NovelToon NovelToon
Konslet

Konslet

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Mengubah Takdir / Penyelamat
Popularitas:236
Nilai: 5
Nama Author: Heriawan

Namaku Jefri Andalas Sinaga. Orang rumah memanggilku Jepot, pelanggan yang marah memanggilku bodat, dan satu kota kecil di internet memanggilku Bang Jepot sambil tertawa. Semua bermula ketika aku berkata “aman, bah” di pesta pernikahan, lalu satu gedung gelap sebelum kalimatku selesai.
Setelah kehilangan pekerjaan, aku pulang ke bengkel Bapak yang nyaris tutup. Bersama Liza Cemberut, Deli Patah, Bibir Ember, Tia Cekrek, dan orang-orang yang lebih bising daripada mesin gerinda, aku membuka jasa Konslet Medan. Setiap kerusakan ternyata tersambung ke gengsi, utang, pertengkaran keluarga, konten viral, atau rahasia yang tak seharusnya kusentuh.
Ketika serangkaian korsleting mengarah pada sambungan ilegal yang dapat membakar satu kawasan, lelucon tidak lagi cukup untuk melindungi siapa pun. Aku harus memilih diam demi usaha atau membuka sistem yang juga menyeret dosa lama keluargaku.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heriawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BANG JEPOT MASUK BERANDA

Aku bangun karena ponselku bergetar di bawah bantal seperti kecoak terjebak.

Jam menunjukkan pukul enam lewat dua belas. Kepalaku berat, telinga kiriku masih berdenging, dan ujung rambut di dekat pelipis berbau hangus meskipun sudah kucuci dua kali setelah pulang dari gedung.

Layar ponsel penuh pemberitahuan.

Dua ratus tiga belas pesan.

Tiga puluh tujuh panggilan tak terjawab.

Satu video berdurasi dua puluh detik yang dikirim hampir semua orang yang kukenal, termasuk nomor penjual pulsa yang selama ini cuma menghubungiku kalau masa aktif habis.

Satu pesan berasal dari tante pengantin. Isinya hanya tiga kata: kau jangan datang. Pesan berikutnya dari sepupuku lebih panjang. Ia bilang tidak marah, tetapi mertuanya meminta nama teknisi yang bertanggung jawab. Aku mengetik jawaban, menghapusnya, lalu mengetik lagi. Semua versi terdengar seperti alasan yang terlalu cepat kubela sendiri sejak pagi.

Aku membuka video itu.

Gambar pertama memperlihatkan wajahku di depan panel. Cahaya ponsel membuat keringat di dahiku terlihat seperti minyak goreng. Suaraku terdengar jelas: “Nampak? Aman, bah.”

Setengah detik kemudian, gedung gelap.

Lalu muncul percikan biru, suara orang menjerit, dan gambar membeku tepat pada wajahku yang tampak seperti baru ditampar petir. Di bagian atas, Tia menambahkan tulisan besar:

BANG JEPOT MENYELAMATKAN PERNIKAHAN—HAMPIR.

Di bawahnya ada musik komedi.

Aku menutup video, lalu membukanya lagi karena tidak percaya manusia bisa seburuk itu memilih potongan gambar.

Dari dapur terdengar tawa Mak Mina. Bukan tawa kecil. Ibuku tertawa sampai batuk, memukul meja, lalu mencoba membaca komentar dengan suara keras.

“‘Abang ini bukan teknisi, ini efek transisi berjalan.’ Hahaha! Bodat kali orang ini.”

Aku keluar kamar sambil membawa ponsel.

“Tia mana?”

Mak Mina duduk di depan wajan, masih mengenakan celemek. “Belum mati. Jangan kau cari parang.”

“Aku tanya dia di mana.”

“Di ruang depan. Dari subuh senyum-senyum macam dapat beasiswa.”

Di meja makan, Pak Tor duduk dengan secangkir kopi yang sudah tidak beruap. Ponselnya terbalik di samping tangan. Ia tidak ikut tertawa.

“Bapak sudah lihat?” tanyaku.

“Sudah.”

“Video itu dipotong. Tidak nampak bagian aku hidupkan listrik lagi.”

“Dua jam kemudian.”

“Tetap hidup.”

Pak Tor mengangkat pandangan. “Ukuran kabel berapa?”

Aku membuka mulut, lalu menutupnya.

“Ukuran kabel yang kau pasang,” ulangnya.

“Situasi darurat.”

“Itu bukan ukuran.”

Mak Mina menyodorkan sepiring nasi goreng kepadaku. “Makan dulu. Orang bodoh kalau lapar bisa naik pangkat jadi bahaya.”

“Aku tidak lapar.”

“Bagus. Berarti porsi ini untuk Bapakmu.”

Aku menuju ruang depan. Binsar mengaku datang untuk memastikan aku masih memiliki alis. Liza datang karena hendak mengembalikan buku catatan jualan Mak Mina yang semalam ia bantu rapikan. Menurutku itu alasan yang dibuat-buat; menurut Liza, hidupku bukan pusat semua perjalanan orang.

Ia sudah mengenalku sejak sekolah. Waktu itu wajahnya belum dijuluki Cemberut, tetapi cara menatap kebodohan orang sudah sama. Ia melihat rambut hangusku sekali, lalu berkata, “Masih lengkap.”

“Apanya?”

“Kesombonganmu.”

Binsar tertawa terlalu keras sampai Liza menoleh. Setelah itu ia sibuk membaca tulisan di kausnya sendiri.

Di luar rumah, suara dua anak kecil lewat sambil menirukan ucapanku dari video.

“Aman, bah!”

Yang satu menjatuhkan sandal, lalu keduanya tertawa dan berlari. Aku menutup pintu lebih keras daripada perlu.

Mak Mina berteriak dari dapur, “Jangan rusakkan engsel! Belum tentu gajimu cukup ganti!”

Kalimat itu membuat ruang depan sunyi sepersekian detik. Tidak seorang pun menyebut kemungkinan aku kehilangan pekerjaan, tetapi rupanya semua orang sudah memikirkannya.

Tia duduk bersila di lantai dengan laptop dan dua ponsel. Di sebelahnya, Binsar memakai kaus bertuliskan ELECTRICAL SAFETY FIRST yang entah dibeli dari mana. Liza berdiri dekat jendela sambil membawa map pembukuan. Aku tidak tahu mengapa ia ada di rumah sepagi itu, tetapi wajahnya mengatakan ia juga tidak senang berada di sana.

“Tia.”

Adikku mengangkat telunjuk. “Sebentar. Akun Medan Ngakak baru repost. Views-nya naik dua puluh ribu dalam lima menit.”

“Hapus.”

Ia menatapku. “Yang mana? Sudah ada sebelas unggahan ulang.”

“Video asli.”

“Kalau asli dihapus, repost tetap ada. Secara strategi—”

“Aku bukan strategi!”

“Justru sekarang Abang sudah jadi brand.”

“Aku teknisi.”

Binsar mengangkat tangan seperti peserta seminar. “Secara teori komunikasi, citra negatif dapat dikonversi menjadi awareness positif apabila—”

Liza menoleh kepadanya.

Binsar menurunkan tangan. “Aku kerja saja, ya?”

Untuk pertama kalinya, keputusan itu terdengar dewasa.

Aku meraih ponsel Tia, tetapi ia memindahkannya ke belakang punggung.

“Bang, dengar dulu. Orang-orang memang ketawa, tapi banyak juga yang tanya siapa Abang. Ini engagement organik.”

“Orang cari namaku untuk melapor ke kantor.”

Tia berhenti tersenyum sesaat. Lalu ia memutar layar laptop. Kolom komentar bergerak cepat.

Ada yang menanyakan nama gedung.

Ada yang mengenali seragam CV Cahaya Indah.

Ada yang menandai akun perusahaan.

Ada pula yang menulis bahwa teknisi dalam video pasti bekerja tanpa prosedur dan pantas dipecat sebelum membakar tempat lain.

Dadaku mengeras.

“Kenapa logo perusahaan tidak kau blur?”

“Aku tidak sempat.”

“Tapi sempat kasih musik badut?”

“Itu musik tren.”

Aku menatapnya. Tia menurunkan layar sedikit.

Liza menarik napas melalui hidung. “Videonya seharusnya tidak diunggah tanpa izin.”

“Semua orang juga merekam,” kata Tia.

“Semua orang salah bukan berarti kau dapat potongan harga.”

“Itu bukan urusan kuitansi, Kak.”

“Semua bisa jadi urusan kuitansi kalau kerugiannya dihitung.”

Aku memotong mereka. “Tidak usah bela aku.”

“Aku tidak membelamu,” kata Liza. “Aku sedang menjelaskan batas kepada adikmu.”

Nada datarnya lebih menyakitkan daripada makian. Aku duduk di ujung sofa dan membaca komentar lagi. Setiap kalimat terasa seperti orang asing masuk rumah lalu menunjuk-nunjuk kesalahanku.

Mak Mina muncul membawa teh. “Sudahlah. Orang internet besok juga lupa.”

Tia menggeleng. “Kalau algoritmanya bagus, bisa tiga hari.”

Mak Mina menepuk kepalanya dengan lap dapur.

Pak Tor berdiri di ambang pintu. “Kau sudah lapor kepada bos?”

“Aku belum salah sepenuhnya.”

“Sudah lapor?”

“Belum.”

“Rinso?”

Aku tidak menjawab. Setelah listrik kembali menyala malam tadi, Rinso membuat laporan di depan Pak Gunawan. Ia menuliskan bahwa aku menambah jalur tanpa izin dan mengabaikan peringatan beban. Semua itu benar. Karena benar, aku semakin marah.

Ponselku berdering.

Nama Pak Gunawan muncul di layar.

Ruangan langsung sunyi. Bahkan Tia menurunkan ponselnya.

Aku mengangkat panggilan. “Pagi, Pak.”

“Datang sekarang,” katanya.

Aku mencoba tertawa kecil. “Soal video itu, Pak, saya bisa jelaskan dari awal. Potongannya memang—”

“Datang sekarang.”

Nada suaranya datar. Tidak tinggi, tidak marah. Itu lebih buruk daripada bentakan.

“Baik, Pak.”

“Dan jangan bawa tespenmu yang sial itu.”

Sambungan terputus.

1
Kustri
ini cerita ttg apa thor✌
Kustri
mau ketawa takut karma🫣
Kustri
penasaran ama bang J✌(lbh keren)
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!