"Setelah kecelakaan fatal yang merenggut nyawa suaminya, Nadhira terbangun dari koma dengan insting tajam, mampu mencium niat busuk orang lain. Setelah pulang, ia tak disambut kasih, melainkan dianiaya mertua dan ipar licik yang mengincar warisan suaminya. Mereka mengusirnya, memfitnahnya, serta memaksa ia melepas hak waris.
Bahkan ayah kandungnya menjualnya untuk dinikahkan dengan pria tua kaya demi keuntungan pribadi. Di titik paling terpuruk, Rayhan Pradipta, CEO dingin Pradipta Group dan mantan atasan suaminya, datang menawarkan pernikahan kontrak untuk saling melindungi.
Awalnya hanya hubungan transaksional, perasaan sejati perlahan tumbuh di antara mereka. Nadhira bangkit mandiri, membangun Mutiara Property menjadi perusahaan properti ternama dan membesarkan ketiga anaknya. Ia berani membalas semua perundungan keluarga masa lalu.
Namun obsesi Dinda, mantan ipar Rayhan, menyimpan rahasia gelap jaringan perdagangan manusia yang mengancam seluruh kebahagiaan barunya. Mampukah Nadhira menjaga keluarga dan cinta sejatinya sebelum semuanya hancur?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Olivia Renata, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 12
Bab 12
Rahasia Lama
Malam itu, kartu nomor pribadi Dinda tergeletak di atas meja ruang kerja Rayhan.
Nadhira meminta Mbak Rini menyerahkannya sebelum makan malam. Pengelola rumah itu sempat berkata bahwa ia hanya ingin mempunyai kontak keluarga bila terjadi keadaan darurat.
"Keadaan darurat Arkan dilaporkan kepada ayahnya," jawab Nadhira. "Bukan kepada tamu yang datang tanpa izin."
Mbak Rini akhirnya mengeluarkan kartu dari saku celemek. Namun, wajahnya menunjukkan bahwa kepatuhan tersebut belum berarti kesetiaan.
Rayhan pulang setelah kedua anak tidur. Ia masih mengenakan kemeja kerja ketika masuk ruang kerja dan melihat kartu di meja, hadiah-hadiah Dinda yang belum dibuka, serta foto daftar barang yang dibuat Nadhira.
"Mbak Rini sudah saya minta tidak mengirim informasi," kata Nadhira.
"Dia menurut?"
"Di depan saya. Saya tidak tahu setelah ini."
Rayhan mengambil kartu Dinda, merobeknya menjadi dua, lalu memasukkannya ke mesin penghancur kertas.
"Besok akses gerbang Dinda saya hapus."
Ia menekan tombol panggilan staf. Mbak Rini masuk beberapa menit kemudian, masih mengenakan seragam kerja. Ketika melihat potongan kartu di mesin penghancur, langkahnya melambat.
"Siapa yang memberi tahu Dinda bahwa kamar kami terpisah?" tanya Rayhan.
Mbak Rini menautkan tangan di depan tubuh. "Saya hanya menjawab pertanyaan, Pak. Mbak Dinda khawatir pernikahan mendadak membuat Den Arkan bingung."
"Jadi Anda yang memberi tahu."
"Beliau keluarga mendiang Bu Dini."
"Itu bukan jawaban atas pertanyaan saya."
Mbak Rini menunduk. "Iya, Pak."
"Apakah Anda juga mengirim jadwal makan dan catatan kesehatan Arkan?"
"Belum."
"Belum berarti Anda berniat melakukannya?"
Wajah Mbak Rini pucat. Ia tidak menjawab.
Rayhan mengambil satu lembar kertas kosong dan menulis beberapa baris. "Mulai malam ini, seluruh informasi anak, jadwal rumah, akses tamu, dan pengaturan kamar bersifat pribadi. Laporan diberikan kepada saya dan Bu Nadhira. Tidak kepada Dinda atau keluarga lain tanpa persetujuan. Pelanggaran berikutnya menjadi alasan penghentian kerja."
Kertas itu didorong ke depan Mbak Rini sebagai peringatan tertulis. Nadhira melihat perempuan tersebut membaca sampai selesai sebelum menandatangani bagian penerimaan.
"Saya mengerti, Pak."
Rayhan menunjuk pintu. "Pastikan semua staf juga mengerti."
Mbak Rini pergi dengan punggung kaku. Peringatan itu tidak serta-merta menghapus kesetiaannya kepada masa lalu, tetapi kini batas dan akibatnya sudah tercatat.
Nadhira duduk di sofa sudut, tempat Arkan tertidur sambil memegang tangannya beberapa hari lalu. "Kenapa dia masih punya akses sejak awal?"
Rayhan tidak langsung menjawab. Ia melepas jam tangan dan meletakkannya di meja dengan gerakan hati-hati.
"Dulu Dinda sering membantu menjaga Arkan setelah Dini meninggal. Saya jarang di rumah. Mbak Rini menganggapnya keluarga."
"Tapi kamu tidak."
Rayhan menatapnya. Ini pertama kalinya Nadhira memakai kata kamu dalam percakapan serius. Batas formal di antara mereka bergeser sedikit, nyaris tanpa disadari.
"Tidak lagi," katanya.
Nadhira teringat foto di bawah bantal Arkan. "Saya menemukan foto Dini di kamar Arkan. Saya kembalikan ke tempatnya."
Rahang Rayhan menegang.
"Saya tidak akan membuang foto ibunya," lanjut Nadhira. "Tapi saya perlu tahu kenapa adiknya masuk ke rumah ini seperti sedang memeriksa wilayah miliknya."
Rayhan berjalan ke rak buku, lalu berdiri membelakangi Nadhira. Beberapa detik berlalu sebelum ia bicara.
"Dini berselingkuh."
Kalimat itu begitu datar hingga hampir tidak membawa emosi. Justru kedua tangan Rayhan yang mengepal di sisi tubuh membocorkan sisanya.
"Berapa lama?" tanya Nadhira.
"Lebih dari satu tahun, berdasarkan pesan yang ditemukan setelah dia meninggal."
"Kamu tahu sebelum kecelakaan?"
"Saya tahu ada seseorang. Saya belum tahu siapa."
Rayhan kembali ke meja dan membuka laci terkunci. Ia mengeluarkan satu map tipis, tetapi tidak menyerahkannya. Di sudut map tertera nomor laporan kecelakaan.
"Malam itu Dini pergi dari rumah setelah kami bertengkar. Dia membawa beberapa pakaian dan perhiasan. Pria itu menjemputnya. Mobil mereka keluar Jakarta menuju arah barat. Hujan lebat. Kendaraan kehilangan kendali dan menabrak pembatas."
Nadhira menahan napas. "Keduanya meninggal?"
"Dini meninggal di lokasi. Pria itu bertahan dua hari. Polisi menemukan pesan, reservasi hotel, dan rencana mereka untuk tinggal di luar kota."
Tidak ada ruang untuk menyebutnya perjalanan biasa.
"Arkan ada di mana saat itu?"
"Di rumah bersama pengasuh. Usianya belum tiga tahun."
Suara Rayhan retak pada dua kata terakhir, sangat tipis tetapi nyata.
Ia menatap map kecelakaan. "Sebelum pergi, Dini menelepon. Saya tidak mengangkat. Kami baru bertengkar, dan saya pikir dia ingin melanjutkannya. Dinda memakai itu untuk mengatakan saya membunuh kakaknya."
"Kamu tidak mengemudikan mobil itu."
"Menurut Dinda, saya tahu Dini pergi dalam keadaan emosi dan sengaja membiarkannya. Dia berkata kalau saya menyusul atau mengangkat telepon, Dini masih hidup."
"Itu tuduhan, bukan fakta."
"Saya tahu."
Namun, cara Rayhan memandang map menunjukkan bahwa mengetahui tidak sama dengan terbebas dari rasa bersalah.
Nadhira tidak mengatakan bahwa semuanya sudah berlalu. Kalimat seperti itu tidak akan mengubah telepon yang tidak diangkat atau anak kecil yang kehilangan ibu.
"Apakah Dinda tahu soal perselingkuhan?"
"Tahu. Dia bilang Dini mencari kasih sayang karena saya terlalu dingin. Baginya, kesalahan tetap kembali kepada saya."
"Lalu kenapa kamu membiarkannya dekat dengan Arkan?"
Rayhan menarik kursi, tetapi tidak duduk. "Arkan mengenal suaranya. Setelah pemakaman, dia berhenti makan dan hanya tenang ketika mendengar Dinda menyanyikan lagu yang biasa dinyanyikan Dini. Saya memilih kebutuhan anak saya daripada kemarahan saya."
"Dan Dinda memakai celah itu."
"Awalnya tidak. Atau saya tidak melihatnya."
Kejujuran itu membuat suasana ruang kerja berubah. Rayhan bukan lagi pria yang selalu datang dengan solusi lengkap. Ia adalah seorang ayah yang pernah memilih satu-satunya suara yang bisa menghentikan tangis anaknya, lalu terlambat menyadari harga pilihan tersebut.
Nadhira berdiri dan mendekati meja, tetap menyisakan jarak.
"Hari ini dia menanyakan semua jadwal Arkan. Dia membuat Mbak Rini merasa saya akan menyingkirkannya. Dia juga tahu hal-hal yang seharusnya tidak dia tahu."
"Mulai besok, laporan rumah langsung kepada saya dan Anda."
"Hadiah untuk Arkan?"
"Periksa, lalu simpan kalau aman. Jangan berikan dengan mengatakan itu dari ibunya. Dinda pernah melakukan itu."
Nadhira merasakan dingin di tengkuk. Menggunakan mendiang ibu untuk memperoleh kasih seorang anak bukan kepedulian. Itu penguasaan.
Rayhan menutup map dan mengembalikannya ke laci. Saat jarinya menyentuh kunci, Nadhira melihat sedikit getaran yang segera ia tekan.
"Kamu masih mencintai Dini?" tanyanya.
Rayhan diam cukup lama.
"Saya pernah mencintainya," jawabnya akhirnya. "Setelah tahu semuanya, saya tidak tahu nama yang tepat untuk apa yang tersisa."
Itu bukan jawaban seorang pria tanpa luka.
Nadhira teringat akad yang berlangsung tiga hari setelah ia menerima tawaran, kamar terpisah, dan semua batas yang disusun begitu rapi. Rayhan memiliki cukup alasan untuk tidak pernah memasukkan perempuan lain ke rumah ini.
"Lalu kenapa kamu mau menikah lagi?"
Rayhan menatapnya lama, tetapi tidak menjawab.