Tiga tahun jadi sampah!
Itulah yang dialami Arya Langit setelah meridiannya hancur. Dari jenius nomor satu Perguruan Langit Biru, dia jatuh jadi pecundang yang bahkan tidak bisa mengangkat pedang.
Di hari pertunangannya, tunangannya sendiri Kezia Adinegara membatalkan pernikahan di depan seluruh tetua demi pria lain dan memberinya 100 Batu Roh sebagai uang hinaan.
Tepat saat tamparan itu mendarat di wajahnya, Sistem Takdir Harem Kaisar Abadi bangkit!
Mata Takdir aktif. Arya bisa melihat masa depan tragis setiap wanita dengan Takdir Kaisar.
Sekar Embun, Bidadari Pedang nomor satu yang dingin seperti es, akan lumpuh total dalam 7 hari dan mati kedinginan di lembah terpencil.
Luna Maheswari, Ratu Iblis yang mempesona, akan menjadi kuali kultivasi dan meledak mati.
Kirana Lestari, Putri Kerajaan yang manja, akan diracun pada malam pernikahannya.
Satu-satunya cara menyelamatkan mereka adalah menjadikan mereka istrinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fareva, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 14: Pingsan di Pelukan Bidadari
Arya Langit merasa seperti sedang bermimpi.
Di dalam mimpinya, dia tidak berada di Puncak Embun yang dingin dan penuh salju, tapi berada di sebuah tempat yang sangat hangat dan sangat harum. Tubuhnya terasa ringan seperti mengapung di atas awan, tidak ada rasa sakit sama sekali setelah pertarungan hidup dan mati melawan Tetua Darah dari Sekte Darah Hitam tadi.
Ada sesuatu yang lembut dan dingin seperti sutra yang menempel di dahinya, menghapus keringat di wajahnya dengan gerakan yang sangat hati hati dan penuh perhatian.
Dan ada aroma harum yang sangat dia kenal, aroma bunga teratai es yang dingin, suci, dan menenangkan, aroma milik gurunya.
"Guru... Sekar..." gumam Arya pelan dalam tidurnya, tanpa sadar menyebut nama gurunya dengan mesra.
Tangan lembut yang sedang mengompres dahinya itu sedikit bergetar karena kaget mendengar gumaman itu, lalu berhenti sejenak sebelum melanjutkan gerakannya dengan lebih lembut lagi.
Arya perlahan lahan membuka matanya.
Cahaya matahari sore yang hangat masuk melalui jendela bambu pondok dan menyinari wajahnya. Dia tidak berada di halaman yang penuh salju atau di atas langit yang penuh dengan darah. Dia berada di dalam sebuah kamar yang harum dan rapi.
Kamar ini bukan kamarnya yang sederhana di sebelah barat. Kamar ini jauh lebih harum, jauh lebih bersih, dan di dalamnya ada meja rias dari giok es, rak buku yang penuh dengan kitab pedang, dan kelambu putih yang berkibar pelan tertiup angin.
Ini adalah kamar Sekar Embun.
Dan di tepi tempat tidurnya, duduk seorang wanita cantik dengan gaun putih sederhana, rambut hitam panjangnya tergerai indah, wajahnya yang biasanya dingin seperti es kini penuh dengan kekhawatiran dan kelelahan karena tidak tidur semalaman.
Sekar Embun.
Saat melihat Arya membuka mata, mata indah Sekar Embun yang tadinya penuh khawatir itu langsung berbinar dengan bahagia.
"Kamu sudah bangun!" Sekar Embun berseru dengan suara yang sedikit serak karena kelelahan. Dia buru buru meletakkan handuk basah yang ada di tangannya dan mendekatkan wajahnya ke wajah Arya untuk memeriksa keadaannya. "Bagaimana perasaanmu? Apakah masih ada yang sakit? Apakah meridiannya masih sakit? Apakah kepalamu pusing?"
Rangkaian pertanyaan khawatir itu keluar dari mulut Bidadari Pedang Embun yang terkenal paling dingin dan paling tidak peduli pada orang lain itu tanpa henti, seperti seorang istri yang khawatir pada suaminya yang baru saja pulang dari perang.
Arya yang baru bangun itu masih sedikit linglung. Dia menatap wajah cantik Sekar Embun yang sangat dekat dengan wajahnya, hanya berjarak beberapa jengkal, hingga dia bisa melihat bulu mata panjang Sekar Embun dan merasakan napas harum wanita itu.
"Guru... saya... saya di mana?" tanya Arya dengan suara serak karena tenggorokannya kering.
"Kamu di kamarku," jawab Sekar Embun tanpa merasa ada yang aneh. "Kamu pingsan setelah membunuh Tetua Darah dari Sekte Darah Hitam kemarin siang. Kamu sudah tidur selama satu hari satu malam. Aku... aku membawamu ke kamarku karena kamarmu terlalu dingin dan tidak ada tungku penghangat. Di kamarku lebih hangat."
Alasan itu terdengar sangat masuk akal, tapi telinga Sekar Embun yang memerah itu mengkhianati alasan sebenarnya.
Faktanya, setelah Arya pingsan di pelukannya di udara kemarin, Sekar Embun langsung membawanya terbang kembali ke pondok dengan wajah panik yang belum pernah dilihat oleh siapa pun sebelumnya. Dia tidak membawa Arya ke kamar barat yang dingin itu, tapi langsung membawanya ke kamarnya sendiri, kamarnya yang selama dua puluh dua tahun tidak pernah dimasuki oleh pria mana pun, bahkan Pemimpin Perguruan pun tidak pernah masuk.
Dia sendiri yang mengganti jubah Arya yang penuh dengan keringat darah dan debu es dengan jubah tidur bersih miliknya yang sedikit kebesaran, dia sendiri yang mengompres dahi Arya yang demam tinggi karena kehabisan energi dan efek samping dari Ledakan Darah Naga, dan dia sendiri yang menjaga Arya semalaman tanpa tidur, mengganti handuk kompres setiap satu jam.
Jika ada murid lain yang melihat pemandangan Bidadari Pedang Embun yang suci itu menjaga seorang pria yang pingsan di tempat tidurnya sendiri dengan penuh perhatian seperti ini, pasti seluruh Perguruan Langit Biru akan meledak untuk ketiga kalinya dalam tiga hari.
Arya menatap wajah lelah Sekar Embun yang memiliki lingkaran hitam samar di bawah matanya karena tidak tidur, hatinya terasa sangat hangat dan sedikit sakit.
"Guru... terima kasih sudah menjaga saya semalaman... Guru pasti lelah sekali..." kata Arya dengan suara lembut.
Sekar Embun sedikit tertegun karena Arya tahu dia menjaga semalaman, lalu wajahnya memerah dan buru buru berdiri.
"Si... siapa yang menjagamu semalaman! Aku hanya... aku hanya takut kamu mati di kamarku dan mengotori kamarku! Jangan berpikir macam macam!" Sekar Embun berkata dengan gugup, sama sekali tidak ada wibawa seorang guru, lebih seperti seorang gadis kecil yang ketahuan berbohong.
Melihat gurunya yang tsundere itu, Arya tidak bisa menahan senyumnya. Dia mencoba untuk duduk, tapi tubuhnya masih terasa sangat lemas karena hampir semua energi naganya habis kemarin.
"Jangan bergerak dulu!" Sekar Embun buru buru menahan bahu Arya agar tidak duduk. "Energimu masih sangat kacau setelah menggunakan jurus terlarang Ledakan Darah Naga itu. Pemimpin Perguruan sudah memeriksamu kemarin, dia bilang meridianmu hampir kering. Kamu harus istirahat minimal tiga hari."
Saat tangan dingin Sekar Embun menyentuh bahu Arya yang masih hangat, keduanya sedikit bergetar karena sentuhan itu.
Pada saat itu, suara ketukan pelan terdengar dari pintu pondok.
"Arya Langit, apakah kamu sudah bangun? Ini aku, Luna. Aku datang untuk menjengukmu," suara merdu Luna Maheswari terdengar dari luar pondok.
Mendengar suara Luna, wajah Sekar Embun yang tadinya penuh kekhawatiran dan sedikit malu itu langsung berubah menjadi dingin kembali dalam sekejap mata, seperti gunung es yang langsung membeku.
Dia melepaskan tangannya dari bahu Arya dan berdiri dengan wajah dingin.
"Gadis Teratai Suci itu datang lagi. Sejak kemarin sore setelah kamu pingsan, dia sudah datang lima kali untuk menjengukmu. Benar benar tidak tahu malu," gerutu Sekar Embun dengan suara kecil yang penuh dengan rasa tidak suka dan cemburu yang sangat jelas, bahkan dia sendiri tidak menyadarinya.
Arya hampir tertawa mendengar gerutuan cemburu gurunya itu. Bidadari esnya ini ternyata sangat posesif.
"Tolong izinkan dia masuk, Guru. Dia pasti khawatir. Dan lagi, dia yang memberi peringatan kepada saya tentang Sekte Darah Hitam sebelum pembunuh itu datang," kata Arya.
Sekar Embun mendengus pelan, tapi tetap berjalan ke pintu dan membukanya.
Di luar pintu, berdiri Luna Maheswari dengan gaun putih teratai emasnya yang indah. Di tangannya ada sebuah kotak giok yang memancarkan aroma obat yang sangat harum. Wajahnya juga terlihat sedikit lelah dan khawatir, jelas dia juga tidak tidur nyenyak semalam karena mengkhawatirkan Arya.
Melihat pintu dibuka oleh Sekar Embun, Luna tersenyum manis.
"Kakak Senior Sekar, apakah Arya sudah bangun? Aku membawakan Pil Pemulih Jiwa kelas tinggi dari Istana Teratai Suci untuknya, bisa membantu memulihkan meridian yang kering dengan cepat," kata Luna dengan ramah.
Sekar Embun menatap kotak giok di tangan Luna dengan tatapan dingin. Sebagai pemilik Tubuh Meridian Embun Beku, dia bisa merasakan bahwa pil di dalam kotak itu memang pil kelas tinggi yang sangat berharga, bahkan di Istana Teratai Suci pun hanya Putri Suci yang bisa mendapatkannya.
Tapi sebagai seorang wanita, dia tidak suka melihat wanita cantik lain membawakan hadiah untuk murid kesayangannya.
"Terima kasih, Putri Suci Luna, tapi tidak perlu. Murid saya sudah saya obati dengan Pil Embun Beku milik Puncak Embun saya sendiri. Pil dari Istana Teratai Suci yang mulia itu mungkin tidak cocok dengan tubuh murid saya yang hanya dari perguruan kecil," jawab Sekar Embun dengan suara dingin dan sedikit menyindir.
Luna tidak marah mendengar sindiran itu, dia hanya tersenyum dengan lebih manis lagi. Sebagai Putri Suci, dia sudah terbiasa menghadapi wanita yang cemburu padanya.
"Tidak apa, Kakak Senior Sekar, pil ini hanya sedikit perhatian kecil dariku untuk teman. Lagi pula, Arya juga sudah banyak membantuku dengan memberi informasi tentang Sekte Darah Hitam kemarin," kata Luna sambil mencoba mengintip ke dalam pondok untuk melihat Arya.
Di dalam kamar, Arya yang mendengar percakapan dua bidadari yang penuh dengan aroma perang dingin di depan pintu itu hanya bisa menghela napas panjang.
Wanita memang makhluk yang paling menakutkan, bahkan lebih menakutkan dari Tetua Darah Alam Raja Langit tingkat tiga.
"Guru, Putri Suci, bisakah kalian berdua masuk dulu dan jangan bertengkar di depan pintu? Saya masih pasien yang lemah dan butuh ketenangan..." kata Arya dengan suara lemah yang dibuat buat.
Mendengar suara lemah Arya itu, kedua wanita yang tadinya saling tatap dengan tatapan dingin dan penuh percikan api itu langsung panik bersamaan dan berlari masuk ke dalam kamar.
"Arya, kamu tidak apa apa? Apakah lukamu kambuh?" tanya Sekar dan Luna bersamaan, lalu mereka saling menatap lagi dengan tatapan tidak suka karena berkata hal yang sama bersamaan.
Arya menatap dua bidadari cantik yang duduk di tepi tempat tidurnya, satu di kiri dengan wajah dingin tapi penuh khawatir, satu di kanan dengan wajah manis tapi penuh cemburu, dia merasa kepalanya yang baru saja sembuh dari demam itu kembali pusing.
Tapi di dalam kepalanya, suara sistem berbunyi dengan sangat bahagia.
[DING! Dua target takdir berkumpul di samping Tuan Rumah! Medan perang Shura kecil terpicu!]
[Kepercayaan Sekar Embun +5% karena rasa cemburu dan posesif!]
[Kepercayaan Sekar Embun saat ini: 95%! Hanya butuh 5% lagi menuju 100% dan menjadi istri pertama!]
[Kepercayaan Luna Maheswari +10% karena melihat Tuan Rumah terluka parah demi melindungi Puncak Embun!]
[Kepercayaan Luna Maheswari saat ini: 40%!]
[Hadiah Medan Perang Shura: 300 Poin Takdir!]
[Poin Takdir saat ini: 3950!]
Arya menatap dua wanita cantik di sampingnya yang masih saling tatap dengan dingin, dan dia tahu, untuk mencapai 100% kepercayaan Sekar Embun, dia butuh satu sesi penyembuhan lagi, sesi ketiga yang akan menjadi sesi penentu.
Dan malam ini adalah waktu yang tepat untuk sesi ketiga itu, karena setelah membunuh Tetua Darah, tidak akan ada lagi yang berani mengganggu Puncak Embun untuk sementara waktu.
Tapi sebelum itu, dia harus menyelesaikan dulu perang dingin kecil di kamarnya ini.
"Guru, Putri Suci, sebenarnya saya ada satu hal penting yang ingin saya bicarakan dengan kalian berdua. Ini tentang Sekte Darah Hitam dan rencana mereka terhadap Putri Suci Luna dalam ritual Pemurnian Jiwa satu bulan lagi..." kata Arya dengan wajah serius, mengalihkan topik dari perang cemburu menjadi topik yang jauh lebih penting dan mematikan.
Mendengar kata Sekte Darah Hitam dan ritual Pemurnian Jiwa, wajah Luna yang tadinya manja langsung berubah menjadi serius dan pucat.
Sekar Embun juga mengerutkan keningnya.
Mereka berdua tahu, badai yang sebenarnya baru akan datang satu bulan lagi, dan target badai itu adalah Luna Maheswari.