Karin mengira semuanya telah berakhir saat tubuhnya terjatuh ke dasar jurang. Namun ketika membuka mata, ia justru kembali menjadi gadis berusia dua puluh tahun dan mendapati kedua orang tuanya masih hidup.
Kesempatan kedua itu membuatnya bersumpah mengubah takdir. Ia harus menyelamatkan keluarganya dan menghindari pernikahan dengan Giorgino, pria yang kelak menghancurkan hidupnya.
Demi menggagalkan rencana perjodohan, Karin nekat mengaku telah memiliki kekasih. Masalahnya, pria itu tidak pernah ada.
Dalam kepanikannya, hanya satu nama yang terlintas di benaknya—Kai, mahasiswa berandal yang dingin, cuek, dan terkenal sebagai badboy kampus.
Namun semakin dekat dengannya, Karin menyadari bahwa kehidupan keduanya ternyata menyimpan rahasia yang jauh lebih besar daripada sekadar kesempatan hidup kembali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LaQuin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hujan Dan Undangan
Bab 24
Langit yang sejak siang dipenuhi awan kelabu akhirnya benar-benar menumpahkan hujan.
Rintik kecil berubah menjadi hujan deras hanya dalam hitungan menit. Mahasiswa yang baru selesai mengikuti kuliah berlarian mencari tempat berteduh. Koridor fakultas yang biasanya ramai kini dipenuhi orang-orang yang enggan menerobos hujan.
Karin berdiri di dekat anak tangga gedung sambil memeluk tasnya.
"Deras sekali..." gumamnya.
Nia menoleh ke arah jalan kampus.
"Untung kakakku sudah di depan."
Tak lama kemudian sebuah mobil berhenti di gerbang. Nia melambaikan tangan.
"Itu jemputanku."
Ia menatap Karin.
"Kamu nggak dijemput?"
Karin menggeleng.
"Nggak. Paling nunggu hujan reda."
"Kalau sudah kecil langsung pulang ya."
"Iya."
Nia pun berlari menerobos hujan menuju mobil yang menjemputnya.
Tak lama berselang, Raka menghampiri sambil mengenakan jaket.
"Karin!"
"Hm?"
"Aku duluan ya."
"Kok cepat?"
"Teman komunitasku sudah nunggu."
Raka menunjuk beberapa mahasiswa yang melambai dari parkiran.
"Besok ketemu lagi."
"Hati-hati."
"Kamu juga."
Raka berlari sambil tertawa, meninggalkan Karin sendirian di bawah atap gedung.
Kai sebenarnya biasa pulang bersamanya. Namun siang tadi, pemilik bengkel menghubunginya karena ada pelanggan yang harus segera dilayani. Kai pun berpamitan lebih dulu dan langsung berangkat bekerja.
Kini hanya Karin seorang diri. Ia menghela napas pelan sambil memperhatikan hujan yang belum juga menunjukkan tanda-tanda akan reda.
Beberapa mahasiswa mulai meninggalkan kampus menggunakan payung ataupun kendaraan masing-masing.
Saat itulah sebuah mobil sedan hitam berhenti tepat di depan gedung.
Pintu pengemudi terbuka. Gio keluar sambil membawa payung hitam. Ia berjalan mendekati tangga.
"Karin."
Karin sedikit terkejut.
"Gio?"
"Kamu belum pulang?"
Karin tersenyum tipis.
"Nunggu hujan reda."
Gio melirik langit yang masih mengguyur deras.
"Kalau nunggu reda, bisa malam."
"Nggak apa-apa."
Gio membuka pintu mobilnya.
"Ayo."
Karin menggeleng halus.
"Nggak usah. Terima kasih."
"Nggak merepotkan."
"Nanti saja."
Namun Gio tetap berdiri di tempatnya.
"Hujannya deras. Aku cuma mengantar."
Karin kembali menggeleng.
"Benar, nggak usah."
Percakapan mereka mulai menarik perhatian beberapa mahasiswa yang ikut berteduh.
Pelan-pelan terdengar bisikan.
"Itu kan cuma ditawarin nebeng."
"Iya."
"Sok cantik banget."
"Orang cuma niat nolong pas hujan deras, malah ditolak."
"Kalau aku sih langsung mau."
Bisikan-bisikan itu terdengar cukup jelas.
Karin menggigit bibir bawahnya. Ia tidak suka menjadi pusat perhatian. Semakin lama berdiri di sana, semakin banyak mata yang memperhatikan.
Gio pun berkata pelan,
"Kalau kamu tetap menolak juga tidak apa-apa. Tapi aku tidak enak membiarkanmu kehujanan."
Nada suaranya tetap tenang. Tidak memaksa. Justru itu membuat Karin semakin sulit menolak. Akhirnya ia mengembuskan napas pelan.
"...Baiklah."
Gio tersenyum tipis.
"Ayo."
Ia membuka payung lebih lebar agar Karin tidak terkena hujan. Mereka berjalan menuju mobil. Begitu pintu tertutup, Karin langsung mengenakan sabuk pengaman.
"Terima kasih."
"Sama-sama."
Mobil perlahan meninggalkan area kampus. Suasana di dalam mobil cukup hening. Hanya suara hujan yang sesekali menghantam kaca.
Gio tidak langsung mengajak bicara. Beberapa menit kemudian barulah ia membuka percakapan.
"Kuliah bagaimana?"
"Baik."
"Tugas banyak?"
"Cukup."
Gio mengangguk pelan.
"Dulu waktu di luar negeri juga begitu."
Karin hanya tersenyum singkat. Ia tidak tahu harus menjawab apa.
Gio kembali melirik sekilas ke arahnya.
"Om Wirawan sehat?"
"Sehat."
"Tante Hesti?"
"Juga sehat."
"Syukurlah."
Percakapan kembali terhenti. Gio sengaja tidak membahas hubungan mereka ataupun masa lalu. Ia tahu, jika terlalu terburu-buru, Karin justru akan semakin menjaga jarak.
Sesampainya di depan rumah keluarga Wirawan, mobil berhenti.
"Terima kasih sudah mengantar."
"Sama-sama."
Gio tersenyum ramah.
"Hati-hati."
Karin mengangguk.
"Permisi."
Ia segera turun dan masuk ke dalam rumah tanpa menoleh lagi. Gio memperhatikan pintu rumah yang perlahan tertutup.
"Pelan-pelan saja..." gumamnya. "Aku tidak sedang mengejar. Aku sedang membuatmu terbiasa dengan kehadiranku."
Mobil itu pun melaju meninggalkan kawasan perumahan.
-
-
-
Keesokan paginya...
Kai sudah menunggu di dekat taman kampus sambil membawa map presentasi.
Begitu melihat Karin datang, ia mengangkat tangan pelan.
"Pagi."
"Pagi."
Mereka berjalan berdampingan menuju gedung fakultas. Setelah beberapa langkah, Karin teringat sesuatu.
"Oh iya."
"Hm?"
"Papa sama Mama titip pesan."
Kai menoleh.
"Pesan?"
"Mereka mengundang kamu makan malam di rumah."
Kai berhenti berjalan.
"...Aku?"
"Iya."
"Serius?"
Karin mengangguk sambil tersenyum.
"Papa yang minta."
Kai tampak sedikit gugup.
"Aku..."
"Nggak usah tegang."
"Mama bilang sudah lama kamu nggak datang."
Kai mengusap tengkuknya pelan.
"Aku takut merepotkan."
"Nggak."
"Malah Mama bilang mau masak yang enak buat kamu."
Kai terdiam beberapa saat.
Selama ini, ia tidak pernah terbiasa menerima perhatian seperti itu dari keluarga orang lain.
Melihat ekspresi Kai, Karin tersenyum kecil.
"Datang ya."
Kai akhirnya mengangguk.
"Kalau Om dan Tante memang mengundang..., aku akan datang."
Senyum Karin pun semakin lebar.
"Bagus."
Tanpa mereka sadari, dari lantai dua gedung fakultas, sepasang mata sedang memperhatikan.
Maureen.
Ia baru saja selesai mengurus beberapa berkas organisasi. Tatapannya berhenti pada Karin dan Kai yang berjalan berdampingan sambil berbincang ringan.
Entah mengapa, ada perasaan aneh yang muncul di dalam hatinya. Perasaan yang bahkan tidak ia mengerti.
"Aneh..." gumamnya lirih.
Padahal awalnya ia hanya berniat menjalankan permintaan Gio. Namun melihat kedekatan Kai dan Karin, muncul sedikit rasa yang sulit ia jelaskan.
Dan tanpa disadari siapa pun, benih-benih konflik perlahan mulai tumbuh.
-
-
-
Bersambung...