NovelToon NovelToon
Diusir Mertua, Ternyata Pewaris Konglomerat

Diusir Mertua, Ternyata Pewaris Konglomerat

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Menantu Pria/matrilokal / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:7k
Nilai: 5
Nama Author: Ardana Bayu

"Arya Suryanegara — menantu miskin yang diusir dari rumah mertua tanpa sepeser pun. Dicaci, dihinakan, diperlakukan bagai sampah selama tiga tahun.

Tapi semua orang salah besar.

Arya adalah pewaris tunggal Keluarga Suryanegara, konglomerat terkuat di Indonesia dengan aset ratusan triliun. Perusahaan terbesar di kota itu? Miliknya. Mantan Kapten Kopassus dengan kemampuan bela diri mematikan? Itu dia. Otak bisnis jenius yang bisa menghancurkan perusahaan saingan dengan satu telepon? Juga dia.

Sekarang penyamarannya berakhir. Yang pernah menghinanya akan berlutut. Yang berani menyentuh orang-orangnya akan hancur — secara bisnis, secara hukum, secara total.

Menantu miskin? Tidak. Pewaris triliunan yang kembali untuk mengambil tahtanya."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ardana Bayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 21

Bab 021: Strategi Baru Arya

Pukul empat pagi, lampu ruang kerja Rumah Bukit masih menyala.

Di luar jendela, Kota Awan belum sepenuhnya bangun. Kabut tipis menggantung di lereng bukit, menutup pepohonan seperti kain basah. Di dalam ruangan, Arya Suryanegara duduk seorang diri di depan tiga layar yang tidak terhubung ke internet.

Hard disk peninggalan Lestari Wijayanti berada di sebelah keyboard.

Tidak ada suara selain kipas laptop, detak jam dinding, dan sesekali bunyi pendek dari perangkat enkripsi.

Folder Restricted akhirnya terbuka.

Arya tidak langsung tersenyum.

Ia justru diam cukup lama.

Di layar pertama, daftar aset bergerak turun perlahan: perusahaan tambang di Kalimantan, saham minoritas di perusahaan energi Asia Tenggara, hak opsi lahan pelabuhan di Timur Tengah, kepemilikan melalui yayasan keluarga di Eropa, dan beberapa kendaraan investasi yang menggunakan struktur rumit.

Di layar kedua, ada bagan.

Bukan bagan perusahaan biasa.

Itu peta kekuasaan Keluarga Suryanegara.

Setiap cabang keluarga, setiap tetua, setiap orang kepercayaan, setiap perusahaan cangkang, setiap rekening yang pernah menerima dana mencurigakan, semuanya tersusun seperti peta perang. Nama Prabu Suryanegara berada di tengah, dikelilingi garis merah, kuning, dan hitam.

Di bawahnya ada catatan tulisan Bagaskara.

Jika Arya membaca ini, berarti aku gagal pulang tepat waktu.

Jangan percaya kursi. Percaya aliran uang.

Arya menatap kalimat itu.

Untuk pertama kalinya sejak membuka hard disk, dadanya terasa sesak.

"Ayah," gumamnya, "kamu benar-benar menyiapkan semuanya."

Ia membuka satu dokumen lain. Judulnya pendek: Titik Lemah.

Di dalamnya bukan gosip murahan. Tidak ada fitnah. Semua berupa data: pinjaman rahasia, transaksi vendor yang dilebihkan, pengalihan aset ke nama menantu, konflik anak perusahaan, riwayat komunikasi dengan broker luar negeri.

Satu per satu, wajah para tetua yang selama ini hanya ia kenal dari ruang rapat keluarga mulai berubah menjadi angka, bukti, dan pola.

Prabu kuat, tetapi tidak bersih.

Galang berisik, tetapi kosong.

Beberapa tetua takut kehilangan uang lebih dari takut kehilangan nama baik.

Beberapa lagi diam karena selama puluhan tahun ikut menikmati sistem yang sama.

Arya mengambil pena hitam dan menandai tiga nama.

Bukan untuk dihancurkan hari ini.

Untuk dipisahkan lebih dulu.

Perang keluarga tidak dimenangkan dengan satu pukulan. Perang keluarga dimenangkan dengan membuat orang yang dulu duduk di meja yang sama mulai takut melihat gelas minum masing-masing.

Pintu diketuk pelan.

"Masuk."

Pak Satria masuk membawa kopi hitam dan map tipis.

"Anda belum tidur, Tuan Muda."

"Tidur bisa menunggu."

Pak Satria meletakkan kopi di samping keyboard. Matanya jatuh ke layar, lalu mengeras.

"Ini..."

"Peta perang Ayah."

Pak Satria menahan napas. "Pak Bagaskara bahkan mencatat cabang Kota Purnama."

"Bukan hanya mencatat." Arya mengetuk salah satu kolom. "Ia tahu siapa yang menyimpan uang Prabu, siapa yang hanya ikut takut, dan siapa yang bisa dipaksa netral tanpa membuat perang terbuka."

"Itu berarti posisi kita berubah."

"Tidak lagi bertahan."

Pak Satria menunduk kecil. "Perintah Anda?"

Arya menulis tiga instruksi di kertas kosong.

Pertama, seluruh aset Prima yang bersentuhan dengan keluarga harus dibuat berlapis. Tidak ada jalur langsung ke namaku.

Kedua, Dewi harus mendapat salinan ringkas tentang titik lemah Galang, hanya bagian yang bisa dipakai di Takdir.

Ketiga, cari firma forensik keuangan yang tidak pernah bekerja untuk Suryanegara.

Pak Satria membaca cepat.

"Tidak memakai jaringan lama?"

"Jaringan lama bisa bocor. Prabu tahu terlalu banyak."

"Baik, Tuan Muda."

Arya menutup folder Restricted dan memindahkan salinan terenkripsi ke dua perangkat berbeda. Satu masuk ke brankas mekanik di balik rak buku. Satu lagi dimasukkan ke amplop logam kecil.

"Kirim yang ini ke Swiss melalui jalur Prima. Jangan lewat kargo biasa."

"Saya mengerti."

Ketika Pak Satria hendak keluar, Arya berdiri.

"Satu lagi."

Pak Satria berhenti.

"Mulai hari ini, semua orang di villa berganti jadwal tiap dua hari. Juru masak, sopir, teknisi kolam, petugas kebun. Jangan ada rutinitas yang bisa dipelajari."

"Setelah serangan kemarin malam, saya sudah menyiapkan daftar pengganti."

"Bagus."

Pak Satria memandangnya sejenak. "Tuan Muda, boleh saya bertanya?"

"Tanya."

"Anda marah?"

Arya melihat layar gelap yang kini memantulkan wajahnya sendiri.

"Aku sudah melewati fase marah."

"Lalu sekarang?"

"Sekarang aku menghitung."

Pak Satria tidak menjawab. Ia tahu, bagi seorang Arya Suryanegara, kalimat itu lebih berbahaya daripada teriakan.

Pukul enam pagi, Arya masuk ke gym pribadi di sisi timur villa.

Tiga tahun di Rumah Besar Permata tidak membuatnya lemah, tetapi tubuhnya tidak lagi setajam saat ia menjalani pelatihan paling keras bersama jaringan militer. Hari-hari mencuci piring, membawa belanjaan, dan tidur di kamar sempit membuatnya bertahan. Bukan berkembang.

Sekarang ia tidak boleh sekadar bertahan.

Ia mulai dengan lari di treadmill, dua belas kilometer tanpa berhenti.

Keringat jatuh ke lantai.

Setelah itu samsak berat.

Pukulan pendek.

Siku.

Lutut.

Gerakan masuk, keluar, berputar.

Tidak ada gerakan indah. Semua langsung, kotor, efisien.

Ia lalu berlatih dengan pistol latihan tanpa peluru, mengulang transisi tangan kanan dan kiri di depan cermin. Setiap gerakan dihitung. Setiap kesalahan kecil diulang sampai hilang.

Tubuhnya mulai mengingat.

Bahunya panas. Napasnya berat. Telapak tangannya perih.

Namun matanya semakin tenang.

Pak Satria berdiri di pintu gym hampir satu jam kemudian.

"Tuan Muda."

Arya menurunkan handuk dari leher. "Ada apa?"

"Bu Dewi menghubungi. Mendesak."

Arya mengambil ponsel terenkripsi.

Suara Dewi terdengar tanpa pembuka.

"Arya, Keluarga Wicaksana meminta bantuan."

Arya mengambil napas pelan. Wicaksana. Salah satu dari Empat Keluarga Besar. Mereka jarang meminta apa pun kepada orang luar.

"Masalah apa?"

"Soedirman Wicaksana sakit parah. Dokter keluarga mereka tidak menemukan penyebab pasti. Andini yang pertama menghubungiku karena Nayla Wicaksana panik."

"Nayla?"

"Cucu kesayangan Soedirman. Teman dekat Andini. Mereka butuh tim medis terbaik, terutama ahli toksikologi. Aku sudah mengatakan kau punya akses ke jaringan medis Prima."

Arya menyeka keringat di rahangnya. "Kamu sudah merekomendasikanku sebelum bertanya?"

"Aku tahu kau akan menerima."

"Percaya diri sekali."

"Aku kakakmu."

Arya hampir tersenyum.

Dewi melanjutkan, suaranya turun. "Ini bukan sekadar sakit, Arya. Kalau Soedirman jatuh, keseimbangan Empat Keluarga Besar berubah. Prabu bisa memanfaatkan kekosongan itu."

Arya menatap peta kekuasaan yang baru saja ia baca di ruang kerja.

Ayahnya menulis satu kalimat di dokumen itu: Jika Wicaksana goyah, Suryanegara akan digiring ke perang yang lebih besar.

"Kirim alamat lengkapnya."

"Andini akan menjemputmu."

"Tidak perlu. Aku datang sendiri."

"Dia sudah di jalan."

Arya terdiam.

Dewi tertawa kecil. "Kau tidak bisa mengendalikan semua perempuan kuat di sekitarmu, Dik."

"Aku mulai menyadarinya."

Telepon terputus.

Beberapa menit kemudian, pesan dari Andini masuk.

Mas Arya, maaf mendadak. Ini tentang keluarga sahabat saya. Saya tahu Anda sibuk, tapi saya tidak tahu harus meminta tolong kepada siapa lagi.

Arya membaca pesan itu sekali.

Lalu ia membalas singkat.

Aku berangkat.

Di luar, matahari mulai naik dari balik bukit.

Pak Satria sudah menyiapkan mobil.

"Ke Rumah Besar Wicaksana, Tuan Muda?"

Arya mengambil jaket gelap dari kursi.

"Ya."

Ia berhenti di ambang pintu, menoleh ke arah ruang kerja tempat hard disk ibunya tersimpan.

Malam tadi, ia mendapat peta perang.

Pagi ini, perang itu memberi pintu baru.

"Hari ini," katanya pelan, "kita lihat siapa yang sedang mencoba meracuni salah satu pilar negeri ini."

1
Riski Channel
mantap
Riski Channel
cerita bagus sayang orang pada tidak tahu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!