NovelToon NovelToon
Mengasuh Anak Dari Maduku

Mengasuh Anak Dari Maduku

Status: sedang berlangsung
Genre:Single Mom / Pengkhianatan
Popularitas:4.3k
Nilai: 5
Nama Author: Aurora.playgame

Bagi Kirana, kesetiaan dalam pernikahan adalah impian mutlak. Namun, kebahagiaan yang ia bangun bertahun-tahun runtuh seketika saat sebuah kecelakaan tragis merenggut nyawa suaminya, Rendra. Di saat yang sama, rahasia besar terungkap, Rendra meninggal bersama istri keduanya, meninggalkan seorang putri berusia dua tahun bernama Aura.
Melalui pesan terakhirnya, Rendra memohon agar Kirana sudi mengasuh Aura sebagai anak sendiri. Kirana hancur dan berada di persimpangan jalan yang menyiksa batin. Di satu sisi, ia sangat terluka oleh pengkhianatan suaminya. Di sisi lain, ia sudah memiliki seorang putri kandung berusia empat tahun yang harus ia jaga perasaannya dari kehadiran anak madunya tersebut.
Kini, di bawah satu atap, Kirana harus berjuang menekan rasa sakit hati demi membesarkan dua anak perempuan yang hanya terpaut usia dua tahun tersebut.
Mampukah Kirana berdamai dengan masa lalu dan bersikap adil, ataukah kehadiran Aura justru menjadi luka abadi yang terus mengingatkann

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora.playgame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ep. 26- Kecelakaan

Ep. 26- Kecelakaan

Hujan deras mengguyur rumah baru itu sejak menjelang sore. Gemuruh petir sesekali bersahut-sahutan di balik awan kelabu yang tebal, sementara derasnya air memukul-mukul kaca jendela dan atap rumah dengan nada yang monoton.

Namun, suasana di dalam kediaman Kirana terasa amat tenang, kebisingan di luar tertutup rapat oleh kehangatan pendingin udara dan aroma teh melati yang menyebar di udara.

Setiap penghuni rumah tenggelam dalam kesibukan masing-masing. Di dapur belakang, Mbok Darmi dan Mbak Yem sibuk memotong sayuran untuk menu makan malam, sementara Tuti sedang menyetrika tumpukan pakaian di ruang cuci.

Di lantai atas, Kirana berada di dalam ruang kerjanya dan fokus menatap layar laptop yang menampilkan draf desain terbaru dari klien besar. Jemarinya menari lincah di atas papan ketik, memanfaatkan ketenangan sore untuk mengejar tenggat waktu.

Sementara itu, Keisya sedang asyik mewarnai di meja belajarnya yang tak jauh dari kamar Kirana.

Di tengah suasana yang damai dan rinai hujan yang kian lebat, tak ada satu pun yang menyadari bahwa Aura melangkah sendirian di lorong lantai atas.

Balita tiga tahun itu, yang tadinya ditinggal bersama Mbak Sri di area bermain bawah, merangkak naik secara diam-diam mencari Keisya atau sekadar mencari perhatian.

Tubuhnya yang lemas dan pusing sejak sore membuat langkah kaki mungilnya tidak stabil. Hingga, tepat pada pukul lima sore, sebuah dentuman keras mengejutkan seluruh penghuni rumah.

BUG! BUK! BUK!

Suara benturan berat yang beruntun itu terdengar sangat mengerikan, berasal dari arah undakan tangga utama yang dilapisi kayu parket licin.

Hanya dalam hitungan detik, suara dentuman itu disusul oleh jeritan dan tangisan yang melengking sangat nyaring.

"HWAAAAAAAAAAAAAAAA! MAMA... SAKIIIITT! HWAAAAAAAAA!"

Tangisan Aura melengking pekak, penuh dengan rasa terkejut dan rasa sakit yang luar biasa hebat. Bocah itu menangis kejer, berguling di lantai granit bawah tangga seraya memegang bagian tubuhnya yang dihantam benturan keras.

Suara keras dan jeritan memilukan itu seketika membuyarkan fokus pekerjaan semua orang di dalam rumah. Di dapur, Mbok Darmi sampai menjatuhkan pisau pemotongnya ke atas talenan. Mbak Yem dan Tuti langsung berhamburan keluar dari ruangan belakang dengan raut wajah yang pucat pasi.

Di lantai dua, Kirana yang sedang mengetik laporan desain seketika menghentikan pergerakan jemarinya di atas laptop.

Jantungnya berdesir hebat dan berdebar-debar. Suara benturan itu terlalu keras untuk diabaikan, dan tangisan melengking itu jelas-jelas milik Aura.

Belum sempat Kirana mencerna situasi, terdengar derap langkah kaki yang berlari panik di koridor luar kamarnya.

"Dek Aura! Ya Allah, Dek Aura!" teriak suara Mbak Sri yang panik dari arah atas tangga, saat menyadari balita yang seharusnya dalam pengawasannya telah tergelincir dari undakan paling atas.

Mendengar kegaduhan dan derap langkah orang yang berlari kian histeris di luar kamarnya, rasa cemas yang tak terelakkan merayap cepat menembus hati Kirana.

Seketika ia beranjak dari kursi kerjanya, mendorong meja sedikit kasar, dan bergegas melangkah keluar ruangan untuk mengecek apa yang sebenarnya terjadi.

Pada saat yang sama, Keisya juga keluar dari kamarnya dengan wajah yang ketakutan. "Mama... itu suara Aura menangis ya, Ma?"

"Keisya di belakang Mama saja," ujar Kirana yang mencoba menenangkan putrinya meski tangannya sendiri mulai terasa dingin.

Kirana lalu melangkah menuju pembatas lantai dua dan menatap ke bawah. Dan betapa tercekatnya Kirana saat melihat pemandangan di dasar tangga.

Aura sudah tergeletak lemas di atas lantai granit. Tubuh kecilnya dikerumuni oleh Mbok Darmi, Mbak Yem, Tuti, dan Mbak Sri yang menangis ketakutan.

Keisya yang mengekor di belakang Kirana langsung berlari menuruni anak tangga, lalu menangis kejer saat melihat adik kecilnya bersimbah air mata dan mengerang kesakitan.

"Aura! Aura kenapa? Hu hu hu... Mama, kasihan Aura, Ma! Aura menangis terus!" jerit Keisya histeris, sambil menyatukan kedua tangannya di depan dada karena tak tega melihat kondisi adiknya.

"Ada apa, Mbok?!" tanya Kirana seraya mempercepat langkah kakinya menuruni undakan tangga satu per satu.

Mbok Darmi yang sedang memangku kepala Aura mendongak dengan wajah yang mandi keringat dingin. "Dek Aura jatuh dari tangga, Bu! Ya Allah... tadi tiba-tiba sudah berguling dari atas sampai bawah!"

"Mbaaak Sri! Kamu bagaimana sih menjaga anak kecil?!" tegur Mbak Yem yang meluapkan kemarahannya pada Mbak Sri yang hanya bisa berdiri menyudut sambil menangis sesenggukan.

Akhirnya Kirana tiba di dasar tangga. Pandangannya langsung mengunci pada sosok balita yang kini tergeletak pasrah di pangkuan Mbok Darmi.

Wajah Aura pucat pasi, bibirnya yang biasanya kemerahan kini memutih dan bergetar hebat. Keringat dingin membasahi dahi dan pelipis mungilnya.

Saat Kirana berjalan mendekati kerumunan itu, Aura yang memicingkan mata karena menahan sakit mendadak mendongak dengan pelan. Mata bulatnya yang basah oleh air mata menatap langsung ke arah Kirana.

"Mama... akittt... Hwaaaaa... Mama, tangan Aula akittt!" teriak Aura dengan suara yang serak dan terputus-putus.

Tangan kanannya menggapai-gapai ke udara dan mencoba meraih gaun Kirana, sementara tangan kirinya terkapar kaku di atas lantai.

Melihat kondisi Aura yang kian lemas dan mendengar rintihan pilu itu, benteng ketegaran dan sikap dingin Kirana seketika retak berkeping-keping. Naluri keibuannya yang selama ini ia tekan secara paksa meledak mendominasi seluruh kesadarannya.

Tanpa memikirkan gengsi, luka masa lalu, atau kebenciannya pada asal-usul anak itu, Kirana langsung berlutut di atas lantai granit yang dingin. Ia beringsut mendekati Aura, matanya meneliti seluruh tubuh kecil yang gemetar itu.

"Ssssh... tenang, Nak... Mama di sini," bisik Kirana tanpa sadar.

Kirana mengulurkan tangannya yang gemetar untuk memeriksa tubuh Aura. Namun, betapa syoknya Kirana saat jemarinya dengan lembut memegang lengan kiri Aura.

Lengan kiri balita itu terkulai dalam posisi yang tidak wajar, agak membengkok di bagian siku dengan pembengkakan yang merona merah kebiruan yang muncul sangat cepat.

Begitu jari Kirana menyentuh permukaan kulit lengan itu secara halus, Aura melengkingkan jeritan yang jauh lebih histeris dari sebelumnya, bahkan tubuhnya menjerit kejang karena rasa sakit yang luar biasa.

"HWAAAAAAAAA! MAMA DANGANN OWA SAKIIITT! JANGAN DIPEGANG MAMA!" jerit Aura histeris sampai napasnya tersengal-sengal.

Darah Kirana serasa berhenti mengalir seketika. Wajahnya berubah pucat pasi, matanya membelalak lebar dalam rasa terkejut dan ketakutan.

Pengalaman dan pengetahuannya langsung memberi tau satu hal yang mengerikan, yaitu, tulang lengan kiri anak ini patah atau bergeser secara parah.

"Ya ampun! Tangan anak ini patah, Mbok!" seru Kirana panik, suaranya meninggi membelah ruangan.

Mendengar kata "patah", Mbok Darmi dan para ART lainnya menutup mulut mereka dan menangis kaget. Sedangkan Keisya makin menangis histeris di samping Kirana, "Mama... tangan Aura patah? Mama tolongin Aura, Ma! Kasihan Aura! 😭😭😭😭"

Ketakutan, kepanikan, dan rasa bersalah yang teramat sangat menyergap hati Kirana sekaligus. Ia tidak punya waktu lagi untuk berdiam diri atau bersikap dingin. Balita mungil di hadapannya sedang bertaruh dengan rasa sakit yang luar biasa hebat.

"Pak Jaka! Pak Jaka cepat siapkan mobil di depan!" teriak Kirana nyaring ke arah lorong garasi.

"Baik, Bu! Mobil siap!" sahut Pak Jaka dari luar.

Kirana dengan sigap menyapu air mata di pipinya. Dengan kehati-hatian yang luar biasa, ia menyusupkan kedua lengannya ke bawah tubuh Aura, menyangga punggung dan paha balita itu tanpa menyentuh sama sekali lengan kirinya yang cedera.

Kirana mengangkat tubuh mungil yang lemas itu ke dalam dekapan dadanya. Aura pun menyandarkan kepalanya yang basah oleh keringat dingin di ceruk leher Kirana. Bibir mungilnya masih merintih dengan

pelan, "Ma... ma... akittt..."

"Iya, Sayang... tahan ya, Nak... Mama bawa ke rumah sakit sekarang," bisik Kirana tepat di telinga Aura, suaranya sarat akan kelembutan dan kecemasan yang tak lagi bisa disembunyikan.

Kirana berdiri tegar membawa Aura dalam dekapannya, lalu menoleh pada Mbok Darmi. "Mbok, pegang Keisya! Mbok ikut saya ke rumah sakit, Yem sama Tuti jaga rumah!"

"Baik, Bu Kirana!" sahut Mbok Darmi seraya merangkul Keisya.

Bersambung...

1
Lisa
Aura keras kepala juga y..hayo g bisa dibiarin tuh.
Lisa
Wah Aura mulai ngambek nih 😊
Lisa
Aura ingin juga disuapi sama Kirana...teruslah bersikap adil pada kedua putrimu Kirana..
Lisa
Wah sepertinya Aris ini bakal jadi teman deketnya Kirana..lucu banget 2 pengawal cilik itu 😊
Lisa: 😊 iya Kak..
total 2 replies
Lisa
👍👍 ayo Kirana lawan si nenek itu..
Anonim
Kok gini sih
Enak banget si Hendra sama si ayu
Yg gk sala Karina nanggung sesak seumur hidup
Lisa
Benar Kak.
Lisa
Syukurlah Kirana sudah menyadari kesalahannya dan mau menyayangi Aura..
Lisa
Cpt sembuh Aura..Kirana kamu harus sadar jgn dendam terus pada Aura..
Lisa
Amin..kasihan banget Aura..moga Kirana mampu menyayangi Aura..
Lisa
Ceritanya bagus Kak
Aurora: terimakasih.../Rose/
total 1 replies
Lisa
Aku mampir Kak
Lisa: Suka banget Kak
total 2 replies
Banu Tyroni
... akhirnya Aura mendapatkan kasih sayang seorang ibu.
Banu Tyroni
Aura.... kasihan kamu 😭
Banu Tyroni
... siapin tisu yg banyak.
Banu Tyroni
... sedih banget lihat Aura, besok kedepannya bagaimana ya? 😭
Banu Tyroni
... menarik.
Aurora: terimakasih /Rose/
total 1 replies
Banu Tyroni
Baca di awal ini nampaknya cerita akan penuh konflik dan menguras air mata... siap² tisu 😄
Irmha febyollah
lanjut lagi kk.
Aurora
kaya tega banget ya Kirana 🤭
Tapi emang lukanya belum sembuh...🤗
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!