Ema adalah detektif yang sedang diskorsing sehingga ia kembali ke kampung halamannya. Saat kembalinya dirinya di kampung, ada kasus yang penuh kejanggalan. Kasus itu pula yang mempertemukannya dengan cinta pertamanya, Levi.
"Kenapa kamu berbohong? apa alasanmu?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ginevra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Masih Day-1
Kantin sekolah siang itu lebih lenggang daripada 15 menit yang lalu. Para siswa sudah mulai meninggalkan kursi-kursi kantin untuk kembali belajar ke kelas masing-masing, menyisakan Emma yang masih duduk termenung dengan es jeruknya. Tatapannya terlihat hampa seperti telah bertemu iblis, atau memang mereka iblis?
"Huh...."
Emma mengaduk-aduk es jeruknya yang sudah sisa setengah. Dia kembali melihat sekeliling untuk memastikan tidak ada orang lain yang mendekatinya.
Perlahan, Emma mengambil catatan dari tas kecil feminimnya yang sama sekali bukan gayanya. Dia mulai mencatat semua hasil pengamatannya, mulai dari nama siswa, kata-kata yang dilontarkan, dan sudah pasti dia juga mencatat kejadian menyebalkan di toilet.
"Mmm....setidaknya aku sudah mendapatkan nama siswa yang mencurigakan. Tapi masalahnya....aku hanya mengajar di kelasnya seminggu sekali. Itu sangat tidak cukup," gumam Emma tanpa tahu kalau ada sepasang mata sedang mencuri pandang kearahnya.
"Apa aku harus tanya ke Levi ya?"
Lalu, ditengah pikiran yang mendalam itu, datanglah sosok yang menjadi fokus keduanya.
"Aku? Ada apa?"
Levi langsung duduk di depan Emma seenaknya tanpa diundang.
"Eh Pak Levi, anda membuat kaget saja!" Emma tersenyum seadanya karena masih canggung, tidak terbiasa berhadapan langsung dengan bintang di hatinya.
"Nggak usah terlalu formal, toh keliatannya umur kita sebaya. Miss bisa pakai lu gue," kata Levi menyilangkan tangannya dan menaikkan alisnya.
"Ey... Mana bisa seperti itu. Nanti kalau ada anak yang denger terus meniru cara kita ngomong gimana coba?"
"Tapi disini hanya ada kita berdua, jadi nggak apa-apa," tangkisnya.
'Hanya berdua?' batin Emma.
Levi tidak menyadari kalau percakapan sederhana ini telah membuat jantung Emma mau meledak. Bagaimana tidak? Emma sudah menaruh hati padanya dari SMA dan terus menyimpan perasaannya selama sepuluh tahun terakhir tanpa ada yang tahu dan mengganggu.
Sekilas ingatan akan masa SMA terlintas begitu saja ketika Emma mulai menatap mata coklat Levi. Dia ingat betapa kikuknya dirinya saat melihat Levi yang hanya berjalan di depannya, betapa bersemangatnya dia saat mendengar nama Levi terucap saat gosip beredar, dan betapa sedihnya dia saat tahu Levi sudah mempunyai pacar pertamanya, keduanya, ketiganya dan seterusnya.
Tapi itu semua masa lalu kan? Emma yang sekarang bukan lagi gadis kecil yang malu-malu menyembunyikan perasaannya. Dia yang sekarang, seharusnya lebih pemberani di depan Levi. Ya kan? Atau tidak?
"Miss~ miss..." Levi memanggil Emma yang masih melamun.
"Ehem... Emina~" Levi kembali mencoba membangunkan Emma dengan menggoyangkan telapak tangan Emma yang berada di atas meja.
"Eh iya Pak. Ma...af..."
Emma kembali syok setelah tahu Levi menyentuh tangannya dan menetap disana.
"Eh maaf reflek hehe." Levi langsung melepaskan tangannya dan kembali menanyai pengalaman Emma pengajar tadi pagi.
"Ya gitu deh, mungkin karena aku udah lama nggak ngajar, jadi agak.... Bingung."
"Emang, kamu udah nggak ngajar berapa tahun?" Tanya Levi.
"Enam tahun, hehe."
"Loh lama juga, emang sebelumnya kerja apa?"
Emma sedikit memerlukan waktu untuk menjawab, masa dia bilang jujur kalau dia sebelumya detektif? Ya nggak mungkin lah.
"Mmm... Kamu ini kayak lagi ngintrogasi aku aja, haha..." Jawabnya tertawa ala budak korporat dengan mata yang jelalatan ke arah lain.
"Tapi kamu nggak ada kejadian yang buruk kan tadi?" Tanyanya sambil mencondongkan badannya dan berbisik mendekati Emma.
"Mmm...."
Sebenarnya, ini sangat canggung dan campur kebingungan. Emma kembali mempertimbangkan, apakah dia harus cerita ke Levi atau tidak? Tapi Emma juga butuh informasi yang banyak darinya.
"Mmm... Tadi..." Emma masih menimbang.
"Tadi apa?"
"Tadi aku hampir difitnah." Akhirnya Emma memilih untuk jujur dihadapan idolanya itu. Dia mengatakannya untuk menghentikan debaran di jantungnya yang mulai membuatnya engap.
Kemudian, Emma mulai menceritakan bagaimana dia difitnah sedang mengintip di toilet cowok. Tapi dia berhasil lolos dari fitnahan itu, atau mungkin dibiarkan lolos.
Suasana mencekam seperti sedang dimanipulasi membuat Emma semakin yakin kalau memang ada sesuatu dibalik kematian Dion.
"Boleh aku minta nomer WA mu?" Tanya Emma mendadak, bahkan dirinya juga kaget dengan kelakuannya sendiri. Bisa-bisanya dia mengatakan sesuatu yang konyol.
'Aduh... Mulut ini emang nggak punya otak! Bisa-bisanya... bisa-bisanya...' batinnya ingin melepas wajahnya karena malu.
"Mmm... Aku mau tanya-tanya tentang muridmu. Aku nggak mau bermasalah lagi. Siapa tahu kalau aku kenal karakteristik mereka, aku jadi bisa menyesuaikan cara mengajarku," Emma berdalih agar Levi tidak memergoki niat aslinya dan menyelamatkan mukanya.
"Oh boleh, tentu saja boleh," jawabnya sambil mulai menyebutkan nomer WA-nya.
...****************...
Di kamar dengan lampu kuning remang, Emma duduk di depan meja dekat jendela. Angin malam yang dingin membuat hatinya yang panas membara karena tingkah konyolnya itu, meredam sejenak.
Emma membuka kembali catatannya dan HP yang memampang nomer WA Levi. Melihat foto profilnya yang rupawan, semakin menghangatkan angin dingin malam. Mungkin angin malam sudah kalah.
Setelah lama mengumpulkan keberanian untuk sekedar menyapa, Emma akhirnya mengetik beberapa kata remeh, seperti "malam Pak Levi, ini saya Emina."
Dan semakin lama, percakapan mereka semakin akrab hingga membuat Emma cekikikan dan berguling-guling di kasurnya.
'Eh tapi kan....'
Emma mulai menyadari kalau fokusnya sudah benar-benar teralihkan. Bukankah niat awalnya dia ingin mengorek informasi? Atau memang niat sebenarnya adalah Levi?
"Bagaimana dengan Bimo dan teman-temannya?" Emma mulai membicarakan tentang serigala 1 dan para antek-antek asingnya.
"Mereka? Mereka anak-anak pintar kok. Ya memang, dulu mereka sempat menjadi anak paling bodoh seangkatan. Tapi setelah kelas XII mereka meningkat drastis."
"Hah? Beneran? Mereka bukan anak yang suka buat onar?" Tanyaku lagi.
"Iya dulu, tapi sekarang sudah tidak berulah lagi. Ya... Semenjak kelas XII. Mungkin mereka sudah sadar dengan masa depan mereka."
'Lalu bagaimana dengan Dion?' 'Apakah deduksiku salah? Apakah ada anak lain?'
Emma sangat ingin bertanya tentang lingkaran pertemanan Dion. Dengan siapa saja dia bergaul dan berkumpul. Apakah para serigala ini pernah mengerumuninya atau tidak. Tapi.... Emma tidak bisa menanyakan langsung ke Levi kan.
Kejadian tadi pagi saja sudah sangat membuatnya kelelahan. Emma tidak mau berbuat suatu yang gegabah lagi.
Percakapan mereka berakhir begitu saja, tanpa ada salam perpisahan atau yang lainnya. Karena memang dari awal mereka bukan sedang PDKT. Mereka sedang membicarakan anak-anak mereka.
Sejenak, Emma memejamkan matanya. Sebentar untuk beristirahat dari pikirannya yang pening. Sampai ada sesuatu yang mengusiknya kedamaiannya. Sesuatu detail yang hampir terlewat darinya.
Perubahan nilai para serigala.
Iya, bukankah itu aneh? Bagaimana bisa mereka meningkat begitu pesat mulai dari pembuat onar menjadi anak yang pintar? Dan ini bukan kasus perorangan. Kalau hanya salah satu dari mereka saja yang mengalami peningkatan itu masih sangat wajar. Tapi kalau keempatnya?
.
.
.