Asap kelabu dari sisa pembakaran minyak mesin siber menyelinap masuk melalui celah pilar obsidian Aula Gerhana, berputar-putar menciptakan bayangan kaku di atas lantai batu yang dingin. Di luar menara istana, langit Planet Akuma sedang memuntahkan badai hujan merkuri cair yang paling pekat sepanjang satu abad sejarah klan Shinto. Ketukan logam mendidih yang menghantam atap baja terdengar konstan, menciptakan simfoni bising yang meredam detak kehidupan normal. Dengan gaya tarik bumi yang bekerja seratus kali lipat lebih ekstrem, atmosfer di dalam bilik bersalin itu terasa begitu menjepit raga, memaksa setiap hela napas yang keluar dari tenggorokan terasa berat dan membakar sistem pernapasan seutuhnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mara Nata, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15: Penyerangan Malam Pertama
Tepat pada sepertiga malam, kesunyian di Planet Akuma-0 yang biasanya hanya diisi oleh suara angin malam mendadak pecah berantakan. Sesuai dengan rencana rencana berdarah yang dirancang oleh faksi pengkhianat Sektor Delapan, seluruh sistem gerbang pelindung kompleks kuil bawah tanah dimatikan secara serentak dari pusat komando Kaelen. Detik itu juga, lampu-lampu di sepanjang koridor luar Kuil Tinggi padam seutuhnya, menyisakan kegelapan pekat yang mencekam. Malam yang dingin mendadak berubah menjadi jebakan maut yang siap menghancurkan kedamaian para penghuni kuil.
Kesunyian malam langsung dikoyak oleh raungan sirene darurat yang memekikkan telinga. Gerbang batu pelindung luar hancur berantakan menjadi kepingan batu dan besi akibat ledakan bom yang diluncurkan dari kapal perang siluman milik sindikat penjahat antar-galaksi, Black-Void. Tanpa adanya dinding pelindung yang biasa menjaga wilayah tersebut, seratus pembunuh bayaran bertubuh raksasa berlapis baju besi berat merangsek masuk melintasi halaman kuil dengan tawa liar penuh keserakahan. Mereka bergerak dalam barisan pasukan yang sangat rapi dan mematikan.
Suasana kuil langsung memanas dengan cepat. Kobaran api dari moncong senjata musuh membakar habis tiang-tiang penyangga halaman tengah. Para penjaga tradisional dari klan Shinto kuil atas yang terkejut sama sekali tidak punya waktu untuk menarik gagang pedang mereka. Tubuh-tubuh pendekar tua itu roboh tersungkur dalam sekejap, bersimbah darah di atas lantai batu hitam tanpa sempat melepaskan satu tebasan balasan pun. Teriakan rasa sakit dan lolongan kematian terdengar di mana-mana memutus keheningan malam, menyebarkan aroma anyir darah yang luar biasa menyengat hidung.
Di dalam kamar tidur Menara Kuil Tinggi yang mewah, Sayuri tersentak bangun dari tempat tidur sutranya dengan jantung yang berdetak kencang di luar kendali. Rasa takut yang belum pernah ia rasakan sepanjang hidupnya seketika mencairkan seluruh kesombongan sedingin es di dalam benaknya. Melalui celah gorden jendela kamarnya, Sayuri menyaksikan kilatan tembakan cahaya merah mulai membakar tiang-tiang pelindung dan membantai pasukan pengawal kuil tanpa ampun. Kamarnya yang megah kini terasa bagai sangkar emas yang siap runtuh menimbun tubuhnya.
Lolongan kematian dan teriakan putus asa dari para pengawal yang tewas bersimbah darah terdengar di sepanjang lorong batu, menandakan bahwa bahaya telah resmi mengepung kediaman sang putri kuil. Sayuri meraba baju tidurnya yang basah oleh keringat dingin, menggenggam erat sebilah belati perak kecil untuk upacara sebagai satu-satunya senjata pelindung yang tersisa. Namun, dengan rasa putus asa yang mendalam, ia menyadari sepenuhnya bahwa sihir penyembuh tingkat rendah yang ia kuasai sama sekali tidak ada gunanya untuk menahan hantaman senjata pemusnah milik para penjarah tersebut. Seluruh dinding keangkuhan kasta bangsawannya lebur menjadi rasa gelisah yang luar biasa gila.
Langkah kaki berat sepatu besi musuh terdengar semakin mendekati area kamar tidurnya, meremukkan pintu-pintu kayu koridor luar satu per satu dengan suara ledakan beruntun yang menegangkan. Sayuri mundur perlahan hingga punggungnya menempel kaku pada dinding kamar. Air mata ketakutannya mengalir deras membasahi pipinya yang putih bersih, meratapi malapetaka yang mendadak menghancurkan seluruh sisa kemegahan status keluarganya dalam sekejap mata. Gengsi kuil tingginya runtuh ditelan ketakutan mati yang nyata, memaksanya menyadari bahwa siasat politik ayahnya kini telah resmi berbalik menjadi perang terbuka yang siap merenggut nyawanya.
Sementara itu, di Sektor Belakang yang sunyi, Ryuken melangkah tegap keluar dari dalam gudang penyimpanan kayunya yang lapuk. Tubuh kurusnya dibalut oleh baju hitam polosnya yang kotor dipenuhi debu jalanan. Ia menahan tekanan gravitasi seratus kali lipat murni mengandalkan kekuatan otot tubuhnya yang telah mengeras sempurna setelah latihan di bawah siraman air limbah tadi malam. Tangan kanannya yang dipenuhi kapalan tebal memegang erat sebilah katana tua berkarat di dalam sarung kayunya yang lapuk. Sepasang mata hitam legamnya yang setenang kematian menatap lurus ke arah kobaran api merah di puncak menara depan, tanpa ada setitik pun getaran rasa takut di dalam dirinya.
Tidak ada kepanikan yang keluar dari tubuh sang anak buangan. Meskipun Sayuri baru saja mengusirnya dengan makian kejam beberapa jam yang lalu di Aula Penjara, aturan janji pernikahan tradisional yang telah menyatukan darah mereka di atas cawan altar sore tadi bertindak sebagai ikatan suci yang mengunci gerak langkah Ryuken. Sebagai ksatria sejati yang menghormati kesucian janji adat leluhur, ia menolak untuk membiarkan komitmen darahnya hancur dihantam ancaman maut. Ryuken melangkah melintasi jalanan batu hitam dengan gerakan yang sangat halus, senyap, mengalir bagai hantu yang bergerak secepat kilat. Ia meluncur tegap menuju Menara Kuil Tinggi, memposisikan dirinya sebagai perisai terakhir sebelum pasukan sindikat Black-Void melumat habis nyawa istri perjodohannya tersebut.