Naya Aurelia hanya ingin menjalani tahun terakhirnya di SMA dengan tenang. Sayangnya, ayahnya justru membuat keputusan gila: menikahkannya dengan anak sahabatnya. Lebih buruk lagi, calon suaminya adalah Arka Pradipta, ketua OSIS sekaligus laki-laki yang paling Naya benci. Demi menjaga reputasi keluarga, pernikahan itu harus dirahasiakan sampai mereka lulus sekolah. Setiap hari mereka bertengkar karena hal-hal sepele, saling menjahili, bahkan berlomba membuat satu sama lain kesal. Namun, ketika orang lain mulai mendekati Naya, Arka mendadak berubah posesif. Begitu pula Naya yang mulai merasa tidak nyaman melihat Arka bersama gadis lain. Tanpa mereka sadari, kebencian perlahan berubah menjadi perasaan yang jauh lebih berbahaya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Secret A, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 9 — RENO DATANG
Pagi hari di SMA Garuda Bangsa selalu dimulai dengan riuh suara langkah sepatu, bunyi bel koridor, dan gosip yang berhembus cepat di kantin. Namun bagi Naya, jam pelajaran Bahasa Indonesia di Selasa pagi ini berubah menjadi sedikit lebih berwarna karena kehadiran seorang murid pindahan baru—atau lebih tepatnya, teman lama yang kembali.
"Anak-anak, kenalkan, ini Reno Sanjaya. Dia baru pindah dari Bandung dan mulai hari ini resmi bergabung dengan kelas 12 IPS 2," ujar Pak Wahyu di depan kelas.
Seorang laki-laki berpostur tinggi dengan senyum ramah yang terkembang lebar melambaikan tangannya ringkas. Gaya bicaranya yang santai dan potongan rambutnya yang sedikit berantakan tapi keren langsung menarik perhatian beberapa siswi di barisan depan.
"Halo semuanya, salam kenal. Semoga kita bisa berteman baik ya," kata Reno singkat namun penuh percaya diri.
Mata Naya berbinar. "Reno? Reno yang anak kompleks lama itu?!"
Reno yang mendengarnya langsung memalingkan wajah ke arah Naya. Senyumnya kian melebar. "Naya? Gila, lo sekolah di sini juga?! Wah, dunia sempit banget!"
Pak Wahyu menepuk tangannya pelan. "Sudah, sudah. Reuninya nanti pas istirahat. Reno, kamu duduk di meja kosong di sebelah kanan Naya ya. Dan sekalian, karena minggu ini ada tugas kelompok analisis karya sastra, kalian berdua langsung satu tim saja."
"Siap, Pak! Keputusan paling mantap ini mah!" sahut Reno antusias sambil berjalan menghampiri mejanya.
Saskia menyenggol lengan Naya dengan ekspresi penuh selidik. "Siapa tuh, Nay? Kok lo keliatan kenal banget? Ganteng juga, senyumnya manis lagi. Nggak kaku kayak es batu."
"Teman masa kecil gue pas masih SD di kompleks lama," bisik Naya riang. "Dia anaknya seru banget, beda seratus delapan puluh derajat sama si ketua OSIS robotik itu!"
Sepanjang jam pelajaran, suasana kelas 12 IPS 2 terasa jauh lebih hidup bagi Naya. Reno bukan tipe cowok yang suka memerintah atau bicara memakai aturan formal. Laki-laki itu humoris, pandai melontarkan lelucon ringan, dan sering membuat Naya tertawa lepas tanpa beban.
Saat bel istirahat berbunyi, Naya dan Reno berjalan bersama menyusuri koridor utama menuju perpustakaan untuk mencari buku referensi tugas kelompok mereka. Naya tertawa terbahak-bahak mendengar cerita Reno tentang kejadian konyol yang dialaminya waktu pertama kali tiba di Jakarta.
"Serius lo, Ren?! Masa lo salah masuk angkot gara-gara warnanya mirip?" tanya Naya sambil memegangi perutnya yang geli.
"Beneran, Nay! Gue udah duduk manis sepuluh menit, tau-taunya malah dibawa ke terminal bus," balit Reno sambil tertawa renyah. Tangan Reno refleks bergerak mengacak-acak rambut Naya pelan—sebuah kebiasaan lama mereka sewaktu kecil. "Lo nggak berubah ya, tetap aja gampang tertawa kayak dulu."
Naya menyunggingkan senyum lebar, membiarkan Reno mengacak rambutnya tanpa rasa canggung.
Namun, Naya tidak menyadari bahwa sekitar sepuluh meter di ujung koridor berseberangan, ada sepasang mata yang mengawasi interaksi mereka dengan intensitas yang sangat tajam.
Arka berdiri di dekat mading sekolah, memegang beberapa lembar pengumuman OSIS. Tangannya yang memegang kertas mendadak berhenti bergerak. Manik matanya terkunci rapat pada tangan Reno yang baru saja menyentuh kepala Naya—dan bagaimana Naya tersenyum begitu lepas pada cowok baru itu.
Sebuah pemandangan yang tak pernah Arka lihat saat Naya bersamanya. Saat bersama Arka, Naya selalu memasang wajah galak, cemberut, atau berteriak kesal.
"Ehem."
Dito yang berdiri di samping Arka sambil memegang solasi bening menoleh pada sahabatnya. Ia memperhatikan arah pandang Arka, lalu menyunggingkan senyum jahil yang penuh makna.
"Itu anak baru kelas IPS 2 ya? Siapa namanya... Reno kalau nggak salah," goda Dito santai. "Cakep juga sih, ramah lagi. Baru sejam sekolah udah akrab banget sama Naya. Kelihatan cocok ya mereka?"
Arka tidak menjawab. Ia kembali menempelkan kertas pengumuman ke mading dengan gerakan yang sedikit lebih keras dari biasanya. Puk!
"Kertasnya bisa robek, Pak Ketua," kekeh Dito. "Lo kenal tuh cowok?"
"Nggak," jawab Arka singkat, suaranya sedingin es di kutub.
"Ooh, gue pikir kenal. Tapi raut muka lo kok berubah gitu? Kenapa? Cemburu ya lo?" pancing Dito terang-terangan.
Arka menghentikan kegiatannya. Ia memutar tubuhnya, menatap Dito dengan pandangan tajam tanpa kedip. "Cemburu? Sama siapa? Naya?"
"Ya iyalah, siapa lagi cewek yang dari tadi lo perhatiin sampai kertas mading hampir bolong begitu?"
Arka mendengus sinis, merapikan lengan seragamnya. "Nggak ada alasannya saya cemburu sama Naya. Dia itu cuma cewek pemicu masalah yang kebetulan..." Arka menelan kembali kata istri yang hampir meluncur bebas dari lidahnya, "...kebetulan satu sekolah sama kita. Saya cuma memperhatikan karena Reno itu murid baru. Jangan sampai dia terpengaruh kebiasaan buruk Naya yang suka melanggar aturan."
"Masa sih? Alasan lo rapi banget kayak dokumen sekretariat," kekeh Dito sambil menggeleng-gelengkan kepala. "Tapi jujur ya, Ka... Naya kalau lagi senyum tulus gitu manis juga. pantesan Reno nempel terus."
Arka tidak membalas lagi. Ia merebut isolasi bening dari tangan Dito dengan kasar, lalu berjalan meninggalkan area mading tanpa memedulikan panggilan Dito.
Sore harinya, saat jam pulang sekolah, Arka terbukti tidak bisa menyembunyikan rasa terganggunya.
Di dalam mobil hitam milik keluarga Pradipta yang terparkir dua blok di luar area sekolah—tempat biasa mereka bertemu secara rahasia—suasana di dalam kabin terasa sangat mencekam. Arka memasang sabuk pengamalnya dengan gerakan sentakan keras, lalu menekan pedal gas tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
Naya yang duduk di kursi penumpang samping pengemudi mengernyit bingung. Udara di dalam mobil terasa begitu berat.
"Lo kenapa sih?" tanya Naya akhirnya, memecah keheningan. "Muka ditekuk terus dari tadi. Rapat OSIS gagal lagi?"
Arka tetap menatap lurus ke jalan raya di hadapannya. Tangannya mencengkeram kemudi dengan begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih.
"Siapa cowok tadi?" tanya Arka datar, tanpa menoleh.
"Cowok? Cowok yang mana?"
"Yang di koridor tadi siang. Yang mengacak-acak rambut kamu."
Naya membelalakkan matanya kaget, lalu tertawa kecil karena tidak percaya. "Oalah! Reno? Dia murid baru di kelas gue. Teman masa kecil gue dulu sewaktu SD!"
"Teman masa kecil bukan berarti dia bisa seenaknya pegang-pegang kepala kamu di depan umum," balasan Arka terdengar sangat tajam dan penuh penekanan.
Naya menaikkan sebelah alisnya, memiringkan tubuhnya menghadap Arka. "Lah? Kenapa lo yang sewot? Cuma usap kepala doang kok! Lagian kita udah biasa bercanda gitu dari dulu."
"Ingat aturan nomor empat di perjanjian kita, Naya," potong Arka dingin. "Dilarang mencampuri urusan pribadi atau lawan jenis yang bisa memicu gosip di sekolah. Kamu itu cewek. Dilihat orang banyak bercanda berlebihan sama cowok baru bisa bikin citra kamu jelek."
"Citra gue emang udah jelek dari dulu di mata lo!" sembur Naya tak mau kalah. "Lagian Reno itu ramah, nggak kayak lo yang kaku dan galak! Kenapa sih lo musti masalahin hal sepele gini? Jangan-jangan..."
Naya menggantung kalimatnya, menyunggingkan senyum mengejek yang provokatif. "...lo cemburu ya?"
Sret!
Arka mendadak menginjak rem agak keras di depan lampu merah, membuat tubuh Naya sedikit terdorong ke depan.
Arka memutar kepalanya, menatap Naya lurus-lurus dari jarak yang sangat dekat. Pandangan matanya begitu pekat dan intens hingga membuat tawa mengejek di bibir Naya perlahan padam.
"Cemburu?" suara Arka merendah, bernada berbahaya. "Saya? Cemburu sama cowok yang baru sehari pindah?"
"Y—ya kalau enggak cemburu, ngapain lo marahi gue cuma gara-gara Reno?!" bisik Naya gelagapan, mendadak merasa gugup di bawah tatapan tajam itu.
"Saya cuma mengingatkan status kamu," jawab Arka pelan namun menusuk hingga ke ulu hati. "Di atas kertas, kamu itu istri saya. Dan saya nggak suka melihat barang milik saya diperlakukan sembarangan oleh orang lain."
Barang milik saya.
Tiga kata itu meluncur mulus dari bibir Arka, bergema di dalam kepala Naya bagaikan dentuman meriam. Jantung Naya melompat liar tak terkendali. Pipinya merona merah padam dalam hitungan detik.
Sebelum Naya sempat membalas atau memprotes kata "barang" tersebut, Arka sudah kembali mengalihkan pandangannya ke jalanan dan menekan pedal gas saat lampu berubah hijau, meninggalkan Naya yang terpaku seribu bahasa di sampingnya.