NovelToon NovelToon
Rahasia Mantan Istri: Kembali Ke Pelukan CEO

Rahasia Mantan Istri: Kembali Ke Pelukan CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Lari Saat Hamil / Penyesalan Suami
Popularitas:3.2k
Nilai: 5
Nama Author: Novaa

"Selama ini Mama sendirian, Papa. Kai sering melihat Mama menangis... Kalau Kai di sini terus bersama Papa, siapa yang memeluk Mama?"

....

Demi melindungi keluarganya dari ancaman mertua yang kejam, Bening Azalea (29) memilih bungkam. Ia merelakan dirinya difitnah berselingkuh dan pergi membawa rahasia besar, janin berusia satu bulan di rahimnya.
Tujuh tahun berlalu, Bening berjuang mati-matian membesarkan putranya, Kaivandra Saputra, dalam kesederhanaan. Namun takdir kembali mempertemukannya dengan Gibran Aditama (33), sang mantan suami yang kini menjadi CEO sukses.
Tahu keberadaan cucunya, sang mantan mertua dengan culas menggunakan kekuasaan untuk merebut hak asuh Kai. Gibran yang awalnya dipenuhi kebencian, mulai terenyuh oleh keteguhan Bening dan kepolosan putra kecilnya.
Perlahan, kejujuran Kai meruntuhkan ego Gibran, membuka mata sang CEO bahwa ada kebenaran dan kebohongan besar yang tersimpan rapi di masa lalu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 01: Pertemuan setelah bertahun-tahun

Aroma manis mentega, vanila, dan adonan yang terpanggang sempurna selalu memenuhi sudut rumah kontrakan sempit itu setiap pagi. Di dalam dapur yang merangkap sebagai ruang kerja darurat, seorang wanita tengah sibuk meratakan krim putih di atas permukaan kue tart dua tingkat.

Bening Azalea, di usianya yang menginjak 29 tahun, tetap memiliki pesona yang sulit diabaikan. Rambut hitam lurusnya yang panjang diikat asal ke belakang, menyisakan beberapa helai yang membingkai wajahnya yang berkulit bersih. Sepasang bola mata hitamnya yang jernih, dipadukan dengan bulu mata lentik alami, selalu memancarkan kesan anggun sekaligus rapuh di saat yang bersamaan. Statusnya sebagai single parent selama enam tahun terakhir telah menempa kelembutan itu menjadi sebilah dinding pertahanan yang kokoh. Demi menghidupi putra semata wayangnya, Bening membangun usaha kecil-kecilan menerima pemesanan kue tart ulang tahun dan kue basah untuk berbagai acara.

"Mama... Kai mau bantu hias boleh ya?"

Sebuah suara cempreng yang menggemaskan memecah keheningan dapur. Bening menoleh, dan seketika itu juga senyum tulus terbit di bibirnya yang ranum. Di ambang pintu dapur, berdiri seorang anak laki-laki berusia enam tahun. Rambutnya ikal alami, berantakan namun menggemaskan, dengan sepasang bola mata berwarna coklat terang yang selalu bersinar penuh rasa ingin tahu. Kaivandra Saputra. Hartanya yang paling berharga di dunia ini.

"Ayo sini sayang, anak pintar. Kita pasang pita di pinggiran kuenya ya," sahut Bening lembut, mengulurkan tangan untuk membantu Kai naik ke atas kursi kecil agar tingginya mencapai meja dapur.

Dengan jemari kecilnya yang menggemaskan, Kai dengan sangat hati-hati menempelkan pita merah muda di sekeliling pondasi kue. Setelah selesai, bocah itu memiringkan kepalanya, mengagumi hasil kerjanya sendiri.

"Mama, ini pesanan untuk acara apa?" tanya Kai polos, mendongak menatap ibunya.

"Ini acara ulang tahun pernikahan, sayang. Ada pelanggan Mama yang ingin merayakan hari bahagia mereka," jawab Bening sambil merapikan sisa-sisa buah stroberi di atas meja.

Kai terdiam sesaat. Sepasang mata coklatnya beralih menatap detail hiasan di atas kue tart tersebut, sebuah replika siluet keluarga kecil yang terdiri dari ayah, ibu, dan seorang anak yang saling bergandengan tangan di bawah pohon. Pemandangan itu mendadak membuat dada kecil Kai dipenuhi rasa penasaran yang sudah lama ia simpan.

"Kalau ulang tahun pernikahan Mama kapan?" tanya Kai tiba-tiba.

Pertanyaan itu seketika membuat gerakan tangan Bening membeku. Jantungnya berdegup dua kali lebih cepat.

"Terus... sebenarnya Papa di mana, Ma? Kemana Papa pergi kok tidak pulang-pulang? Teman-teman Kai di sekolah semuanya diantar jemput sama papanya..." Kai menunduk, memainkan ujung kaosnya dengan raut wajah muram.

Dada Bening mendadak terasa sesak, seolah dihantam oleh batu besar. Selama enam tahun ini, setiap kali Kai bertanya tentang sosok sang ayah, Bening selalu memberikan jawaban klise yang sama, 'Papa sedang berada di tempat yang sangat jauh untuk bekerja'. Namun, seiring bertambahnya usia Kai, jawaban itu jelas tidak lagi memuaskan rasa ingin tahu sang anak. Bening tahu dia tidak bisa mengatakan yang sebenarnya. Dia tidak mungkin mengatakan bahwa ayah kandung Kai adalah seorang pria luar biasa kaya yang mengusirnya karena sebuah fitnah kejam yang direkayasa oleh kakek Kai sendiri.

Menghindari tatapan mata putranya yang menuntut jawaban, Bening buru-buru menarik napas dalam-dalam, mencoba menguasai suaranya agar tidak bergetar. Dia berpura-pura melirik jam dinding dengan panik.

"Astaga, sudah jam 10 sayang! Ayo, kita harus buru-buru mengantar kue ini kepada pemesan," ujar Bening mengalihkan pembicaraan dengan nada yang dibuat ceria. "Nanti pulangnya Mama belikan es krim rasa coklat kesukaan Kai. Mau?"

Mendengar kata es krim, binar sedih di mata coklat Kai langsung sirna, berganti dengan binar antusias anak-anak yang murni. "Ayo Mama! Yey, beli es krim!" seru Kai sambil melompat turun dari kursi.

Kebetulan hari ini adalah hari Minggu, jadi Kai tidak bersekolah. Bening memang sudah biasa mengajak putra kecilnya ikut serta saat mengantar pesanan jika tidak ada yang menjaga di rumah. Setelah memastikan kue tart tersebut dikemas dengan aman di dalam kotak khusus, Bening menggandeng tangan Kai keluar rumah. Mereka menaiki taksi, membelah jalanan kota yang cukup padat menuju ke sebuah kafe ternama di kawasan elite, tempat sang pelanggan telah menunggu.

Proses penyerahan kue berjalan lancar. Sang pelanggan sangat puas melihat hasil kerja Bening yang rapi dan indah. Setelah menerima pembayaran, Bening bernapas lega. Dia melangkah keluar dari kafe ber-AC tersebut, kembali menyambut udara luar yang agak terik sambil terus menggandeng erat tangan Kai.

"Kita jadi beli es krim kan, Mama?" Kai mendongak, memastikan janji ibunya tidak menguap begitu saja.

"Jadi, sayang. Ayo kita cari kedai es krim di seberang jala..."

Kriiing...

Kalimat Bening terputus saat ponsel di dalam tas selempangnya berdering nyaring. Bening merogoh tasnya dan melihat layar ponsel. Itu dari pelanggan lain yang biasa memesan kue dalam jumlah besar padanya. Kesempatan besar yang tidak boleh ia lewatkan demi menyambung hidup.

"Sebentar ya, Kai. Mama angkat telepon penting dulu. Kai tetap disini berdiri di sebelah Mama, jangan ke mana-mana," pesan Bening sungguh-sungguh.

Kai mengangguk patuh, berdiri diam di samping ibunya yang mulai sibuk berbicara di telepon, mendiskusikan detail pesanan kue dengan nada profesional. Namun, ketenangan itu tidak bertahan lama. Tiba-tiba, embusan angin jalanan yang cukup kencang bertiup, menyambar topi pet biru yang bertengger di kepala Kai.

Wusss! Topi itu terbang beberapa meter ke arah jalan raya.

"Ah, topi Kai!" ucap bocah itu spontan.

Tanpa berpikir panjang tentang bahaya yang mengintai, insting anak-anak Kai mendorongnya untuk berlari mengejar topi kesayangannya yang mendarat di atas aspal jalan raya. Dia tidak melihat bahwa dari arah kanan, sebuah mobil sedan mewah berwarna hitam metalik tengah melaju dengan kecepatan sedang.

CIITTTTTTT!

Suara decitan ban yang bergesekan keras dengan aspal memekik telinga. Mobil mewah itu mengerem mendadak, menyisakan jarak hanya beberapa jengkal dari tubuh kecil Kai yang langsung terduduk di aspal karena syok.

"KAIVANDRA!"

Bening menjatuhkan ponselnya begitu saja ke tanah. Jantungnya serasa copot dari tempatnya. Wajahnya memucat pasi seputih kertas saat melihat putranya hampir saja tergilas roda mobil. Dengan seluruh kekuatan yang tersisa, Bening berlari secepat kilat ke tengah jalan dan langsung berlutut, mendekap tubuh Kai yang gemetar ke dalam pelukannya.

"Kai! Sayang, kamu tidak apa-apa? Ada yang luka? Bicara sama Mama, sayang!" Bening memeriksa seluruh tubuh Kai dengan tangan yang bergetar hebat. Beruntung, putranya selamat dan tidak terluka secara fisik, hanya syok berat. Bening segera membawa putranya menepi.

Sementara itu, di dalam kabin mobil mewah yang sejuk, atmosfer mendadak berubah tegang. Di kursi belakang, duduk seorang pria dengan setelan jas formal rancangan desainer ternama yang melekat sempurna di tubuh tegapnya. Gibran Aditama. Sang CEO Aditama Group yang terkenal dingin, kejam, dan tak tersentuh di dunia bisnis. Di usianya yang ke-33 tahun, ketampanannya semakin matang dengan rahang tegas dan tatapan mata yang selalu mengintimidasi siapapun.

Gibran mengernyitkan dahi dalam, merasa waktu berharganya yang sangat efisien telah diganggu oleh insiden bodoh.

"Apa sekarang jalan raya sudah beralih fungsi menjadi taman bermain?" gumam Gibran dengan nada suara yang rendah namun sarat akan kekesalan yang dingin.

Toni, asisten pribadi setianya, tampak berkeringat dingin di kursi depan. "Maaf, Pak. Ada seorang anak kecil yang tiba-tiba berlari ke tengah jalan untuk mengejar topinya."

Gibran menghela napas berat, berniat meminta Toni untuk segera mengabaikan kejadian itu dan kembali menjalankan mobil karena dia ada rapat penting dengan dewan direksi. Namun, sebelum kata-kata itu keluar dari mulutnya, sepasang mata tajam Gibran menangkap sosok wanita yang sedang memeluk anak kecil itu.

Gibran terpaku. Seluruh otot di tubuhnya mendadak menegang.

Rambut panjang hitam itu... siluet tubuh anggun itu... Meskipun dari arah samping, Gibran tidak akan pernah bisa melupakan sosok wanita yang pernah mengisi hari-harinya, wanita yang tujuh tahun lalu pergi meninggalkannya dengan cap sebagai peselingkuh gila harta.

Bening?

Nama itu bergaung di dalam kepala Gibran, memicu badai emosi lama yang campur aduk antara kemarahan, luka, dan kerinduan yang terpendam sedalam lautan. Mengabaikan protokol keamanan dan jadwal rapatnya, Gibran justru mendorong pintu mobil dan keluar. Langkah kakinya yang dibalut sepatu pantofel mahal melangkah tegas, memecah keheningan ketegangan di pinggir jalan.

Di sisi lain, Bening masih sibuk membantu putranya berdiri. Dia membersihkan noda debu jalanan yang menempel di baju kaos Kai, memastikan sekali lagi bahwa tidak ada goresan di kulit putranya. Saat itulah, sepasang sepatu mahal berhenti tepat di hadapannya. Aura dominan yang sangat familier dan menyesakkan dada mendadak menguar di udara.

Bening membeku. Perlahan, dia mendongak.

Jantung Bening seolah berhenti berdetak saat matanya bertemu pandang dengan sosok pria yang berdiri menjulang di depannya. Gibran Aditama. Mantan suaminya. Pria yang sangat dia cintai dulu, dan sialnya, masih sangat dia cintai sampai detik ini meski pria itu telah membuangnya karena badai fitnah.

"Maaf, Pak... Maaf saya lepas kendali. Putra saya hanya mengejar topinya yang terbang. Saya mohon maaf atas ketidaknyamanan ini," ucap Bening buru-buru kembali menundukkan kepalanya dalam-dalam. Suaranya bergetar, mencoba menyembunyikan kepanikan yang luar biasa. Dia berlagak tidak mengenal siapa pria yang berdiri di hadapannya saat ini.

Gibran tidak mendengarkan ucapan maaf itu. Sepasang mata elangnya terpaku pada wajah Bening yang masih secantik dulu, namun terlihat lebih matang dan... lelah. Namun, sedetik kemudian, perhatian Gibran teralih sepenuhnya. Pandangan matanya turun, menatap sosok anak kecil yang kini sedang mendekap erat pinggang Bening dengan ketakutan.

Jantung Gibran mendadak berhantam keras di dalam dadanya saat menatap wajah anak itu.

Anak laki-laki itu memiliki kemiripan dengannya. Rambut ikalnya Dan yang paling membuat Gibran tersentak adalah sepasang bola mata coklat terang milik anak itu. Warna mata yang sangat langka. Warna mata yang persis sama dengan milik Gibran sendiri, dan juga milik ayahnya. Tidak salah lagi, itu adalah ciri khas genetik keluarga Aditama.

Gibran membuka mulutnya, hendak melayangkan pertanyaan yang berputar di kepalanya. "Bening... siapa anak ini?" suaranya terdengar berat dan menuntut.

Mendengar pertanyaan itu, alarm bahaya di kepala Bening berbunyi sangat nyaring. Ketakutan terbesar dalam hidupnya kini menjadi kenyataan. Gibran tidak boleh tahu tentang Kai. Jika Gibran tahu, maka mantan mertuanya yang kejam pasti akan mengendus keberadaan Kai dan merebut putranya.

Sebelum Gibran sempat berucap lebih jauh atau menyentuh putranya, Bening segera menghindar.

"Permisi, Pak. Sekali lagi saya minta maaf," potong Bening dengan suara dingin yang dipaksakan.

Tanpa menunggu balasan dari Gibran, Bening segera berbalik, menggendong Kai dengan terburu-buru dan berjalan setengah berlari menjauh dari sana, Bening sempat berhenti sejenak untuk mengambil ponselnya yang tadi terjatuh, lalu benar-benar menghilang di antara kerumunan pejalan kaki di trotoar.

1
Akun Maisarah
jahat banget Wira nih.orang tua apa yg Setega itu.kasihan bening😪
Lisa
👍👍 bagus Gibran tangkap pria itu lalu urus papamu yg membayar pria itu..ntar lg kebenaran terungkap.
Lisa
Kalian harus rujuk kembali..
Lisa
Syukurlah Gibran segera menyuruh asistennya utk menyelidiki pria itu setlh semuanya terungkap mereka ber3 dpt bersatu lg..
Lisa
Gibran selidiki masa lalu itu kamu harus tegas terhadap ayahmu
Lisa
Ayo Gibran sadarlah bahwa Papamu itu yg menghasutmu
Lisa
Udh Gibran jgn keraskan hatimu..Bening msh mencintaimu & ga pernah selingkuh..
Lisa
Makanya kamu harus menyelidiki kasus itu Gibran..
Lisa
Makanya kamu harus bersikap tegas Gibran terhadap ayahmu..dia itu yg udh menyusun skenario jahat ttg Bening
Lisa
Makanya kamu harus tegas Gibran selidiki masalah 7 thn yg lalu itu..
Lisa
Kapan Gibran & Bening dapat rukun lagi ☺️
Lisa
Wira ini jahat banget moga aj kelakuannya diketahui oleh Gibran
Lisa
Sadarlah Gibran..anakmu aj sangat taat beribadah..kamu harus berubah dan mencontoh sikap anakmu.
Lisa
ya nih Gibran koq g sadar slm 6 thn di atur oleh ayahnya
Lisa
Ceritanya menarik 👍
Lisa
Aku mampir Kak
Lisa: Sama² Kak Nova..aku suka ceritanya..
total 2 replies
Yani Tan
bagus...sangat bagus
partini
ck ck ck ternyata ortu lacknat
ga bakal ketauan ortu sendiri
partini
pak CEO bego masa iya di bantai terus sama lawan 🤦🤦
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!