Seorang gadis 14th merelakan masa remajanya demi bisa masuk ke organisasi Phantom agar bisa membalas dendam kematian kakaknya. Misi pertama mendekati empat cucu Alexander Starling Gruop.
Demi keberhasilan misi Irish menggunakan apa saja termasuk mempermainkan perasaan targetnya.
Dendam nomer satu, perasaan nomer sekian!!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Usu dedek, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jurus menggoda tahap satu.
Aku buru-buru masuk ke kamar mandi. Ku tatap kaca besar di depanku. Wajahku yang biasanya anggun kini terlihat menyeramkan dengan jiwa yang murka.
Ingin rasanya aku mengamuk dan menghantam segala barang yang ada di depanku itu. Tapi ku redam emosiku yang melonjak. Ku tahan nafas yang terasa sesak. Mataku yang membara perlahan meredup. Aku mengepalkan tangan ke tepi wastafel keramik biru itu.
"Mereka benar-benar keluarga Starling yang menggunakan segala cara untuk menghancurkan hidup orang lain. Baiklah, karena kalian ingin bermain, aku juga akan bermain. Kalian bertarung ingin mendapatkanku, kan? Maka aku akan membuat kalian semua jatuh cinta kepadaku hingga terobsesi padaku. Dan dengan tangan kalian sendiri kalian akan saling bunuh dan menghancurkan keluarga ini." Ucapku geram.
Aku membuang nafas lega yang terasa pahit. Aku membuka bajuku dan bersiap membasahi seluruh tubuhku.
"Mike .... aku ingin setiap detail mereka masuk ke ponselku dalam lima menit. Tempat favorit, makanan, aktifitas, semua tentang mereka yang tidak tercantum di berkas pak Jojo."
"Lima menit?" jawab Mike balik bertanya.
"Aku tidak peduli Mike... hurry up! Atau akan ku bunuh kau!" ancamku.
"Oke ... oke ... aku pastikan semua tentang mereka akan kau terima setelah kau selesai mandi." Jawab Mike ketakutan.
"Good boy ... itu baru hacker asosiasi. "
"Ya Tuhan ... semoga saja dia terpeleset di kamar mandi dan pingsan. Jadi butuh waktu lama untukku mendapat informasi. " Gumam batin Mike yang kesal.
Setelah beberapa menit aku mendengar suara dering informasi penting yang mulai masuk ke ponselku, aku sedikit tenang. Aku masih mencoba tak ingin percaya, ternyata tadi malam Marcus memberiku obat tidur agar Zane bisa mendapatkan tubuhku dan memenangkan taruhan. Cara yang paling licik untuk sekelas keluarga Starling.
Tapi aku yakin, cairan itu bukan hanya obat tidur. Ada zat aneh di dalamnya. Ku raba pangkal pinggulku bekas suntikan itu. Ada rasa yang tak nyaman di sana.
Sementara di dapur mereka terus memperdebatkan tentang taruhan itu.
"Jangan bilang kau mulai menyukai wanita itu, Zane? Kau bahkan tak ingin menyentuhnya." Ejek Markus.
"Hatiku sangat tertutup untuk wanita, tapi ... dengannya ada rasa yangberbeda. Aku ingin memberikan hatiku kesempatan sekali lagi,"
"Ya ... setelah kau putus dengan Sherly.. kau tidak bisa move on." Ujar Aldrik menimpali.
"Jangan sebut namanya lagi!"
"Oke baiklah, tapi bagaimana jika kau benar-benar menyukainya? Apa kau ingin bertaruh lagi?"
"Cukup hentikan taruhan ini!" sela Caspian. "Aku ingin mengundurkan diri dari taruhan konyol ini."
"Kenapa? Apa kau takut?"
"Seorang wanita dengan identitas biasa saja tidak pantas di pertaruhkan pewaris Starling Gruop. Aku tidak ingin buang-buang waktu dengan wanita seperti itu. " Ujar Caspian ketus dan kejam.
Ceo dingin itu benar-benar menganggapku tak berharga untuk di pertaruhkan. Aku yang mendengar kata-kata kasar dan menusuk itu dari jauh hanya tersenyum pahit. Aku yang sedari tadi berdiri di balik tembok sengaja menunggu waktu yang tepat untuk muncul di hadapan mereka.
Aku lalu perlahan keluar dari persembunyianku. Aku melangkah pelan penuh godaan sambil mengelap rambutku yang basah. Aku hanya memakai kemeja biru tua Zane yang kebesaran dan tipis. Aku sengaja membuka belahan kancingnya agar lekuk tubuhku kelihatan. Dan mereka melihatnya.
Tap ... tap ... tap... langkahku yang semakin dekat menyadarkan keempat pria itu. Mereka memandang satu satu sama lain dan mengakhiri perbincangan serius tadi. Mereka tidak tau, kalau aku mendengar semua perkataan mereka. Mata mereka tertuju padaku yang melangkah menggoda iman. Caspian dengan cepat mengambil air minum di atas meja. Ceo itu memalingkan wajah.
Belahan dadaku yang bulat dan air yang belum begitu kering merembes dari dalam braku. Tetesan air mandi yang mengalir dari leherku hingga ke dada membuat Aldrik menegak liurnya. Kancing kemeja itu hanya menutup bagian bawah perut. Selebihnya pahaku kelihatan.
Mata Aldrik terbelalak lebar. Seorang playboys sepertinya pasti sangat suka dengan pemandangan vurgar itu. Sedangkan Zane menatap tanpa kedip, tak sadar telur gorengnya hangus. Dia buru-buru berbalik badan.
"Sial ... tubuhnya benar-benar membuatku birahi." Batin Zane.
Markus tersenyum sumringah. Untaian simpul senyum yang begitu lebar membuatku ingin sekali menghabisinya lebih dulu.
"Wow ... it's so sexy.." ucap Markus membuatku terkekeh kecil.
Hanya Caspian yang tak ingin menatapku. Ceo dingin itu meneguk minumannya dengan kasar hingga membasahi bagian dada bajunya. Aku tersenyum tipis. Semakin kalian penasaran, semakin aku ingin bermain.
Aku sudah membaca buku wanita penggoda yang sangat legend di Amerika. Langkah pertama untuk mendapatkan target, persis seperti yang ku lakukan. Tampakan tubuh sexi, buat laki-laki penasaran ingin menyentuhnya. Lalu pura-pura menjauh agar mereka berusaha mengejar untuk mendapatkannya. Jangan buat hal mudah, laki-laki akan terobsesi pada hal yang tidak bisa dia miliki.
Setelah mereka masuk dalam perangkap baru ke langkah selanjutnya.
Aku mendekat. "Ouh ... sejak kapan kalian disini?" Tanyaku basa-basi sambil menarik kursi di meja makan.
Ke tiga orang itu langsung ikut duduk di meja bersamaku. Aku merasa berhasil. Zane masih sibuk menggoreng telur. Aku mendekatinya. Tangannya tampak tak stabil saat memegang spatula.
"Kau ingin buat makan siang, mr Zane?"
"Ah ... ya ... ya ... " Zane gelagapan tak karuan.
Aku menggemgam tangan Zane yang gemetaran. Zane terkejut. Dia menatapku malu-malu. Seperti seseorang yang salah tingkah.
"Aku yang akan memasak, anggap saja sebagai waktu taruhan." Ucapku lembut.
"Kau bisa memasak?"
"Ya ... bagaimanapun aku seorang wanita, kan?"
Aku menarik tangan Zane ke sisiku. Aku membuka telapak tangannya yang penuh kapalan kasar. Ku tatap tangan itu dengan lembut dengan hati yang penuh rasa iba. Aku benar-benar menerapkan ilmu yang ku baca. Ku belai perlahan otot telapak tangannya yang berkerut.
"Zane ... kau bilang tidak punya adik perempuan, kan? Hari ini biar aku jadi adikmu ya ... aku akan melayanimu selayaknya pria dan merasakan kasih sayang keluarga."
Pruuuutttt. Sontak Caspian tersedak. Aldirk dan Markus tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan tersebut.
"Apa ada yang salah? Zane hanya tau bertarung, kan?" Ujarku geram dengan gelak tawa mereka.
Ketiga pria itu seketika terdiam dengan teriakanku. Aku menarik nafas dan mengatur kata-kata.
Aku kembali menatap Zane dengan hati haru. Ku sentuh pipinya yang kasar dengan tangan yang sedikit basah. Mataku lembut menatapnya.
"Kau pasti sangat menderita Zane. Tak pernah merasa di butuhkan oleh seseorang. Aku tau Zane, kau kehilangan kasih sayang saat kau benar-benar membutuhkannya. Kedua orangtuamu meninggal saat kau masih labil. Karena itu kau melarikan diri ke dunia pertarungan. Selama ini kau mencari seseorang yang bisa mengisi kekosongan di hatimu. Kau ingin berbagi, tapi kau tidak bisa mengungkapkannya. Dalam 24 jam yang tersisa, biar aku menemanimu seutuhnya. Aku akan mendengar dan melakukan apapun yang kau minta."
Ku dekap tubuh besarnya itu walaupun batinku menjerit merasa konyol. Setiap bersentuhan dengan mereka yang memiliki kaitan kematian kakakku, aku merasa sesak bagai ingin mati. Tapi aku meneguhkan hatiku.
Aku berusaha merapalkan kata-kata penuh kasih itu dengan tulus. Mata Zane seketika berubah layu. Telinganya memerah. Suasana dapur berubah sunyi. Aldrik dan ketiga saudaranya yang lain membisu. Aku mengecup tangan Zane dengan lembut membuat jantungnya tiba-tiba berdebar hebat.
"Irish ... kau sangat pandai memainkan emosi." Ucap Mike di telingaku.
Aku menyunggingkan senyum tipis dalam kecupan itu. Aku tahu, kelemahan terbesar Zane adalah kasih sayang yang ia cari. Untung saja Mike memberikan informasi tepat waktu.
Zane selalu berceloteh aneh di media sosialnya sambil memamerkan otot. Itulah yang ku pelajari dalam sekejap mata. Dia mengaburkan perasaan dalam tubuhnya yang kuat.
Setelah drama kata-kata itu, aku lalu memasak makanan yang tak pernah mereka rasakan. Aku melihat ada ayam di kulkas dan beberapa sayuran lokal. Ada juga beberapa lembar seledri dan bumbu seadanya. Aku membuat suop kuning atau biasa di sebut soto di Indonesia.
"Cobalah ... ini makanan khas tempat lahirku."
Mereka lalu mencicipinya satu persatu. Zane tak bergeming.