NovelToon NovelToon
Jangan Jatuh Cinta Pada Ku

Jangan Jatuh Cinta Pada Ku

Status: sedang berlangsung
Genre:Enhypen
Popularitas:186
Nilai: 5
Nama Author: rerevana

....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon rerevana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kecurigaan

LANJUTAN TELEPON MALAM ITU - PUKUL 23.47

Suara Jayden di seberang terdengar pelan, diiringi suara batuk kecil.

"Sepi ya kalau nggak ada gue?" katanya, setengah bercanda tapi nadanya lemas.

Cheyrin menggigit bibir. Air matanya masih menggenang.

"Iya lo cerewet banget soalnya," jawabnya, berusaha terdengar normal.

Jayden tertawa pelan. "Parah sih. Lagi sakit gini masih aja di katain."

"Ya siapa suruh sakit," celetuk Cheyrin cepat. Begitu ngomong, ia langsung nyesel.

Hening beberapa detik.

"...makanya lain kali jangan nolak gue," bisik Jay. Suaranya serak. "Badan gue bisa nggak panas kalau lo bilang iya dari awal."

Dada Cheyrin terasa sesak.

"Jay..."

"Udah sana mandi," potong Jayden lembut. "Muka lo pasti kusut banget kan. Jangan begadang."

Cheyrin mengusap air matanya. "lo istirahat juga. Minum obat ya?"

"Iya, nurut. Janji."

"Video call mau?" tanya Cheyrin pelan.

"Besok aja. Takut lo liat gue jelek pas demam gini," jawab Jay, lalu ketawa kecil. "Tapi... makasih ya udah angkat. Seneng denger suara lo."

Cheyrin tersenyum sambil menutup mata. "gue juga."

Telepon ditutup. Kamar kos menjadi hening kembali.

FLASHBACK - SORE ITU, KAMAR JAY - 17.30

Evan mendorong pintu kamar pelan. Di dalam kamar yang agak gelap itu, Mama duduk di tepi ranjang sambil menempelkan kain basah di dahi Jayden. Jayden terbaring dengan mata terpejam, wajahnya pucat.

Evan berjalan mendekat lalu duduk di kursi sebelah ranjang.

"Ma, gimana kondisi Jay?" tanyanya pelan.

Mama mengusap kepala Jayden. "Demamnya masih tinggi, Bang. Dari tadi naik turun terus."

Evan melirik ke arah Jayden lalu mendengus kecil. "Lo sih. Pulang malem kehujanan. Sok kuat banget."

Beberapa detik kemudian, Jayden mengerutkan kening. Matanya terbuka perlahan, masih berat. Suaranya serak.

"Bang... tolong... anterin Cheyrin pulang nanti malem. Kasian dia gak ada yang jemput."

Evan dan Mama langsung saling menatap. Evan mengangkat alisnya.

"Ni bocah. Udah tau lagi sakit masih aja mikirin cewe."

"Shuut udah," Mama menepuk lengan Evan pelan. "Turutin aja mau dia biar cepat sembuh. Siapa itu Cheyrin?"

Evan bersedekap. "Yang kerja di restoran, Ma. Temennya Jay. Sebenernya... dia anak Pak Mahendra."

Mama langsung terdiam. Sendok di tangannya terhenti.

"Anak Pak Mahendra? Temennya Papa kan?"

Evan mengangguk pelan. Wajahnya berubah serius.

PKL 23.25

Suara kunci pintu terdengar. Evan masuk dengan kemeja hitam yang lengannya masih digulung. Wajahnya lelah.

Ia berjalan melewati lorong menuju kamarnya. Saat melewati kamar Jay, pintunya tiba-tiba terbuka dari dalam.

Jayden keluar. Rambutnya berantakan. Dia hanya memakai kaos hitam kebesaran dan celana boxer. Di dahinya masih ada kompres yang mulai mengering. Tubuhnya masih goyah tapi matanya tajam menatap Evan.

"Bang, Cheyrin udah lo anter pulang?" tanya Jayden cepat.

Langkah Evan langsung terhenti. Ia menoleh.

"Gue tadi udah nyariin. Ternyata dia udah pulang duluan," jawab Evan santai.

Jayden mengerutkan kening. "Sama siapa?"

Evan menggaruk tengkuknya. "Pas gue tanya ke staf lain, katanya sama cowok naik ninja."

Kalimat itu membuat Jayden diam. Rahangnya mengeras. Tanpa berkata apa-apa lagi dia berbalik masuk ke kamarnya.

BAM.

Pintu dibanting.

Suara laci dibuka, barang berantakan. Jayden mencari ponselnya dengan tangan gemetar. Begitu ketemu, langsung dia tekan nama "Cheyrin" di layar.

Nada sambung berbunyi. Sekali. Dua kali.

Flashback berakhir.

.

.

.

KEESOKAN HARINYA

Ruangan kelas sudah kosong. Kursi-kursi telah dikembalikan ke tempatnya, dan suara langkah kaki mahasiswa perlahan menghilang di ujung koridor.

Cheyrin masih duduk di bangkunya.

Pandangannya tertuju pada tas kanvas berwarna biru yang tergantung di sandaran kursi. Di bagian tali tas, tergantung sebuah gantungan kunci.

Seekor kucing kecil berwarna putih dengan bulu yang tampak lembut. Matanya bulat dan hitam. Pada telinga kanannya terdapat hiasan bunga kecil berwarna biru muda. Lehernya diikat dengan pita kotak-kotak berwarna biru dan putih. Telapak kakinya berwarna merah muda.

Sudah dua tahun.

Selama dua tahun itu, Cheyrin tidak pernah melepaskan gantungan kunci tersebut dari tasnya.

Jari Cheyrin mengusap bulu kucing itu perlahan. Hangatnya masih sama seperti saat pertama kali ia menerimanya.

Cheyrin menarik napas dalam-dalam, lalu berdiri. Berjalan keluar dari kelas ke arah koridor.

DI BELOKAN KORIDOR

BRAKKK

Tumpukan buku dan kertas berserakan di atas lantai keramik.

"Aduh maaf, maaf gak sengaja!"

Cheyrin segera berjongkok. Dengan tergesa ia memunguti buku-buku yang jatuh. Jantungnya berdegup kencang.

Ketika ia menegakkan kepala, pandangannya bertemu dengan Dara.

Dara berdiri tegak di hadapannya. Wajahnya tenang. Tidak ada senyum di bibirnya. Tidak ada kemarahan di matanya. Hanya tatapan datar yang mengarah tepat kepada Cheyrin yang masih berjongkok.

Cheyrin mengumpulkan buku-buku itu satu per satu, lalu menyerahkannya ke tangan Dara.

Buku terakhir yang jatuh, sebuah buku catatan dengan ujung halaman yang sedikit lecek, disodorkannya paling akhir.

Dara menerima. Ujung jari mereka bersentuhan sesaat. Dingin.

Kemudian Dara tersenyum. Senyumnya tipis, tidak sampai ke mata.

"Ingat ya, Cheyrin. Barang yang kelihatannya punya orang lain... akan lebih mudah hilang dari kita."

Setelah mengucapkan kalimat itu, Dara berbalik dan melangkah pergi. Suara hak sepatunya terdengar menjauh, tek... tek...

Cheyrin masih terdiam di tempatnya.

Tangan kirinya meremas gantungan kunci kucing di tasnya hingga bulu lembut itu ikut tertekan.

Kalimat Dara terus terngiang di dalam kepalanya.

Barang yang kelihatannya punya orang lain...

Sementara itu di kediaman keluarga Wijaya.

Demam Jayden sudah mulai reda, tapi kepalanya masih berat.

Jayden berjalan ke kamar Evan. Ia membuka pintu tanpa mengetuk.

Evan duduk di tepi tempat tidur. Pandangannya tertuju pada ponsel di tangannya. Jempolnya berhenti scroll.

"Bang, lo ngapain?" tanya Jayden. Suaranya masih serak.

Evan melirik ke ambang pintu. "Kenapa? Lo butuh sesuatu?"

Jayden masuk. "Nanti... pulang dari restoran tolong anterin Cheyrin ya. Udah malem, bahaya kalau dia pulang naik ojol."

Evan mendongak, lalu tertawa kecil. "Lo kenapa sih dari kemarin Cheyrin mulu. Pacaran kalian?"

Jayden diam dua detik. Rahangnya mengeras. "Udahlah. Gue cuma minta tolong."

Evan menghela napas panjang. "Iya."

Keheningan sesaat. Jayden bersandar di kusen pintu.

"Oh iya. Semalem yang naik motor Ninja itu... orangnya kayak gimana?"

Evan berhenti scroll. "Gue gak tau. Kan gue gak liat."

"Motornya warna apa?"

"Udah dibilang gue gak tau." Nada Evan mulai naik.

Jayden mendengus. Tanpa kata lagi ia berbalik dan pergi. Pintu dibiarkan terbuka.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!