Altair seorang eksekutor miskin di rumah Andrea's. Motifnya untuk balas dendam kepada kepala keluarga itu karena sudah menghilangkan nyawa kedua orang tuanya. Tapi dia malah jatuh cinta kepada anak kesayangan keluarga itu membuatnya dijebak dan mati di tangan mereka.
Dia di beri kesempatan kedua untuk tidak menjadi bodoh dan jatuh cinta. Di kehidupan ini dia menuntaskan dendamnya. Dan siapa sangka dia malah berhubungan dengan anak angkat keluarga itu, Aquilla.
Akankah dendamnya terbalaskan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ladies_kocak, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13 : Terlalu berharap
Di meja kayu reot, ada dua piring nasi, tumis kangkung, dan telur dadar yang sudah dingin. Masakannya. Sederhana. Satu-satunya yang ia bisa.
Pintu kamar mandi akhirnya terbuka. Aquilla keluar dengan wajah segar, rambut masih meneteskan air. Kaos kebesaran Altair yang ia pakai sebagai baju tidur menempel di bahunya. Ia tidak menatap Altair. Langsung duduk bersila di depan meja, mengambil piring.
Altair ikut duduk. Mereka makan dalam diam. Hanya suara sendok beradu dengan piring. Aturan Altair memang begitu sejak hari pertama menikah: kalau makan, tidak boleh bicara. Katanya, biar menghargai makanan.
Aquilla tahu. Dan biasanya, dia yang paling tidak tahan. Lima menit diam, mulutnya sudah gatal. Tapi malam ini, dia justru menikmati keheningan itu. Karena kalau dia buka suara, dia tidak yakin kapan bisa berhenti.
Selesai satu piring, Aquilla yang lebih dulu menyerah pada sunyi. Ia meletakkan sendok keras-keras.
“Gue mau pindah fakultas,” katanya tiba-tiba.
Tangan Altair yang sedang menuang air ke gelas terhenti. Alisnya bertaut. “Pindah ke mana?”
“Dari hukum ke seni. Atau desain. DKV, mungkin.” Aquilla menatap nasi sisa di piringnya. “Gue capek.”
Altair menaruh teko. “Kenapa tiba-tiba? Dulu, lo yang bilang mau jadi pengacara. Kalau nggak suka hukum, kenapa masuk dari awal?”
Aquilla tertawa. Pendek. Pahit. “Karena gue dipaksa, Al. Sama Mama sama Papa angkat gue.” Ia menengadah, menatap langit-langit yang mengelupas. “Gue rela ninggalin hobi gue. Rela nggak pegang pensil setahun. Rela nilai gambar gue di rapor SMA cuma jadi pajangan. Semua demi mereka senang. Demi mereka bisa pamer ke kolega, ‘Anak saya calon pengacara’.”
Altair diam. Ia tidak tahu harus merespons apa. Keluarga angkat memang sangat keterlaluan membunuh mental Aquilla. Pernikahan mereka juga bukan karena cinta.
“Terserah lo,” kata Altair akhirnya. Nada bercanda, tapi matanya serius. “Asal jangan repotin gue.”
Aquilla malah nyengir. Senyum pertama setelah matanya sembap. “Tahu aja lo.”
“Jangan minta aneh-aneh. Gue bukan cowok kaya,” Altair memperingatkan, sudah bisa menebak.
“Bolehin nggak... beliin gue tablet menggambar? Sama laptop juga,” kata Aquilla, cepat. Sebelum Altair protes, ia menambahkan, “Trus pasang Wi-Fi!” Disertai wajah memohon paling dramatis yang ia punya.
Altair mendengus. Disandarkannya punggung ke kursi. “Iya, gue beliin. Tablet,” tekannya. “Asal lo serius kali ini. Lo harus lulus dengan nilai terbaik. Jangan kayak kemarin, ke kampus cuma buat nongkrong di kantin sama cabut pas jam kosong.”
Mata Aquilla membulat. “Gue pengen serius, kok! Sumpah! Gue mau kaya. Mau dapet duit banyak dari gambar gue. Biar nggak ngerepotin lo terus.”
“Besok gue beliin tablet,” putus Altair. “Soal laptop, lo bisa pakai punya gue dulu. Dan Wi-Fi...” Ia menggantung kalimatnya, sengaja.
Aquilla menahan napas. Berharap-harap cemas.
“Beli voucher di rumah Bu RT, ujung gang. Sinyalnya sampai ke sini, kok,” lanjut Altair datar.
Senyum Aquilla langsung luntur. Ia mendecak pasrah. “Pelit banget sih lo!” sarkasnya, kesal.
“Bukan pelit, Illa,” Altair menggeleng. “Lo tahu sendiri, bukan lo aja yang butuh duit gue. Ada ke tempat lain.”
“Iya... Altair si cowok murah hati,” ejek Aquilla. Tangannya menopang dagu. Matanya menyipit curiga sekaligus penasaran. Ke tempat lain? Benar nih Altair punya anak di luar sana.
“Lo masih suka Ruby?” tanyanya, tiba-tiba mengubah topik.
Gerakan Altair membereskan piring terhenti sepersekian detik. Lalu lanjut lagi. “Nggak ada komentar. Urus aja hidup lo.”
Aquilla mendengus. Kapan sih Altair lembut kalau bicara sama dia? Dari dulu sampai sekarang, nadanya selalu datar, kayak tembok.
“Iya... nggak bakal urus lagi,” kata Aquilla, suaranya melemah. “Tapi lo mau kan urus hidup gue?”
“Mandiri,” jawab Altair singkat. Ia berdiri, membawa piring kotor ke bak cuci.
“Nggak bisa,” Aquilla ikut berdiri, mengekor. “Gue butuh seseorang. Dan seseorang itu lo. Kalau gue masukin lo ke daftar orang terpenting gue, boleh?”
Tangan Altair yang sedang menyabuni piring berhenti. Punggungnya menegang. Pertanyaan itu... terlalu jujur. Terlalu berbahaya untuk pernikahan tanpa cinta seperti mereka.
Altair tidak mau Aquilla terus bergantung padanya. Takut, kalau suatu hari jalan mereka beda, Aquilla yang hancur sendiri. Tapi di sisi lain, dia juga tidak mungkin mengabaikan istrinya. Tanggung jawab. Itu saja.
“Nggak mau ya, Al? Gue ngerepotin lo, ya?” suara Aquilla terdengar kecil dari belakangnya.
Altair membalik badan. Aquilla menunduk, memainkan ujung kaos kebesaran yang ia pakai. “Gue janji bakal berubah. Nggak manja. Nggak ngerepotin lagi. Kasih gue waktu.”
Altair menghela napas. Diletakkannya piring yang setengah bersih. “Gue nggak bisa janji apa-apa, Illa. Kita jalanin aja. Lagian gue pasti tanggung jawab atas hidup lo... selama lo jadi istri gue.”
Aquilla mengangkat kepala. Matanya berkaca-kaca lagi. “Suatu saat lo mau ceraiin gue, ya?” tanyanya sendu.
“Tentu saja,” jawab Altair tanpa ragu. Jujur itu menyakitkan, tapi lebih baik daripada memberi harapan palsu. “Kalau suatu saat kita ketemu sama orang yang bener-bener kita cintai.”
Hening. Hanya suara tetesan air dari keran yang bocor.
“Kalau... kalau gue mau berharap sama lo, boleh?” bisik Aquilla. Suaranya bergetar.
Altair terdiam. Lama. Perasaannya ke Aquilla saat ini murni karena status. Tanggung jawab suami ke istri. Tidak lebih. Dia tidak mau Aquilla salah arti.
“Jangan berharap,” dua kata itu akhirnya keluar dari mulut Altair. Dingin. Final.
Tanpa menunggu reaksi, Altair berbalik, mengambil jaket kulitnya yang tergantung di balik pintu dan kunci Ducati dari meja.
Aquilla tersentak. “Lo mau ke mana malem-malem?”
“Gue ada urusan kerjaan,” jawab Altair singkat sambil pakai sepatu. “Lo di rumah aja.”
Hati Aquilla mencelos. Masa iya di tinggal sendiri?
“Oh...” hanya itu yang keluar dari mulut Aquilla. Padahal dadanya berisik. _Takut. Jangan pergi. Gue takut sendirian._
“Jangan buka pintu ke orang yang nggak lo kenal,” pesan Altair sebelum melangkah keluar. Pintu dibanting pelan.
Suara Ducati meraung, lalu menghilang di ujung gang becek.
Aquilla berdiri di tengah kamar. Sendirian. Lampu kuning 5 watt berpendar redup. Di luar, hujan rintik lagi.
_“Benar, Illa. Lo nggak boleh kepedean. Mulai sekarang lo harus belajar mandiri,”_ batinnya, menirukan nada Altair. Ia memeluk dirinya sendiri.
Tapi detik berikutnya, bayangan Bian muncul. Tubuh kurus. Lebam di pelipis. Kanker darah stadium akhir.
Dan tiba-tiba, takutnya hilang. Digantikan sesuatu yang panas di dadanya.
Aquilla berjalan ke jendela, menyibak gorden lusuh. "Kehidupan nggak ada apa-apanya sama kehidupan Bian"
"Semoga anak itu sembuh" Aquilla menatap piring kotor dengan sendu.
"Bisakah gue dapat cowok yang sayang sama gue suatu saat nanti? Adakah yang mau terima gue yang sebagai anak angkat?"