NovelToon NovelToon
Mendadak Jadi Simpanan Tuan Douglas

Mendadak Jadi Simpanan Tuan Douglas

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Obsesi / Transmigrasi
Popularitas:8.5k
Nilai: 5
Nama Author: riri-can

WARNING!! HANYA UNTUK DEWASA!!

Cecilia tidak menyangka, baru saja pindah jiwa ke tubuh wanita lain malah terjebak jadi simpanan Tuan Douglas yang dingin.

Cecilia pun berpikir untuk bisa kabur dari jeratan Tuan Douglas, semakin Cecilia menjauh maka semakin kuat juga Tuan Douglas ingin memilikinya.

"Kau hanya milikku sayang, sampai kapanpun akan tetap menjadi milik ku!" Douglas

"Enak saja! Lebih baik aku mati saja daripada jadi simpanan!" Cecilia

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riri-can, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pria Tampan Itu Lagi

Suasana di dalam toko bunga siang itu terasa begitu tenang dan menenangkan. Aroma harum mawar segar dan casablanca menguar memenuhi ruangan.

​Di sudut meja kerja, Emily tengah dengan sabar mengajari Cecilia cara merangkai bunga lily putih agar terlihat elegan. Sementara itu, Victor pemuda pengantar barang andalan toko sedang pergi keluar untuk mengantarkan beberapa pesanan buket eksklusif ke sejumlah perusahaan besar di pusat kota seperti biasanya.

​Cecilia mengamati jemari Emily yang bergerak begitu lihai, lincah, dan terampil menyatukan berbagai tangkai bunga dalam sekejap mata. Matanya berbinar-binar penuh kekaguman.

​"Wah, tanganmu mahir sekali, Emily! Hebat banget bisa melahirkan banyak model rangkaian secantik ini. Aku jadi iri melihatnya," puji Cecilia tulus sambil bertepuk tangan pelan.

​Mendengar pujian beruntun dari Cecilia, pipi Emily seketika merona merah jambu karena merasa malu. Usia mereka berdua yang sepantaran, yakni sama-sama menginjak 23 tahun, membuat kedua gadis itu sangat cepat akrab dan klop dalam banyak hal layaknya sahabat lama.

​"Ah, Cecilia bisa saja! Ini cuma masalah jam terbang kok. Kalau kamu rajin latihan, nanti juga bakal terbiasa sendiri," balas Emily manis sambil tersenyum malu-malu.

​Di tengah-tengah obrolan ringan dan gelak tawa kecil di antara mereka, tiba-tiba suara lonceng kecil di atas pintu utama berbunyi nyaring, menandakan adanya seorang pelanggan yang baru saja masuk ke dalam toko.

​Sesuai dengan instruksi dan pembagian tugas dari Nyonya Margaret sang pemilik toko, jika ada pembeli yang datang, maka Cecilia bertugas untuk menyambutnya terlebih dahulu dengan ramah, mencatat jenis pesanan yang diinginkan, lalu Emily yang akan mengambil alih tugas merangkai bunganya.

​Cecilia segera menegakkan tubuhnya, merapikan apronnya sebentar, dan memasang senyuman ramah terbaiknya.

​"Selamat siang! Selamat datang di toko bunga kami, ada yang bisa saya ban—" kalimat Cecilia mendadak terhenti di tengah jalan.

​Bola matanya membelalak lebar. Sosok pria tinggi berwajah tampan dengan raut datar dan dingin yang baru saja melangkah masuk ternyata bukanlah orang asing. Pria itu adalah tetangga satu kos dan satu lantai dengannya, pria yang malam itu sempat memergokinya menangis histeris, menampungnya di kamar, bahkan dibuat repot oleh tingkah konyolnya. Setelah kejadian malam memalukan itu, mereka memang tidak pernah berkesempatan bertemu lagi, entah karena Cecilia yang teramat malu untuk sekadar menyapa, atau karena pria itu memang terlalu malas berurusan dengan wanita yang dianggapnya aneh.

​Melihat kehadiran pria itu, Cecilia refleks mengerjap kaget. Ia lantas memasang senyuman canggung. Namun, seperti kebiasaannya yang dingin, pria itu hanya menatapnya sekilas tanpa membalas senyuman manis Cecilia sedikit pun.

​Melihat respon acuh tak acuh itu, Cecilia kontan sedikit mencemberutkan bibirnya dalam hati.

​"Ih, dasar kulkas berjalan! Apa susahnya membalas senyumanku sedikit saja? Pelit sekali jadi orang!" batin Cecilia sebal setengah mati.

​Kendati demikian, profesionalisme kerjanya langsung mengambil alih. Cecilia menarik napas pendek, menetralkan ekspresinya, lalu kembali menyapa dengan nada sopan.

​"Silakan, Tuan. Ada yang bisa saya bantu? Bunga apa yang sedang Anda cari, dan model rangkaian seperti apa yang Anda inginkan?" tanya Cecilia dengan suara ramah.

​Pria itu terdiam sejenak. Sepasang matanya menatap lekat-lekat ke arah Cecilia, mengamati perubahan drastis pada diri gadis di depannya yang kini tampak begitu rapi mengenakan apron toko, jauh berbeda dari penampilan acak-acakan saat malam penuh air mata tempo hari.

​"Aku... aku sedang mencari rangkaian bunga yang cocok untuk diberikan kepada ibuku," jawab pria itu dengan suara beratnya yang khas, terdengar dingin namun tegas.

"Beliau sedang berulang tahun minggu ini. Aku tidak tahu banyak soal bunga, jadi... bisakah kamu memberikan saran?"

​Mendengar permintaan itu, semangat kerja Cecilia langsung membara. Sifat cerewet dan ramahnya mendadak keluar tanpa bisa ditahan.

​"Oh, tentu saja bisa, Tuan! Pilihan yang sangat tepat sekali!" seru Cecilia antusias. Ia berjalan keluar dari balik meja kasir dan memimpin langkah pria itu mendekati jajaran wadah berisi bunga-bunga segar.

"Kalau untuk hadiah ulang tahun ibu, bunga carnation pink atau mawar peach sangat direkomendasikan karena melambangkan kehangatan, rasa terima kasih, dan kasih sayang yang tulus. Lihatlah yang ini, Tuan, warnanya sangat lembut dan segar!"

​Cecilia menjelaskan setiap detail jenis bunga dengan penuh semangat, gerak-gerik tangannya menunjuk ke sana ke mari menerangkan makna filosofis dari setiap kelopak bunga yang ia tunjukkan.

​Pria itu mengikuti setiap langkah Cecilia dari belakang. Namun, jika diperhatikan lebih jeli, pria tersebut sebenarnya sama sekali tidak fokus mendengarkan penjelasan panjang lebar Cecilia mengenai makna bunga-bunga itu. Pandangan matanya justru terpaku sepenuhnya pada wajah cantik Cecilia yang sedang berbinar-binar penuh semangat, pemandangan yang terasa begitu hidup, jauh berbeda dari pertemuan terakhir mereka yang dipenuhi isak tangis dan keputusasaan.

​Tanpa sengaja, di tengah penjelasan Cecilia, gerak-gerik tangan gadis itu terhenti. Cecilia berbalik badan, dan seketika itu juga netra cokelatnya langsung beradu pandang secara langsung dengan mata tajam sang pria.

​Suasana mendadak menjadi hening. Jantung Cecilia berdetak dua kali lebih cepat dari biasanya. Ada sesuatu yang aneh dan menggelitik menjalar di dadanya saat menatap manik mata pria itu dari jarak dekat. Cecilia segera mengerjap kaget, memutuskan kontak mata lebih dulu, lalu salah tingkah sendiri.

​"Ehm... b-bagaimana, Tuan? Apakah penjelasan saya cukup jelas?" tanya Cecilia salah tingkah, meremas ujung apronnya.

​Pria itu terdiam sedetik, lalu sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis yang sangat nyaris tak terlihat.

​"Baiklah. Aku akan memilih bunga dan modelnya atas saranmu saja, Nona," jawab pria itu dengan suara rendah.

​"Ah, baiklah kalau begitu! Silakan tunggu sebentar ya, Tuan. Saya akan meminta rekan saya untuk merangkainya sekarang juga!" ujar Cecilia cepat.

​Ia langsung membawa beberapa tangkai pilihan itu ke meja Emily. "Emily, tolong buatkan buket dari bunga-bunga ini ya khusus untuk pelanggan kita di depan. Konsepnya hangat dan elegan untuk hadiah ulang tahun ibu."

​"Siap, Cecilia!" balas Emily riang, langsung bekerja dengan cekatan.

​Waktu berlalu sekitar lima belas menit lamanya. Selama menunggu, pria itu berdiri di dekat etalase kaca, sesekali melirik ke arah Cecilia yang sedang sibuk merapikan beberapa pita hias di meja kerjanya yang lain.

​"Ini pesanan Anda sudah selesai, Tuan!" seru Emily ramah sambil menyerahkan buket bunga berukuran sedang yang terbungkus kertas kraft cokelat estetis dengan pita satin emas yang melilit cantik di bagian pegangannya.

​Cecilia lantas mendekat untuk menyerahkan buket tersebut secara langsung kepada sang pelanggan.

​"Terima kasih banyak ya, Tuan, karena sudah mampir dan berbelanja di toko bunga kami. Semoga ibunda Anda menyukai rangkaian bunganya, dan Selamat Ulang Tahun untuk beliau!" ucap Cecilia dengan senyuman ramah tulusnya.

​Pria itu menerima uluran buket bunga tersebut dengan satu tangannya. Ia menatap Cecilia lekat-lekat untuk sekian detik sebelum akhirnya ia berbalik melangkah menuju pintu keluar toko.

​Namun, tepat sebelum tangannya mendorong pintu kaca, pria itu menghentikan langkahnya. Ia menolehkan sedikit kepalanya ke belakang, menatap Cecilia dengan sorot mata yang sulit diartikan.

​"Ngomong-ngomong, Nona..." ucap pria itu dengan suara beratnya yang khas.

"Kamu jauh lebih cocok berpenampilan seperti ini dan tersenyum cerah, daripada menangis histeris seperti terakhir kali kita bertemu di lorong kos."

​Selesai melontarkan kalimat tersebut, pria itu langsung mendorong pintu dan melangkah pergi keluar toko, meninggalkan keheningan sesaat di dalam ruangan.

​Cecilia berdiri mematung di tempatnya. Wajahnya seketika merona merah padam hingga ke kedua telinganya.

​"Dia... dia baru saja mengejekku secara halus, ya?!" batin Cecilia menjerit histeris dalam hati, merasa malu luar biasa karena pria itu masih mengingat jelas momen memalukan di malam itu.

​Emily yang berdiri di sampingnya menyenggol pelan lengan Cecilia sambil tersenyum menggoda.

"Hei, Cecilia... siapa pria tampan itu? Pelanggan baru? Tatapannya tadi sewaktu bicara denganmu kelihatan berbeda lho!"

​"Mana ada! Dia cuma tetangga satu kos ku yang tidak sengaja pernah melihatku berantakan!" elak Cecilia buru-buru, mengibas-ngibaskan tangannya dengan salah tingkah.

​Hingga detik itu, bahkan sampai pria misterius tersebut pergi meninggalkan toko, mereka berdua sama sekali belum berkenalan secara resmi. Cecilia merasa terlalu segan dan malu untuk sekadar menanyakan nama asli sang pria tampan. Ia hanya bisa menghela napas panjang, berharap takdir tidak lagi mempertemukan mereka dalam situasi yang memalukan di masa depan.

Bersambung...

1
Mita Paramita
lanjut Thor 🔥🔥🔥
Potatoes 🥔
Clingy banget 😒
Potatoes 🥔
Makanya, komunikasi yang bener😒
partini
mau kabur kemana mending ga usah lah nanti ketemu lagi percuma aja
Mia Camelia
seneng nya ngliat mereka berdua akur2 jom and jerry🤣🤣🤣🤣
Mia Camelia
coba dari dulu doghlas bersikap manja ky bgini, pasti cecil gk bakal kabur🤣🤣🤣
Mia Camelia
waduh jangan2 doughlas udah berubah nih jadi greenflag🤔🤔🤔
ati2 cecil🤭🤭🤭
Mia Camelia
akhir nya cecilia udah semangat lgi🤭🤭🤭
ati2 doughlas klo cecilia kabur🤣🤣🤣🤣
Mita Paramita
douglas terlalu kejam
Mia Camelia
kalo sama2 susah berkomunikasi ky gini, kasian cecilia nya😔😔😔
thor plis kasih doughlas pelajaran dong,jdi gemes nih🤣🤣🤣🤣
It's me Ri🥕: Tentunya kita kasih pelajaran, cuma kan ga mungkin langsung masuk kesitu kak, bentar lagi konflik kok dan Douglas nyesel😁 Ditunggu yaaa
total 1 replies
partini
kaya rollercoaster mereka berdua
mungkin methong kedua kali cil baru bebas
Alissia
awas nanti cilcila hamil🤭🤭😖😖
Alissia: hamil thor tapi sama Dougles di paksa anu anu sampek keguguran cilcilanya😢😢
total 2 replies
Alissia
kok gak peka sih Dougles tak getok palamu🤭🤭
Alissia
apa Douglas punya ke pribadian ganda 🤔🤔🤭🤭
Alissia
bayi tuanya mimik cucu 🤣🤣
Alissia
kayaknya Douglas udah jatuh cinta sama Ciilcila tapi gengsi mau menggungkapkan🤭🤭
Alissia
awas bucin Douglas🤭🤭🤭
Dewi Anggraeni
Lanjutttt
Dewi Anggraeni
lanjut
Dewi Anggraeni
lanjutttt
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!