NovelToon NovelToon
Nikah Kilat dengan Kapten Angkuh

Nikah Kilat dengan Kapten Angkuh

Status: sedang berlangsung
Genre:Kapten / Romantis
Popularitas:5k
Nilai: 5
Nama Author: Ratna Purnama

Kapten paling angkuh di Angkasa Nusantara.
Pengatur langit bersuara paling manis.
Semua mengira Laras yang beruntung menikahinya—
tak ada yang tahu, belasan tahun lalu, gadis itu sudah lebih dulu jatuh cinta diam‑diam.
Dan sang kapten dingin itu?
Di depan orang cuek, di depan istrinya… paling tak berdaya.
Sampai di udara, mesin mati,
dan cuma satu suara yang bisa membawanya pulang

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratna Purnama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 25

Bab 25: "Katanya Teman Kecil"

Laras tidak membiarkan pertanyaan Samudera 712 mengubah nadanya.

"Samudera 712, Anda tidak mampu mempertahankan kecepatan yang ditetapkan. Pengurutan ulang diperlukan demi separasi. Lanjutkan heading 180."

Frekuensi hening sesaat.

"Lanjutkan heading 180, Samudera 712."

Tidak ada lagi keluhan. Laras memberi panduan arah lanjutan setelah jarak aman terbentuk, membawa pesawat itu kembali ke urutan, lalu menyerahkannya ke Tower. Semua rekaman dan data kecepatan tersimpan otomatis. Kalau pilot tersebut mengajukan laporan, keputusan Laras dapat diperiksa detik demi detik.

Nusantara 3896 sudah lebih dulu berpindah frekuensi dan mendarat tanpa mengetahui perdebatan singkat di belakangnya.

Setelah keluar dari posisi, Laras meminta Bagas ikut memeriksa rekaman dan data kecepatan. Ia tidak ingin hubungan pribadinya dengan kapten Nusantara membuat keputusan itu tampak abu-abu, meski belum ada orang lain yang tahu mereka menikah.

Bagas memutar bagian ketika Samudera turun ke 150 knot, lalu membandingkan jarak dengan traffic di belakang.

"Keputusan mengatur ulang urutan benar," katanya. "Dia menyatakan tidak mampu dan jarak sudah menyusut. Catat kejadian di log karena pilot sempat mempertanyakan instruksi."

"Perlu laporan tambahan?"

"Belum. Kalau ada pengaduan, rekaman dan track tersedia. Jangan mengubah keputusan yang benar hanya karena orang mengeluh di frekuensi."

Laras mencatat waktu kejadian, callsign, serta alasan operasional secara netral. Baru setelah semua selesai, ia meninggalkan kantor. Arkan tetap tidak tahu bahwa penerbangannya mendapat urutan lebih cepat akibat pesawat lain gagal mempertahankan profil.

Siang harinya, setelah tidur beberapa jam, ia bertemu Nindya di sebuah kafe dekat pusat pelatihan penerbangan. Nindya datang masih mengenakan kemeja putih dengan epaulet dilepas dan disimpan di tas.

"Jadi?" tanyanya bahkan sebelum duduk. "Waktu itu kamu bilang calon pilihan Mama adalah orang yang kamu suka sejak sekolah. Kalian benar-benar jadi menikah?"

Laras mengangguk dan menunjukkan foto buku nikah.

Nindya membaca nama mempelai laki-laki, lalu menatap Laras tajam. "Arkananta Wibisana?"

"Iya."

"Arkan yang itu?"

"Berapa banyak Arkananta Wibisana yang kamu kenal?"

Nindya bersandar, masih sulit percaya. "Jadi selama ini orang yang kamu suka itu Kapten Arkan. Kamu menyimpan bagian paling penting."

"Aku cuma bilang orangnya dari sekolah."

"Dan kamu sengaja nggak bilang namanya."

Laras menunduk ke cangkir. Ia menceritakan akad yang berlangsung cepat, rumah bersama, jadwal yang mulai mereka bagi, serta telepon Darmawan yang mencoba menekan pekerjaannya. Ia juga menceritakan reuni dan bagaimana kata anak pelakor kembali dilemparkan kepadanya.

Nindya tidak memotong sampai Laras selesai.

"Tiara masih melakukan hal yang sama seperti waktu sekolah," katanya kemudian. "Dia melempar cerita, lalu membiarkan orang lain mengerjakan sisanya."

"Sekarang dia tahu aku menikah dengan Arkan. Aku merasa dia nggak akan diam."

"Perasaanmu masuk akal. Tapi jangan biarkan rasa takut membuatmu bereaksi sebelum ada tindakan nyata." Nindya meletakkan telapak tangannya di meja. "Low profile boleh. Menghilang dari hidupmu sendiri jangan. Simpan semua pesan, semua unggahan, dan semua tekanan yang menyentuh pekerjaanmu."

"Aku capek harus selalu siap membuktikan sesuatu."

"Aku tahu." Suara Nindya melunak. "Kamu juga nggak harus menjelaskan semuanya kepada semua orang hari ini. Curhat ke aku, ke Kirana, atau ke Rosa. Jangan menanggungnya sendirian."

Nindya pernah melihat bagaimana rumor tumbuh di sekolah penerbangan. Satu foto makan bersama bisa berubah menjadi kabar pertunangan. Satu pertukaran jadwal dianggap bukti hubungan khusus. Perempuan di kokpit bahkan sering dinilai dari siapa yang mengenalnya sebelum orang bertanya bagaimana hasil simulasinya.

"Kalau Tiara mulai bermain di lingkaran kru, dia akan memakai kalimat yang sulit disebut bohong secara langsung," katanya. "Dia cukup bilang dekat, kenal lama, atau keluarga pernah bertemu. Orang lain yang akan menambahkan cerita."

"Jadi aku harus bagaimana?"

"Jangan membalas bayangan. Tunggu bentuknya jelas. Tapi kalau ada unggahan, simpan tangkapan layar lengkap dengan waktu. Bukan untuk ribut sekarang, melainkan supaya dia nggak bisa mengubah cerita nanti."

Laras mengangguk. Nasihat itu terasa lebih berguna daripada disuruh tenang. Ia tidak ingin hidupnya dikendalikan ketakutan pada langkah Tiara berikutnya, tetapi ia juga tidak mau kembali berdiri tanpa pegangan ketika tiga kata lama dilemparkan lagi.

"Arkan tahu soal masa sekolah?" tanya Nindya.

"Dia tahu Tiara pernah merundungku dan tahu tuduhan tentang Mama. Tapi dia nggak tahu semuanya."

"Termasuk perasaanmu sejak dulu?"

Laras memegang cangkir lebih erat. "Termasuk itu."

Ia tidak menyebut isi buku harian, operasi mata, atau berapa banyak keputusan hidupnya yang dulu diam-diam mengarah pada Arkan. Bahkan kepada Nindya, bagian itu masih terlalu rapuh untuk dibuka.

Di kota lain, Tiara sedang duduk di ruang istirahat kru sambil memilih foto lama dari penyimpanan cloud.

Ia menemukan satu gambar dari acara keluarga penerbangan sebelas tahun lalu. Arkan berdiri di ujung barisan bersama beberapa remaja dan orang dewasa. Tiara berada tiga orang darinya. Mereka tidak berbicara hari itu, bahkan tidak datang bersama, tetapi setelah foto dipotong, jarak di antara mereka tampak jauh lebih dekat.

Tiara mengunggahnya ke Instagram Story.

Beberapa orang boleh datang terlambat, tapi teman sejak kecil selalu tahu jalan pulang. Proud of you, Captain.

Ia menambahkan tag akun Arkan dan emoji pesawat kecil.

Kalimat itu tidak secara langsung menyebut hubungan romantis. Justru karena itulah orang lain bebas menyimpulkan sendiri.

Seorang pramugari membalas dalam hitungan menit.

Serius kalian teman kecil? Pantes kelihatan dekat.

Tiara hanya mengirim emoji tersenyum.

Kemudian ia meneruskan foto itu ke Rian.

Tiara:

Kemarin kamu salah paham soal Laras. Aku cuma bercanda mau kenalin. Aku sebenarnya sudah lama dekat sama Arkan.

Rian membaca pesan tersebut di ruang briefing. Ia masih ingat bagaimana Arkan memperkenalkan Laras sebagai istrinya di supermarket. Ia tidak percaya penuh kepada Tiara, tetapi foto lama itu membuatnya ragu.

"Tiara sama Kapten Arkan memang teman dari kecil?" tanyanya kepada seorang kopilot di sebelahnya.

Ia bermaksud mencari klarifikasi. Namun, dua orang lain ikut mendengar. Salah satunya sudah melihat Story Tiara. Dalam waktu kurang dari satu jam, pertanyaan Rian berubah menjadi pernyataan di obrolan kru.

Tiara dan Kapten Arkan ternyata teman kecil.

Katanya keluarga mereka dekat.

Pantas Tiara sering cari jadwal penerbangan yang sama.

Tiara membaca tangkapan layar percakapan itu dengan senyum puas. Ia tidak perlu menulis kebohongan yang terlalu jelas. Cukup menyediakan foto dan kalimat kabur, lalu membiarkan orang lain mempertebalnya.

Kabar tersebut menyeberang dari grup kru ke pesan pribadi, lalu ke teman yang bekerja di tower dan approach.

Di kafe, Laras masih menjelaskan bahwa dirinya ingin memberi pernikahan ini waktu sebelum menghadapi komentar orang. Nindya mendengarkan sambil sesekali menggulir ponsel.

Tiba-tiba gerakan jarinya berhenti.

Sebuah Story yang diteruskan oleh teman pilot terbuka di layar. Foto Arkan muda berdampingan secara menyesatkan dengan Tiara, disertai kalimat tentang teman sejak kecil.

Wajah Nindya berubah.

"Ras," katanya pelan. "Ini Tiara nyebar apa, sih?"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!