NovelToon NovelToon
Kapten Hatiku

Kapten Hatiku

Status: tamat
Genre:Asmara / Cinta setelah menikah / Penyesalan Suami / Tamat
Popularitas:9.5k
Nilai: 5
Nama Author: Olivia Renata

Keira Liem cuma mau hidup tenang.
Setelah dikhianati mantan pacar dan dijebak rekan kerja, pilot muda ini nyaris kehilangan segalanya—karier, reputasi, bahkan harga diri. Satu-satunya jalan keluar? Nikah siri dengan pria asing yang ditemuinya di parkiran bawah tanah SCBD di malam terburuk hidupnya.
Pria itu bilang namanya Kai. Katanya pengangguran. Senyumnya menyebalkan, mulutnya pedas, tapi entah kenapa... Keira merasa aman di dekatnya.
Yang tidak Keira tahu: "Kai" adalah Kaizan Tanujaya—CEO Nusantara Airlines, pewaris konglomerat Tanujaya, dan legenda penerbangan yang fotonya sudah ditempel Keira di dinding kamar sejak SMA.
Setiap hari, Keira memuja Kapten Kaizan Tanujaya di kantor.
Setiap malam, Keira memarahi "suami kontrak pengangguran"-nya di rumah.
Mereka adalah orang yang sama.
Dan Kaizan? Dia menikmati setiap detiknya.
Tapi rahasia tidak bisa bertahan selamanya. Ketika topeng terbuka, ketika masa lalu yang kelam menyerang, ketika satu-satunya orang yang pernah membuatnya jatuh cinta berbalik pergi—Kaizan harus membuktikan bahwa cinta yang dimulai dari kebohongan bisa menjadi hal paling nyata di hidupnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Olivia Renata, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 15

Bab 15

Cloud

William menurunkan tangannya perlahan.

"Suami?"

Keira menatap Kai. "Itu pertanyaan yang sama denganku."

Kai menarik kursi kosong dan duduk di samping Keira. "Kami menikah secara siri."

William memandang Keira untuk memastikan, bukan menuntut penjelasan dari pria yang baru datang.

"Itu benar," kata Keira. "Tapi ada banyak hal yang belum sempat kujelaskan."

"Kamu tidak wajib menjelaskan." William mengangguk kepada Kai. "Saya tidak tahu dia sudah menikah. Keira juga sudah menolak saya sebelum Anda datang."

Kai sedikit kehilangan ketegangan di bahu. "Terima kasih sudah menghormatinya."

"Saya menghormati keputusan Keira, bukan klaim kepemilikan siapa pun."

Jawaban itu membuat Keira ingin bertepuk tangan.

Kai justru mengulurkan tangan lagi. Kali ini William menyambutnya.

"Sepakat," kata Kai.

Makan malam berakhir tanpa pertengkaran. William pamit lebih dulu dan berjanji mengirim catatan teknis pertemuan melalui surel. Dia tidak berusaha mencari kesempatan kedua.

Begitu pria itu pergi, Keira menyilangkan tangan.

"Sekarang jelaskan."

"Tentang apa?"

"Kamu muncul di Bandung beberapa jam setelah menelepon. Kamu bilang ada pekerjaan malam, lalu punya uang untuk perjalanan mendadak."

"Temanku meminjamkan transportasi."

"Teman yang mana?"

"Mo."

"Ko Moreno punya pesawat?"

Kai mengambil gelas air. "Dia punya banyak koneksi."

"Dan kenapa kamu datang?"

"Aku ingin makan malam dengan istriku."

Kata istriku membuat kemarahan Keira kehilangan arah, tetapi dia tetap menatap tajam.

"Aku sudah menolak William."

"Aku tahu sekarang."

"Jadi kamu menempuh ratusan kilometer karena cemburu."

"Aku tidak cemburu."

"Tentu, Elang Emas."

Keira meninggalkan meja lebih dulu. Kai membayar tagihan, lalu mengikutinya dengan senyum yang gagal disembunyikan.

Keesokan siangnya, pekerjaan Keira selesai lebih cepat. Mobil perusahaan baru akan kembali ke Jakarta sore hari. Kai mengajaknya berjalan di pusat perbelanjaan dekat hotel.

"Kita hanya melihat-lihat," kata Keira. "Tidak ada salmon, kopi mahal, atau benda diskon palsu."

"Aku bahkan belum masuk toko."

"Pencegahan lebih murah daripada penyesalan."

Mereka melewati butik perhiasan dengan fasad kaca putih. Di tengah etalase, koleksi baru berbentuk awan dipajang di atas beludru biru. Rantai-rantai tipis bertemu batu berlian yang disusun seperti gumpalan awan, sementara satu liontin utama memiliki garis sayap kecil di belakangnya.

Keira melambat tanpa sadar.

"Cloud," bacanya.

Liontin murah dari Meilin ada di lehernya. Bentuknya sederhana dan tidak berkilau, tetapi kemiripan tema membuat Keira tersenyum.

"Masuk," kata Kai.

"Tidak."

"Kamu melihatnya hampir satu menit."

"Melihat gratis. Masuk bisa mahal."

Kai sudah membuka pintu.

Seorang konsultan butik menyambut mereka. "Selamat siang. Koleksi Cloud baru tiba pagi ini dan belum diluncurkan secara nasional. Apakah Ibu ingin mencoba?"

Keira menggeleng, tetapi Kai menjawab, "Yang di tengah."

Liontin utama dibawa ke ruang konsultasi. Konsultan mengenakan sarung tangan dan menjelaskan bahwa desain tersebut dibuat dalam jumlah terbatas, menggunakan berlian dengan sertifikat internasional.

"Harganya Rp420 juta," katanya.

Keira hampir tersedak air mineral. "Kami hanya melihat."

Kai berdiri di belakangnya. "Coba dulu."

"Kai."

"Tidak harus beli."

Keira tahu itu kalimat berbahaya, tetapi konsultan sudah membuka pengait. Dia akhirnya mengangkat rambut.

Ketika liontin menyentuh lehernya, cahaya dari langit-langit memantul seperti titik hujan. Bentuk awan itu berada tepat di atas tulang selangka, halus tetapi sulit diabaikan.

Kai menatap dari cermin.

"Bagus," kata Keira, lalu cepat-cepat menambahkan, "untuk dilihat. Sekarang lepas."

Di ruang konsultasi seberang, Wenny membeku.

Dia datang bersama Revan untuk melihat cincin. Hubungan mereka sudah terbuka, dan mereka mencoba mengubah skandal menjadi narasi pasangan serius. Namun Revan terus menghitung harga, sementara Wenny mengincar satu liontin kecil Cloud seharga Rp78 juta yang sudah dia simpan di daftar keinginan selama enam bulan.

"Itu Keira," bisiknya.

Revan mengikuti pandangannya. "Dengan pria yang di pesta?"

"Wajahnya bukan Pak Kaizan."

"Mungkin pria yang membiayainya."

Wenny melihat liontin utama di leher Keira. Kecurigaan tentang foto kru kini berubah menjadi iri yang nyata.

Di depan cermin, Keira berusaha membuka pengait sendiri. Kai menahan tangannya.

"Jangan dilepas dulu."

Dia memanggil konsultan. "Berapa jumlah seluruh koleksi Cloud di toko ini?"

"Termasuk sampel peluncuran, ada delapan belas item, Pak. Tiga kalung, empat gelang, enam pasang anting, dan lima cincin. Beberapa item lain masih berada di gudang pusat."

"Saya mau semuanya. Yang ada di sini dan yang dialokasikan untuk peluncuran cabang ini."

Keira berbalik begitu cepat hingga liontin bergerak. "Apa?"

Konsultan mengira salah dengar. "Seluruh koleksi, Pak?"

"Ya. Termasuk hak pembelian pertama untuk varian berikutnya selama satu tahun. Jangan menjual desain yang sama dari alokasi butik ini kepada orang lain."

Manajer butik segera datang. Setelah menghitung stok, pajak, sertifikat, dan biaya eksklusivitas cabang, angka muncul di tablet.

Rp6.870.000.000.

Keira berdiri. "Tidak. Batalkan."

"Pesanannya belum diproses," kata manajer hati-hati.

Kai mengeluarkan kartu hitam dari dompet.

Kartu yang sama dengan yang ditemukan Keira di saku jas.

"Proses sekarang."

Konsultan menerima kartu dengan dua tangan. Mesin pembayaran dibawa ke meja. Tidak ada batas transaksi yang ditolak, tidak ada panggilan panik kepada bank. Kai memasukkan PIN, dan beberapa detik kemudian layar menampilkan persetujuan.

Transaksi berhasil.

Manajer butik meminta identitas pengiriman dan menghubungi bank privat untuk verifikasi keamanan. Suaranya berubah semakin hormat setelah petugas bank menjawab. Tidak ada pertanyaan mengenai batas kartu, hanya konfirmasi apakah seluruh nilai dibayar hari itu.

"Lunas," kata Kai.

Satu kata tersebut membuat seluruh staf bergerak. Pintu butik ditutup sementara. Dua konsultan mulai mencatat nomor sertifikat setiap batu. Seorang petugas keamanan berdiri di dekat meja, dan kendaraan pengiriman khusus dipanggil dari gudang pusat.

Keira menarik Kai ke sudut ruang konsultasi. "Kita perlu bicara sekarang."

"Aku mendengarkan."

"Hadiah ini melanggar semua keseimbangan kontrak kita. Aku tidak bisa menerima barang miliaran dari orang yang bahkan belum menjelaskan pekerjaannya."

"Kontrak melarang kita mengambil harta satu sama lain. Tidak melarang memberi hadiah."

"Jangan bersembunyi di balik kata-kata."

Kai menurunkan suara. "Aku tidak membeli jawaban, perasaan, atau hak atas tubuhmu. Kalau kamu menolak, semua ini bisa disimpan atas namaku atau disumbangkan. Kamu tidak berutang apa pun."

Keira menatapnya. "Lalu apa yang kamu dapat?"

"Kesempatan melihatmu memakai sesuatu yang kamu sukai."

"Kamu bahkan tidak tahu apakah aku suka atau hanya melihat."

"Kamu menggigit bagian dalam pipi saat menahan keinginan. Kamu melakukan itu ketika melihat model pesawat, saat ingin menciumku, dan tadi di depan etalase."

Keira langsung menutup mulut. "Aku tidak melakukan itu."

"Kamu sedang melakukannya sekarang."

Keira melepaskan gigitan dari pipinya. Kai benar-benar memperhatikan hal kecil yang tidak disadarinya sendiri. Bukan berlian yang melunakkan kemarahannya. Perasaan dilihat, tanpa perlu meminta, itulah yang berbahaya.

"Aku menerima liontin ini," katanya akhirnya. "Bukan karena harganya. Dan koleksi lainnya kita simpan. Jangan beli benda seperti ini lagi tanpa bicara denganku."

"Baik."

"Aku serius."

"Aku juga."

"Dan setelah pulang, kamu menjelaskan sumber uangmu."

Kai tidak menjanjikan bagian terakhir. Keira menyadarinya, tetapi staf sudah kembali membawa dokumen.

Wenny berdiri dari kursinya. Konsultan yang mendampinginya meminta dia menunggu karena staf butik sedang memproses pembelian besar. Di layar ruang konsultasi, tanda reservasi seluruh Cloud berubah menjadi terjual.

"Tidak mungkin," bisik Wenny.

"Kita pergi saja," kata Revan.

"Aku menabung enam bulan untuk satu kalung. Dia membeli semuanya?"

Revan tidak punya jawaban. Cincin yang mereka pilih tiba-tiba terlihat kecil dan memalukan di antara kotak biru yang dibawa satu demi satu ke meja Keira.

Wenny memanggil konsultannya. "Aku sudah memesan liontin kecil nomor C-07. Ambil dari gudang."

"Maaf, Bu. Belum ada deposit yang tercatat. Seluruh alokasi cabang, termasuk C-07, baru saja dibeli."

"Aku bayar sekarang."

"Kami tidak bisa menjual barang yang sama dua kali."

Wenny berbalik kepada Revan. "Bicaralah dengan manajer."

Revan melihat harga di katalog. "Kita datang untuk cincin."

"Aku sudah bilang menginginkan Cloud sejak enam bulan lalu."

"Kita bisa cari merek lain."

Kalimat itu terdengar seperti pengakuan bahwa dia tidak mampu. Dua konsultan di dekat mereka pura-pura tidak mendengar, tetapi rasa malu Wenny tetap menyebar sampai ke leher.

Dia melihat Keira dikelilingi kotak, sertifikat, dan staf yang membungkuk hormat. Perempuan yang ingin dia singkirkan kini mendapatkan seluruh koleksi yang bahkan satu buahnya harus dia tabung berbulan-bulan.

"Pasti pria itu mencuri," desis Wenny.

Revan tidak membela dugaan tersebut. Matanya justru tertahan pada kartu hitam. Dia pernah melihat kartu sejenis ketika mendampingi Teguh bertemu investor besar, dan itu bukan sesuatu yang bisa dimiliki pekerja biasa.

Keira tidak melihat mereka. Seluruh perhatiannya tertuju pada Kai.

"Kamu gila."

"Mungkin."

"Enam miliar lebih bukan uang belanja. Bahkan bukan uang cicilan apartemen."

"Aku tahu."

"Kamu bilang tidak punya pekerjaan tetap."

"Aku bilang sedang mencari pijakan di Jakarta."

"Itu bukan jawaban."

Kai mengambil kotak yang berisi liontin utama. Dia berdiri di belakang Keira dan memastikan pengaitnya terpasang sempurna.

"Aku tidak membeli ini karena kamu tidak punya perhiasan," katanya. "Aku membeli karena tadi kamu melihatnya seperti sedang melihat langit pertama kali."

Keira menatap pantulan mereka. Kaus polos Kai, gaun kerja sederhananya, dan miliaran rupiah berlian di atas tulang selangka.

"Aku tidak butuh semua ini."

"Aku tahu."

"Lalu kenapa?"

Tatapan Kai bertemu dengannya melalui cermin.

"Hanya ini yang pantas untukmu."

Wenny mendengar kalimat itu dari ruang seberang. Jemarinya mencengkeram katalog sampai tepinya terlipat.

Sore hari, kotak-kotak Cloud dikirim dengan kendaraan khusus ke Jakarta. Keira dan Kai pulang menggunakan mobil perusahaan Keira, sementara pengemudi duduk di depan dan memberi mereka privasi.

Selama setengah jam, Keira memandangi kartu hitam yang kini ada di tangan Kai.

"Kamu sebenarnya siapa sih?"

Kai menoleh. Senyum kecil muncul di wajahnya.

Dia tidak menjawab.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!