Deni adalah seorang pemuda jenius yang berada satu langkah lagi menuju puncak ilmu bela diri, namun secara sepihak diusir oleh gurunya untuk turun gunung dengan sebuah misi yang sangat absurd yaitu menjadi kurir Shopee Food. Untuk membuka segel kekuatannya dan resmi menjadi Raja Bela Diri sejati, Deni diwajibkan oleh sebuah sistem misterius untuk mengumpulkan seribu ulasan bintang lima dari para pelanggannya di kerasnya ibukota.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20
Mobil sedan perak itu berhenti tepat di depan lobi hotel yang sangat besar.
Suara ombak terdengar dari arah belakang bangunan hotel ini.
Wush.
Deni membuka pintu mobil lalu keluar lebih dulu.
Dia meregangkan kedua tangannya ke atas karena badannya terasa kaku setelah duduk berjam-jam.
"Udara di sini rasanya asin ya Nona Clara, aku jadi ingat tukang garam di pasar," ucap Deni santai.
Clara turun dari mobil sambil membawa koper kecilnya.
Wanita itu merapikan jas hitamnya lalu menatap Deni dengan wajah serius.
"Deni, ini acara penting jadi tolong jangan banyak bertingkah aneh nanti di dalam sana," pesan Clara tegas.
"Nona bos tenang saja, aku ini kan pengawal profesional bayaran mahal," jawab Deni melebih-lebihkan karena gajinya sebenarnya standar saja.
"Aku akan diam seperti patung batu kalau tidak ada orang yang mencoba memukul Nona duluan."
Clara menghela nafas panjang mendengar jawaban pemuda berjaket oranye itu.
Mereka berdua lalu berjalan masuk melewati pintu kaca otomatis hotel.
Syuu.
Pendingin ruangan langsung menyapu wajah mereka saat masuk ke dalam lobi.
Deni melihat sekeliling lobi yang dipenuhi lampu kristal besar di bagian atasnya.
"Lampu itu kalau jatuh pasti benjolnya besar sekali," gumam Deni dalam hati membayangkan hal aneh.
Clara berjalan cepat menuju lift dan menekan tombol naik ke lantai dua.
Ting.
Pintu lift terbuka lalu mereka masuk ke dalam kotak besi itu berdua saja.
"Ingat ya Deni, saingan bisnis kita ini namanya Tuan Hermawan, dia itu orangnya licik," ucap Clara memberi tahu.
"Licik seperti musang atau licik seperti ular Nona," tanya Deni membalas.
"Dua-duanya, jadi kamu harus selalu waspada dan berdiri di dekatku terus," perintah Clara.
Lift berhenti dan pintunya kembali terbuka.
Mereka berjalan menyusuri lorong berkarpet merah menuju sebuah pintu kayu ganda yang besar.
Clara mendorong pintu itu dan melangkah masuk ke dalam ruang rapat.
Kriet.
Di dalam sana ada sebuah meja panjang berbentuk oval dengan banyak kursi kosong.
Tapi di ujung meja itu sudah duduk seorang pria gemuk berbaju putih mengkilap.
Pria gemuk itu sedang mengisap cerutu saat melihat Clara masuk.
Fuh.
Asap tebal keluar dari mulut pria gemuk itu memenuhi ujung ruangan.
"Wah wah, lihat siapa yang datang ini, Nona CEO kita yang cantik tapi selalu datang terlambat," sapa pria gemuk itu dengan suara keras.
Deni tahu dari fotonya di majalah bisnis kalau pria gemuk itu adalah Tuan Hermawan.
Di belakang kursi Tuan Hermawan ada pria besar berkulit gelap yang berdiri tegak.
Pria besar itu punya tato naga berwarna merah di kedua lengannya.
Deni menatap pria bertato itu dan pria bertato itu juga menatap balik Deni dengan mata melotot.
"Maaf Tuan Hermawan, tadi ada sedikit masalah kecil di jalan tol tapi tidak penting," jawab Clara berjalan mendekat.
Clara menarik kursi lalu duduk tepat berseberangan dengan Tuan Hermawan di meja oval itu.
Deni langsung berdiri di belakang kursi Clara dengan santai sambil memasukkan tangan ke saku jaketnya.
"Masalah kecil ya, kudengar mobilmu dihentikan oleh beberapa orang di jalan tadi," ucap Tuan Hermawan tersenyum aneh.
Deni mengerutkan dahi karena bingung dari mana pria gemuk ini tahu urusan di jalan tol yang sepi tadi.
"Mungkin pria gemuk ini yang menyuruh paman-paman berjaket hitam tadi," pikir Deni dalam hati menaruh curiga.
Clara meletakkan koper kecilnya di atas meja lalu membukanya.
Cetek.
"Itu bukan urusanmu Tuan Hermawan, sekarang mari kita bahas soal tender proyek resor ini saja," kata Clara langsung ke intinya.
"Grup Nirvana sudah menyiapkan penawaran harga terbaik dan desain pembangunan paling aman untuk pesisir ini."
Tuan Hermawan tertawa keras sampai perut besarnya berguncang naik turun.
Hahaha.
"Nona Clara, proyek triliunan ini bukan mainan anak perempuan yang bisa diselesaikan dengan gambar cantik saja," ejek Tuan Hermawan.
"Kalian butuh koneksi kuat, uang pelicin yang banyak, dan tentunya kekuatan untuk menjaga proyek ini dari gangguan luar."
Clara mengetuk meja dengan jari telunjuknya.
Tuk tuk tuk.
"Grup Nirvana tidak pernah menggunakan uang pelicin untuk menang, kami bekerja dengan jujur," balas Clara menahan marah.
Tuan Hermawan membuang abu cerutunya ke asbak kaca di dekatnya.
"Jujur saja tidak cukup Nona, kau butuh orang kuat seperti pengawalku ini," kata Tuan Hermawan menunjuk pria bertato naga.
"Ini Jagat, dia memenangkan banyak pertarungan tangan kosong di arena bawah tanah tanpa pernah kalah sekalipun."
Jagat maju satu langkah lalu melipat kedua tangannya di depan dada.
Deni masih diam dan hanya memperhatikan tato naga di lengan Jagat yang menurutnya gambarnya jelek.
"Tato naganya mirip cacing kepanasan," batin Deni ingin tertawa tapi dia tahan sekuat tenaga.
"Lalu apa hubungannya pengawalmu dengan proyek pembangunan resor pantai ini Tuan Hermawan," tanya Clara bingung.
Tuan Hermawan mencondongkan badannya ke depan meja menatap Clara.
"Bagaimana kalau kita buat kesepakatan kecil di luar proposal membosankan ini," tawar Tuan Hermawan.
"Pengawalku Jagat akan melawan pengawal kurir makananmu itu di ruangan ini sekarang juga."
Clara langsung berdiri dari kursinya karena kaget mendengar tawaran gila itu.
Brak.
"Kau sudah gila Tuan Hermawan, ini pertemuan bisnis resmi bukan arena sabung ayam," tolak Clara dengan nada tinggi.
"Kalau pengawalmu kalah, kau harus mundur dari tender proyek ini Nona Clara," lanjut Tuan Hermawan tidak peduli.
"Tapi kalau kurirmu itu menang, aku yang akan mundur dan membiarkanmu mengambil proyek triliunan ini tanpa persaingan."
Clara terdiam karena syarat itu sebenarnya sangat menguntungkan perusahaannya yang sedang butuh proyek besar ini.
Tapi dia tidak mau Deni terluka hanya demi sebuah proyek bangunan pesisir.
"Tidak, aku tidak mau menerima tantangan konyol seperti itu," putus Clara tegas.
Namun sebelum Clara duduk lagi, Deni menepuk pundak bosnya itu dengan pelan.
Puk.
"Terima saja Nona bos, lumayan kan kita bisa dapat proyek ini tanpa harus capek-capek membaca presentasi," ucap Deni tersenyum lebar.
Clara menoleh ke belakang menatap Deni dengan cemas.
"Deni kamu jangan main-main, pria bertato itu kelihatannya bukan preman biasa," bisik Clara pelan.
"Nona tenang saja, dia memang bukan preman biasa tapi dia juga jelas bukan tandinganku," balas Deni berbisik juga.
Deni lalu berjalan maju melewati kursi Clara dan berdiri di samping meja rapat yang terbuat dari kayu jati.
"Hei paman gemuk, aku terima tantanganmu itu tapi aku punya satu syarat tambahan," teriak Deni menunjuk Tuan Hermawan.
Tuan Hermawan mengerutkan alisnya karena tidak suka ditunjuk-tunjuk oleh seorang pemuda biasa.
"Syarat apa maksudmu kurir miskin, kau tidak punya hak meminta syarat di sini," bentak Tuan Hermawan.
"Kalau aku menang, kau harus membelikan kami berdua ikan bakar paling mahal di hotel ini nanti malam," ucap Deni menyebutkan syaratnya.
Tuan Hermawan kembali tertawa meremehkan mendengar syarat yang sangat murah dan aneh itu.
"Baiklah kurir bodoh, aku akan belikan kau ikan bakar untuk makan terakhirmu sebelum kau masuk rumah sakit," setuju Tuan Hermawan.
Jagat berjalan mendekati Deni sambil membunyikan tulang leher dan jari-jarinya.