NovelToon NovelToon
Pak Dosen Galak, Awas Jatuh Cinta

Pak Dosen Galak, Awas Jatuh Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Dosen / Diam-Diam Cinta
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: W_ Wulandari

Kirana cuma pengen kuliah tenang. Tapi dosen paling galak sekampus malah jadi orang yang bikin jantungnya berdebar tanpa alasan.

Status dosen dan mahasiswi jadi tembok pemisah. Masa lalu kelam Alden jadi ancaman yang siap menghancurkan semuanya.

Satu pertanyaan tersisa: berani nggak, Kirana, jatuh cinta pada orang yang paling dilarang buat dicintai?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon W_ Wulandari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 8: PAK ALDEN YANG TIDAK PERNAH SENYUM

"Kir, kamu sadar nggak sih," Tesa membuka obrolan sambil menyodorkan sepiring gorengan ke tengah meja kantin, "sejauh ini, satu satunya orang yang pernah liat Pak Alden senyum tuh cuma kamu?"

Kirana mengunyah pisang goreng, mengernyit mendengar pernyataan itu.

"Nggak juga kali. Masa cuma aku."

"Serius, Kir. Aku udah tanya ke beberapa senior, katanya dari dulu Pak Alden itu terkenal nggak pernah senyum di kampus. Bahkan pas foto wisuda dosen aja katanya mukanya datar banget," Tesa menjelaskan, matanya berbinar penuh rasa penasaran.

"Ih, lebay ah," Kirana menggeleng, meski dalam hati diam diam mengingat momen di ruang dosen minggu lalu, senyum tipis Alden yang muncul ketika melihat hasil kerjanya berhasil.

"Coba deh kamu inget inget, pernah nggak kamu liat dia senyum beneran? Bukan cuma nyengir sinis atau ngangkat alis doang," Tesa mendesak.

Kirana terdiam sejenak, mencoba mengingat kembali. "Ada sih, waktu itu di ruang dosen, pas aku berhasil ngerjain rumus proyeksi yang bener. Dia senyum tipis gitu."

"Nah, kan! Itu buktinya," Tesa menepuk meja, hampir membuat gelas es tehnya tumpah.

"Cuma kamu yang pernah liat itu, Kir. Serius."

"Mungkin kebetulan aja," Kirana masih berusaha membela diri, meski pipinya mulai terasa hangat.

"Kebetulan apaan," Bagas yang baru datang ikut menimpali sambil duduk di sebelah mereka. "Kemarin aku sengaja iseng nyoba bikin dia ketawa pas presentasi kelompok lain, aku lempar candaan garing, eh dianya malah makin serius mukanya."

"Beneran?" Kirana menoleh, penasaran.

"Beneran. Mukanya kayak batu, nggak gerak sama sekali," Bagas mengangguk yakin.

"Padahal candaanku lumayan lucu lho menurutku."

"Ya emang candaan kamu emang nggak lucu, Gas," celetuk Ferra yang baru bergabung, membuat mereka semua tertawa.

"Eh serius deh," Bagas melanjutkan, mengabaikan ejekan Ferra, "temen sekelasku dari jurusan lain juga cerita, katanya Pak

Alden itu terkenal paling galak dan paling kaku di antara semua dosen. Bahkan katanya beberapa dosen senior aja segan sama dia."

"Kenapa bisa gitu ya?" Nadia ikut penasaran, menyandarkan dagu ke telapak tangan.

"Nggak tau juga sih pastinya," Bagas mengangkat bahu. "Tapi katanya dulu dia pernah punya masalah besar, makanya jadi sekaku itu sekarang."

Kirana mendengarkan dengan seksama, rasa penasarannya semakin tumbuh. Dia teringat percakapan dengan Tesa beberapa minggu lalu soal gosip serupa, tapi tidak ada yang tahu pasti apa sebenarnya masalah yang dimaksud.

"Masalah kayak apa emang?" tanya Kirana, mencoba terdengar santai meski dalam hati penasaran setengah mati.

"Kalau itu aku beneran nggak tau, Kir," Bagas menggeleng. "Cuma denger sekilas doang, nggak ada yang berani nanya langsung."

Obrolan itu berhenti sejenak ketika bel tanda jam kuliah berikutnya berbunyi. Mereka bergegas merapikan meja, bersiap kembali ke kelas untuk sesi kuliah Alden yang akan segera dimulai.

Di dalam kelas, Alden masuk seperti biasa, ekspresi wajahnya tetap datar, tidak menunjukkan tanda tanda emosi apa pun. Dia membuka materi baru tentang manajemen risiko perusahaan, suaranya mengalir tegas seperti biasa tanpa jeda berarti.

Kirana memperhatikan dari bangkunya, diam diam mengamati setiap gerak gerik Alden dengan cara yang berbeda dari biasanya. Dia mulai menyadari, memang benar, sepanjang kelas berlangsung, tidak ada satu pun ekspresi selain datar dan serius yang muncul di wajah dosen itu.

"Kirana, kenapa liatin Pak Alden mulu dari tadi?" bisik Tesa yang duduk di sebelahnya, menyenggol lengannya pelan.

"Nggak, cuma penasaran aja abis denger cerita Bagas tadi," bisik Kirana balik, buru buru mengalihkan pandangan ke buku catatannya.

Di tengah penjelasan, Alden melempar pertanyaan ke kelas seperti biasa. "Siapa yang bisa kasih contoh risiko operasional dalam bisnis retail?"

Beberapa mahasiswa mengangkat tangan, dan Alden menunjuk salah satu dari mereka. Jawabannya benar, dan Alden hanya mengangguk singkat tanpa komentar tambahan, seperti biasa.

"Coba yang lain, ada contoh risiko finansial?" tanyanya lagi.

Kali ini Kirana mengangkat tangan, memberanikan diri. "Risiko fluktuasi nilai tukar, Pak, kalau perusahaan punya utang dalam mata uang asing."

"Benar," jawab Alden singkat, tanpa ekspresi berlebihan seperti biasa, lalu melanjutkan materi.

Kirana menghela napas kecil, sedikit kecewa meski dia sendiri tidak yakin kenapa berharap ada reaksi lebih dari sekadar kata "benar" yang datar. Tapi begitu dia menunduk kembali ke buku catatannya, dia tidak menyadari bahwa sesaat sebelum melanjutkan materi, sudut bibir Alden sempat bergerak sedikit, hampir membentuk senyum kecil yang buru buru dia tahan.

Sepulang kelas, Kirana kembali ke ruang diskusi untuk melanjutkan pengerjaan tugas tambahan kelompoknya. Kali ini hanya dia dan Nadia yang datang, anggota lain sedang ada urusan masing masing.

"Kir, boleh tanya nggak?" Nadia membuka percakapan sambil mengetik di laptopnya.

"Tanya apa?"

"Menurut kamu, kenapa sih Pak Alden itu susah banget senyum? Maksudku, dia kan masih muda, harusnya nggak sekaku itu."

Kirana terdiam sejenak, memikirkan jawaban yang tepat. "Nggak tau juga sih, Nad. Tapi mungkin dia emang orangnya serius aja kali, nggak semua orang emang gampang nunjukin emosi di depan umum."

"Tapi kan aneh juga kalau sampe sekaku itu terus terusan," Nadia menggeleng. "Kayak ada tembok besar yang dia bangun gitu."

Kirana mengangguk pelan, setuju dalam hati meski tidak mengucapkannya keras keras. Dia sendiri mulai penasaran, apa sebenarnya yang membuat Alden menjaga jarak sedemikian rupa dari orang orang di sekitarnya.

"Eh, tapi kata Bagas tadi, katanya kamu pernah liat dia senyum," Nadia melanjutkan, matanya berbinar penasaran.

"Iya, sekali doang, waktu itu pas aku berhasil ngerjain rumus proyeksi yang bener," jawab Kirana jujur.

"Beneran senyum? Kayak gimana?" Nadia mendesak, penasaran.

"Ya... senyum tipis aja sih, nggak lebar banget. Tapi tetep aja beda banget dari ekspresi dia yang biasa," jelas Kirana, tanpa sadar tersenyum sendiri mengingat momen itu.

"Kamu senyum senyum sendiri tuh," goda Nadia, membuat Kirana buru buru menegakkan wajah.

"Enggak kok," Kirana buru buru menyangkal, meski pipinya mulai terasa hangat lagi.

Mereka melanjutkan mengerjakan tugas dalam diam beberapa saat, sampai akhirnya pintu ruang diskusi terbuka, dan Alden masuk membawa map seperti biasa untuk mengecek progress mereka.

"Sudah sejauh mana?" tanyanya, duduk di kursi depan seperti biasa.

"Ini, Pak, kami baru selesai bagian proyeksi tahun pertama sama kedua," jawab Kirana, menunjukkan layar laptopnya.

Alden memeriksa dengan seksama, matanya bergerak cepat membaca setiap angka yang tertera. "Ini sudah cukup rapi. Lanjutkan sampai tahun kelima dengan pola yang sama."

"Siap, Pak," jawab Nadia dan Kirana bersamaan.

Sebelum Alden beranjak pergi, Nadia tiba tiba bertanya, memberanikan diri, "Pak, boleh tanya sesuatu yang di luar tugas?"

Alden mengangkat alis, sedikit heran. "Tanya apa?"

"Kenapa Bapak jarang banget senyum? Maksudnya, di kelas atau di mana pun, kayaknya susah banget liat Bapak senyum," tanya Nadia, langsung tanpa basa basi.

Kirana melotot ke arah Nadia, kaget dengan pertanyaan blak blakan itu. "Nad!"

Tapi Alden hanya diam sejenak, tidak terlihat marah, hanya sedikit terkejut dengan pertanyaan yang tidak terduga itu. "Karena tidak banyak hal yang menurut saya layak untuk ditanggapi dengan senyum."

Jawaban singkat itu terasa dalam, membuat suasana ruang diskusi hening sejenak. Nadia terdiam, tidak menyangka akan mendapat jawaban sejujur itu.

"Terus... apa yang bikin Bapak senyum?" Nadia bertanya lagi, kali ini lebih pelan.

Alden menatap keduanya sejenak, lalu matanya secara tidak sengaja berhenti di Kirana selama beberapa detik sebelum kembali ke arah Nadia. "Hal hal yang jujur. Kerja keras yang tulus, bukan yang dibuat buat."

Kirana merasakan jantungnya berdebar kencang mendengar jawaban itu, meski dia tidak yakin apakah tatapan Alden tadi benar benar ditujukan untuknya atau hanya kebetulan semata.

"Lanjutkan pekerjaan kalian," kata Alden akhirnya, beranjak dari kursi, "saya tunggu progress lengkapnya minggu depan."

Setelah Alden keluar ruangan, Nadia langsung menoleh ke Kirana dengan mata membelalak. "Kir, kamu liat nggak tadi? Dia sempet natap kamu pas jawab pertanyaanku!"

"Nggak kok, itu cuma kebetulan aja," Kirana buru buru menyangkal, meski jantungnya masih berdebar kencang.

"Ih, kebetulan apaan," Nadia menyipitkan mata, tersenyum penuh arti. "Udah deh, Kir, ngaku aja kalau ada sesuatu di antara kalian berdua."

"Nadia, please," Kirana menutup wajah dengan kedua tangan, mencoba menyembunyikan rasa malu yang mulai menjalar sampai ke telinga. "Nggak ada apa apa, beneran."

Tapi jauh di dalam hati, Kirana sendiri mulai kesulitan meyakinkan dirinya dengan kalimat itu. Setiap kali dia mencoba menyangkal, bayangan senyum tipis Alden dan tatapannya yang seolah menembus terus muncul di kepalanya, membuat penyangkalan itu terasa semakin lemah dari hari ke hari.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!