"Saya terima nikahnya Yuna bin Adnan..."
Suara berat Labib saat mengucapkan kalimat itu tadi malam masih terngiang jelas di telinga Yuna. Pernikahan mendadak ini adalah wasiat terakhir almarhum ayahnya, sahabat karib Labib meskipun usia mereka terpaut jauh. Ayah Yuna tahu hidupnya tak lama lagi karena sakit, dan ia memercayakan putri tunggalnya pada satu-satunya pria yang ia tahu punya integritas tinggi: Labib.
"Yuna Anindya."
Suara berat itu memecah lamunan Yuna. Ia tersentak, mendongak, dan mendapati seisi kelas kini tengah berbalik menatapnya. Di depan sana, Labib sedang memegang daftar absensi, menatapnya lurus tanpa ekspresi ragu sedikit pun. Profesional. Seolah tadi malam ia tidak menyematkan cincin di jari manis Yuna.
"Ya, Pak. Hadir," sahut Yuna pelan, mengangkat tangannya sedikit.
Labib mengangguk sekilas, lalu beralih ke nama berikutnya tanpa jeda. Tidak ada perlakuan khusus. Memang itu yang Yuna inginkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kursi Di Depan Meja Dosen
Perkuliahan baru berjalan tiga puluh menit, namun atmosfer di dalam kelas mulai terasa tegang. Pak Labib sedang menjelaskan materi rumit mengenai efisiensi ruang, kapur dan spidolnya menari di atas papan tulis dengan presisi tinggi.
Di barisan belakang, Dinda tampaknya belum bisa melupakan gosip hangat tadi pagi. Di sela-sela mencatat, ia terus menyenggol lengan Yuna, berbisik pelan, "Yun, tapi serius deh, lo sadar nggak sih kalau Pak Labib hari ini aromanya agak beda? Kayak pakai parfum baru yang lebih... maskulin gimana gitu. Pasti dipilihileh pacarnya."
Yuna yang sedang fokus menggambar sketsa struktur di buku catatannya menjadi panik. 'Itu karena dia pakai sabun mandi bergamot milikku yang tertukar di kamar mandi tadi pagi!' jerit Yuna dalam hati.
"Din, udah ah. Nanti kedengaran," bisik Yuna setengah mati berusaha menghentikan sahabatnya. Ia tahu betul bagaimana sensitifnya pendengaran Labib jika menyangkut ketertiban kelas.
"Bentar, Yun, satu lagi—"
Ketuk! Ketuk!
Suara ketukan spidol yang keras di atas meja dosen seketika memotong kalimat Dinda. Seluruh kelas mendadak senyap, sedingin es. Gerakan tangan Yuna yang sedang memegang pensil langsung membeku.
Di depan sana, Labib sudah membalikkan badannya dari papan tulis. Pria berumur 31 tahun itu melepas kacamata bacanya dengan perlahan, lalu melipat tangannya di dada. Pandangan matanya yang setajam elang menghunjam lurus ke barisan paling belakang—tepat ke arah Dinda dan Yuna. Aura galaknya menguar hebat, membuat beberapa mahasiswa di baris depan refleks menunduk takut.
"Dinda. Yuna Anindya," suara berat Labib menggema di setiap sudut ruangan, terdengar sangat dingin dan penuh penekanan. "Jika materi di papan tulis ini kurang menarik dibandingkan obrolan kalian, silakan lanjutkan diskusinya di luar kelas saya."
Dinda langsung pucat pasi, menggeleng cepat dengan wajah ketakutan. "Ma-maaf, Pak."
Yuna hanya bisa menunduk dalam-dalam, meremas pensilnya hingga buku-buku jarinya memutih. Jantungnya berdegup kencang karena malu dan terkejut. Pria yang tadi pagi memeluknya dengan lembut, kini menatapnya seperti seorang hakim yang siap menjatuhkan hukuman.
Labib terdiam sejenak, menatap Yuna yang menyembunyikan wajahnya di balik poni rambut. Tidak ada perlakuan khusus di sini. Di kampus, Labib tetaplah dosen perfeksionis yang tidak mentoleransi gangguan sekecil apa pun.
"Yuna Anindya," panggil Labib lagi, suaranya terdengar mutlak tak terbantahkan.
"I-iya, Pak?" sahut Yuna lirih, memberanikan diri mendongak.
"Bawa kursimu, buku, dan seluruh alat tulismu ke depan sini," perintah Labib sambil menunjuk area kosong di samping meja dosennya, tepat di baris paling depan yang berhadapan langsung dengannya. "Letakkan di sini. Biar saya pastikan kamu tidak punya kesempatan untuk ribut lagi sampai kelas saya selesai."
Deg!
Seisi kelas langsung menatap Yuna dengan pandangan iba sekaligus ngeri. Dihukum duduk di samping meja dosen paling galak se-fakultas adalah mimpi buruk bagi mahasiswa mana pun.
Dengan wajah yang terasa terbakar karena malu, Yuna terpaksa berdiri. Ia mengemas buku dan tempat pensilnya, lalu mengangkat kursi kayunya dengan susah payah menuruni tangga undakan kelas. Setiap langkahnya terasa begitu berat.
‘Mas Labib tega banget, sih!’ gerutu Yuna dalam hati, mencak-mencak menahan kesal.
Yuna meletakkan kursinya tepat di tempat yang ditunjuk Labib—hanya berjarak satu meter dari meja sang dosen. Ia duduk dengan kaku, menatap lurus ke papan tulis tanpa berani melirik ke samping, tempat suaminya berada.
Labib kembali memakai kacamata bacanya, melirik sekilas ke arah istrinya yang kini merengut kesal dengan bibir yang sedikit mengerucut menahan dongkol. Sudut bibir Labib berkedut sangat tipis, menyembunyikan rasa geli yang luar biasa melihat tingkah menggemaskan Yuna saat merajuk.
"Baik, kita lanjutkan," ucap Labib tenang, kembali mengambil spidolnya seolah tidak terjadi apa-apa. "Sampai di mana kita tadi? Oh ya, beban struktural..."
Selama sisa dua jam perkuliahan, Yuna terpaksa duduk di sana di bawah pengawasan melekat sang suami. Di satu sisi, ia sangat jengkel karena dihukum di depan teman-temannya. Namun di sisi lain, setiap kali Labib berjalan mendekati mejanya untuk mengambil dokumen, aroma parfum—dan sabun mandi yang tertukar tadi pagi—menguar kuat, mengingatkan Yuna pada kenyataan gila bahwa pria galak yang sedang mengajar di depannya ini adalah pria yang sama yang memeluknya erat beberapa jam yang lalu di atas ranjang mereka.