NovelToon NovelToon
DIPAKSA MENIKAHI CEO DUDA

DIPAKSA MENIKAHI CEO DUDA

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Balas Dendam / BTS
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: MHKaylid_

Di sebuah hotel mewah, Alyssa dipaksa menunggu "pembelinya".

"Aku sudah bayar mahal! Mana gadisnya?"

bentak pria bertubuh tambun sambil membanting gelas.

Mariska tersenyum licik.

"Tenang saja, Tuan. Dia memang keras kepala, tapi malam ini dia pasti jadi milik Anda."

"Aku tidak mau! Lepaskan aku!" teriak Alyssa sambil berusaha melepaskan diri.

"Diam!" hardik Mariska sembari menampar pipi Alyssa. "Kalau bukan karena aku membesarkanmu, kau sudah mati kelaparan! Sekarang giliranmu membalas budi."

Air mata Alyssa jatuh, tetapi keberaniannya tidak ikut runtuh.

Saat para pria lengah, ia mendorong salah seorang dari mereka hingga terjatuh, lalu berlari sekuat tenaga menyusuri lorong hotel.

"Kejar dia!" teriak pria hidung belang itu murka.

"Jangan sampai gadis itu lolos!"

Suara langkah kaki bergema di sepanjang koridor.

Dengan napas memburu, Alyssa membuka pintu sebuah kamar yang tidak terkunci dan segera menguncinya dari dalam.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MHKaylid_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 21

Malam kembali turun di Mansion Laurent.

Setelah Adrian berangkat untuk menjalankan perintah, suasana mansion kembali tenang. Di luar, lampu taman menyala redup, memantulkan cahaya ke kolam yang permukaannya bergoyang diterpa angin malam.

Di ruang baca yang berada di sisi timur mansion...

Lucas berdiri di depan jendela besar sambil memegang secangkir kopi yang mulai mendingin.

Tatapannya kosong menembus gelap.

Di benaknya masih terbayang ucapan Patrick di gudang tua.

"Alyssa adalah milik keluarga Patrick."

"Alat yang sah..."

Lucas mengepalkan tangannya perlahan.

"Apa sebenarnya yang kau sembunyikan, Patrick..."

Tak lama kemudian terdengar langkah kaki yang pelan.

Alyssa datang membawa nampan kecil berisi teh hangat.

Ia sempat ragu sebelum berbicara.

"Lucas..."

Lucas menoleh.

"Kau belum tidur?"

Alyssa tersenyum kecil.

"Aku bisa bertanya hal yang sama."

Lucas mengembuskan napas pelan.

"Masih banyak yang harus kupikirkan."

Alyssa meletakkan cangkir teh di atas meja.

"Kalau begitu... minumlah yang hangat."

Lucas melihat cangkir itu.

"Lagi-lagi teh herbal?"

"Iya."

"Untuk membantu mengurangi nyeri."

Lucas mengambilnya.

"Terima kasih."

Beberapa saat mereka hanya diam.

Suara jam dinding terdengar jelas.

Alyssa akhirnya membuka pembicaraan.

"Boleh aku bertanya sesuatu?"

Lucas mengangguk.

"Tentu."

Alyssa menarik napas panjang.

"Sebenarnya..."

"...siapa Patrick?"

Lucas tidak langsung menjawab.

Ia justru mempersilakan Alyssa duduk.

"Duduklah."

Alyssa menurut.

Lucas ikut duduk di sofa yang berhadapan dengannya.

"Apa yang ingin kau ketahui?"

Alyssa menunduk.

"Kenapa semua orang terlihat sangat berhati-hati saat menyebut namanya?"

"Kenapa bahkan Adrian tampak begitu waspada?"

"Apa Patrick benar-benar sekuat itu?"

Lucas menatap wajah Alyssa beberapa saat.

Lalu menjawab dengan jujur.

"Iya."

Alyssa sedikit terkejut.

"Iya?"

Lucas mengangguk.

"Kalau berbicara tentang pengaruh..."

"...Patrick bukan orang biasa."

"Dia memiliki jaringan yang sangat luas."

"Orang-orangnya tersebar di berbagai kota."

"Bahkan di beberapa negara."

Alyssa menelan ludah.

"Berarti..."

"...dia lebih kuat darimu?"

Lucas tersenyum tipis.

"Tidak."

Alyssa tampak bingung.

"Maksudmu?"

Lucas menyandarkan tubuhnya.

"Kalau diibaratkan papan catur..."

"...Patrick dan aku berada di sisi yang berbeda."

"Namun ukuran papan yang kami miliki..."

"...hampir sama."

Alyssa memperhatikan dengan saksama.

Lucas melanjutkan.

"Perusahaanku memiliki ribuan karyawan."

"Laboratorium penelitian."

"Pusat data."

"Divisi keamanan."

"Tim intelijen perusahaan."

"Kerja sama dengan banyak universitas."

"Dan berbagai perusahaan teknologi."

Alyssa membelalakkan mata.

"Aku tahu perusahaanmu besar."

"Tapi tidak sebesar itu."

Lucas tersenyum kecil.

"Kami bergerak di bidang kecerdasan buatan."

"Mengembangkan sistem AI untuk kesehatan, industri, pendidikan, dan keamanan digital."

"Semuanya terdaftar secara resmi."

"Diaudit."

"Membayar pajak."

"Memiliki izin yang jelas."

Alyssa mengangguk pelan.

"Lalu Patrick?"

Ekspresi Lucas berubah jauh lebih dingin.

"Patrick berbeda."

"Bisnisnya hidup di tempat yang tidak tersentuh cahaya."

Alyssa diam.

Lucas melanjutkan dengan suara datar.

"Kalau aku membangun perusahaan."

"Patrick membangun ketakutan."

"Kalau aku mencari kepercayaan."

"Patrick membeli kesetiaan."

"Kalau aku membuat teknologi."

"Dia memperjualbelikan kekuasaan."

Alyssa mulai merasakan dingin menjalar di punggungnya.

Lucas menatap lurus ke depan.

"Jaringan Patrick sangat luas."

"Penyelundupan."

"Pemerasan."

"Perdagangan ilegal."

"Dokumen palsu."

"Pencucian uang."

"Informan."

"Bahkan..."

"...beberapa pejabat yang korup."

Alyssa tanpa sadar menggenggam ujung rok yang dikenakannya.

"Jadi..."

"...orang seperti itu memang benar-benar ada."

Lucas mengangguk pelan.

"Ada."

"Dan mereka jauh lebih berbahaya daripada yang terlihat."

Alyssa menatap Lucas.

"Kalau begitu..."

"Kenapa kau berani melawannya?"

Lucas tersenyum tipis.

"Karena kalau semua orang memilih mundur..."

"...tidak akan ada yang menghentikannya."

Alyssa terdiam.

Lucas kembali berkata,

"Aku tidak mengatakan aku lebih kuat."

"Tapi..."

"Aku juga tidak akan membiarkan siapa pun menginjak orang-orang yang berada di bawah perlindunganku."

Mata Alyssa kembali berkaca-kaca.

"Termasuk aku?"

Lucas menatapnya mantap.

"Termasuk kau."

Ruangan kembali sunyi.

Alyssa menggigit bibir bawahnya.

"Lucas..."

"Aku boleh jujur?"

"Tentu."

"Aku merasa..."

"...aku hanya membebanimu."

Lucas mengernyit.

Alyssa menatap kedua tangannya sendiri.

"Sejak aku datang ke mansion ini..."

"Pengawalmu terluka."

"Kau terluka."

"Leonardo menangis."

"Semua orang sibuk."

"Adrian hampir tidak pernah tidur."

"Dan Isabel..."

Suaranya mulai bergetar.

"...masih belum ditemukan."

Lucas mendengarkan tanpa menyela.

Alyssa melanjutkan,

"Kalau aku tidak pernah bertemu denganmu..."

"...hidupmu pasti jauh lebih tenang."

Lucas menggeleng perlahan.

"Itu tidak benar."

"Benarkah?"

"Iya."

Alyssa mengangkat wajah.

Lucas berkata pelan,

"Patrick bukan orang yang akan berhenti hanya karena kau tidak ada."

"Orang seperti dia..."

"...selalu mencari sesuatu untuk dikuasai."

Alyssa menghela napas.

"Tapi kenyataannya..."

"...dia mengejarku."

Lucas mengangguk.

"Itulah sebabnya kau tidak boleh keluar dari mansion."

Alyssa terlihat ragu.

"Kalau aku tetap di sini..."

"...Patrick akan terus menyerangmu."

Lucas menjawab tenang.

"Dia memang akan terus menyerang."

"Tapi setidaknya..."

"...aku tahu kau berada di tempat yang bisa kulindungi."

Alyssa menggeleng pelan.

"Aku tidak ingin hidup di balik perlindunganmu selamanya."

Lucas tersenyum kecil.

"Aku juga tidak berniat mengurungmu selamanya."

"Lalu?"

"Aku hanya memintamu bersabar."

"Sampai kami mengetahui alasan sebenarnya Patrick memburumu."

Alyssa menatap Lucas beberapa detik.

"Kalau ternyata alasannya memang aku?"

Lucas mengangkat alis.

"Apa maksudmu?"

"Kalau ternyata..."

"...aku memang membawa sesuatu yang membahayakan semua orang."

Lucas menggeleng tanpa ragu.

"Itu tidak mengubah apa pun."

Alyssa tampak tidak percaya.

"Kenapa?"

Lucas menjawab dengan tenang.

"Karena yang kulihat sekarang bukan rahasia itu."

"Melainkan dirimu."

Alyssa membeku.

Lucas melanjutkan,

"Aku melihat seseorang yang bahkan rela menyalahkan dirinya atas semua musibah."

"Seseorang yang masih memikirkan Isabel meskipun dirinya sendiri diancam."

"Seseorang yang tetap mengobati lukaku padahal semalaman tidak tidur."

"Aku tidak melihat seorang penjahat."

"Aku melihat seorang korban."

Air mata Alyssa kembali jatuh.

"Tapi..."

"Aku tetap merepotkan."

Lucas tersenyum tipis.

"Kau tahu..."

"Dulu Ayah pernah mengajariku satu hal."

"Apa?"

"'Orang yang meminta bantuan bukan selalu beban.'"

"'Kadang justru orang yang menolak ditolong karena merasa menjadi beban... adalah orang yang paling membutuhkan uluran tangan.'"

Alyssa menundukkan kepala.

Lucas melanjutkan dengan suara lembut.

"Jadi..."

"Untuk sementara."

"Tetaplah di mansion ini."

"Aku tidak memintamu membalas apa pun."

"Aku hanya ingin memastikan kau tetap hidup sampai semua ini selesai."

Alyssa memejamkan mata beberapa saat.

Lalu mengangguk pelan.

"Baik."

"Aku akan tetap di sini."

"Tapi..."

Lucas menunggu.

"Kalau suatu hari nanti..."

"...keberadaanku benar-benar mengancam Leonardo atau orang-orang di mansion ini..."

"Aku akan pergi."

Lucas langsung menggeleng.

"Tidak."

"Lucas..."

"Dengarkan aku."

"Tidak."

Nada suaranya tetap tenang, tetapi tegas.

"Alyssa."

"Selama kau berada di bawah atap Mansion Laurent..."

"...keputusan untuk melindungimu adalah tanggung jawabku."

"Bukan bebanmu."

Alyssa menatap pria itu lama.

Untuk pertama kalinya dalam hidupnya...

Ada seseorang yang berkata bahwa melindunginya adalah sebuah tanggung jawab, bukan kesalahan.

Dan di sudut koridor, tanpa mereka sadari, Adrian yang baru saja kembali untuk mengambil sebuah berkas berhenti sejenak.

Ia tidak sengaja mendengar percakapan terakhir itu.

Sambil tersenyum tipis, ia bergumam pelan,

"Semoga Tuan benar..."

"Karena perang melawan Patrick baru saja dimulai."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!