Sarif adalah lelaki yang diajukan sebagai calon suami Ratna dalam perjodohan keluarga, tetapi karena ia menolak, akhirnya dialihkan pada sepupunya Tara.
Gadis yang baru satu tahun lulus SMA itu menerima dengan suka cita sebab ia menghindari dikirim keluar kota untuk kuliah.
Tara: Jodoh itu misterius, dia yang tenang untuk aku yang darderdor
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria Susanti Harahap, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
6
Jantung Tara langsung berdegup lebih cepat. Dengan langkah kecil, ia mengikuti Sarif ke teras samping rumah yang lebih sepi. Ini adalah pertama kalinya mereka benar-benar berbicara berdua. Tara mendadak kehilangan semua keberaniannya. Gadis yang biasanya cerewet itu kini sibuk memainkan ujung kerudungnya sambil sesekali mencuri pandang ke wajah calon suaminya.
Sarif membuka percakapan lebih dulu. "Saya ingin memastikan satu hal."
Tara mengangguk pelan.
"Kalau perjodohan ini membuat kamu terpaksa, saya masih bisa membicarakannya dengan keluarga."
Tara buru-buru menggeleng. "Nggak, Bang."
Sarif menatapnya beberapa detik, memastikan jawaban itu memang tulus. "Saya hanya ingin kamu tahu, menjadi istri seorang prajurit tidak selalu mudah." Nada bicaranya tenang. "Saya bisa ditugaskan ke luar kota, bahkan ke daerah yang jauh. Ada kalanya tidak bisa pulang berbulan-bulan. Kadang juga sulit dihubungi karena kondisi tugas."
Tara mendengarkan dengan saksama.
"Sebagai istri tentara, mungkin kamu akan sering merasa menunggu. Harus mandiri. Mengurus banyak hal sendiri. Bahkan ada saat-saat penting yang mungkin tidak bisa saya hadiri." Sarif berhenti sejenak. "Saya tidak ingin kamu menyesal setelah menikah."
Tara justru tersenyum. "Bang..."
"Iya?"
"Tenang aja."bIa menganggukkan kepala mantap.b"Aku siap."
Sarif sedikit mengernyit. "Yakin?"
"Yakin."
"Benar-benar yakin?"
Tara mengangkat jempol dengan wajah penuh semangat. "Siap, Bang!"
Melihat jawaban spontan itu, sudut bibir Sarif akhirnya terangkat membentuk senyum tipis. Untuk pertama kalinya sejak datang ke rumah itu, ekspresi dinginnya sedikit mencair.
Sementara Tara... Dalam hati ia sedang bersorak kegirangan. "Masya Allah... calon suamiku senyum. Tambah ganteng lagi." Untung saja kalimat terakhir itu hanya berhenti di dalam hati. Kalau sampai terucap, mungkin wajahnya sendiri yang akan semerah tomat.
"InshaAllah saya akan berusaha membahagiakan kamu semaksimal yang saya bisa!" janji Sarif.
Aihhhh Abang, Tara ingin bersorak gembira sambil loncat-loncat. Kalau perlu ia ingin berlari keliling rumah ini untuk mengekspresikan kebahagiannya.
Sampai usia Tara sembilan belas tahun, ia memang tak pernah dekat apalagi punya hubungan khusus dengan laki-laki. Sebab ia ingin fokus belajar dan saat itu ayahnya mulai sakit-sakitan sehingga Tara ingin menghabiskan banyak waktu dan pikirannya untuk keluarga. Padahal cukup banyak teman laki-laki yang mendekatinya. Semuanya ditolak oleh Tara. Makanya hatinya yang sejak awal kosong, diberi perhatian seperti ini membuatnya berbunga-bunga.
"Saya rasa segitu sudah cukup pembicaraannya. Kalau ada yang mau ditanyakan, kamu bisa chat saya ya." ia memberikan nomornya pada Tara. "Semoga semuanya lancar!" ia menundukkan sedikit kepalanya sebelum kembali ke rumah tamu.
Ahhh mleyot. Tara ingin pingsan, sepertinya ia sudah jatuh cinta pada lelaki itu!
"Heh, jangan ngelamun saja. Sana ke dapur bantuin. Dari tadi yang kerja cuma aku dan ibuku!" tiba-tiba saja Ratna sudah berada di samping Tara.
Sejak pagi, Nenek Bani sudah membagi tugas kepada semua anggota keluarga. Kali ini, justru Ani dan Ratna yang mendapat tugas mengurus dapur bersama para bibi lainnya. Mulai dari menyiapkan minuman, mengatur hidangan, hingga memastikan semua tamu terlayani dengan baik.
Sementara itu, Tara dan Nina diminta tetap berada di ruang tamu untuk menemani keluarga Sarif. Bagaimanapun juga, yang datang hari itu adalah keluarga calon mempelai wanita. Bagi Tara, itu adalah kesempatan yang sangat langka. Biasanya, setiap kali ada acara keluarga, ia dan ibunya justru lebih sering berada di belakang rumah. Membantu memasak, mencuci piring, atau mondar-mandir mengangkat makanan. Kesempatan duduk santai bersama tamu hampir tidak pernah mereka rasakan.
Hari ini berbeda. Untuk pertama kalinya, Tara duduk di kursi tamu sebagai orang yang diperkenalkan kepada keluarga calon suaminya. Nina pun ikut duduk di samping putrinya, menerima sapaan dan pertanyaan dari keluarga Sarif dengan senyum ramah.
Sesekali Tara mencuri pandang ke arah dapur. Di sana, Ratna tampak sibuk membawa nampan, sementara Ani sesekali memberi instruksi kepada para bibi lainnya. Melihat pemandangan itu, sudut bibir Tara perlahan terangkat. Bukan karena ingin mengejek. Hanya saja, keadaan hari ini terasa sangat terbalik.
Selama ini, Ani dikenal paling enggan direpotkan ketika ada acara keluarga. Ia lebih sering berada di ruang depan, menemani tamu dan berbincang seolah-olah menjadi nyonya rumah. Urusan dapur biasanya diserahkan kepada Nina dan para bibi yang lain.nNamun kali ini, keadaan berubah. Karena yang dilamar adalah Tara, keluarga Sarif tentu lebih banyak berbincang dengan Tara dan ibunya. Sementara Ani dan Ratna justru sibuk keluar-masuk dapur menyiapkan hidangan.
Tara menahan senyum sambil menyeruput teh hangatnya. Wah... ternyata enak juga ya, sesekali jadi tamu di rumah sendiri. Pikiran itu membuatnya hampir terkekeh. Untung saja ia masih ingat sedang berada di depan keluarga calon suaminya. Kalau sampai tertawa sendiri, bisa-bisa mereka mengira calon menantu dari keluarga Bani ini sedikit unik.
***
Setelah keluarga Sarif berpamitan dan mobil mereka menghilang di ujung jalan, rumah kembali lengang. Semua orang mulai membereskan ruang tamu. Di tengah kesibukan itu, Ratna diam-diam memepet Nenek Bani yang sedang duduk beristirahat. "Nek..."
"Hm?"
Ratna duduk di samping sang nenek dengan wajah yang dibuat senatural mungkin. "Nenek masih punya sahabat, kan?"
Nenek Bani mengernyit heran. "Ya, masih. Memangnya kenapa?"
Ratna berdeham pelan. "Emm... ada lagi nggak cucu temannya Nenek?"
Nenek Bani menoleh penuh tanda tanya. "Maksudnya?"
Ratna pura-pura memainkan ujung bajunya. "Ya... siapa tahu ada janji perjodohan yang lain."
Nenek Bani langsung tertawa kecil. "Kamu ini." Beliau menggeleng sambil tersenyum. "Nggak ada."
"Serius?"
"Iya." Nenek Bani menepuk pelan tangan cucunya. "Nenek cuma punya satu janji perjodohan."
"Sama siapa?"
"Sama neneknya Sarif." Beliau tersenyum mengenang masa muda. "Dulu kami itu sahabat dekat. Istilah anak zaman sekarang... bestie."
Ratna langsung memasang wajah penuh harap. "Terus?"
"Itu saja."
"Hah?"
"Nenek cuma punya satu sahabat yang sampai bikin janji begitu. Jadi, cuma Sarif yang dijodohkan dengan cucu Nenek."
Ratna terdiam beberapa detik. "Oh..." Jawabannya singkat, tetapi cukup untuk menggambarkan kekecewaan yang mendadak mampir di hatinya. Dalam hati ia menghela napas panjang. Yah... telat nyeselnya. Kalau saja ia tidak buru-buru menolak, mungkin sekarang yang dipanggil "calon istri Sarif" adalah dirinya, bukan Tara. Sayangnya, penyesalan memang selalu datang belakangan. Kalau datang di awal, namanya bukan penyesalan.
***
Sore itu, Ratna berjalan mondar-mandir di depan kamar orang tuanya. Beberapa kali ia menarik napas panjang sebelum akhirnya memberanikan diri mengetuk pintu. "Ayah... Ibu... boleh masuk?" Setelah dipersilakan, Ratna duduk di tepi ranjang. Wajahnya terlihat ragu, berbeda dengan Ratna yang biasanya selalu percaya diri.
"Ada apa?" tanya ayahnya.
Ratna menunduk sesaat, lalu berkata pelan, "Yah... kalau sekarang Ratna berubah pikiran..."
Ayahnya mengernyit. "Berubah pikiran soal apa?"
Ratna menggigit bibir bawahnya. "Soal... Sarif."