Bagi orang lain, mendapat warisan adalah jalur cepat menjadi kaya. Namun, berbeda dengan Budiman. Warisan yang ia dapat, malah membuat hidupnya nelangsa karena mendapat warisan toko kelontong yang mau bangkrut karena hutang warga yang tak kunjung dibayar.
Lelah menagih dan kesal setiap hari ditipu janji manis, Budiman justru berharap warung itu bangkrut saja. Ia ingin menutupnya dan bekerja sebagai karyawan biasa, hidup tanpa pusing memikirkan hutang orang lain.
Namun, takdir berkata lain.
Saat ia benar-benar mencoba menghancurkan warung peninggalan orang tuanya dengan menjual murah semua, menolak pembeli, bahkan membiarkan stok habis, sebuah suara aneh tiba-tiba muncul di kepalanya:
[ Sistem Kompensasi Finansial 'Makin Bangkrut Makin Kaya' Resmi Diaktifkan! ]
Bagaimanakah kisah Budiman yang berusaha bangkrut tetapi tak kunjung sukses? Ikuti alur cerita ini yah ....
#kehidupandidesa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CovieVy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
8. Untung yang Membuat Buntung
"Bagus! Justru itu yang Ambo mau!" potong Budiman cepat, matanya berkilat-kilat penuh rencana licik.
Budiman berdiri tegak di atas meja kasir, melipat kedua tangannya di dada bak komandan perang yang siap mengorbankan reputasi tokonya sendiri.
"Biar kuping mereka sakit, biar mereka marah-marah, lalu mereka ndak jadi belanja dan langsung naik lagi ke atas bus! Paham kau?!" hasut Budiman berapi-api.
Anto meneguk ludah, matanya berkedip-kedip menatap kegilaan abang iparnya. Namun, sebagai seorang jamet pos ronda yang jiwanya penuh dengan ambisi pamer, ide menyiksa telinga ratusan orang paruh baya dengan bass penghancur kaca terdengar seperti sebuah mahakarya.
"Ondeh ... Uda emang paling jenius dari segala hal. Biar orang sekampung tahu kalau sound pernikahan Ambo tak ada tandingan!" pekik Anto dengan mata menyala-nyala.
"Siap, Da! Ambo bikin mereka joget sambil nangis!"
Anto langsung melesat keluar toko, melompat ke atas bak truk dengan lincah, lalu memberikan kode jempol ke arah operator. Detik berikutnya, volume sound horeg digeser naik ke tingkat maksimal yang paling tidak manusiawi.
DUMMM!!! GLERRR!!! DUMMM!!! GLERRR!!!
Tanah di sekitar Budiman Mart langsung bergetar hebat. Angin dari getaran subwoofer speaker raksasa itu bahkan membuat jilbab emak-emak pengajian di luar berkibar-ibar seperti bendera ditiup badai. Beberapa bapak-bapak otomatis reflek memegangi peci mereka yang hampir terbang.
Budiman yang masih berdiri di atas meja kasir tertawa puas dalam hati. ‘Hahaha! Rasakan itu! Mana ada orang tua yang tahan belanja di tengah gempa lokal buatan Anto! Bubar kalian semua! Pulang ke provinsi kalian!’ batin Budiman menari-nari girang.
Namun, dugaan Budiman meleset total.
Di luar sana, emak-emak berseragam kuning cerah yang awalnya terkejut, tiba-tiba matanya malah menyala-nyala. Musik Minang Timur jedag-jedug yang mengentak dada itu bukannya membuat mereka lari ketakutan, melainkan memicu insting terpendam mereka.
"Ondeh, rancak bana! Tempat oleh-olehnya ada hiburan live jedag-jedug!" seru emak-emak berbadan subur yang memimpin barisan antrean.
Bukannya bubar, gerombolan emak-emak itu malah mulai bergoyang serempak. Mengikuti ketukan bass gila dari Anto, mereka melakukan aksi flash mob massal di halaman parkir, lalu bergerak maju mendorong pintu kaca otomatis Budiman Mart dengan semangat yang membara!
"Mana itu Mi Jengkol yang viral di TikTok?! Awak mau beli lima dus buat oleh-oleh orang rumah!" seru si emak ketua rombongan, langsung menerobos masuk sambil mengacungkan uang seratus ribuan.
"Awak juga! Kopi Petai-nya sepuluh dus! Biar bapak di rumah matanya melek terus!" sahut yang lain tak mau kalah, berebut merangsek masuk ke dalam rak jualan yang baru saja diisi.
Budiman membeku seketika di atas meja kasir. Senyum liciknya lenyap, digantikan wajah pucat pasi menatap lautan emak-emak yang mulai menjarah stok dagangannya dengan brutal sambil asyik bergoyang menikmati musik Anto.
Di luar, Anto yang melihat rombongan itu malah berjoget menjadi semakin bersemangat. Dia terus berteriak di mikrofon, "Ayo Mak! Digoyang terus, Mak! Kurang kencang bass-nya?!"
Sementara itu, Koko Alung dengan sigap menyodet lakban dus baru, tertawa terbahak-bahak melihat uang tunai berterbangan ke arahnya. "Diman! Kasir, Diman! Gila, ini laris manis, Man! Kita kaya raya!"
[ Ding! ]
[ Penjualan Berhasil: 5 Dus Mi Gulai Jengkol Matang! ]
[ Penjualan Berhasil: 10 Dus Es Kopi Susu Campur Petai Muda! ]
[ Progress Misi Wajib: 15 / 500 Dus. ]
[ Estimasi keuntungan operasional meningkat 400% dalam waktu sepuluh menit! ]
Budiman perlahan merosot dari atas meja kasir, terduduk lemas di lantai putih yang dengan tatapan kosong. Di telinganya, suara musik jedag-jedug Anto terasa seperti lagu pengiring menuju gerbang kekayaan abadi yang paling dia takuti di dunia ini.
"Kapan aku miskinnya?" ringisnya.
.
.
.
Dua hari berlalu bagai mimpi buruk yang diputar dengan kecepatan penuh.
Taktik Budiman untuk mengusir pembeli menggunakan sound system horeg ratusan ribu watt milik Anto justru menjadi blunder terbesar dalam sejarah ritel Sumatra Barat. Alih-alih kabur, ratusan bus pariwisata lintas provinsi malah sengaja menjadwalkan singgah ke Budiman Mart hanya demi merasakan sensasi "Belanja Sambil Jedag-Jedug."
Stok 500 dus Mi Gulai Jengkol Matang dan Kopi Susu Petai Muda ludes tak bersisa hanya dalam waktu empat puluh delapan jam!
[ Ding! ]
[ Selamat! Misi Wajib 'Darurat Stok Retail' Berhasil Diselesaikan! ]
[ Seluruh stok 500 dus terjual habis. Utang talangan Rp100.000.000 otomatis dilunasi dari keuntungan penjualan. ]
[ Sisa laba bersih operasional toko: +Rp85.000.000! ]
Budiman berdiri di depan tokonya yang kini kosong melompong dengan wajah sekuyu ayam sakit. Bukannya bangkrut, saldo operasional tokonya malah melonjak jadi 85 juta rupiah.
'Awak cuma mau tekor, kalau tekor kan jadi miskin. Setelah dinnyatakan miskin, ada reward lebih banyak dari Sistem. Eh, ini malah untung .. Ck ... Sistem sialan!' ratap Budiman dalam hati, mengacak-acak rambutnya sendiri.
Namun, Budiman menolak menyerah. Matanya mendadak berkilat tajam saat melirik kalender di dinding. 'Besok adalah hari pernikahan Elimar dan Anto! Harus bangkrut!'
Ini adalah benteng pertahanan terakhirnya. Modal nikah sebesar 250 juta rupiah sudah diserahkan bulat-bulat ke tangan Anto, si jamet pos ronda yang tidak memiliki riwayat mengelola uang dengan benar. Ditambah lagi, ada syarat mutlak dari Sistem: 'Pesta tidak boleh menerima kotak amplop sepeser pun.'
'Tenang ... Awak masih bisa menang,' batin Budiman mencoba menenangkan diri.
'Uang toko boleh cuma nambah 85 juta, tapi kalau uang pesta 250 juta itu amblas jadi abu tanpa ada pemasukan amplop sama sekali, awak tetap akan dihitung rugi total untuk Misi Sampingan! Kompensasi 25 miliar akan tetap cair!'
Malam itu, di lapangan bola depan rumah, Budiman datang untuk memantau hasil kerja keras agen penghancur finansial andalannya. Dan begitu kakinya menginjak rumput lapangan, mulut Budiman langsung menganga lebar.
Anto benar-benar tidak main-main dengan gelar "Jamet Sultan Dadakan."
Lapangan bola kampung yang biasanya penuh kubangan air kini telah disulap total. Di bagian tengah, berdiri megah sebuah pelaminan emas tingkat tujuh khas Minang yang berkilauan diterpa lampu sorot ratusan watt.
Di sekelilingnya, tenda-tenda VIP ber-AC berdiri kokoh, berjejer dengan meja katering yang dijaga oleh para koki elite bertopi tinggi dari hotel berbintang di Kota Padang. Aroma rendang premium dan gulai tunjang kelas atas menguar, membuat perut siapa saja keroncongan.
"Bagaimana, Da? Ambo ndak memalukan, kan?"
Anto tiba-tiba muncul dari kegelapan, memakai kacamata hitamnya. Meskipun malam itu gelap gulita tanpa bulan. Di sampingnya, Elimar tersenyum bangga sambil memegang sisa uang tunai di dalam plastik asoy.
"Aman semuanya, Nto? Duitnya habis?" bisik Budiman antusias, matanya berbinar-binar penuh harap.
"Habis bis, Da! Ndak bersisa sepeser pun!" Anto menepuk dada jumawa.
"Seratus juta buat pelaminan mewah ini, delapan puluh juta buat koki hotel, tiga puluh juta buat sewa tiga drone sinematik yang besok bakal terbang dari subuh, dan sisa empat puluh jutanya ..." Anto menunjuk ke arah barisan speaker raksasa di pojok lapangan yang tingginya menyamai pohon kelapa.
"Ambo pakai buat sewa sound system paling ekstrem se-Sumatra! Besok kalau musik dimulai, bukan cuma kaca tetangga yang retak, Da, tapi semen jalan raya bisa ikut terkelupas!"
Budiman hampir saja meneteskan air mata haru. Dia langsung merangkul pundak calon iparnya itu dengan sangat erat.
"Bagus ... bagus sekali, Anto. Kau memang adik ipar idaman awak," puji Budiman dengan suara bergetar menahan tawa bahagia.
'Dua ratus lima puluh juta ... ludes jadi dekorasi dan kebisingan dalam semalam! Dan besok, kotak amplop akan digembok total! Kebangkrutan 25 miliar sudah di depan mata!'
Kira-kira, berhasil ngga ya mendapat kompensasinya?
[bersambung]