Demi menepati janji masa lalu, Mahira memilih hidup sederhana dan menjadi istri yang berbakti bagi Ziko, seorang pengusaha sukses di Bandung.
Namun, ketulusan Hira justru dibalas dengan dinginnya sikap Ziko dan hinaan bertubi-tubi dari ibu mertuanya.
Hira kerap dianggap wanita tak berpendidikan yang hanya menjadi beban keluarga. Padahal, di balik layar, koneksi rahasia Hiralah yang membuat bisnis Ziko terus meroket.
Penderitaan Hira mencapai puncaknya ketika sebuah kesalahpahaman sengaja diciptakan untuk menjebaknya. Saat Ziko terang-terangan melukai harga dirinya demi wanita lain, kesabaran Hira akhirnya habis. Ia memutuskan melangkah pergi dan menyetujui perceraian tanpa meminta harta sepeser pun.
Kepergian Hira menjadi awal kehancuran dunia Ziko. Rumah yang tadinya hangat berubah menjadi asing, dan rahasia besar di balik sukses bisnisnya perlahan terbongkar. Di sisi lain, Hira bangkit menunjukkan identitas aslinya sebagai wanita berkelas dan berpengaruh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hasna_Ramarta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27 Kembalinya Sang Komisaris Utama
Matahari pagi menyiram kota dengan cahaya keemasan yang jernih. Pagi itu, disirami sinar mentari pagi keemasan, di dalam kamar utama miliknya, Mahira berdiri di depan cermin besar yang menjulang dari lantai hingga langit-langit.
Dress katun usang dan pakaian kusam yang selama tiga tahun ini melekat erat pada tubuhnya, kini telah lenyap. Baju yang pernah dicaci maki oleh Bu Rani dan Ziko itu kini telah dilipat rapi dan disimpan di sudut paling dalam sebagai pengingat saat dirinya mengalami hinaan dan caci maki di rumah itu selama tiga tahun.
Sebagai gantinya, Mahira kini mengenakan setelan blazer dan celana formal berwarna biru tua potongan khusus yang melekat sempurna pada tubuhnya yang ramping.
Bahan kain sutra premium itu berkilau samar saat terpapar cahaya. Rambut hitam pekatnya yang panjang kini tergerai rapi dengan tatanan yang sangat elegan, jatuh dengan indah di bahunya yang tegap.
Tidak ada lagi penampilan kusam atau wajah lelah karena sibuk di dapur. Dengan sentuhan riasan tipis yang natural namun tegas, keanggunan alami dan wibawa seorang putri tunggal keluarga Wijaya terpancar seutuhnya.
Mahira memasang sepasang anting mutiara hitam kecil di telinganya, lalu meraih tas jinjing kulit edisi terbatas yang diletakkan di atas meja rias. Ketika ia menatap pantulan dirinya di cermin, matanya sedingin es. Tidak ada keraguan dan ketakutan lagi. Mahira yang penurut telah mati di dapur rumah Ziko semalam.
Tok, tok, tok.
Pintu kamar diketuk perlahan sebelum akhirnya terbuka. Jessi melangkah masuk dengan setelan formal yang tak kalah rapi, memegang sebuah map kulit berlogo Grand Wijaya Group. Jessi sempat tertegun sejenak, menatap sahabatnya dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan binar mata penuh kekaguman.
"Luar biasa, Ra... Ini baru Mahira Wijaya yang aku kenal," ucap Jessi dengan senyum bangga yang merekah luas. "Tiga tahun aku terpaksa melihatmu berpura-pura menjadi wanita lemah, rasanya seperti mimpi melihat sang Komisaris Utama akhirnya kembali ke posisinya yang asli."
Mahira membalikkan badan, menyunggingkan senyum tipis yang sangat berkelas. "Sudah waktunya, Jes. Terlalu lama membiarkan orang lain bermain-main dengan apa yang menjadi milikku."
"Mobil jemputan utama sudah siap di lobi bawah, Ra. Seluruh jajaran direksi, kepala divisi, dan perwakilan pemegang saham sudah berkumpul di ruang rapat utama kantor pusat. Mereka semua sudah tidak sabar menyambut kehadiranmu secara resmi setelah tiga tahun masa vakum," lapor Jessi seraya menyerahkan map dokumen di tangan.
Mahira menerima map tersebut dengan gerakan anggun. "Bagaimana dengan surat keputusan penolakan kedua untuk Adhi Jaya Perkasa?"
"Sudah ditandatangani oleh bagian legal pagi ini, Ra. Begitu kamu menginjakkan kaki di ruang rapat dan memberikan stempel final, seluruh pasokan bahan baku dari anak perusahaan kita ke pabrik Ziko akan dihentikan total per jam dua siang nanti," jawab Jessi dengan nada puas yang tertahan.
"Bagus. Mari kita berangkat," ajak Mahira datar.
Mereka berdua berjalan keluar dari griya tawang, menaiki lift privat yang langsung mengantar mereka ke lantai lobi utama.
Di depan pintu masuk, sebuah mobil limosin hitam dengan bendera kecil berlogo Grand Wijaya Group sudah terparkir rapi. Dua orang pengawal bertubuh tegap segera membukakan pintu dengan hormat, menundukkan kepala sedalam-dalamnya saat Mahira melangkah masuk.
Sepanjang perjalanan membelah kawasan bisnis Kota Bandung, Mahira tidak banyak bicara. Ia fokus membaca laporan keuangan kuartal terakhir perusahaannya di atas tablet kerja. Ketegasan dan kecerdasannya yang sempat tumpul akibat rutinitas mencuci piring kini telah kembali seratus persen.
Tepat pukul sembilan pagi, limosin hitam itu berhenti sempurna di depan lobi gedung pencakar langit Grand Wijaya Group.
Puluhan awak media internal dan barisan staf pengaman sudah membuat barikade rapi. Begitu Mahira turun dari mobil, seluruh karyawan yang berada di lobi luas itu serentak membungkuk hormat.
"Selamat pagi, Ibu Komisaris Utama!" seru mereka serempak, menggema di seluruh ruangan beratap tinggi tersebut.
Mahira berjalan dengan langkah yang konstan, anggun, dan penuh wibawa. Langkah kakinya yang dibalut sepatu hak tinggi hitam berbunyi tegas di atas lantai marmer kelabu.
Di belakangnya, Jessi dan lima orang sekretaris senior berjalan mengekor dengan sikap tubuh yang sangat formal.
Lift eksekutif membawa mereka langsung ke lantai teratas, lantai khusus jajaran direksi tertinggi. Begitu pintu lift terbuka, pintu ganda ruang rapat utama langsung dibukakan dari luar.
Di dalam ruangan yang sangat luas dengan meja oval rapi dari kayu jati, puluhan pria dan wanita paruh baya berbusana mahal, para direktur dan pemegang saham kelas kakap, seketika berdiri dari kursi mereka saat Mahira melangkah masuk. Tidak ada satu pun dari mereka yang berani bersuara sebelum sang pemimpin mengambil tempat.
Mahira berjalan menuju ujung meja utama, tempat kursi kebesaran Komisaris Utama berada. Sebelum duduk, ia menatap seluruh jajaran direksi di depannya dengan pandangan mata yang tajam dan berwibawa.
"Silakan duduk," ucap Mahira. Suaranya tidak keras, namun memiliki penekanan yang kuat dan bergema penuh wibawa di seluruh penjuru ruangan.
Seluruh hadirin duduk secara serentak dengan tertib.
"Terima kasih atas kehadiran kalian semua pagi ini," lanjut Mahira, meletakkan tas jinjingnya di samping kursi dengan anggun. "Tiga tahun saya memantau pergerakan pasar dari luar, dan hari ini, saya kembali untuk memastikan bahwa Grand Wijaya Group tetap memegang kendali penuh atas sektor investasi di kota ini. Saya tidak akan mentolerir kesalahan sekecil apa pun dari pihak luar yang mencoba memanfaatkan nama besar kita."
Jessi yang duduk di sebelah kanan Mahira segera membuka map legalitas dan meletakkannya di depan Mahira. "Ibu Komisaris, ini adalah berkas final mengenai pembatalan investasi serta pemutusan rantai pasokan bahan baku beton dan baja untuk Adhi Jaya Perkasa. Kami hanya membutuhkan tanda tangan dan stempel resmi dari Anda untuk mengeksekusinya secara hukum."
Mahira mengambil pena hitam mewah yang disodorkan sekretarisnya. Tanpa ragu sedikit pun, dengan gerakan tangan yang tegas dan mengalir, ia menggoreskan tanda tangannya di atas dokumen tersebut.
Sret.
Bunyi goresan pena itu menjadi penentu akhir dari nasib perusahaan Ziko. Mahira menutup map dokumen tersebut dengan bunyi ketukan pelan yang tegas. Wajahnya tetap datar sempurna, tanpa ada riak emosi dendam, melainkan murni atas nama profesionalisme bisnis yang dingin.
"Kirimkan dokumen ini ke kantor Adhi Jaya Perkasa sekarang juga," perintah Mahira datar kepada kepala divisi legal. "Pastikan kurir kita menyerahkannya langsung ke tangan Ziko hari ini."
"Baik, Ibu Komisaris Utama. Segera dilaksanakan," jawab kepala divisi legal dengan anggukan patuh sebelum bergegas keluar dari ruang rapat.
Mahira menyandarkan punggungnya ke kursi kebesaran dengan rileks, menyisir sedikit rambut hitamnya ke belakang dengan jemari tangan yang lentik.
Di balik penampilannya yang kini teramat mewah dan posisi tertingginya yang ditakuti oleh banyak pengusaha, tidak ada lagi ruang untuk rasa kasihan.
Ziko dan Bu Rani telah memilih jalur mereka sendiri dengan caci maki semalam, dan kini, Mahira hanya perlu duduk manis di atas takhta kebanggaannya, menyaksikan bagaimana pria yang mencampakkannya akan merangkak di bawah kakinya saat seluruh dunianya hancur berantakan tanpa sisa.