NovelToon NovelToon
Dikhianati Keluarga, Dicintai Sang CEO

Dikhianati Keluarga, Dicintai Sang CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Anak Genius / Dunia Masa Depan
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Winna Yun

Dikhianati oleh keluarga yang seharusnya menjadi tempat pulang, Arunika kehilangan segalanya dalam satu malam. Difitnah sebagai anak pembawa sial, diusir dari rumah, dan dirampas hak warisnya demi ambisi mereka. Tak ada yang percaya pada tangisnya, bahkan pria yang pernah ia cintai pun memilih berpaling.
Saat hidupnya berada di titik terendah, takdir mempertemukannya dengan Kael Adrian, seorang CEO muda yang dingin, berkuasa, dan ditakuti banyak orang. Di balik sikapnya yang sulit ditebak, Kael justru menjadi satu-satunya orang yang berdiri di sisi Arunika ketika seluruh dunia meninggalkannya.
Namun, cinta mereka tidak datang tanpa harga.
Rahasia besar tentang kelahiran Arunika mulai terungkap. Pengkhianatan keluarganya ternyata hanyalah awal dari konspirasi yang telah disusun selama puluhan tahun. Orang-orang yang dulu membuangnya kini ingin merebutnya kembali, bukan karena penyesalan, melainkan karena sebuah warisan yang mampu mengubah segalanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Winna Yun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab - 8 Kemunculan Sang Penguasa Bayangan

Bagaskara masih terdiam memandangi Arunika yang berdiri dengan tenang di hadapan mereka.

Semua kata yang telah ia siapkan seolah lenyap begitu saja.

Sementara itu, maya masih belum bisa menerima sikap dingin gadis itu

Suasana hening itu tiba-tiba terusik oleh suara langkah kaki dari lantai dua.

Tak...

Tak...

Tak...

Semua orang tanpa sadar menoleh.

Adrian menuruni tangga dengan langkah tenang. Ia mengenakan kemeja berwarna gelap dengan lengan digulung hingga siku. Wajahnya tetap datar seperti biasa, tetapi auranya membuat ruangan seakan ikut menjadi sunyi.

"Nenek," ucap Adrian sopan.

"Saya sudah selesai sarapan. Terima kasih."

Nenek Sulastri tersenyum ramah.

"Kalau begitu nanti siang jangan lupa makan lagi, Nak."

Adrian mengangguk pelan.

"Baik."

Baru beberapa langkah menuju pintu, pandangannya bertemu dengan keluarga Mahardika.

Ia hanya memberikan anggukan singkat sebagai bentuk kesopanan.

Namun...

Reaksi keluarga Mahardika jauh berbeda.

Mata Bagaskara membelalak.

Wajahnya yang biasanya tenang mendadak berubah pucat.

"Ti... tidak mungkin..."

maya yang semula duduk angkuh langsung berdiri.

"Itu..."

Clarissa ikut memandang Adrian dengan napas tertahan.

"Pak Adrian...?"

Ruangan mendadak dipenuhi keheningan, Tatapannya masih terpaku pada pria muda di depannya. Sebagai pemimpin Grup Mahardika, ia pernah beberapa kali menghadiri pertemuan para petinggi perusahaan dan investor besar.

Di sana...Ada satu nama yang hampir tidak pernah diucapkan sembarangan.

Adrian.

Seorang pria yang usianya masih muda, tetapi memiliki pengaruh yang sangat besar di dunia bisnis. Perusahaannya menguasai berbagai sektor strategis, Banyak perusahaan besar bergantung pada keputusan yang dibuatnya.

Namun, yang membuat orang-orang benar-benar berhati-hati bukan hanya kekayaannya, Melainkan caranya menghadapi musuh. Orang yang mencoba menjatuhkannya sering kali mendapati seluruh rencana mereka gagal sebelum sempat dijalankan.

Bukan karena keberuntungan, Melainkan karena Adrian selalu selangkah lebih maju.

Di kalangan pebisnis, namanya disegani.

Sekaligus ditakuti. Bagaskara menelan ludah.

"Pak Adrian..."

"Saya tidak menyangka bisa bertemu Anda di sini."

Adrian memandangnya beberapa detik, Sorot matanya tetap tenang.

"Kita pernah bertemu?"

Bagaskara tersenyum kaku.

"Hanya sekali."

"Dalam acara forum investasi beberapa tahun lalu."

Adrian mengangguk tipis.

"Begitu."

Jawabannya singkat, Tidak terdengar meremehkan. Tetapi cukup membuat Bagaskara sadar bahwa dirinya bukanlah orang yang cukup penting untuk diingat.

Maya yang tadi masih bersikap tinggi hati kini langsung berubah, Senyumnya dipaksakan.

"Pak Adrian."

"Perkenalkan, saya maya Mahardika."

Adrian hanya mengangguk sopan.

"Senang bertemu."

Tidak lebih.

Tidak kurang.

Sikap datarnya justru membuat maya semakin gugup, Clarissa berbisik pelan kepada ayahnya.

"Ayah..."

"Kenapa dia bisa menginap di tempat seperti ini?"

Bagaskara menggeleng perlahan.

"Itu yang juga sedang Ayah pikirkan."

Sementara itu, Arunika hanya memandang Adrian dengan penasaran. ternyata dugaannya tidak salah, lelaki ini orang yang yang sering ada di berita

"Saya hanya tamu di sini."

"Jangan membuat suasana menjadi canggung."

Kalimat itu sederhana, Namun Bagaskara justru semakin yakin. Orang sebesar Adrian sengaja menyembunyikan identitasnya.

Dan itu berarti...Ada sesuatu yang sedang terjadi, Di luar penginapan, pria berkacamata hitam yang mengawasi dari dalam SUV turut melihat pemandangan itu melalui teropong kecil. Ekspresinya berubah seketika.

"Sial..."

"Kenapa dia ada di sana?"

Ia segera menekan alat komunikasi di telinganya.

"Situasi berubah."

"Target Adrian berada di lokasi yang sama dengan Target Arunika."

Beberapa detik kemudian terdengar balasan bernada tegas.

"Jangan lakukan tindakan gegabah."

"Selama Adrian masih berada di sisi gadis itu, operasi tidak boleh dimulai."

Pria itu mengepalkan tangan.

"Dimengerti."

Di balik pohon, sosok berjaket hujan juga melihat Adrian keluar dari penginapan, Tatapannya dipenuhi keterkejutan.

"Jadi benar..."

"Dia yang melindungi Arunika."

Sosok itu mengembuskan napas pelan.

"Kalau begitu, peluang mereka untuk menyentuh Arunika akan jauh lebih kecil."

Namun di dalam mobil SUV, pria berkacamata hitam menatap Adrian dengan sorot mata tajam.

"Pak Adrian..."

"Kalau Anda memutuskan ikut campur..."

"Operasi ini akan menjadi jauh lebih rumit."

Ketegangan yang menyelimuti penginapan seolah berubah menjadi sesuatu yang tak kasatmata. Udara tetap sama, Namun setiap orang yang berada di ruangan itu merasakan beban yang berbeda.

Adrian berdiri beberapa langkah dari pintu. Wajahnya tetap tenang, seolah semua tatapan yang mengarah kepadanya bukanlah sesuatu yang penting.

Sebaliknya, keluarga Bagaskara mulai kehilangan ketenangan mereka, Bagaskara berusaha mengatur napas. Sebagai seorang pengusaha, ia sudah bertemu banyak tokoh berpengaruh.

Tetapi berdiri berhadapan langsung dengan Adrian dalam suasana seperti ini memberikan tekanan yang sama sekali berbeda.

Ia melirik Arunika sekilas, Lalu kembali memandang Adrian. Sebuah pertanyaan terus berputar di kepalanya.

Apa hubungan pria sebesar itu dengan gadis yang telah ia usir dari rumah beberapa hari lalu ini?

Tatapan Adrian beberapa kali tanpa sadar mengarah kepada gadis itu, Bukan tatapan penuh kasih. Bukan pula tatapan seorang kekasih. Melainkan tatapan seseorang yang memastikan keadaan tetap aman.

Maya mengerutkan dahi.

"Kenapa rasanya seperti..."

"Ia sedang menjaga Arunika?"

Pikiran itu membuatnya semakin gelisah, Di sisi lain, Clarissa mencoba tersenyum kepada Adrian.

"Pak Adrian."

"Saya sering membaca berita mengenai perusahaan Anda."

"Prestasinya benar-benar luar biasa."

Adrian hanya memberikan senyum tipis.

"Terima kasih."

Jawabannya singkat, Tidak ada niat memperpanjang percakapan. Clarissa yang biasanya percaya diri kini justru merasa canggung. Ia baru menyadari bahwa pria di depannya bukan tipe orang yang mudah diajak berbasa-basi.

Keheningan kembali menyelimuti ruangan, Arunika berdiri di samping nenek pemilik penginapan tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Namun dalam hati, ia mulai mengingat kembali beberapa artikel berita yang pernah dibacanya saat membantu tamu penginapan mencari informasi melalui ponsel.

Nama Adrian memang sering muncul, Bukan karena kehidupan pribadinya. Melainkan karena berbagai keputusan bisnis yang selalu menggemparkan. Meski demikian, wajah pria itu jarang sekali muncul di media.

Karena itulah Arunika langsung mengenalinya saat pertama kali datang ke penginapan. Di luar bangunan...SUV hitam masih terparkir di tempat yang sama. Pria berkacamata hitam kembali menerima panggilan.

"Laporkan situasi."

Pria itu menjawab pelan.

"Target Adrian masih berada di dalam penginapan."

"Belum terlihat tanda-tanda akan pergi jauh."

Suara di seberang kembali terdengar.

"Tim kedua sudah berada dalam radius satu kilometer."

"Tetap lakukan pengamatan."

"Jangan melakukan kontak."

Pria itu mengangguk meski lawan bicaranya tidak bisa melihat.

"Siap."

Tak jauh dari sana, sosok berjaket hujan perlahan menurunkan teropong kecilnya. Ia menatap ke arah penginapan dengan ekspresi serius.

"Semakin banyak orang berkumpul..."

"Keadaan mulai berubah."

Ia mengeluarkan sebuah ponsel sederhana, Lalu mengirim satu kalimat singkat. Perlindungan terhadap Target Arunika meningkat. Kemungkinan muncul pihak ketiga sangat tinggi.

Pesan itu langsung terkirim, Beberapa detik kemudian muncul balasan. Tetap awasi. Jangan memperlihatkan identitas. Sosok itu memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku.

Tatapannya tidak pernah lepas dari bangunan penginapan. Sementara itu, di dalam penginapan, Adrian akhirnya membuka pintu.

Sebelum benar-benar melangkah keluar, ia berhenti sejenak. Tanpa menoleh ke belakang, ia berkata dengan suara tenang.

"Cuaca hari ini kurang bersahabat."

"Kalau tidak ada keperluan mendesak..."

"Sebaiknya jangan keluar dari area penginapan."

Ucapan itu terdengar seperti sebuah saran biasa, Namun entah mengapa, Bagaskara merasakan makna lain di balik kalimat tersebut.

Bahkan Maya yang semula hendak mengajak Arunika berbicara kembali mengurungkan niatnya.

Adrian kemudian melangkah keluar, Pintu perlahan tertutup di belakangnya. Beberapa detik setelah sosoknya menghilang dari pandangan, telepon genggam Bagaskara bergetar.

Nomor yang muncul di layar membuat raut wajahnya berubah. Itu adalah nomor khusus yang hanya digunakan oleh salah satu rekan bisnis lamanya.

Bagaskara segera menerima panggilan tersebut.

"Halo?"

1
nischa
hai,kak aku mampir ceritanya bagus semangat kak😍mampir juga ya ke ceritaku
Winna Yun: siap kakak terimakasih kunjungan nya🤗
total 1 replies
sinnox
50k mana cukup😭
Winna Yun: agak agak miris emang🤭
total 1 replies
sinnox
Bau bau ibu tiri jahat😭
Winna Yun: iya Kaka 😁
total 1 replies
zevy_14
lanjut kk... update... update.. update🤭💪
Winna Yun: siap kakak 😁
total 1 replies
zevy_14
bagus selidiki🤭
Winna Yun: mamang haru ini🤭
total 1 replies
ciber ara
suka banget ceritanya
Winna Yun: terimakasih ka 🤗
total 1 replies
ciber ara
nextt
MPUSSPITA
semangat terus othorrr
Winna Yun: semangat kembali ka🤗
total 1 replies
MPUSSPITA
sedih banget kamu, arunika 😭😭😭
Winna Yun: iya ka ujian nya gak main main😁
total 1 replies
Nnisa
kak aku mampir nih, semangat kak💪💪
Winna Yun: terimakasih ka atas kunjungan nya🤗
total 1 replies
Swan Tiger
halo semangat author🍀🍀🍀
Winna Yun: semangat juga ka🤗
total 1 replies
Lasa Hardianti
kasian bgt nasib arunika, moga aja kena karma tuh keluarganya😌🤣
Winna Yun: sabar na nanti di bayar kontan😁
total 1 replies
helena
kasian banget arunika
helena: thor/Hey//Smile/
total 2 replies
Winna Yun
iya ka emang gak sedikit 😁
Zed Analytical Number Nine
bukan angka yang sedikit
Cilia
Nyesek banget jadi arunika:(
Winna Yun: iya bener ka
total 1 replies
Winna Yun
iya ka beda banget
Putri Ayu/PqxxyZ
beda suasana ya disana
Putri Ayu/PqxxyZ
aku sudah mampir baru awal nih, entar lanjut lagi.. kakak boleh mampir di ceritaku yang "Terjebak Antara Saudara dan Cinta"
Winna Yun: iya ka siap
total 1 replies
Putri Ayu/PqxxyZ
oke cabut... kena usir soalnya
Winna Yun: iya ka🤭 terimakasih sudah berkunjung 🤗
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!