NovelToon NovelToon
Angsa Cantikku

Angsa Cantikku

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Balas Dendam / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Myz Pena

​"Tak ada yang lebih menyakitkan daripada melihat orang yang kau cintai,
ragu memilihmu demi seseorang yang paling kau benci.
​Dan di antara amarah yang membakar serta air mata yang bengkak,
dua jiwa yang terluka dipaksa melangkah di jalan yang sama...
tanpa sadar, bahaya sebenarnya justru sedang mengintai dari jarak paling dekat"

​Bagi Lulu, menjadi sosok culun dan tak kasat mata di kantor adalah hal biasa. Namun, di balik penampilannya yang sederhana, senyum hangat dan ketulusannya justru menjadi "racun" paling mematikan bagi dua pria kelas atas.

​Angga, manajer berdingin hati yang membenci kesalahan, mendadak kehilangan fokus tiap kali Lulu berada di dekatnya.

Sementara Riko, CEO angkuh yang awalnya
memandang Lulu sebelah mata, malah terjatuh paling dalam akibat sebuah insiden tak terduga. Ketika dua pria berkuasa ini saling berhadapan demi merebut satu perhatian...

siapakah yang akhirnya memenangkan hati Lulu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Myz Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 28 : SATU MOBIL BERSAMA PEMANGSA

Di dalam kamar rawat inap yang perlahan dihangatkan oleh sinar matahari pagi, aroma buah-buahan segar yang kemarin dibeli Lulu masih tergeletak anggun di atas meja.

Semalam, Lulu sempat menawarkan buah-buahan itu untuk dicicipi, mencoba mengalihkan duka yang mendera sahabatnya. Namun, Lastri hanya sanggup terdiam. Pikiran jurnalis itu membeku dan terus-menerus menimbang kemungkinan terburuk yang bisa menimpa dirinya setelah keselamatan rekannya direnggut begitu saja.

​Melihat Lastri yang tak kunjung berhenti melamun, Lulu tak lelah menyalurkan kehangatan. Ia mengusap jemari Lastri, memberikan kata-kata penguat dengan tulus demi memeluk jiwa sahabatnya yang tampak begitu rapuh.

​Keesokan harinya, bunyi gemericik air dari kamar mandi di dalam ruang rawat itu akhirnya terhenti. Lulu keluar dengan wajah yang lebih segar usai membersihkan badan. Ia sudah mengenakan pakaian rapi, bersiap untuk berangkat menuju kantor logistik tempatnya bekerja pagi ini.

​Sambil merapikan barang-barangnya di samping tempat tidur, Lulu menatap Lastri yang duduk bersandar.

​"Las..., aku jalan ke kantor dulu ya..." Pamit Lulu dengan senyum hangat.

"Nanti pas jam istirahat siang, aku bakal ke sini lagi buat temani kamu...." tambahnya.

​Lastri menoleh, mengukir senyum tipis yang sarat akan rasa terima kasih.

"Makasih banyak ya Lu... Tapi kamu nggak usah memaksakan diri kalau sibuk atau kerjaan di kantor lagi menumpuk. Aku nggak apa-apa kok di sini "

​"Nggak ada alasan.... Aku tetap bakal datang siang nanti, Oke ?" Potong Lulu cepat dan terkekeh pelan, menunjukkan keteguhan hatinya.

​Lulu sengaja bersikap kekeh. Ia tahu betul, sejak semalam Lastri terus-menerus termenung akibat kabar duka yang menimpa rekan kerja jurnalisnya.

Lulu tidak tega membiarkan sahabatnya itu tenggelam dalam kesedihan seorang diri di kamar rumah sakit ini. Ia bertekad untuk kembali nanti siang dan berusaha sebisa mungkin menghadirkan sedikit hiburan juga ketenangan bagi Lastri di tengah awan kelabu yang menaungi perasaan sahabatnya.

Langkah kaki Lulu terdengar cepat dan berirama menghentak lantai keramik koridor rumah sakit. Bagian bawah gaun kerjanya melambai seiring tergesanya ia menuju pintu keluar utama. Setelah membelah pintu kaca otomatis, langkahnya terhenti di pelataran depan yang mulai diramaikan oleh lalu lalang kendaraan.

​Dengan jemari yang bergerak lincah, Lulu membuka aplikasi di ponselnya dan segera memesan taksi online. Layar ponselnya menunjukkan angka 06.30 WIB.

"Waah.. gawat nih" Ucap Lulu dengan penuh resah. Kecepatan sinyal dan indikator penjemputan yang berputar-putar di layar membuatnya kian resah. Taksi yang ditunggunya tak kunjung mengonfirmasi lokasi.

​"Ayo, dong... Please..." gumam Lulu begitu cemas, matanya bergantian menatap layar ponsel dan jalan raya di depannya.

​Secara teori, waktu tempuh dari rumah sakit menuju kantor logistik tempatnya bekerja hanya memakan waktu sekitar 30 menit.

Namun, ini sudah masuk jam sibuk pagi hari. Arus kendaraan dipastikan akan memadat dan titik-titik kemacetan siap menyapa di setiap persimpangan. Perjalanan yang seharusnya singkat bisa membengkak dua kali lipat dan itu artinya satu hal yaitu Lulu akan terlambat.

​Bayangan sosok Pak Angga seketika melintas tajam di benaknya. Wajah manajernya yang tegas, dingin dan tatapan matanya yang tak menoleransi ketidakdisiplinan membuat tenggorokan Lulu mendadak kering. Ia bisa membayangkan betapa omelan dan teguran keras akan menyambutnya di meja kerja nanti.

​Namun, begitu nama Angga terlintas reaksi tubuhnya tak hanya melahirkan rasa takut. Jantung Lulu berdesir hebat dan berdegup kencang secara tidak rasional. Rupanya debaran aneh yang ia rasakan sejak kemarin belum juga usai. Perhatian-perhatian kecil sang manajer di minimarket dan momen kebersamaan mereka tempo hari mendadak menyeruak, mengacaukan konsentrasinya.

​Lulu mengepalkan tangannya rapat-rapat, meremas pinggiran tasnya. Ia merutuki dirinya sendiri secara dalam.

​"Sadar, Lulu! Jangan mimpi ketinggian... Ingat posisi kamu cuma bawahan di kantor!" Bisiknya pada diri sendiri yang mencoba memukul mundur rasa kagum yang tak berhak ia miliki.

​Namun, menyadarkan diri tak lantas mengusir kecemasan yang nyata. Berdiri di tepi jalan di bawah terik matahari pagi yang mulai membias membuat Lulu semakin gelisah tak karuan. Bayang-bayang kemacetan kota dan ancaman amukan Pak Angga terus berputar di kepalanya menanti taksi online yang tak kunjung tampak batang hidungnya.

Di tengah kecemasan yang makin memuncak, Lulu berulang kali mengetukkan ujung sepatunya ke trotoar. Sorot matanya sibuk memindai deretan plat nomor kendaraan yang melintas di jalan raya, berharap taksi online-nya segera muncul dari balik kemacetan.

​Karena terlalu panik membayangkan jam kerja yang makin mepet, Lulu sama sekali tidak menyadari keberadaan sebuah mobil sedan hitam berdesain elegan yang telah mengawasinya dari jarak jauh sejak tadi. Mobil itu tiba-tiba memotong jalur, melaju cepat lalu berhenti presisi tepat di samping tempatnya berdiri.

​"Sreeeet..."

​Lulu tersentak kaget dan menoleh refleks. Ia memundurkan langkahnya satu tindak dan matanya membelalak menatap kendaraan bernilai fantastis di depannya.

Layaknya mobil mewah milik para pejabat tinggi, interior dan garis desain luar mobil ini jauh lebih megah dari apa yang pernah ia bayangkan dalam hidupnya.

​Kaca penumpang di bagian belakang perlahan bergeser turun. Dari balik kegelapan kaca film yang terbuka tampak sosok pria yang duduk bersandar santai di kursi belakang selayaknya seorang bos besar.

Lulu memicingkan mata merasa raut wajah itu begitu familiar. Pria itu sangat tampan, berbusana rapi dan memancarkan aura kharisma yang begitu menekan sekaligus memikat. Ia menoleh perlahan ke arah Lulu. Manik matanya menatap tajam dengan sorot yang sulit dibaca sebelum akhirnya salah satu sudut bibirnya terangkat membentuk ukiran senyum tipis yang terkesan mengejek di pagi hari yang sibuk ini.

​"Deg!"

​Jantung Lulu seketika mencelos. Kenangan buruk dari malam pesta itu langsung terlempar kembali ke benaknya bagai kilatan petir. Pria itu... adalah orang yang sama yang berhasil membuatnya ketakutan setengah mati malam itu. Sosok berpengaruh yang tak lain adalah saudara dari Angga yaitu Riko.

Kaca mobil mewah itu telah terbuka sepenuhnya. Riko menyandarkan siku di pinggiran jendela menatap Lulu dengan binar mata yang seolah menyiratkan kegembiraan murni.

​"Selamat pagi, Lulu. Kebetulan sekali kita bertemu di sini..." Sapa Riko dengan nada suara yang begitu santai dan kasual seolah mereka adalah teman lama yang tak sengaja berpapasan.

"Kamu kelihatan terburu-buru sekali"

​Lulu memilih bungkam. Tubuhnya menegang kaku di atas trotoar. Sepasang matanya mengawasi setiap gerak-gerik kecil pria di dalam mobil itu dengan penuh waspada dan enggan memangkas jarak meski hanya satu sentimeter. Senyum di bibir Riko semakin lebar melihat respon dingin tersebut.

​"Masuklah... Ada yang perlu aku bicarakan denganmu... sebentar saja" Lanjut Riko mengibaskan tangannya pelan memberi isyarat agar Lulu mendekat.

​"Maaf... Saya harus segera ke kantor" Jawab Lulu singkat dan tegas. Suaranya berusaha dibuat senormal mungkin meski raut wajahnya tidak bisa menyembunyikan rasa tidak nyaman. Ia sama sekali tidak berminat untuk mengobrol, apalagi berurusan lagi dengan pria yang telah memberi trauma mendalam padanya malam itu.

​Riko terkekeh pelan, sebuah terkekeh dingin yang membuat bulu kuduk Lulu berdiri. Jurus andalannya mulai dilancarkan yaitu sebuah taktik halus yang selalu berhasil memojokkan siapa pun yang berani menolaknya.

​"Baiklah kalau begitu.... aku tidak akan memaksa...." Ujar Riko seraya menyandarkan punggungnya kembali ke kursi lalu mengalihkan pandangannya ke depan seolah tak peduli.

​"Tapi... kamu pasti tahu kan...rasanya tidak menyenangkan kalau sikap tidak sopanmu pagi ini sampai ke telinga Ibu dan adik kecilku?"

​"Deg!"

​Kalimat itu menghantam dada Lulu bagai ditusuk duri. Langkah kakinya terpaku,

​Riko menoleh kembali menatap Lulu dengan senyuman miring yang begitu culas.

"Mereka sangat baik padamu, bukan? Kamu pasti masih ingat betul bagaimana Ibu dan Angga menyelamatkan mukamu dari rasa malu yang luar biasa di malam pesta itu. Maksudku... kasihan sekali mereka jika tahu orang yang dibantu justru bersikap sekasar ini pada keluarganya sendiri...."

​Seketika rasa gugup dan sedih beraduk hebat di dalam dada Lulu. Napasnya terasa berat. Ia memikirkan kebaikan ibu Marni, Ami dan rasa hormatnya pada Angga. Ia tidak sanggup membayangkan betapa kecewa dan sedihnya orang-orang baik itu jika sampai mendengar cerita manipulatif dari mulut Riko. Angga yang selalu ia kagumi... bagaimana jika Angga berubah membencinya?

​Riko menepuk jok kosong di sampingnya tanpa mengalihkan pandangan dari wajah pucat Lulu.

"Jadi, bagaimana..? Hanya sebentar Lulu... Aku hanya ingin mengobrol.."

​Dengan hati yang terasa amat berat dan bibir yang gemetar Lulu tidak memiliki pilihan lain. Rasa takutnya kalah oleh rasa tidak ingin mengecewakan orang-orang yang telah menolongnya.

​"Baiklah... tapi hanya sebentar,..." Bisik Lulu pasrah.

​Dengan jemari yang dingin dan bergetar, Lulu melangkah mendekat, membuka pintu mobil mewah tersebut dan melangkah masuk ke dalamnya. Pintu tertutup rapat dengan dentuman halus dan membawa Lulu pergi menuju suatu tempat yang sama sekali tidak ia ketahui.

Suasana di dalam mobil mewah itu terasa amat mencekam bagi Lulu. Perbedaannya bagaikan bumi dan langit jika dibandingkan saat ia berada di dalam mobil Pak Angga.

​Saat bersama Angga, meski jantungnya berdebar kencang ada kehangatan dan rasa aman yang tak tergoyahkan. Lulu tahu betul bahwa manajernya itu mungkin tegas dan galak, tetapi sama sekali tidak kejam.

Namun di samping Riko... tubuh Lulu kaku sempurna. Setiap sarafnya berteriak waspada persis seperti sedang terjebak di dalam kurungan bersama seekor pemangsa asing yang tak tertebak.

​Sementara itu, Riko bersandar santai, menyunggingkan senyum licik. Pikirannya dipenuhi rasa jahil yang kekanak-kanakan. Entah mengapa ada kepuasan tersendiri saat melihat raut wajah cemas Lulu.

​Namun di sisi lain, benak Riko sendiri memprotes tindakannya.

"Untuk apa aku membuang-buang waktu mengurusi hal sekonyol ini?" Batinnya heran pada diri sendiri. Pekerjaan di kantornya sedang menumpuk parah terutama persiapan penting untuk menyambut kedatangan investor asing.

Sungguh tidak masuk akal baginya mempertaruhkan waktu berharga hanya demi mengerjai seorang staf biasa. Tapi rasa penasarannya pada hubungan Angga dan gadis ini melampaui logika sehatnya.

​Riko melirik sekilas. Lulu duduk sangat tegap dan bahunya menegang ketat.

​Dengan jemari yang bergetar pelan, Lulu perlahan merogoh tasnya dan mengeluarkan ponsel. Ia dengan lincah mengetik pesan singkat kepada Supervisornya, meminta izin keterlambatan dengan alasan kemacetan parah di jalan raya. Ia butuh jaminan agar posisinya di kantor tidak bermasalah.

​Riko yang melirik layar ponsel Lulu dari sudut matanya langsung memotong dengan suara beratnya yang santai.

​"Tenang saja... kamu tidak perlu repot-repot mengirim pesan pada pria itu..." Cetus Riko dengan senyum jahil yang mengembang di bibirnya. Ia berasumsi penuh percaya diri bahwa Lulu sedang mengirim pesan panik kepada Angga.

"Lagi pula... aku tidak akan membunuhmu atau berbuat usil padamu pagi ini"

​"Glek"

​Kata "membunuh" yang diucapkan Riko dengan nada bercanda itu justru membuat bulu kuduk Lulu berdiri merinding. Ngeri luar biasa. Riko sama sekali tidak tahu bahwa pesan itu ditujukan untuk rekannya yaitu Vika dan bukan Pak Angga.

​Tanpa berani membantah atau mengoreksi anggapan Riko, Lulu hanya meremas ponselnya erat-erat. Dalam hati, ia tak berhenti berdoa dan memohon perlindungan berulang kali menenangkan jiwanya yang terguncang bahwa semuanya akan baik-baik saja dan ia bisa kembali dengan selamat.

1
-Thiea-
kenapa wanita itu bisa sampai dibunuh? Apa yang menjadi dasar dari tindakannya itu kira-kira?"
ginevra
astaga!!! tokoh utamanya meninggal dari episode pertama.
Myz Pena: penasaran kan.. ?? 🤭
total 1 replies
ginevra
ada apa ini? awal udah disuguhi adegan bekap membekap.
sinnox
Hayoloh lulu🫢
Myz Pena: Lulu OTW kerja keras 💪
total 1 replies
Wawan
Salam kenal untuk Lulu 💪✍️
Wawan
Waow /Toasted/
Myz Pena: ini karya pertama ku,, mohon selalu dukungannya ya... dan mari kita saling mendukung 🥹❤️❤️❤️❤️
total 1 replies
ciber ara
makin suka sama ceritanya
semangat thor
Myz Pena: mohon dukungannya ya,, jalan ceritanya akan tetap mendebarkan hanya saya menyesuaikan bab2 sebelumnya karena terlalu panjang..terimah kasih sudah memberi banyk dukungan 🥹❤️❤️
total 2 replies
Anisa Nur Afifah
haii kak mampir lagi nih aku, semangat yaa . jngan lup mampir lagi di novelku🥰
Myz Pena: siap 🤩🤩
total 2 replies
Myz Pena
terimah kasih 😍❤️❤️❤️
Anisa Nur Afifah
seruu banget kaa, aku balik lagiii nih🥰
ciber ara
lnjut💪
Myz Pena: siap, updatenya setiap hari ya.. 😍
total 1 replies
Nisaicha
wah menarik kak ada visualnya juga 😍
jadi penasaran nih lanjut baca..
Myz Pena: di tunggu ya... updatenya tiap hari 😍
total 1 replies
Anisa Nur Afifah
lanjut kakkk
Myz Pena: terimah,, kasih ❤️❤️
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!