Bima selalu dianggap sebagai pemuda idiot desa yang hanya bisa tersenyum saat dihina dan dilempari batu oleh warga, padahal di balik kepolosannya ia adalah pewaris tunggal ilmu pengobatan tingkat dewa dari seorang pertapa sakti.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17
Hujan deras mengguyur ibukota, membasahi kaca-kaca jendela tinggi kediaman keluarga Herman.
Di dalam ruang kerja Pak Herman, suasana terasa sangat sunyi. Pak Herman duduk di belakang meja kerjanya dengan raut wajah cemas. Di hadapannya, Bima berdiri tegap. Pakaian mewahnya yang baru dibelikan Clara telah berganti kembali dengan pakaian serba hitam yang ringkas dan nyaman untuk bergerak.
"Nak Bima, apakah kamu benar-benar harus pergi sendirian malam ini?" tanya Pak Herman dengan nada khawatir yang mendalam. "Aku bisa mengerahkan seluruh pengawal elit keluarga Herman dan menghubungi kepolisian untuk menggerebek pelabuhan itu."
Bima menggelengkan kepalanya dengan tenang.
"Pengawal biasa dan polisi hanya akan memicu pertumpahan darah yang meluas, Pak Herman. Serigala Malam adalah jaringan pembunuh bayaran yang bertindak di balik bayangan. Jika mereka merasa terdesak, mereka akan bersembunyi dan kembali menyerang saat kita lengah."
Bima melangkah menuju pintu. "Cara terbaik untuk menghentikan serigala adalah dengan langsung memotong kepala pemimpinnya."
Pak Herman menghela napas panjang. Ia menyadari kebenaran dari ucapan Bima. Dengan penuh rasa hormat, sang miliarder berdiri dan membungkukkan badannya sedikit kepada pemuda di hadapannya.
"Tolong kembali dengan selamat, Nak Bima. Rumah ini memutuhkanmu... dan Clara sangat membutuhkanmu."
Bima mengangguk pelan. Saat ia keluar dari ruangan dan melangkah menyusuri koridor, sebuah tangan halus mendadak menarik ujung bajunya.
Itu Clara. Gadis itu berdiri dengan mata yang sedikit sembab. Ia telah mendengar seluruh rencana Bima dari balik pintu.
"Bima..." suara Clara terdengar bergetar.
Ia tidak mencoba menahan Bima, karena ia tahu Bima melakukan ini demi melindunginya. Sebaliknya, Clara meraih jemari Bima lalu menyelipkan sebuah gelang benang merah berbatu giok kecil ke pergelangan tangan pemuda itu.
"Ini jimat keberuntungan milik ibuku," bisik Clara sambil menatap lurus ke dalam mata Bima dengan kepasrahan dan rasa cinta yang mendalam. "Janji padaku... kamu harus kembali tanpa luka sedikit pun. Jika kamu tidak kembali, aku tidak akan pernah memaafkanmu."
Bima menatap gelang di tangannya, lalu mengelus pelan puncak kepala Clara dengan kehangatan yang jarang ia perlihatkan.
"Aku berjanji, Clara. Tunggu aku sebelum sarapan esok pagi."
Tanpa menunggu balasan lagi, Bima berbalik dan menghilang di balik kegelapan malam yang dingin dan dibasahi hujan.
Kawasan Pelabuhan Tua Tanjung Priok, pukul sebelas malam.
Angin malam bertiup kencang membawa aroma garam dan besi berkarat. Di dalam sebuah gudang kontainer tua yang remang-remang, puluhan pria bersenjata api dan tajam berdiri bersiaga.
Di tengah ruangan, Bos Besar Serigala Malam sedang duduk mengelus sebilah pedang katana Jepang bernoda darah. Wajahnya yang penuh bekas luka memancarkan amarah yang belum padam akibat kegagalan anak buahnya di pusat perbelanjaan tadi siang.
"Bagaimana situasi di luar?" tanya sang bos dengan suara beratnya.
"Aman, Bos. Seluruh area pelabuhan sudah dijaga ketat oleh tiga puluh orang kita. Jika pengawal keluarga Herman datang, kita pasti..."
Brak!
Sebelum anak buahnya sempat menyelesaikan kalimatnya, pintu besi tebal gudang tersebut mendadak jebol dan terlempar belasan meter ke dalam ruangan!
Buum!
Debu dan uap air hujan merebak memasuki gudang. Suara jeritan dan dentuman keras dari luar seketika hening, digantikan oleh suara langkah kaki yang santai namun berat.
Tap. Tap. Tap.
Dari balik kepulan debu, sesosok pemuda berjalan masuk dengan tenang. Bima berdiri di tengah kepungan puluhan pembunuh bertato naga, tanpa membawa satu pun senjata api atau pedang di tangannya. Bajunya basah oleh air hujan, namun pandangan matanya sedingin es di puncak gunung.
Di luar gudang, puluhan pengawal pelabuhan sudah tergeletak kaku di tanah tanpa sempat melepaskan satu tembakan pun.
Seluruh anggota Serigala Malam di dalam ruangan seketika menelan ludah dengan wajah pucat pasi.
Bos Besar Serigala Malam berdiri perlahan, matanya membelalak tak percaya melihat seorang pemuda tunggal meluluhlantakkan garis pertahanannya dalam hitungan menit.
"Siapa kau, bajingan?!" raung sang bos sambil mengangkat katananya.
Bima menatap sang bos dengan raut wajah tanpa ekspresi, lalu merogoh saku bajunya untuk mengeluarkan sekantong jarum perak yang berkilau di bawah lampu remang gudang.
"Aku adalah orang yang akan membubarkan Organisasi Serigala Malam malam ini."