengan kecepatan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Danau energi Qi di dalam perutnya, yang sebelumnya hanya terisi setengah oleh cairan emas kemerahan, kini mulai meluap.
Energi dari teratai itu terus mengalir tanpa henti, memadatkan Qi milik Ye Xuan. Meridiannya melebar, tulang-tulangnya mengeluarkan suara retakan halus yang memancarkan cahaya keemasan menembus kulitnya. Hawa panas dari Api Naga Gagak ikut dimurnikan, inti apinya yang hitam kini semakin pekat dan mematikan.
Satu jam... Dua jam... Setengah hari berlalu.
KRAAAK!
Sebuah suara retakan tak kasat mata terdengar dari dalam tubuh Ye Xuan, layaknya bendungan raksasa yang akhirnya jebol menahan tekanan air.
Danau Qi di dalam dantian-nya meluas dua kali lipat! Fluktuasi auranya melonjak drastis, menyapu debu di dalam gua hingga bersih.
Hambatan telah hancur.
Alam Pembentukan Fondasi Menengah!
Ye Xuan perlahan membuka matanya. Sepasang pupil hitamnya memancarkan kilatan petir keemasan yang menembus kegelapan gua. Ia mengepalkan tangannya.
BAM!
Udara di dalam genggamannya meledak hanya karena tekanan ototnya.
"Kekuatan fisikku... melonjak hingga seratus lima puluh ribu kati," Ye Xuan bergumam dengan senyum simpul. "Dan Qi-ku kini jauh lebih padat. Dengan kekuatan ini, mengayunkan Tombak Besi Hitam seberat sembilan puluh ribu kati tidak akan lagi menguras staminaku secara ekstrem."
Ia berdiri dari posisi meditasinya. Gravitasi purba yang sebelumnya terasa seperti gunung menekan bahunya, kini hanya terasa seperti mengenakan rompi pemberat biasa. Tubuhnya telah sepenuhnya beradaptasi dengan hukum alam di pecahan Benua Purba ini.
"Sudah waktunya keluar," Ye Xuan menepuk debu dari jubahnya, menyarungkan kembali tombak raksasanya ke punggung, dan melangkah keluar dari gua.
Di luar gua, langit kelabu masih belum berubah. Di Alam Rahasia ini, tidak ada matahari maupun bulan, hanya siklus kabut yang menebal dan menipis yang menandakan waktu.
Ye Xuan baru berjalan sejauh beberapa mil melintasi hutan raksasa ketika telinganya yang tajam menangkap suara dentingan logam yang beradu, disusul oleh ledakan Qi dan jeritan kesakitan.
Fluktuasi yang ia rasakan sangat familiar. Itu adalah hawa dingin dari Qi Elemen Es.
"Su Yan?" Ye Xuan sedikit mengangkat alisnya. Mengingat perintah Penatua Kepala untuk tidak membiarkan sekte mereka terlihat lemah di depan sekte lain, Ye Xuan melesat menembus pepohonan tanpa menimbulkan suara sedikit pun.
Di sebuah area terbuka yang dikelilingi oleh pilar-pilar batu purba, pertempuran yang berat sebelah sedang terjadi.
Tiga murid elit dari Sekte Awan Azure sedang dikepung. Dua di antaranya adalah murid laki-laki yang kini terkapar di tanah, sekujur tubuh mereka dipenuhi luka sayatan pedang yang dalam, memuntahkan darah segar.
Orang ketiga adalah Su Yan. Gaun putihnya telah robek di beberapa tempat dan bernoda darah. Wajah cantiknya pucat pasi, dadanya naik turun dengan napas tersengal-sengal. Pedang kristal es di tangannya bergetar hebat. Ia telah menggunakan Qi-nya hingga batas maksimal.
Di sekeliling mereka, lima pemuda berjubah putih dengan pedang panjang di tangan berdiri dengan santai dan wajah penuh ejekan. Mereka adalah elit dari Sekte Pedang Surgawi.
Pemimpin kelompok itu adalah pemuda berwajah dingin dengan bekas luka di alisnya—orang yang sama yang memprovokasi Ye Xuan di depan portal masuk. Pemuda itu bernama Gu Chen, jenius peringkat kedua dari Sekte Pedang Surgawi, dengan kultivasi di Puncak Pembentukan Fondasi Menengah.
"Hanya segini kekuatan para elit Awan Azure?" Gu Chen mengayunkan pedangnya dengan santai, menghilangkan noda darah dari bilahnya. "Aku bahkan belum menggunakan setengah dari kekuatan pedangku, dan kalian sudah merangkak di tanah seperti anjing."
"Gu Chen, kau terlalu kejam! Kami sudah menyerahkan dua tanaman spiritual kami, mengapa kau masih menyerang?!" teriak salah satu murid Awan Azure yang terkapar, matanya penuh dengan keputusasaan.
"Tanaman spiritual? Hmph. Itu hanya biaya agar aku tidak membunuh kalian secara instan," Gu Chen melangkah maju, pedangnya memancarkan niat membunuh yang tajam. "Sekarang, aku menginginkan cincin penyimpanan kalian semua. Serahkan, dan potong satu lengan kalian sendiri sebagai tanda permintaan maaf karena telah merusak pemandanganku. Lakukan itu, dan aku akan membiarkan kalian hidup."
"Kau... kau iblis!" Su Yan menggigit bibirnya hingga berdarah. Matanya memancarkan amarah yang tak tertolong. Menyerahkan cincin berarti kehilangan nyawa secara perlahan di tempat ini, dan memotong lengan berarti cacat seumur hidup!
"Iblis? Tidak, Nona Su. Ini adalah hukum rimba," Gu Chen tersenyum cabul, tatapannya menyapu lekuk tubuh Su Yan yang terekspos dari balik gaunnya yang robek. "Tentu saja, jika kau bersedia melayaniku dan saudara-saudaraku malam ini, mungkin aku akan mempertimbangkan untuk melepaskan lengan cantikmu itu."
Para murid Sekte Pedang Surgawi tertawa terbahak-bahak, suara mereka bergema di tengah hutan purba yang sunyi.
Su Yan merasakan keputusasaan yang absolut mencekik lehernya. Pikirannya melayang pada saat ia mencampakkan Ye Xuan karena menganggapnya lemah. Kini, saat ia benar-benar membutuhkan perlindungan, tak ada satu pun yang bisa menolongnya.
Ia mengangkat pedang kristal es-nya, berniat meledakkan dantian-nya sendiri untuk mati membawa kehormatan daripada harus dihinakan.
Namun, tepat di saat Su Yan hendak menyalurkan Qi pembakarannya, sebuah suara dentuman langkah kaki yang sangat stabil terdengar dari balik kabut.
TENG... TENG... TENG...
Setiap langkah itu terdengar begitu berat, seolah sebuah gunung sedang berjalan mendekat. Tawa para murid Sekte Pedang Surgawi seketika berhenti. Mereka semua menoleh ke arah suara itu, tangan mereka menggenggam erat gagang pedang dengan waspada.
Dari balik bayang-bayang pilar batu purba, sesosok pemuda berjubah putih kotor melangkah keluar. Ia berjalan dengan santai, mengabaikan ketegangan di udara, sambil menyeret sebuah tombak raksasa berwarna hitam pekat. Ujung tumpul tombak itu menggores tanah berbatu, menciptakan suara gesekan yang ngilu.
Mata Su Yan terbelalak lebar. Jantungnya yang tadinya terasa mati, tiba-tiba berdetak gila-gilaan.
"Ye... Ye Xuan..." bisiknya tak percaya.
Gu Chen menyipitkan matanya, lalu mencibir dingin saat mengenali Ye Xuan. "Oh? Ternyata Kakak Pertama Awan Azure yang arogan itu. Aku baru saja berpikir kapan aku akan menemuimu. Kenapa? Kau datang untuk menyerahkan cincin penyimpananmu dan memohon ampun, atau kau datang untuk mengantarkan nyawamu bersama para sampah ini?"
Ye Xuan menghentikan langkahnya sepuluh meter dari kelompok itu. Ia melirik sekilas ke arah Su Yan dan dua murid yang terluka, tatapannya sedatar air sumur kuno tanpa sedikit pun simpati. Lalu, matanya beralih menatap Gu Chen.
Bukannya menjawab ancaman Gu Chen, Ye Xuan justru mengangkat tangan kirinya dan membersihkan kotoran di telinganya dengan santai.
"Hutan ini awalnya cukup tenang," ucap Ye Xuan pelan, suaranya mengandung kemalasan yang merendahkan. "Lalu tiba-tiba sekelompok anjing liar menggonggong tanpa henti, mengganggu waktu bersantaiku."
Ye Xuan kemudian mencabut Tombak Besi Hitam-nya dari tanah, menaruhnya di bahu, dan menatap kelima murid Sekte Pedang Surgawi dengan senyum iblis yang membekukan darah.
"Jadi, siapa di antara kalian yang ingin kepalanya dihancurkan lebih dulu?"