Dihina karena dantiannya cacat, Xiao Bai mendadak mendapatkan Tungku Ekstraksi Surgawi—sebuah artefak gaib yang berfungsi sebagai sistem mutlak. Tanpa perlu berkultivasi dengan cara biasa, ia bisa mengekstrak esensi monster, tumbuhan obat, hingga pusaka kuno menjadi pil murni tanpa cacat! Dari seorang sampah yang diinjak-injak, Xiao Bai bangkit mengekstrak langit dan bumi untuk menjadi penguasa tunggal yang tak tertandingi.
#Romance #Drama #Adventure #Kultivasi #Sistem #Overpowered #BalasDendam #Action-Fantasy
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon samsu234, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bayangan Sang Ibu
# TUNGKU EKSTRAKSI SURGAWI
Kata-kata Master Sekte Agung masih menggema di kepala Xiao Bai lama setelah percakapan itu berakhir. Ia duduk sendirian di kamar tamu yang disediakan sekte untuknya malam itu, menatap kosong ke arah lilin kecil yang menyala redup di sudut ruangan, pikirannya berputar liar mengulang setiap kata yang baru saja ia dengar.
Su Yan. Alkemis berbakat. Proyek penelitian rahasia. Tungku Ekstraksi Surgawi. Menghilang tanpa jejak.
"Ibu," bisiknya pelan, suaranya bergetar, "kau bukan hanya wanita sederhana yang membesarkanku sendirian di pinggir kota seperti yang selama ini kukira."
Ingatannya melayang jauh ke masa kecil—potongan-potongan kenangan yang selama ini ia anggap biasa saja, kini mulai terasa memiliki makna yang jauh berbeda. Ibunya yang selalu berhati-hati setiap kali mereka berpindah tempat tinggal, tiga kali dalam lima tahun terakhir hidupnya sebelum meninggal. Ibunya yang selalu mengunci sebuah kotak kayu kecil di bawah lantai rumah mereka, yang tak pernah ia izinkan Xiao Bai buka meski hanya sekali. Ibunya yang, di malam-malam tertentu, akan duduk termenung menatap kegelapan di luar jendela dengan raut wajah yang kini, dalam ingatan Xiao Bai yang telah dewasa, tampak seperti seseorang yang terus-menerus dihantui rasa takut akan sesuatu yang mengejarnya.
"Kenapa kau tidak pernah bercerita apa pun padaku, Bu?" gumam Xiao Bai, matanya mulai memanas menahan air mata yang tiba-tiba ingin tumpah. "Kenapa kau membiarkan aku tumbuh tanpa tahu siapa diriku sebenarnya, tanpa tahu bahaya apa yang mungkin mengintai kita?"
Ia teringat malam ketika ibunya jatuh sakit mendadak, penyakit yang bahkan tabib terbaik di kota kecil tempat mereka tinggal saat itu tak mampu jelaskan penyebabnya. Xiao Bai, yang saat itu baru berusia sepuluh tahun, hanya bisa duduk di samping ranjang, menggenggam tangan ibunya yang semakin dingin, mendengarkan kata-kata terakhir yang selama bertahun-tahun ia anggap sekadar ungkapan kasih sayang seorang ibu yang sekarat.
"Jaga dirimu baik-baik, Nak," bisik ibunya kala itu, suaranya lemah namun matanya menyimpan sesuatu yang kini, dengan pemahaman baru, terasa jauh lebih berat dari sekadar nasihat biasa. "Suatu hari, kau akan memahami hal-hal yang belum bisa ibu jelaskan sekarang. Jangan pernah percaya terlalu cepat pada siapa pun yang mengaku mengenal masa lalu kita, meski mereka terdengar meyakinkan. Dan jika saatnya tiba... jika kau merasakan sesuatu yang hangat bangkit di dalam dadamu, ingatlah bahwa itu bukan kutukan. Itu adalah warisan."
Saat itu, kata-kata itu hanya terdengar seperti ocehan seorang wanita yang sedang sekarat, mungkin sedikit kehilangan kejernihan pikiran karena sakit yang dideritanya. Namun sekarang, mengingatnya kembali dengan pemahaman yang jauh berbeda, Xiao Bai menyadari bahwa ibunya tahu—ibunya tahu persis apa yang akan terjadi padanya suatu hari, tahu tentang Tungku Ekstraksi Surgawi, tahu tentang segel yang menutupi dantiannya, dan memilih untuk menyimpan semua itu sebagai rahasia hingga napas terakhirnya.
"Kau tahu," bisik Xiao Bai, air mata yang selama ini ia tahan akhirnya mengalir turun perlahan di pipinya, "kau tahu semua ini, dan kau memilih mati membawa rahasia itu bersamamu. Kenapa, Bu? Kenapa tidak memberitahuku, meski hanya sedikit, agar aku tidak harus melalui bertahun-tahun kebingungan dan penghinaan tanpa memahami siapa diriku sebenarnya?"
Jantungnya berdegup kencang, dadanya terasa sesak oleh campuran emosi yang selama ini terpendam—kesedihan karena kehilangan ibunya terlalu dini, kemarahan karena rahasia yang disembunyikan, dan yang paling menyakitkan, rasa rindu yang tiba-tiba membuncah begitu deras, rindu akan sosok yang seharusnya bisa menjelaskan segalanya, namun kini hanya tinggal kenangan yang semakin kabur dimakan waktu.
> **[Host, aku mendeteksi lonjakan tekanan emosional yang signifikan. Detak jantungmu meningkat drastis, disertai gejala hiperventilasi ringan. Apakah kau memerlukan bantuan untuk menenangkan kondisi fisikmu?]**
"Aku tidak butuh bantuan menenangkan diri," Xiao Bai membalas, suaranya kini bergetar antara marah dan putus asa, tangannya mencengkeram erat kain di dadanya, tepat di titik di mana Tungku Ekstraksi Surgawi bersemayam. "Aku butuh jawaban! Kau adalah bagian dari ibuku, bukan? Kau pasti tahu sesuatu! Kenapa dia menyembunyikanmu dariku? Kenapa dia harus mati membawa semua rahasia ini, meninggalkan aku sendirian tanpa penjelasan apa pun?!"
> **[Host, aku memahami kesulitan menerima kebenaran ini secara tiba-tiba. Namun aku harus jujur: catatan memoriku sendiri tentang periode sebelum aku terikat denganmu sangat terbatas. Aku mengetahui bahwa aku pernah berada dalam penguasaan seorang wanita bernama Su Yan berdasarkan resonansi energi residual yang masih tersisa dalam struktur dasarku, namun detail spesifik tentang keputusannya, alasannya menyembunyikan keberadaanku, atau alasan di balik segel yang ia—atau seseorang lain—pasang pada dantianmu, tidak tersimpan dalam data yang bisa kuakses.]**
Xiao Bai terdiam, dadanya masih naik turun menahan gejolak emosi yang belum sepenuhnya reda. "Jadi bahkan kau pun tidak sepenuhnya tahu," gumamnya lemah, kekecewaan baru menambah beban di hatinya yang sudah penuh.
> **[Benar, Host. Namun izinkan aku menyampaikan satu hal yang mungkin bisa sedikit meringankan bebanmu: berdasarkan analisis pola energi residual yang tersisa, aku dapat memastikan bahwa keputusan Su Yan untuk menyegel sebagian kekuatanmu bukan didasari niat jahat. Pola segel semacam itu, dalam catatan dasar yang kumiliki, biasanya dipasang dengan pengorbanan besar dari pihak yang memasangnya—semacam segel yang menyerap sebagian kekuatan vital penggunanya sendiri untuk melindungi objek yang disegel. Dengan kata lain, Host, kemungkinan besar ibumu mengorbankan sesuatu yang sangat berharga dari dirinya sendiri untuk memastikan kekuatan ini tetap tersembunyi dan aman di dalam dirimu, hingga saatnya tiba.]**
Kata-kata itu menghantam Xiao Bai dengan cara yang berbeda dari sebelumnya—bukan lagi kemarahan atas rahasia yang disembunyikan, melainkan kesadaran baru yang perlahan menggantikan amarah itu dengan sesuatu yang lebih dalam dan lebih menyakitkan: pengertian.
"Jadi... penyakit yang menggerogotinya hingga meninggal," bisik Xiao Bai, matanya membelalak menyadari sesuatu yang mengerikan, "apakah itu... apakah itu akibat dari segel yang ia pasang untukku?"
Tungku tidak menjawab segera, dan keheningan itu sendiri terasa seperti jawaban yang tak sanggup diucapkan.
Xiao Bai jatuh terduduk di lantai kamar, tubuhnya bergetar hebat, air mata yang sejak tadi mengalir kini berubah menjadi isak tangis yang tak lagi bisa ia tahan—bukan hanya tangisan atas kehilangan yang telah lama ia rasakan, melainkan tangisan atas beban baru yang kini ia sadari telah ia pikul tanpa sepengetahuannya sendiri: bahwa kekuatan yang kini membuatnya diperebutkan oleh kekaisaran dan sekte-sekte besar, mungkin adalah kekuatan yang sama yang telah merenggut nyawa ibunya sendiri, demi melindunginya.
"Ibu," bisiknya di tengah isak tangis yang memenuhi kamar sunyi itu, "aku tidak akan menyia-nyiakan pengorbananmu. Aku janji, aku akan mencari tahu kebenaran di balik semua ini, dan aku akan menjadi seseorang yang layak atas apa pun yang telah kau korbankan demi diriku."
Di luar jendela, malam semakin larut, bulan bersinar terang menembus celah tirai kamar, memantulkan cahaya keperakan yang berpadu lembut dengan denyut keemasan samar dari dalam dada Xiao Bai—dua cahaya yang seolah menjadi saksi bisu atas janji yang baru saja terucap, sebuah janji yang akan membawanya jauh lebih dalam ke misteri masa lalu ibunya, dan jauh lebih jauh menuju takdir yang bahkan Su Yan sendiri, dua puluh tahun lalu, mungkin belum sepenuhnya bisa membayangkan.