"Dikhianati istri, diperas mertua, membesarkan anak yang bukan darah dagingnya.
Raka Pratama hidup bak budak — sampai ia terlahir kembali dengan Sistem Cashback 10x. Sekarang, setiap rupiah yang ia habiskan kembali sepuluh kali lipat.
Perceraian? Ia yang memulai. Konglomerat yang mengancam? Hancur. Pejabat korup? Ditangkap hidup-hidup. Dari nol menuju jajaran orang terkaya dunia — ini bukan dongeng. Ini balas dendam.
"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Galih Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 27
Bab 27 - Latar Belakang Halim Group
Kevin menoleh kepada Ratna dan bertanya santai, "Siapa cowok itu?"
Ratna menggigit bibir.
Untuk sesaat, ia ingin berkata bahwa pria itu bukan siapa-siapa. Hanya mantan suami miskin yang dulu bisa ia abaikan, bisa ia suruh, bisa ia pakai sebagai tempat menampung masalah keluarganya. Tetapi bayangan Raka yang baru saja lewat di Aruna Lounge tidak cocok dengan kebohongan itu.
Jas gelapnya rapi. Langkahnya tenang. Wanita di sampingnya tampak profesional, bukan perempuan sembarangan. Yang paling membuat Ratna sesak, Raka tidak melihatnya seperti melihat seseorang yang perlu direbut kembali.
Raka melihatnya seperti melihat benda lama yang sudah selesai dipakai.
"Mantan suami saya," kata Ratna akhirnya.
Kevin tertawa kecil. "Oh?"
Ratna cepat menambahkan, suaranya sengaja dibuat pahit, "Dia orang yang tidak tahu diri. Dulu cuma pegawai biasa. Setelah cerai, entah dapat uang dari mana, mulai sok besar. Dia juga ikut campur urusan keluarga saya."
Kevin memutar gelas di tangannya. "Sok besar?"
"Dia punya perusahaan keamanan kecil. Namanya Garuda Shield."
Mata Kevin yang tadi malas mulai sedikit tajam.
"Garuda Shield," ulangnya pelan.
Ratna melihat perubahan itu dan merasa menemukan jalan untuk menyakiti Raka tanpa perlu menyentuhnya sendiri.
"Dia suka pura-pura paling benar," lanjut Ratna. "Padahal cuma mantan suami gagal yang kebetulan punya sedikit uang."
Kevin tersenyum.
Bagi Ratna, senyum itu terlihat seperti perlindungan.
Bagi orang yang lebih mengerti dunia, senyum itu berarti seseorang baru saja dimasukkan ke daftar mainan.
Raka tidak mendengar bagian terakhir itu. Ia sudah meninggalkan Aruna Lounge bersama Yuli, masuk ke mobil yang menunggu di sisi jalan. Tetapi ia tidak perlu mendengar. Cukup dari tatapan Kevin tadi, ia tahu satu hal: pria itu bukan tipe yang membiarkan rasa penasaran mati sendiri.
Keesokan paginya, ruang rapat Garuda Shield dipenuhi kertas.
Yuli menempelkan beberapa foto dan bagan sederhana di papan kaca. Adi membuka laptop dengan tiga folder berbeda. Raka duduk di kepala meja, sementara Agus berdiri di belakang, diam seperti tiang yang bisa bergerak kapan saja.
"Halim Group," kata Yuli, mengetuk nama besar di tengah papan. "Pendiri sekaligus pemilik utama: Surya Halim. Usia enam puluhan. Bisnis utama: properti komersial, pembiayaan konsumen, beberapa tempat hiburan, vendor event, dan jaringan pergudangan. Kevin Halim anak tunggal, sering disebut penerus, tapi belum pegang operasional utama."
Adi menambahkan, "Secara laporan publik, grup ini bersih. Perusahaan induknya rapi. Tapi anak usaha dan vendor sekitar mereka banyak yang berlapis. Tidak ilegal otomatis, tapi sulit dilacak."
Raka melihat daftar itu.
Nama-nama perusahaan berderet seperti akar pohon tua: PT Halim Properti Nusantara, Halim Finance, Aruna Entertainment, beberapa CV kecil, koperasi pembiayaan, jasa event, konsultan keamanan, vendor parkir. Setiap nama punya alamat, pemegang saham, dan hubungan yang tidak selalu terang.
"Di sinilah Roni masuk," kata Yuli. Ia menunjuk foto pria yang pernah terlihat di parkir lounge. "Roni tidak tercatat sebagai pegawai Halim Group. Tapi ia pernah menjadi subkontraktor keamanan acara Aruna Entertainment. Dari sana dia dekat dengan orang-orang Kevin."
Agus berkata pendek, "Plausible deniability."
Yuli menjentikkan jari. "Nah, itu. Kalau ada masalah, Kevin bisa bilang tidak kenal. Kalau berhasil, dia dapat hasil."
Raka diam.
Di kehidupan sebelumnya, nama Halim bukan sekadar nama di papan reklame. Ia pernah melihat proyek kecil digusur karena akses jalan baru. Pernah mendengar pedagang pindah karena sewa tiba-tiba naik. Pernah membaca berita singkat tentang orang-orang kecil kalah menghadapi perusahaan besar, lalu berita itu hilang di bawah iklan diskon apartemen.
Dulu, Raka hanya pembaca miskin yang mengeluh sebentar lalu kembali bekerja lembur.
Sekarang, nama itu berada di depannya sebagai peta musuh.
Ada satu ingatan yang muncul paling jelas. Bertahun-tahun lalu, seorang pemilik bengkel kecil di pinggir jalan pernah menolak menjual tanahnya kepada proyek parkir milik jaringan Halim. Tidak lama kemudian, izin usahanya dipersoalkan, pelanggan takut datang karena ada debt collector nongkrong di depan bengkel, dan media lokal menulis seolah-olah bengkel itu mengganggu ketertiban kota. Raka dulu membaca berita itu sambil makan mie instan, merasa marah selama lima menit, lalu tidak berdaya melakukan apa pun.
Kini pola yang sama mulai terlihat di depan mata.
Orang seperti Kevin jarang memukul meja sendiri. Mereka memakai vendor, subkontraktor, preman, opini publik, dan kalimat setengah resmi. Jika kalah, mereka berkata itu urusan pihak ketiga. Jika menang, mereka mengambil lahan, uang, dan rasa takut orang lain.
"Surya Halim seperti apa?" tanya Raka.
Adi membuka halaman lain. "Lebih hati-hati daripada Kevin. Jarang bicara sembarangan. Koneksi bisnisnya luas, punya hubungan dengan asosiasi pengusaha, beberapa yayasan sosial, dan orang pemerintahan daerah. Tapi sejauh ini tidak ada bukti langsung pelanggaran berat."
"Kevin?"
Yuli tertawa pendek tanpa senang. "Kevin kebalikannya. Suka pamer, suka pesta, suka merasa semua orang bisa dibeli. Tapi karena dia anak tunggal, banyak orang tetap merunduk."
"Kelemahannya?"
Yuli mengangkat tiga jari. "Pertama, ego. Kedua, kebiasaan pakai orang kecil untuk kerja kotor. Ketiga, jejak gaya hidup. Dia merasa lingkarannya aman, padahal justru banyak saksi."
Adi menambahkan, "Tapi jangan salah. Kalau dia benar-benar merasa terganggu, tekanan ke kita bisa lewat jalur bisnis. Klien takut, vendor mundur, izin dipertanyakan, rumor jelek. Tidak harus datang bawa preman."
Raka mengangguk. "Jadi kita jangan beri dia celah."
"Setuju," kata Adi. "Semua kontrak harus rapi. Pajak rapi. SOP rapi. Personel tidak boleh bertindak emosional."
Agus langsung berkata, "Saya brief ulang semua anggota."
Raka menatap papan kaca. Di sana ada foto Kevin, foto Ratna, foto Roni, dan logo Halim Group. Tiga minggu lalu, musuh terbesarnya hanya orang yang menangis di depan pintu meminta uang. Sekarang lawannya punya gedung, jaringan, dan uang lama.
Tetapi Raka tidak merasa takut.
Ia justru merasa pikirannya makin jernih.
Sistem memberinya uang, fisik, karisma, penilaian manusia, dan umur. Tetapi semua itu tidak berarti jika ia bergerak seperti orang mabuk kekuasaan. Kevin kuat karena lahir di atas jaringan. Raka harus lebih kuat karena membangun jaringan yang bisa diaudit, dipercaya, dan bertahan.
"Garuda Shield tidak akan sembunyi," kata Raka. "Tapi kita juga tidak menantang tanpa bukti. Pak Yanto tetap prioritas. Preman yang mengganggu usahanya akan kita hadapi sesuai kontrak dan hukum."
Yuli menatapnya. "Kalau nama Kevin keluar?"
"Kita simpan, cocokkan, lalu pakai pada waktu tepat."
Adi mengusap dagu. "Berarti strategi kita: operasi legal, arsip lengkap, ekspansi pelan tapi solid."
"Bukan pelan," kata Raka. "Terukur."
Ruangan itu hening sebentar. Orang-orang paham. Mereka mulai melihat bentuk ambisi Raka. Ia tidak ingin sekadar menang dari mantan mertua, atau sekadar membuat preman lari. Ia sedang membangun sesuatu yang bisa berdiri di depan keluarga seperti Halim tanpa gemetar.
Yuli tersenyum tipis. "Saya suka kata itu. Terukur tapi ngeri."
Adi menutup laptop. Namun kerutan di dahinya belum hilang.
"Bos," katanya akhirnya, "kalau Kevin sampai tahu perusahaan kita berkembang, dia pasti akan ganggu."
mungkin sepertinya, baru kali ini aku baca cerita di platform online yang punya alur, bahasa dan kekuatan cerita kaya gini.
terimakasih untuk cerita luarbiasa nya Gan....