Terbunuh tepat saat ingin mengubah hidupnya, seorang pemuda reinkarnasi ke Dunia "Astral" dunia raksasa berisi 10 benua. Berbekal kekuatan, ingatan, dan wujud Uchiha Sasuke, ia diberi satu misi suci oleh Dewa Agung: memburu 'Eternity', satu-satunya pemilik 'System' yang mengancam tatanan dunia.
Namun, perburuannya berubah rumit saat menembus lantai 100 sebuah dungeon. Bukannya monster, ia justru bertemu Saviera, seorang Demigod, dan Elaina, anak malaikat kecil yang tiba-tiba memanggilnya "Papa".
Di antara misi memburu sasaran misterius dan ikatan keluarga baru yang mengisi kehampaan jiwanya, jalan mana yang akan ia pilih?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shodiq Daryanto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2 : Empat Permintaan
Sosok itu akhirnya berhenti melangkah beberapa meter di hadapannya.
Wujudnya tidak seperti yang ia bayangkan tentang seorang "dewa"—tidak ada cahaya menyilaukan berlebihan, tidak ada jubah keemasan atau mahkota bercahaya. Yang berdiri di sana adalah sesosok pria berjubah sederhana berwarna abu-abu keperakan, dengan wajah yang sulit ditebak usianya—bisa tiga puluh, bisa juga tiga ribu tahun. Matanya tenang, memancarkan semacam wibawa yang tidak perlu dipaksakan, seperti seseorang yang sudah lama berhenti merasa perlu membuktikan kekuasaannya pada siapa pun.
"Kau pasti bingung," sosok itu berkata, nadanya santai, hampir seperti sedang mengobrol dengan tetangga lama. "Itu wajar. Semua orang bingung di titik ini."
"...Aku sudah mati." Bukan pertanyaan. Lebih seperti kalimat yang perlu ia ucapkan sendiri agar terasa nyata.
"Betul sekali." Sosok itu mengangguk santai, seolah sedang mengonfirmasi cuaca hari itu. "Dibunuh oleh seorang pencuri yang panik. Ironis, bukan? Malam terakhirmu justru adalah malam ketika kau memutuskan untuk mulai berubah."
Kata-kata itu menusuk lebih dalam daripada pisau yang mengakhiri hidupnya.
"Siapa kau?"
"Kau bisa memanggilku Dewa Agung." Sosok itu tersenyum tipis, seperti menikmati nada formal dari sebutannya sendiri. "Meskipun aku sendiri lebih suka jika kau tidak terlalu kaku memanggilku begitu terus-menerus."
"Aku... akan masuk neraka? Atau surga?"
"Bukan keduanya." Dewa Agung melangkah lebih dekat, tangannya terangkat santai seolah menunjuk pada kekosongan cahaya putih di sekeliling mereka. "Kau berdiri di ambang sesuatu yang jauh lebih menarik daripada surga atau neraka. Aku menawarimu sebuah kesempatan kedua."
---
Dewa Agung menjelaskan semuanya dengan nada yang terlalu ringan untuk sesuatu sebesar ini—bahwa ada dunia lain, jauh lebih luas dari yang pernah ia bayangkan, bernama Astral. Bahwa di dunia itu, ia bisa memulai kehidupan baru. Dan sebagai kompensasi atas kematian yang tidak adil, ia akan diberi Empat Permintaan—apa pun yang ia inginkan, untuk dibawa serta ke kehidupan barunya.
"Tentu," Dewa Agung menambahkan, mengangkat tiga jari dengan santai, "ada beberapa batasan. Aturan main, bisa dibilang begitu."
"Pertama—kau tidak boleh meminta menjadi dewa. Ketuhanan bukan hadiah yang bisa diberikan cuma-cuma. Itu harus diperjuangkan sendiri, dengan caramu sendiri, jika memang itu jalan yang ingin kau tempuh nanti."
"Kedua—permintaanmu tidak boleh bersifat tak terbatas. 'Kekuatan tanpa batas' atau semacamnya tidak akan dikabulkan. Semuanya harus punya bentuk, punya batas, meski batas itu bisa sangat besar."
"Ketiga," suaranya sedikit lebih rendah di titik ini, "kau tidak boleh meminta 'System', atau apa pun yang menyerupainya. Itu... bisa membahayakan kami, para dewa. Kau tidak perlu tahu alasannya sekarang. Cukup ketahui bahwa ini adalah satu-satunya permintaan yang benar-benar akan kutolak mentah-mentah, apa pun alasanmu."
Ia mengangguk pelan, mencoba mencerna semuanya. Kematian, dunia baru, empat permintaan, tiga batasan. Semuanya terasa terlalu besar untuk dipikirkan sekaligus.
"Dan," Dewa Agung menambahkan, kali ini nadanya berubah sedikit lebih serius, "sebagai balasannya, aku ingin kau melakukan sesuatu untukku."
"Apa itu?"
"Berburu." Satu kata itu digantung di udara sejenak. "Ada seseorang di Astral yang memiliki eksistensi aneh yang kami sebut 'System'. Hanya satu orang, tapi dia berbahaya—bagi dunia, dan bagi kami. Aku ingin kau menemukannya, dan menghentikannya."
"Siapa dia?"
Untuk pertama kalinya, senyum di wajah Dewa Agung memudar sedikit, digantikan ekspresi yang sulit dibaca.
"Itu... akan kau ketahui sendiri nanti." jawabnya singkat. "Yang perlu kau tahu sekarang, dunia Astral sangat luas—seratus kali lebih besar dari duniamu yang lama. Dan dia bisa berada di mana saja, di antara sepuluh benua dan ribuan kerajaan yang ada. Mungkin kau akan menghabiskan waktu yang sangat lama hanya untuk menemukannya. Tapi jangan khawatir soal itu dulu. Untuk sekarang—mari kita bicarakan permintaanmu."
---
Empat permintaan.
Ia duduk di lantai cahaya putih yang entah bagaimana terasa solid di bawahnya, memikirkan keras-keras apa yang sebenarnya ia inginkan. Bertahun-tahun hidupnya dihabiskan tanpa keinginan besar apa pun—hidupnya terlalu datar untuk sekadar bermimpi. Tapi sekarang, dihadapkan pada kesempatan yang begitu besar, pikirannya justru dibanjiri oleh ribuan kemungkinan sekaligus.
Ia memikirkan anime yang selama ini menemani malam-malamnya yang sunyi. Karakter-karakter yang begitu kuat, begitu teguh, yang selalu berhasil melewati apa pun yang menghadang mereka. Dan tiba-tiba saja, sebuah nama muncul di benaknya—karakter yang selalu ia kagumi diam-diam, meski tak pernah ia akui pada siapa pun.
"Aku ingin," ucapnya perlahan, memilih kata-katanya hati-hati, "penampilan, kepribadian, pengalaman, ingatan, jutsu, dan kekuatan dari Uchiha Sasuke."
Dewa Agung mengangkat alis, tampak sedikit terhibur. "Referensi yang spesifik. Baiklah. Tapi kekuatan mata yang kau maksud—ada efek samping tertentu pada kekuatan itu di dunia asalnya, bukan? Rasa sakit, kebutaan bertahap, dan semacamnya."
"Aku... tidak mau efek sampingnya." Ia buru-buru menambahkan. "Aku ingin kekuatannya, tapi tanpa kerugiannya."
"Bisa diatur." Dewa Agung mengangguk, menuliskan sesuatu yang tidak terlihat di udara dengan jarinya, seolah mencatat pesanan restoran. "Permintaan pertama, dicatat. Lanjutkan."
Ia menarik napas, meski ia tidak yakin apakah ia benar-benar bernapas di tempat seperti ini. "Aku ingin chakra dan mana yang aku miliki menjadi... tak terbatas."
"Ah." Dewa Agung menggeleng pelan\, hampir menyesal. "Sudah kubilang\, tidak ada yang benar-benar tak terbatas yang bisa kuberikan. Tapi..." ia mengangkat satu jari\, seolah menemukan celah\, "aku bisa membuatnya *terasa* tak terbatas. Cadangan chakra dan manamu akan sedemikian besar sehingga kau nyaris tidak akan pernah merasakan batasnya dalam pertarungan biasa. Itu batas yang bisa kuberikan tanpa melanggar aturanku sendiri."
Ia mengangguk, cukup puas dengan kompromi itu.
"Yang ketiga?"
Kali ini ia teringat pada kisah lain yang pernah ia tonton dan baca—seorang raja pahlawan legendaris dengan gudang senjata tak terhitung jumlahnya, masing-masing lebih mustahil dari yang lain.
"Kekuatan Gilgamesh," ucapnya. "Seluruh Noble Phantasm-nya, dan kekayaannya. Tapi... aku tidak perlu ingatan atau pengalamannya. Cukup kekuatannya saja."
"Menarik," Dewa Agung bergumam, tampak benar-benar tertarik kali ini. "Kau ingin gudang senjatanya, tapi tidak ingin menjadi dirinya. Bijak. Beberapa jiwa besar membawa beban yang tidak selalu pantas ditanggung orang lain." Ia mencatat lagi di udara. "Permintaan ketiga, dicatat. Terakhir?"
Untuk permintaan terakhirnya, ia memikirkan sesuatu yang berbeda—bukan soal senjata atau kekuatan ofensif, melainkan soal bertahan hidup. Ia teringat pada sosok petarung yang tak pernah benar-benar terkalahkan, yang tubuhnya bergerak sendiri melampaui pikiran, menghindari maut bahkan sebelum bahaya itu benar-benar datang.
"Ultra Instinct," katanya pelan. "Yang sempurna."
Untuk sesaat, Dewa Agung terdiam, menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan—antara terkesan dan sedikit prihatin.
"Kau menyadari," katanya akhirnya, "bahwa dengan keempat permintaan ini, kau akan menjadi salah satu entitas terkuat yang pernah kuberi kekuatan?"
Ia tidak menjawab, hanya menunduk sedikit, entah karena bangga atau justru takut dengan implikasinya.
"Baiklah," Dewa Agung akhirnya berkata, mengibaskan tangannya seperti menutup sebuah buku tak terlihat. "Empat permintaanmu dikabulkan. Tapi ingat satu hal—"
Ia mendekat, dan untuk pertama kalinya nada suaranya benar-benar serius, kehilangan sedikit dari kesantaian yang selama ini melekat padanya.
"Kekuatan sebesar ini bisa membuat siapa pun lupa apa artinya menjadi rapuh. Jangan lupakan itu, di manapun perjalananmu nanti membawamu."
---
Cahaya putih di sekelilingnya mulai berdenyut, perlahan menelan pandangannya. Ia merasakan sesuatu bergeser di dalam dirinya—wajahnya, tubuhnya, bahkan cara ia bernapas terasa berubah, seolah sedang dituangkan ke dalam cetakan baru. Bersamaan dengan itu, arus ingatan yang bukan miliknya mulai mengalir masuk—pengalaman, jutsu, cara bertarung, bahkan potongan-potongan kehidupan yang tidak pernah ia jalani sendiri, namun kini terasa seolah miliknya.
"Prosesnya akan terasa sedikit... membingungkan pada awalnya," suara Dewa Agung menggema, semakin jauh terdengar seiring kesadarannya mulai memudar. "Tapi kau akan terbiasa. Sampai jumpa di Astral."
Dan kegelapan lembut itu menariknya masuk sepenuhnya—membawa kehidupan lamanya, dengan segala kehampaannya, menuju kenangan yang akan segera bercampur dengan ingatan yang bukan miliknya, di dunia yang sepenuhnya baru.
---
*Bersambung ke Bab 3: Astral*